
"Permisi Pak, mohon maaf menganggu waktunya. Ini ada tamu yang mencari Pak Noah, Orangnya sedang menunggu di lobby bawah."
Bagas menginterupsi diskusi Noah dengan tim sales marketing dan bagian keuangan yang kebetulan hari ini sedang closing-an atau istilah lainnya tutup buku.
"Siapa dia?" Noah melepaskan pena ditangannya lalu memandang Bagas kebingungan.
Seingat Noah, dia sudah tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi hari ini. Jadwal rapat dengan jajaran direksi dan kunjungan proyek bangunan restoran sudah rampung semua sejak tadi. Siska sekretarisnya juga tak memberi info apa-apa perihal agenda susulan.
"Tamunya Mas Bobby, Pak. Asistennya Bu Malena. Beliau memang belum membuat janji sebelumnya," jelas Bagas.
Noah berdecak kesal. "Ckk..mau apa dia kesini? Saya sedang sibuk Bagas, bilang saja padanya saya tidak bisa ditemui."
"Tapi Mas Bobby sedikit memaksa, Pak. Saya sempat meminta dia untuk pulang dan datang di lain hari saja kalau Bapak sedang free. Tapi Mas Bobby menolaknya. Dia masih bersikukuh mau bertemu anda."
Noah membuang nafasnya kasar. Mau apa lagi itu si Bobby datang kemari. "Okay Gas, suruh tunggu 45 menit jika berkenan. Saya benar-benar masih repot. Bisa lihat sendiri kan? Kalau dia enggan menunggu, maka persilahkan saja untuk pulang."
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada Mas Bobby." Bagas mengangguk patuh.
***
45 menit sudah waktu berlalu, dan Bobby tampak masih setia menunggu Noah di lobby. Pria gemulai yang usianya sudah mau menginjak kepala 3 itu belum beranjak dari kursi tunggunya. Dan sesuai janji, Noah akan menepatinya untuk menemui Bobby.
"Selamat sore, Bobby." Noah menyapa asisten mantan istrinya itu dengan rasa canggung.
Maklum, sudah lama sekali mereka tak berjumpa. Saat Noah masih dengan Malena pun, dia juga jarang berkomunikasi dengan Bobby.
"Ehhh..Mas Noah, akhirnya turun juga! Dah tungguin dari tadi..lambreta bingit sih!" ucanp Bobby dengan tangan yang mendayu-dayu.
"Ekhhm..Bob, saya tahu kamu bisa bicara selayaknya orang normal. Bisakah kamu lakukan itu selagi berbicara dengan saya? Mendengar logatmu tadi membuat saya tidak nyaman," ujar Noah blak-blakan sambil meringis.
Bobby bersungut kesal. "Iya...iya..jutek banget sih! Mana kalau ngomong pakai kata-kata formal banget, biasa aja Mas sama Bobby. Aku kan enggak gigit! Rawrr...!"
"To the point saja Bob, ada perlu apa datang kesini? Sepertinya penting sekali sampai kamu bela-belain nungguin kerjaan saya selesai?!" Noah mulai jengah dengan sikap Bobby yang terkesan mempermainkan dirinya.
Hari sudah semakin sore. Kurang beberapa menit lagi jam kerja kantor akan berakhir. Bohong kalau Noah tidak lelah karena seharian ini jadwalnya begitu full padat.
__ADS_1
Tadinya Noah berniat untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa pulang tepat waktu untuk menemui istrinya Luna. Tapi apa boleh dibuat, kedatangan tamu tak diundang ini menggagalkan rencananya.
"Ini tentang Mbak Malena, Mas..." kata Bobby sambil memainkan jari-jarinya.
"Kenapa lagi dia?" tanyaku acuh.
"Ishhh..ketus banget sih nadanya! Jangan suka begitu Mas, gitu-gitu dulu kan dia pernah mengisi hidupnya situ!"
Stok kesabaran Noah mulai menipis. "Saya tuh sebenarnya malas meladeni kamu kalau bertele-tele. Saya punya banyak hal yang diurus. Istri saya lagi hamil, dan sekarang pasti sedang menunggu di rumah. Saya harus segera pulang. jadi tolong cepat katakan atasanmu itu kenapa? Ada apa sama dia?"
Bobby sedikit tersentak saat Noah berkata jika istri barunya tengah mengandung buah hati mereka. Pikir Bobby, tokcer juga Mas Noah. Tapi sama Mbak Malena kenapa tidak jadi cebongnya?
"Itu Mas..Mbak Malena lagi sakit.." lirih Bobby.
"Kakinya dia belum sembuh? Bukannya udah lama banget itu cederanya?" Noah menatap Bobby menyelidik.
Dia mencoba mengingat-ingat terakhir pertemuannya dengan mantan istri itu di rumah sakit. Malena kedapatan sedang memeriksakan kakinya yang cedera akibat jatuh dari stage untuk catwalk.
"Bukan Mas...bukan cedera! Itu mah udah lama banget pulihnya. Ini ada yang baru.."
"Ya apa?"
Noah tertegun sejenak. Malena sakit parah?
"Terus hubungannya dia yang lagi sakit sama saya apa Bobby? Saya dan Malena sudah putus hubungan sejak kami bercerai beberapa bulan lalu. Itu sudah bukan ranah saya!"
"Tapi Mbak Malena selalu nyebut-nyebut nama Mas Noah disetiap tidurnya. Aku sendiri lho saksinya! Aku tuh yang setiap hari jagain dia di rumah sakit. Sering banget Mbak Malena ngigau cari-cari Mas Noah."
Bobby semakin memanas-manasi agar Noah iba dan bisa luluh.
"Terus kamu maunya saya ngapain?" Noah tak mengerti kemana arah omongan lawan bicaranya itu.
"Temui dia ya Mas..please! Mbak Malena itu sering banget stress akhir-akhir ini. Dia butuh semangat. Semenjak cerai, inspirasi design dia zonk dan berubah amburadul. Hasil design-nya enggak memuaskan editor dan para klien. Bahkan kolaborasi brand terbarunya gagal launching." Bobby merendahkan harga dirinya dengan memohon menunduk pada Noah.
"Tahu sendiri kan Mbak Malena itu enggak akur sama keluarganya. Macam sebatang kara dia! Makanya maksud aku kesini tuh, mau minta tolong sama Mas Noah..please ketemu ya sama Mbak Malena. Ngomong apa kek terserah, paling enggak dia mau makan sesuap udah bagus! Dia enggak punya support system sekarang. Dokter bilang, semangatnya untuk sembuh itu enggak ada." sambung Bobby lagi.
__ADS_1
Mendengar sekilas cerita dari Bobby, entah kenapa hati Noah jadi tersentuh. Sebegitu menyedihkannya kah kehidupan Malena semenjak bercerai dengannya? Memang benarkah yang dikatakan Bobby atau ini hanya akal-akalan Malena saja?
"Kamu kesini disuruh sama Malena?" Noah masih sedikit sangsi dengan penjelasan Bobby. Bisa saja kan pria yang didepannya ini sedang berbohong.
"Enggak Mas! Datang sendiri inum fix enggak dusta. Buat apa bohong, enggak ada untungnya! Enggak ada kisahnya Mbak Malena maksa aku atau minta aku datang kesini. Ini sema pure, aku yang inisiatif. Makanya, tolong ya Mas..jengukin dia ke rumah sakit lah!" pinta Bobby memohon dengan nada melas.
Perasaan dilema menguar dalam benak hati Noah. Ingin hati untuk membesuk Malena sekedar melihat kondisinya sebentar saja. Bukan datang sebagai lovers, melainkan sebagai friends. Namun rasanya mustahil terjadi. Kalau Luna tahu ia diam-diam pergi ke rumah sakit, bisa habis dia dibabat Luna tanpa ampun.
Disisi lain kasihan juga Malena yang tidak punya siapa-siapa disekitarnya. Noah tahu jika Malena itu sama seperti Luna yang punya hubungan rumit dengan orang tua kandung. Seperti yang Bobby sempat singgung tadi, "seperti sebatang kara".
Noah tetap teguh dengan prinsipnya kalau ia tidak akan kembali maupun terlena oleh mantan. Ingat istri di rumah yang sedang hamil 3 bulan. Jangan sampai membuatnya menangis atau kecewa.
"Maaf, tapi saya tidak bisa mengabulkan permintaan kamu Bob. Semua kenangan, memori, dan lain-lain tentang Malena sudah saya putuskan untuk tutup buku. Ada hati istri di rumah yang harus dijaga. Dia pasti tak akan suka saya berhubungan dengan mantan. Apalagi istri saya itu kerap kali berseteru dengan Malena," ungkap Noah blak-blakan tanpa ada yang ditutupi.
Mulai sejak mereka mengucapkan janji suci di altar dihadapan pendeta, keluarga besar, serta para tamu undangan..Luna adalah prioritasnya, permata hatinya.
"Serius enggak bisa nih Mas?" Bobby memasang wajah kecewa. "Istri Mas Noah kok mengekang gitu sih? Kelewat posesif tuh! Orang cuma ketemu sebentar doang aja..masa dilarang? Kan teman!"
Noah menggebrak meja dan berdiri penuh emosi. "Jaga bicaramu ya! Saya tak suka kalau kamu menjelekkan istri saya. Dia bukan pengekangan yang kami tuduhkan. Justru saya yang membentengi diri."
"Kenapa Mas? Takut gagal move on kalau ketemu Mbak Malena lagi? Masih cinta? Harusnya kalau udah enggak cinta ya jangan takut..gentle dong temui!" Tantang Bobby balik.
Agaknya dia masih tak terima jika atasannya itu bercerai setelah mengarungi bahtera rumah tangga bersama selama 8 tahun lamanya. Sayang bukan? Padahal mereka dulunya couple goals.
Yang Bobby masih tidak tahu, perceraian ini terjadi ya karena ulah Malena sendiri yang berbuat nekat dengan selingkuh dibalik punggung Noah. Dia tak tahu kebenarannya karena memang alasan perceraian Noah dan Malena tertutup secara rapat-rapat.
"Percuma ya ternyata ngomong sama kamu! Dikaish tahu malah mendebat. Saya jadi makin yakin kalau kamu datang kesini disuruh Malena, bukan karena keinginan sendiri. Malena itu paling antipati dengan hubungan saya dan istri. Ini pasti cara kamu untuk memancing amarah saya kan?!" Noah berbicara ketus.
Glekk..
Bobby menelan air liurnya kasar. Lidahnya kelu dan bibirnya mendadak kering kerontang. Tidak lagi-lagi deh berani macam-macam menyindir Noah. Bisa berubah singa kalau lagi marah.
"Ingat ya, saya itu paling tidak suka dipaksa. Kamu kesini datang itu minta tolong kan istilahnya? Punya etika sedikit lah. Kalau dibilang tidak ya sudah...artinya tidak. Mengerti Bahasa Indonesia kan?"
"Ngge..ngg..ngerti Mas!"
__ADS_1
"Kamu lebih baik pulang saja sana daripada bikin rusuh. Urusi saja atasan kamu itu di rumah sakit. Sampaikan salam saja semoga lekas sembuh. Murni karena niat baik. Ingat ya, jangan ditambahi-tambahi. Bisa-bisa Malena kelewat pede dan malah melunjak kalau kamu sembarangan ngomong memberinya harapan palsu." bentak Noah tepat didepan muka Bobby.
***