
"Mas, rasanya aku enggak nyangka deh..kalau kita udah resmi menjadi sepasang suami dan istri. Waktu seperti cepat berlalu. Baru aja beberapa bulan yang lalu kita berkenalan, eh sekarang malah nikah!" Luna tersenyum-senyum sendiri mengingat pertemuan pertamanya dengan Noah.
"Dulu kamu manggil aku Om, sekarang Mas.." Noah ikut tertawa.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga ketika Noah mengingat kala dirinya dulu sering dipanggil Om. Dalam hati ia sempat dongkol dipanggil dengan sebutan Om, kedengarannya terkesan tua sekali. Tapi entah kenapa dia tidak bisa marah pada Luna.
"Jangankan kamu, aku juga sama Lun. Jujur saja..setelah aku bercerai kemarin, aku bahkan malas untuk menikah lagi. Beberapa bulan belakangan, hatiku sudah terlanjur mati rasa." ucap Noah sembari menyuapkan sesendok pasta ke dalam mulutnya.
"Tapi Mas Noah harus janji ya, Mas harus mau belajar untuk mencintai aku mulai saat ini..." rengek Luna dengan nada manja.
"Iya Lun..." Noah tertawa pelan.
Setelah meneguk segelas orange juice, Luna kembali bicara. "Mas Noah, kita main games 'quick question' yuk?"
"Quick question? Seperti apa itu mainnya?" Noah menaikkan salah satu alisnya.
"Jadi nanti aku akan kasih Mas Noah 10 pertanyaan, tapi harus dijawab cepat! Sama halnya dengan aku, nanti Mas Noah juga harus tanya. Kayak selang-seling bergiliran gitu..." Luna menjelaskan bagaimana peraturan bermainnya.
"Mau ngapain sih, kayak anak kecil aja!" Noah menggeleng tertawa.
Luna mendengus sebal. "Ihhh..masa gitu aja enggak mau sih? Kan biar seru, hitung-hitung sekalian kita bisa mengenal satu sama lain. Nanti kan pertanyaannya bebas..mau ya? Biar dinner kita enggak boring..."
"Okay...okay...kamu dulu yang pertama!" Noah mengalah.
Luna meletakkan sendok garpu yang ada ditangannya dan tampak terlihat menimbang-nimbang, kira-kira apa pertanyaan yang cocok untuk Noah.
Luna menanyakan sebuah pertanyaan yang klasik, "Apa nama makanan dan minuman favorit Mas Noah?"
"Semua makanan aku suka, karena aku bukan tipikal orang yang rewel. Tapi seafood terkecuali, karena aku punya alergi," jawab Noah.
"Okay..done, sekarang giliran Mas Noah yang tanya ke aku!" sahut Luna tersenyum.
Noah mengusap sisa makanan di mulutnya, "Hmm...apa kegiatan yang paling sering kamu lakukan saat punya waktu senggang?"
"Melukis dan berkebun." Luna menjawabnya cepat.
Tak banyak orang tahu, Luna cukup jago dalam urusan menggambar. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu, Luna sempat dipilih oleh pihak sekolah untuk mewakili kontes melukis antar kota dan provinsi.
Saat itu Luna meraih prestasi juara 3 tingkat kota, dan juara harapan untuk tingkat provinsi. Hal itu terus berlanjut hingga Luna SMA. Ketika kuliah, Luna tak meneruskannya lagi dengan alasan karena dia mulai sibuk dengan kegiatan yang lainnya.
"Really? Aku tidak mengira kamu suka melukis..kalau berkebun masih masuk akal sih, karena kamu selalu berkebun sama Mommy di rumah. Berarti bisa dong, bantuin aku ikut design?"
"Itu mah beda, kalau soal gambar arsitektur aku enggak jago karena ada kaitannya sama perhitungan fisika dan matematika-nya. Ampun deh nyerah, otak aku enggak nyampe! Gambaran aku tuh kurang lebihnya seperti aliran naturalisme, kubisme, atau yang romantisme," jelas Luna.
"Menarik juga, aku baru tahu lho...ada untungnya juga aku tanya, aku sekarang tahu kamu bisa melukis..kapan-kapan aku mau lihat hasil karya kamu!" kata Noah.
__ADS_1
"Boleh, nanti aku kasih tahu! Gantian aku tanya lagi, tempat liburan yang paling berkesan untuk Mas Noah itu waktu dimana?"
"Kalau di Indonesia, aku paling berkesan pas trip ke Labuan Bajo saat menghadiri private wedding reception saudara sepupuku. Kalau untuk yang luar negeri, mungkin London dan Amsterdam. Dua kota itu menjadi tempat favoritku untuk berlibur."
"Wow...Mas Noah berarti udah sering keliling kemana-mana ya! Aku jadi iri deh, aku itu selalu pengen travelling entah itu domestik atau luar negeri..tapi dari segi biaya, itu enggak memungkinkan buatku."
"Kan besok kamu bakal aku ajak honeymoon ke Eropa, that's a first of many..kita akan liburan sepuasnya."
"Atau gini aja, setiap tiga bulan sekali, kalau pekerjaan aku lagi free dan tidak sibuk..kita akan pergi liburan. Destinasi-nya kamu yang pilih, mau dalam negeri atau luar negeri..bebas!"
"Serius Mas, enggak bercanda kan?" mata Luna tampak berbinar-binar.
Siapa coba yang tidak suka kalau sering-sering diajak liburan?
"Iya beneran, kamu bebas tentukan mau kemana-kemananya!" ucap Noah santai seraya memakan makanannya lagi.
Noah sengaja mencetuskan ide pergi liburan setiap 3 bulan sekali agar dia dan Luna bisa menghabiskan banyak waktu bersama. Ini adalah salah satu cara Noah untuk mendekatkan diri dengan istri barunya.
Mungkin dengan cara ini, Noah pasti akan lebih terbiasa dengan kehadiran Luna di hidupnya. Cepat atau lambat, Noah bisa mencintai Luna sepenuhnya dan menjalani rumah tangga seperti pasutri pada umumnya.
"Lun, apa kamu punya wish list yang saat ini belum kesampaian?" tanya Noah lagi.
"Apa ya? Hidup aku itu soalnya mengalir aja Mas, enggak pernah kepikiran punya target apa-apa. Aku takut ekspektasiku enggak sesuai realita."
"Masa tidak ada sih? Apa gitu..yang sekiranya kamu inginkan, tidak perlu yang muluk-muluk sih. Yang simple aja.."
"Dalam jangka waktu dekat, aku pengen ikut kursus memasak mungkin. Supaya bisa bikin makanan yang enak, bikin cake or cookies. Mas Noah kan tahu sendiri kalau aku enggak bisa masak, rasanya enggak enak masakanku! Makanya aku mau belajar untuk menyenangkan suami..Mas Noah juga kan lebih suka masakan rumahan!"
Noah sedikit tertegun dan teringat akan sesuatu. Dulu Luna pernah bertanya padanya tentang tipe wanita seperti apa yang menjadi kriteria idamannya. Saat itu Noah menjawab, wanita yang bisa memasak. Hal ini membuat Noah berpikir, apakah karena faktor itu Luna ingin kursus?
Noah mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Luna dan mengusapnya pelan.
"Lun, aku sebenarnya tidak menuntut kamu untuk bisa memasak atau menyiapkan semua makanan untukku. Di rumah kita nanti, akan ada banyak asisten rumah yang tangga yang bisa diperbantukan. Biarlah itu jadi urusan mereka..aku enggak masalah kalau kamu belum bisa memasak."
Wajah Luna berubah sendu. "Aku cuman ingin memantaskan diri aja Mas. Dari dulu, aku memang kurang jago kalau soal urusan mengatur household. Aku selalu terima beres karena semua Budhe Ririn yang handle. Makanya, aku pengen belajar menjadi istri yang baik...dengan melakukan hal-hal mendasar kayak bersih-bersih rumah, memasak, menyiapkan pakaian kerja suami, dll."
Luna menundukkan kepalanya sembari memainkan jari-jarinya dibawah meja makan malam mereka.
"Lun, kamu istri aku..bukan pelayan aku. Aku mungkin memang prefer masakan rumahan istri, tapi kalau kamu belum bisa memasak..aku enggak akan memaksa. Kita bisa makan masakan Bibi atau makan diluar juga boleh, hitung-hitung kita nge-date?" Noah mencoba menghibur.
Tawa Luna akhirnya pecah juga.
"Ngehabisin uang aja nih! Mentang-mentang duitnya banyak!" protes Luna.
"Ya kan biar aku kerja siang malam ada hasilnya, tidak mungkin juga itu uang aku kekepin seumur hidup. Sekali-kali buat spending juga sah-sah saja kan?!" Noah mengerlingkan matanya pada Luna.
__ADS_1
"Ih genit banget pakai kedip-kedip segala!"
"Biarin! Kamu juga palingan senang dalam hati. Katanya aku tampan, pasti kamu baper kan aku kedipin?" Noah meledek.
"Mas Noah ih...udah ah.." pipi Luna berubah merah.
"Tuh pipi kamu merah..malu kan?"
Luna memalingkan wajahnya dan tersenyum tipis, "Stop, kita makan lagi yuk..aku masih lapar.."
"Okay, okay...sebentar, itu di mulut kamu belepotan kena saus pasta-nya," Noah mengusap noda saus yang ada di sudut bibir Luna tersebut.
Setelah selesai, kedua mata mereka kini saling menatap satu sama lain secara intens. Wajah keduanya begitu dekat, hingga deru nafas mereka yang berhembus terasa hangat.
Noah memajukan lagi wajahnya, dan kini ia menangkup pipi kanan Luna. Tiba-tiba pikiran Noah terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih. Noah ingin mengecup bibir mungil Luna yang lembut itu.
"Bolehkah?" Noah menyapu bibir Luna dengan ibu jarinya.
Luna langsung paham tentang maksud suaminya. Tanpa sadar, kepalanya pun mengangguk. Luna tak kuasa menolak pesona Noah yang telah memikatnya dengan erat sedari awal.
Detak jantung Luna berdegup kencang, naik turun tak beraturan. Ditatap oleh Noah sedekat ini membuat lututnya lemas dan tangannya berkeringat dingin. Sumpah demi Tuhan, suaminya itu terlihat tampan dan menawan hingga membuat Luna mati kutu.
Tak terasa, kini kedua bibir mereka sudah bertautan dengan sempurna. Menjalarkan gelanyar perasaan yang hangat. Noah menahan ceruk leher Luna agar ciuman keduanya lebih rapat.
Langit diatas, bintang-bintang malam, dan angin-angin sepoi yang menemani mereka malam ini menjadi saksi atas penyatuuan mereka saat ini.
30 detik....
1 menit.....
3 menit.....
Akhirnya berlalu, baik Noah dan Luna masih belum menghentikan kegiatan yang sedang mereka lakukan. Noah semakin gencar memainkan lidahhnya di dalam rongga mulut Luna hingga keduanya hampir kehabisan nafas.
Setelah puas, akhirnya mereka melepaskan diri. Kening Noah dan Luna bersatu, saling menempel.
"Kita lanjutkan di kamar?" ajak Noah dengan senyuman yang menyeringai.
Luna mengangguk tanpa penolakan.
Dengan segera, Noah menggandeng tangan Luna untuk beranjak meninggalkan rooftop. Makan malam mereka belum habis, tapi Noah tak peduli. Dia ingin menghabiskan malam pertamanya dengan sang istri sekarang juga.
***
Jangan lupa untuk kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya teman-teman..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.