Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

"Are you sure baby girl?" Noah berbisik lirih dengan kabut asmaranya.


Sudah bisa ditebak. Dalam hitungan waktu kedepan, mereka akan segera melakukan penyatuan panas. Hasraat keduanya sudah diambang pucuk batas kesabaran.


"Are you sure apa sih Mas...?!" sahut Luna kesal.


Nafas wanita itu sedang terengah-engah sebab ia menahan diri mati-matian untuk tidak cepat-cepat sampai pada pelepasan karena sang suami sedang memainkan jari lentik panjangnya pada **** ********** miliknya.


"Kamu yakin mau melakukannya disini?" bisik Noah dengan suara baritonnya yang terdengar tegas namun terdapat aksen menggoda.


"Super duper yakin seratus persen, aku udah enggak tahan banget ini. Kita udah lama enggak gitu-gituan lho!" rengek Luna sembari jari-jarinya membuat pola abstrak pada dada bidang Noah.


Hormon kehamilan membuatnya semakin ganas saja ingin menerkam sang suami cepat-cepat.


Sudut bibir Noah terangkat keatas. Menandakan bahwa pria itu sudah puas menggoda istrinya.


Tanpa ingin berlama-lama lagi, dengan gerakan cepat Noah langsung menindih tubuh Luna. Keduanya pun larut dalam buaian cinta.


Dan di detik berikutnya, terjadilah pertempuran panas diantara dua insan manusia yang sedang dimabuk asmara ini.


Mereka benar-benar tidak perduli dimana tempat mereka berada sekarang. Karena kebutuhan batin tetap yang utama.


***


"Mas, aku lapar..." lirih Luna beberapa menit setelah keduanya puas melakukan penyatuan dengan penuh kerinduan cinta.


Posisinya, kursi pesawat mereka saat ini sudah kembali ke setelan awal. Yaitu dalam mode duduk. Luna juga kedapatan sedang menyandarkan kepalanya diatas bahu Noah. Tangan mungilnya melingkar pula pada lengan Noah dengan manjanya.


"Lapar? Ya sudah kalau begitu, aku akan minta tolong pramugari untuk menyiapkan makanan."


Noah pun mengisyaratkan tangannya dengan melambai keatas sehingga menarik atensi seorang pramugari yang kebetulan berada diujung.


"Oh ya, kamu mau makan apa?" Noah bertanya dan melirik Luna.


"Terserah Mas, apa aja yang bisa dimakan. Yang penting enak dan porsinya juga banyak karena aku benar-benar lapar sekarang!" jawab Luna sambil mengelus perutnya.


Noah berdehem sembari mengelus pipi istrinya, "Hmm..kasihan sekali istriku kelaparan. Pasti gara-gara aktivitas panas kita tadi membuat kamu lelah ya?!"

__ADS_1


"Jangan ditanya lagi Mas, itu sudah jelas. Habis kamu enggak mau berhenti-henti!" gerutu Luna sambil menepuk pelan lengan sang suami.


"Terlanjur keenakan, sayang. Lagipula juga kamu ikut menikmati tadi!" goda Noah dengan senyuman menyeringainya.


Luna pun tertawa meringis dibuatnya, "Haha...jelas keenakan, soalnya kita emang udah lama banget enggak gitu-gituan. Aku kangen banget manja-manjaan sama kamu Mas. Sebelum ini Mas banyak sibuknya di kantor. Pulangnya malam terus. Jadi pas kamu sampai rumah aku sudah terlanjur bobo!"


Mengerti akan pekerjaan suami yang tidak ada habisnya, Luna tak ingin banyak menuntut. Lagipula suaminya bekerja juga untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi dirinya dan keluarga kecilnya.


Tapi terkadang hati kecilnya juga ingin dimanja. Apalagi saat sedang hamil begini, maunya selalu berada didekat suaminya melulu.


"Maaf ya karena belakangan ini aku terlalu sibuk. Tapi kamu happy kan sekarang? Ini kan sudah diajak babymoon! Kita akan habiskan banyak waktu berdua nanti.."


Luna mengangguk riang. Pasalnya sudah lama sekali ia ingin pergi babymoon. Namun karena terkendala kesibukan suami, Luna terpaksa harus rela menahan diri terlebih dahulu.


***


Sembari menyantap makanan yang telah disajikan pramugari beberapa menit lalu, Luna dan Noah saling berbincang sebagai selingan agar suasana tidak terlalu hening.


"Oh ya Mas, aku mau nanya! Rencana kamu selanjutnya bagaimana?" tanya Luna yang sedang lahap memakan swedish meatballs sesuai request-nya tadi.


"Rencana apa?" Noah mengerutkan keningnya dan balik bertanya.


Drama tentang Poppy yang dengan sengaja memasang alat penyadap di rumah mereka memanglah belum selesai.


Rencananya setelah pergi babymoon Noah akan segera merampungkan masalah ini. Demi Tuhan, Noah ingin hidup tenteram dan damai tanpa adanya gangguan di rumah tangganya yang kedua ini.


"Hmm..belum kepikiran sih mau diapain, yang jelas aku tidak akan membiarkan dia tenang begitu saja. Tapi aku sama sekali tidak berniat melaporkan dia ke polisi dulu."


Ucapan Noah barusan mengagetkan Luna sehingga wanita hamil itu meletakkan garpu ditangannya dan menatap Noah keheranan.


"Loh kenapa gitu? Tindakan Mbak Poppy padahal udah keterlaluan. Kategori mengganggu privasi rumah tangga orang lain. Main pakai teror-teror segala! Harusnya sih kita lapor ke pihak berwajib dong Mas!" nada bicara Luna terdengar menggebu-gebu seperti orang tidak terima.


Noah memiringkan kepalanya kemudian meraih telapak tangan Luna. "Aku juga inginnya begitu, tapi pasti Om Gunawan tidak akan tinggal diam. Aku yakin seratus persen jika beliau tentu akan mati-matian menjamin kebebasan Poppy dengan jalur orang dalam."


Hening sejenak, Noah kembali melanjutkan omongannya, "Oleh sebab itu..alangkah baiknya aku ingin membalas dia dengan cara yang sama seperti apa yang dia lakukan ke kamu."


"Dengan kata lain, kamu mau menerornya balik?" tebak Luna yang memang tepat sasaran.

__ADS_1


"Cerdas istriku!" Noah merespon dengan menjentikkan jarinya.


"Tapi Mas, kalau mau meneror dia berarti tandanya kamu punya kartu AS Mbak Poppy dong?"


"Tentu punya. Segudang aib dia pun juga aku simpan!"


Menjadi seorang pengusaha sekaligus pebisnis Noah tentunya bukan orang bodoh yang bertindak secara grasa-grusu. Semuanya sudah ia pikirkan dengan matang.


Atas bantuan Bagas dan Akbar pula, Noah bisa mengorek kehidupan pribadi Poppy yang notabene memiliki historis yang buruk.


Hal itu tentu bisa dijadikan Noah sebagai pegangan untuk bisa menentukan langkah selanjutnya yang akan ia ambil untuk memberikan perhitungan pada Poppy.


"Aib bagaimana maksudnya?" tanya Luna penasaran.


"Pokoknya tunggu tanggal mainnya saja, sudah jangan dipikirkan lagi!" balas Noah sambil melanjutkan acara makannya. Pria itu memesan sirloin steak tadi.


"Tapi Mas..disamping itu, aku sebenarnya jadi enggak enak deh sama Mommy dan Daddy."


"Kenapa memang? Enggak enaknya kenapa?" giliran Noah yang kebingungan sekarang. Beberapa menit lalu istrinya ini begitu semangat membahas hukuman yang pantas untuk Poppy. Sekarang justru mendadak punya perasaan tidak enak.


"Ya jelas enggak enak, gara-gara kasus ini hubungan persahabatan mereka sama orang tuanya Mbak Poppy pasti bakalan renggang."


"Itu kan bukan kesalahan kamu tapi Poppy sendiri. Dia yang mulai duluan. Aku pun membalas dia karena tinggal mengikuti alur. Apa yang dia tuai maka akan dia tabur."


"Tapi yang diomongin Daddy ada benarnya juga Mas! Jangan mencampuradukkan urusan keluarga dengan urusan pribadi. Apalagi Daddy juga sempat bilang kamu terlanjur excited untuk menggarap proyek ini."


"Mana bisa begitu! Poppy dan orangtuanya itu satu paket. Hubungan persahabatan keluarga dan kerjasama bisnis yang terjalin sudah pasti hancur di momen Poppy berani melakukan tindakan teror yang membahayakan kamu dan baby kita!" jelas Noah panjang lebar dalam memberikan pengertian pada Luna.


"Awalnya aku sungguh ingin memperkarakan kasus ini pada pihak berwajib. Tapi hal itu aku urungkan karena aku punya rencana lain untuk membalasnya. Dan ketika perbuatan Poppy aku balas, otomatis orang tuanya pasti akan mengamuk meskipun anaknya berbuat salah sekalipun. Jadi percuma saja, resiko dari aksi Poppy akan merusak segalanya mau dilihat dari segi manapun!" lanjutnya lagi.


Dan yang dikatakan Noah memang masuk akal. Dampak dari perbuatan Poppy ini bisa menghancurkan relasi dari dua keluarga. Benar-benar tidak bisa diselamatkan pada akhirnya.


Lama termenung, Noah kembali menyadarkan Luna. "Sayang..sudah ya! Aku mohon sangat, tolong jangan rusak acara babymoon kita ini dengan pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan Poppy. Sungguh aku malah membahas wanita itu!"


Luna mengangguk paham. "Iya Mas, maaf..aku tadi kebawa suasana saja."


"Good, sebaiknya kamu lanjut makan saja sekarang. Kasihan adek yang di perut ikut kelaparan karena Maminya bengong saja dari tadi."

__ADS_1


"Oke..siap Papi..nih mau lanjut makan kok!" Luna kembali tertawa menampakkan senyuman manisnya yang selalu membuat Noah klepek-klepek.


__ADS_2