Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Perhatian dari Mas Noah


__ADS_3

Luna


"Mbak..Mbak Poppy!" aku mengayunkan tanganku kesamping kiri dan kanan untuk membuyarkan lamunan Mbak Poppy.


Tiba-tiba saja wanita ini terdiam kaku. Sebegitu kagetnya kah dia saat tahu kalau aku dan Mas Noah sudah menikah?


"Mbak...kok bengong, ada apa?" aku coba sekali lagi. Barangkali dia berhenti melamun.


Mbak Poppy seketika tersadar. "Eh--eh enggak kok, enggak apa-apa. Aku cuman mikir saja tadi. Noah sudah menikah lagi ya rupanya? Karena setahuku, Noah itu baru cerai dari istrinya." ucap Mbak Poppy. Aku bisa lihat dia tersenyum secara paksa sambil melirik Mas Noah.


"Iya Mbak, Mas Noah sudah menikah lagi dengan aku. Bercerai dari mantan istrinya sudah dari lama kok. Dan kebetulan Mas Noah cepat dapat jodoh lagi, makanya tidak perlu ditunda-tunda!" jawabku mewakili Mas Noah yang enggan berkomentar.


"Ohh..begitu. Tapi kok kalian tidak undang aku sih ke acara resepsi nikahnya, aku kaget lho..." Mbak Poppy berceloteh lagi.


"Pernikahanku dan Luna memang digelar secara tertutup. Tak banyak tamu yang datang. Hanya keluarga besar dari pihak kedua mempelai saja yang hadir," Mas Noah kali ini ikut bersuara.


"Nikahannya low-profile nih ceritanya? Seingatku, pas pernikahan yang pertama kamu menggelar resepsi yang heboh nan mewah di gedung. Untuk pernikahan kedua ini kesannya kayak biasa banget. Seperti tidak mau terendus oleh media!" ucap Mbak Poppy yang terdengar seperti cibiran untuk telingaku.


"Pas nikah sama Malena, proses resepsi kamu jadi pembicaraan banyak orang dan trending topik di sosmed. Yang ini, aku sampai enggak tahu kabaran apa-apa! Mungkin karena ini pernikahan kedua kali ya..jadi sengaja dibikin enggak usah ramai!" lanjut Mbak Poppy lagi.


Mas Noah tersenyum tipis. "Aku menikah bukan untuk kepuasan media. Tidak perlu yang heboh. Justru aku lebih suka konsep resepsi yang sederhana. Lebih intimate. Poin penting dari pernikahan terletak pada pengikatan janji sucinya, bukan diukur dari tingkat seberapa mewahnya resepsi itu," terang Mas Noah.


SKAKMAT!! Mbak Poppy dibuat mati kutu oleh suami tampanku itu. Ahhh..makin cinta saja aku sama Mas Noah.


"Betul Mbak, resepsi pernikahanku boleh saja sederhana...tapi pas honeymoon, Mas Noah mengajakku tour keliling Eropa selama satu bulan lamanya. Puas banget!" sahutku memanas-manasi, yang dibalas Mbak Poppy dengan senyuman meringis.


Dari gerak-geriknya, wanita ini seperti barisan kaum sumbu pendek yang sedang patah hati karena Mas Noah sudah menikah lagi denganku. Bukannya mau berprasangka buruk. Nyatanya dari tadi tak ada satupun kalimat yang mengenakkan hati keluar dari mulutnya.


Parahnya, wanita didepanku ini mengamati penampilanku dari atas sampai bawah dengan tatapan aneh seakan-akan mengejek--bagaimana bisa Noah menikah dengan gadis seperti ini? Belum lagi, dia seperti menatap lapar pada Mas Noah seakan-akan dia adalah mangsa yang empuk.


Kalau aku tidak punya sopan santun, pasti sudah aku bikin ribut nih! Tapi tidak boleh gegabah. Menjadi Nyonya Clerk, harus bisa tahan emosi...sabar...jadilah wanita elegan dan berkelas agar aku terlihat pantas menjadi pasangan hidup Noah Clerk.


"Sudah..sudah, ini kenapa jadi ngomongin soal resepsi dan honeymoon. Itu kan sifatnya private..lebih baik bahas topik lainnya!" Mas Noah menengahi.

__ADS_1


Dia juga terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan kami yang menjurus kearah privasi. Suamiku itu peka kalau tensi diantara kami begitu panas. Jangan salahkan aku, Mbak Poppy yang mulai duluan dengan melirik-lirik tajam menatapku.


"Kabar kamu dan keluarga bagaimana Poppy, semua sehat-sehat saja kan Om dan Tante?" tanya Mas Noah.


"Sehat Noah..Papa sebulan yang lalu sempat rawat inap karena dehidrasi. Tapi sekarang beliau sudah sehat bugar kembali, makanya bisa mampir ke rumah orangtua kamu."


Hah? Orang tua Mbak Poppy sedang bertamu di rumah mertuaku? Mereka sepertinya akrab sekali.


"By the way, bisnis apa yang sedang Daddy-ku coba jalin dengan perusahaan Papa kamu?"


"Itu lho, Papaku kan mau ada rencana proyek pembangunan restoran franchise di Bandung. Papa lagi sibuk cari tanah dan lokasi yang sekiranya strategis. Makanya Papa minta bantuan Om Jo yang ahli. Nanti kalau sudah dapat, Papa mau pakai jasa kontraktor kamu untuk ikut serta dalam pembangunannya. Sekalian juga..kamu yang design bangunan restorannya seperti apa nanti! Mau ya?" Mbak Poppy terlihat begitu semangat dan tersenyum centil pada suamiku.


"Hmm..menarik, boleh juga. Nanti akan aku bicarakan sama Daddy detailnya seperti apa." ucap Mas Noah santai. Kalau sudah bicara bisnis begini, aku tak mengerti apa-apa.


"Bagus deh, nanti aku akan sering main ke kantor kamu ya.."


Mas Noah tak menjawab, hanya melirikku. Karena duduk kami yang berdempetan, Mas Noah meletakkan tangannya pada lututku dan mengelus pahaku. Kemudian ia tersenyum manis menatapku.


Bagus, artinya Mas Noah benar-benar menghargai kehadiranku disini.


Dari sini aku bisa menyimpulkan kalau Mbak Poppy masih memendam rasa sama Mas Noah. Meski perjodohan mereka sudah hampir 8 tahun yang lalu, bukan tidak mungkin Mbak Poppy masih ada rasa. Hati orang siapa yang tahu.


Apalagi Mbak Poppy masih stay single di usia yang tak lagi muda. Bukan aku mempermasalahkan umurnya. Bodo amat mau dia menikah kapanpun sesuka hati, asal jangan menggoda Mas Noah saja.


"Aduhh....awww.." aku merintih sambil memegangi perutku yang tiba-tiba terasa sakit.


Serangan kram seperti biasanya. Bahkan perutku terasa mual sekarang. Rasanya aku ingin buru-buru ke kamar mandi.


"Mas aku ke toilet dulu ya..." ucapku berbisik seraya menutupi mulut.


Dengan langkah tergesa-gesa, aku berlari kecil menuju kamar mandi mengabaikan teriakan Mas Noah yang melarangku untuk bersikap sembrono.


"Lun..hati-hati! Jangan lari begitu nanti tersandung bagaimana!" Mas Noah bangkit dari sofa dan berjalan mengekoriku dan meninggalkan Mbak Poppy yang kebingungan.

__ADS_1


Huwekk...


Aku langsung memuntahkan isi perutku dalam wastafel begitu masuk. Aku belum sarapan apa-apa sejak pagi, sehingga muntahaan yang keluar hanya cairann bening.


Dari belakang, Mas Noah mengusap punggungku naik turun dengan sentuhan yang lembut. Tangannya membuat gerakan mengikat rambutku, kemudian mengangkatnya naik agar tidak terkena basahan.


Huwekk...


Begitulah kira-kira yang kualami hingga 10 menit kedepan, sampai akhirnya tubuhku lemas dan aku mendudukkan diri diatas closet. Mas Noah mengambil tisu gulung lalu dengan telatennya mengusap keningku yang penuh keringat.


"Are you okay? Wajah kamu pucat...kita ke dokter sekarang ya?" Mas Noah menangkup wajahku penuh kasih sayang. Gurat kekhawatiran tampak jelas pada wajah tampannya.


"I'm okay Mas, ini kan sudah biasa...morning sickness as usual!" aku balas memegang telapak tangan Mas Noah yang ada di pipiku.


"No...kamu pucat..aku takut! Ayo ke rumah sakit sekarang!" ucap Mas Noah dengan nada bergetar. Rasa khawatirnya tidak main-main.


"Hey..Mas..aku baik-baik saja, istirahat sebentar juga udah sembuh sendiri nanti."


"Astaga, aku lupa...kamu kan belum makan ya!" Mas Noah menepuk jidatnya pelan. "Aduh..ayo..ayo, kita keluar sekarang! Aku gendong kamu ke kamar. Aku minta Bibi untuk siapkan sarapan buat kamu."


"Eh ya Mas...itu Mbak Poppy kamu tinggal ya? Orangnya masih diluar berarti?"


"Aku tidak perduli sama Poppy, prioritasku itu kamu! Nanti aku suruh dia pulang saja, aku mau fokus mengurus kamu sekarang!" ujar Mas Noah tegas.


Hatiku menghangat mendapatkan perhatiannya yang begitu tulus. Aku rasa Mas Noah sudah mulai punya perasaan berlebih padaku. Rasa sayangnya, perdulinya, ahh..aku jadi meleleh dibuatnya.


Bolehkah aku berharap kalau itu cinta? Selama ini Mas Noah tak pernah bilang kata cinta padaku. Pasti akan terdengar indah ya bila kata sakral itu dia bisikkan di telingaku.


Lamunanku terbuyarkan ketika Mas Noah langsung membopong tubuhku dengan gaya bridal style. Kami berdua keluar melewati area ruang tamu dimana Mbak Poppy masih duduk manis dengan rasa penasaran yang membuncah.


Sampai di kamar, Mas Noah membaringkan tubuhku diatas kasur dan menarik selimut untukku. "Aku mau keluar dulu untuk meminta Poppy pulang, setelahnya aku suruh Bibi antar makanan kesini. Tunggu sebentar ya sayang.." Mas Noah mengecup keningku sekilas lalu lari terbirit-birit keluar.


Tunggu-tunggu...sayang? Mas Noah tadi bilang sayang? Aku tidak salah dengar kan? Astaga Tuhan...Mas Noah bilang sayang?

__ADS_1


Denyut jantungku berdetak lebih cepat bagaikan petir kilat yang menyambar. Om dudaku itu memang luar biasa. Hanya dengan ucapan kata sayang, rasanya aku ingin pingsan dan terbang ke langit ketujuh saja. Kakiku seperti tidak sedang menapak di bumi sekarang.


***


__ADS_2