
Noah
Aku dan Luna telah sampai di pusat perbelanjaan yang ingin istriku itu kunjungi. Bahkan kami sudah naik ke lantai 5, lantai yang diperuntukkan khusus untuk memanjakan ibu-ibu hamil. Dimana perlengkapan bayi dan anak-anak tersedia secara lengkap, sekaligus baju-baju maternity.
"Kamu mau coba masuk ke toko yang mana dulu sayang? Ada banyak opsi disini, tinggal pilih mau mulai dari mana." tawarku pada Luna.
Sayang seribu sayang, pertanyaanku tidak dijawab olehnya. Justru Luna semakin melengkungkan bibirnya kebawah Arti lainnya, cemberut.
Sejak dari perjalanan menuju kemari hingga sampai di Mall-nya, Luna masih kekeuh pada pendiriannya untuk diam membisu. Waktu didalam mobil lebih parah lagi, Luna bahkan enggan menolehkan wajahnya padaku. Pandangannya lebih fokus ke jendela menatap arah luar.
"Hey..mukanya kenapa ditekuk begitu? Kan sudah aku temenin belanjanya, masa masih ngambek?" aku menoel dagunya sekilas.
"Ckkk...aku tuh lagi bete Mas!" Luna mengalungkan tangannya pada lenganku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Inillah yang menurutku paling lucu. Meski sedang ngambek atau kesal sekalipun, hal itu tak menghentikan Luna untuk bersikap manja.
"Bete sama siapa?" tanyaku hati-hati.
"Sama Mbak Poppy lah!" sahutnya ketus.
Sudah kuduga. Kedatangan Poppy ke kantor tadi pasti membuat istri kecilku badmood. Aku sendiri tak mengira dia akan datang. Padahal awalnya aku sudah lega saat rapat tadi hanya Om Rama yang hadir. Ehh..sorenya Poppy malah tiba-tiba muncul. Diluar dugaan.
"Ya kalau mau marah sama dia, silahkan aja! Tapi jangan kamu lampiaskan juga ke aku dong...tidak fair ini!" balasku balik.
Tidak salah bukan? Aku tidak meminta Poppy untuk datang. Dianya saja yang nekat ke kantor.
"Kamu sih Mas, jadi orang itu kok gantengnya melebihi rata-rata! Makanya banyak yang mengincar kamu," ujar Luna.
"Kalau gitu protesnya sama Mommy dan Daddy dong..aku kan cuman terima beres. Wajahku begini-begini juga dari hasil cetakan mereka. Sudah dari bibitnya unggul."
Salah satu privilege dari orang blasteran seperti aku yang memiliki darah campuran, membuat wajahku menarik minat banyak wanita diluaran sana. Ditambah lagi kekayaan dan kekuasaan yang melimpah ikut aku kantongi. Tidak salah aku menjadi santapan empuk bagi para wanita.
Sebelum menikah dengan Malena, banyak yang menginginkanku untuk menjadi kekasihnya. Saat menikah dengan Malena, banyak yang memintaku untuk menjadikan mereka sugar baby.
Setelah bercerai dari Malena, para wanita mengantre agar aku menanggalkan status dudaku. Sampai aku menikah dengan Luna pun, lagi-lagi terulang kejadiannya. Apa tidak ada lagi spesies pria lain yang bisa mereka kejar? Kenapa harus aku?
Luna tiba-tiba mencubit lengan kekarku sampai aku meringis dibuatnya. Kuku-kukunya yang panjang itu lho, membuat rasanya semakin nyeri. Kecil-kecil begini power-nya besar juga dia!
"Aww...sakit Lun!" kuusap-usap bekas cubitannya yang menimbulkan efek kemerahan pada kulitku.
"Hehehe..maaf, habisnya aku gemas!" Luna tertawa pelan.
Aku menghela nafasku sejenak. "Hmm..aneh kamu! Tadi aja marah-marah, cemberut, suaminya dicuekin. Sekarang aja langsung berubah senyum-senyum.."
__ADS_1
"Ya Maaf, hormon ibu hamil kan emang begini! Bawaannya emosi terus. Sebentar-sebentar badmood, beberapa menit kemudian jadi good mood." Luna mengakuinya sendiri.
"Tapi ya jangan sering-sering juga Lun! Kamu itu udah sering banget ngambek sama aku cuman gara-gara hal yang tidak penting. Coba dikontrol lebih baik emosinya. Lama-lama aku juga serba salah. Kamu kalau ngambek susah dibujuknya!" keluhku.
"Apanya yang enggak penting? Mas sendiri suka mancing-mancing. Masih ingat enggak yang pas kamu bohong sama aku katanya beli obat, eh taunya nganterin mantan ke rumahnya!" sindir Luna.
Astaga, ingatannya masih tajam juga. Padahal kejadiannya sudah lama. Wanita memang begitu, suka mengungkit-ungkit masa lalu.
"Kan sekali aja itu, setelahnya aku tidak macam-macam lagi. Toh juga aku dan Malena tidak ngapa-ngapain."
Luna memutar bola matanya malas dan berdecih. "Iyaa..yaa..yaa..terserah"
"Ya sudah jangan dibahas-bahas lagi. Sekarang kamu mau cari baju hamil dimana?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan kami sebelumnya.
"Yang disitu kayaknya bagus deh Mas!" Luna menunjuk salah satu store yang terlihat paling mencolok daripada gerai-gerai yang berjejer disebelahnya.
"Mau yang itu? Okay...kita kesana." aku langsung menurutinya.
Setelah masuk ke toko, Luna langsung melepaskan gandengannya padaku dan mulai memburu pakaian-pakaian yang terpajang rapi pada rak display.
Dengan aktifnya dia berjalan kesana-kemari untuk mencari baju yang sekiranya pas dan cocok dikenakannya. Hingga akhirnya kami berpencar.
Sambil menunggu Luna, aku melangkahkan kakiku untuk melihat perlengkapan dan pernak-pernik khusus untuk bayi. Ada stroller, baby crib, baby walker, baby bathub, dan terakhir baby car-seat.
Luna bilang, belinya nanti saja waktu kehamilannya sudah masuk trimester akhir. Karena kalau usia kandungannya melewati 6-7 bulan, itu lebih pasti. Sekalian juga di USG untuk mengetahui gendernya. Jadi bisa prepare secara spesifik, perlengkapan bayinya untuk laki-laki atau perempuan.
"Mas....Mas Noah..?!!!" Luna sedikit berteriak dari kejauhan untuk memanggilku.
Saking asyiknya aku berkeliling, tak terasa sudah hampir 30 menit lebih aku dan Luna terpisah.
"Kenapa Lun?" kuhampiri istriku dengan segera.
Luna mengangkat dua kapstok baju untuk diperlihatkan padaku. Yang satu adalah midi dress berwarna pink dan kuning stabilo dengan motif salur-salur. Satunya lagi adalah jumpsuit panjang bermotif kotak-kotak warna merah dan hijau dengan aksen pita pada lingkar pinggangnya.
Kalau diperhatikan baik-baik, istriku ini tipe wanita yang suka pakaian dengan warna colorful. Luna punya selera fashion yang bagus dari sebelum menikah denganku. Outfit yang ia kenakan selalu modis dan enak dipandang.
"Aku mau nanya Mas.. diantara dua ini yang bagus mana ya?" Luna kelihatan bingung menentukan pilihannya.
"Semuanya bagus kok. Cocok kalau kamu pakai." ungkapku jujur.
Dan itu fakta. Luna selalu pantas kalau memakai apapun. Baju yang terlihat biasa, bisa jadi cantik kalau dia yang pakai.
Luna berdecak sambil memiringkan kepalanya. "Ishhh..pilih salah satu aja Mas.."
__ADS_1
"Sudah kamu coba belum di ruang ganti?" tanyaku.
"Sudah, Mas." Luna mengangguk.
"Terus kamu sukanya yang mana?"
Luna mendatarkan wajahnya. "Kok malah nanya balik? Aku panggil kamu kan untuk kasih saran buat aku..kalau gini jadinya ikut bingung deh!"
"Ya kalau menurutku dua-duanya itu bagus sayang...tergantung selera bagaimana. Aku kan tidak ikut pakai bajunya, kamu yang lebih tahu nyaman atau tidaknya dipakai."
"Aku sih suka dua-duanya Mas, sama-sama bagus."
"Ya sudah daripada repot-repot, kamu ambil saja dua-duanya."
"Enggak mau Mas!" tolak Luna.
"Kenapa?"
"Kalau aku ambil dua-duanya jadinya kebanyakan. Aku sebelumnya udah ambil 10 dress untuk pergi-pergi dan 10 baju santai untuk dirumah, tuh lihat!" mataku mengikuti arah telunjuk Luna yang mengarah pada keranjang belanjanya.
Kemudian kutatap Luna kembali. "Terus? Memangnya kenapa kalau kamu sudah ambil 10? Ambil lagi tidak masalah kan? Aku sudah bilang, kamu boleh belanja sepuasnya. Tinggal minta, pasti aku belikan!"
Luna malah tampak berpikir keras. Sepertinya dia sedang bimbang dan merasa tak enak denganku. Padahal seharusnya Luna tidak perlu bersikap canggung.
"Beneran boleh ambil dua-duanya? Kamu enggak marah"
"Ya boleh lah sayang..kamu mau ambil 10 baju lagi juga tidak akan aku larang! Silahkan.."
"Serius nih...makasih Mas Noah!" Matanya tampak berbinar-binar setelah mendapat lampu hijau dariku.
"Iya serius, sudah ambil saja! Ngapain pusing-pusing. Kamu masih mau cari yang lain lagi atau ini sudah cukup?" tawarku lagi.
Barangkali dia mau beli baju lagi, aku tidak masalah. Sungguh. Aku kerja dari pagi sampai sore juga buat menafkahi dia bukan? Tak ada salahnya memanjakan istriku sendiri.
"Cukup Mas buat ganti-ganti, udah banyak banget kok. Sementara ini dulu aja." jawabnya.
"Okay, kita bayar sekarang. Sini biar aku yang bawa." kuangkat keranjang belanjanya dan kugandeng pula tangan Luna untuk berjalan menuju kasir.
Selesai dibayar, aku langsung saja menelpon bodyguard-ku yang bernama Hari agar dia menyusul ke store. Aku memang sengaja membawa satu pengawal untuk berjaga-jaga. Dia mengamati kami dari jauh sehingga aku dan Luna bisa tetap memiliki privasi saat sedang bepergian.
Kemudian aku memerintahkan Hari untuk menaruh semua barang belanjaan Luna ke bagasi mobil karena setelah ini Luna masih mau jalan-jalan sebentar untuk lihat-lihat di Mall.
***
__ADS_1