Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Tangisan Pilu


__ADS_3

"Nyonya Jelita...ada kepentingan apa anda datang kemari?" Luna menatap tajam kearah Jelita.


"Luna masih ingat sama Mama?"


Tentu Luna mengingatnya. Bagaimana bisa dia lupa dengan wajah seorang wanita yang dulu telah membuangnya dan membuat Luna merasakan penderitaan di masa kecil. Memori buruk itu tak akan bisa terhapus dan tak lekang oleh waktu.


"Saya tidak amnesia, saya ingat betul siapa anda. Wanita yang telah menelantarkan anak kandungnya sendiri ketika dia masih berusia 7 tahun. Wanita yang suka menyiksa anaknya karena dianggap pembawa sial, itulah anda bukan?" sindir Luna terang-terangan.


"Luna....Mama kangen sama kamu sayang..Mama pengen bicara sama kamu, Mama minta maaf.." wanita itu memohon sembari menangis.


Sudah lama sekali keduanya tak


Luna berdecih, "Huh..kangen? Untuk apa kangen? Sebaiknya anda segera pergi dari sini, saya tidak ingin ditemui. Dan tolong, buang saja air mata buaya itu!"


"Mama mohon Lun, sekali ini saja izinkan Mama un--" ucapan Jelita terhenti.


"Berhenti untuk membual Nyonya Jelita yang terhormat. Sebutan Mama tidak pantas disematkan pada anda yang sudah membuang anak kandung sendiri dan menelantarkannya. Saya tidak memiliki Mama ataupun orang tua! Pergi dari sini sebelum saya bertindak kasar..." Luna mengusir Jelita.


Luna bergegas masuk kedalam meninggalkan Jelita yang masih terisak di depan pagar. Dia tak mau lagi mendengarkan penjelasan tidak penting yang keluar dari mulut wanita itu. Saking kesalnya, Luna sampai membanting pintu dengan kasar.


Tak terasa, air mata Luna jatuh menetes di pipinya. Dia menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara. Tubuhnya luruh ke lantai dan lututnya melemas. Luna menyandarkan diri dibalik pintu yang dibantingnya keras tadi.


Pertemuan singkatnya dengan ibu kandung yang telah melahirkannya barusan itu telah menorehkan luka yang begitu dalam. Luna benci perasaan ini.


15 tahun yang lalu, Luna kecil yang tidak tahu apa-apa mendadak ditinggalkan orang tua kandungnya. Luna dititipkan pada Pakdhe Bimo dan Budhe Ririn, yang notabene hanyalah orang asing.


Luna tidak pernah ada ikatan darah dengan kedua orang tua itu, tapi ironisnya..dua orang asing itu lebih menyayanginya setulus hati ketimbang orang tua kandung Luna sendiri.


Itulah sebabnya, ketika Luna ditanya mengenai dimana keberadaan orangtuanya, dia selalu menjawab bahwa mereka sudah tidak ada. Karena sejak kecil, orang tua Luna memang tak pernah hadir mengisi hari-hari kehidupannya.


Sementara diluar rumah, Jelita kembali masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah kontrakan. Jelita sengaja meminta supirnya untuk parkir didepan gang saja. Kemudian Jelita segera menelpon suaminya, yang tak lain adalah Brahim--ayah kandung Luna.

__ADS_1


"Paa...Mama sudah ketemu sama Luna, anak kita! Dia sudah dewasa Pa, dia begitu cantik dan terlihat tangguh. Awalnya kukira wajahnya mirip sepertiku..tapi ternyata dia mirip sepertimu Pa!" ucap Jelita di sambungan telepon.


"Mama benar sudah ketemu Luna? Ya Tuhan Ma...Papa jadi pengen ketemu sama dia juga! Papa rindu putri kita, akhirnya Ma..kita ketemu sama Olivia kecil kita! Mama dimana sekarang? Papa kesana ya..."


"Ja--jan--jangan Pa..hiks..hikss.." Jelita terbata-bata tak kuasa menahan tangisnya.


"Mama kok menangis? Mama kenapa?" Brahim khawatir mendengar suara serak istrinya yang terdengar menyakitkan.


Brahim yakin jika Jelita tidak sedang menangis bahagia, melainkan menangis pilu.


"Luna, sangat membenciku Pa! Dia bahkan tak mau bertemu denganku, dia mengusirku terang-terangan...bagaimana ini Pa? Mama takut..hati Mama sakit ketika Luna menatap benci ke arah Mama!" tangisan Jelita kembali pecah tak terbendung.


"Mama balik ke hotel dulu aja ya..kita ngobrol baik-baik. Papa tunggu Mama.."


"Oke Pa, Mama balik sekarang!" Jelita menurut dan memerintahkan supirnya untuk kembali ke hotel penginapan mereka.


***


Setelah mengantar Luna pulang, Noah tidak langsung kembali ke kediamannya. Noah justru melancong untuk mengunjungi rumah orangtuanya, atau bahkan menginap disana semalam dua malam.


"Iya Mom, aku Senin udah harus balik kerja. Ada proyek pembuatan lapangan golf yang sedikit mengalami kendala. Tadinya aku mau pulang lusa, tapi pekerjaannya enggak bisa ditinggal. Kasihan para karyawan kelimpungan, soalnya klien-ku yang ini agak sedikit alot!" keluh Noah.


"Itulah resikonya jadi pemimpin harus siap sedia..kala perusahaan dan karyawan sedang membutuhkan! Mommy dengar kamu sudah lama mengidam-idamkan proyek ini kan? Jadi kamu harus kasih yang terbaik untuk klien-mu!" Mommy Adelia menasihati.


"As always Mom, makanya aku pulang! Ini rumah kok sepi banget ya, Daddy kemana?" Noah celingukan mengedarkan pandangannya ke sudut penjuru rumah.


"Daddy-mu sedang pergi memancing bersama Isabelle dan keluarganya Steven, Chloe juga ikut kesana!"


"Oh iya sampai lupa, mertuanya Kak Isabelle udah ada di kota ini ya Mom! Kapan hari soalnya Kak Isabelle minta aku jemput Chloe ke sekolah karena Kak Steven sibuk jemput ortunya di luar kota."


"Iya, besan Mommy itu kan stay disini sementara waktu sampai Isabelle melahirkan anak kedua."

__ADS_1


"Terus Mommy kenapa disini sendirian, kok enggak ikut mereka?" Noah keheranan.


Biasanya Mommy Adel itu paling semangat kalau urusan pergi-pergi.


"Tadi Mommy agak enggak enak badan gitu, kayak flu dan meriang. Jadi Mommy di rumah aja! Daddy-mu sempat mau batalin acara mancingnya tapi Mommy tolak, sungkan sama besan. Toh Mommy juga udah baikan!"


"Bener nih? Mommy mau aku temenin enggak ke klinik atau RS untuk periksa?" Noah menggenggam kedua tangan ibunya.


"Nope, tadi dokter keluarga udah kesini periksa Mommy. Katanya Mommy itu kecapekan dan darah rendah nya kumat...jadi gitu deh. Habis minum obat udah enakan kok!"


Noah lega karena Mommy nya sehat-sehat dan tidak ada masalah penyakit serius.


"Kamu kelihatan capek habis liburan dari luar negeri..nginep aja dulu di rumah Mommy!"


Penampilan Noah menunjukkan seorang pria yang kelihatan lelah. Selama liburan kesana kemari bersama Luna, malamnya Noah tak serta merta istirahat. Ada beberapa laporan dan desain lanskap yang harus dibenahi sehingga membuatnya lembur.


"Iya Mom, rencana awal memang aku mau menginap disini kok!" sahut Noah.


"Ahh...good idea! Sekalian, ceritakan pada Mommy gimana liburan kamu dengan Luna? Asyik enggak? Udah jadian belum?" Mommy Adel menaik-naikkan kedua alisnya.


"Hemm...hemm..mulai kan, Mom c'mon! Aku sama Luna itu hanya teman, kami tidak ada perasaan yang saling menyukai kok!" Noah risih.


"Kamu pasti belum bisa move on ya dari mantanmu itu! Masa perempuan secantik Luna dianggurin. Kamu sama Luna pas liburan kemarin kemana aja? Masa enggak ada setrum-setrum cinta sedikitpun yang berkesan?!" Mommy Adel meninggikan suaranya.


"Mulai deh Mommy gosip enggak jelas! Aku dan Luna itu murni teman, dia bukan tipeku juga.." Noah berdecih kesal.


"Terus tipe kamu yang kayak gimana? Yang tukang selingkuh kayak Malena gitu?" ucap Mommy Adelia sinis.


"Mommy ngeselin banget sih, anak baru pulang udah diomelin. Udahlah..malas! Aku mau panggil Bibi aja buat masakin aku!" Noah yang terlanjur kesal langsung pergi melipir ke dapur


"Ayolah Noah..jadiin Luna mantu Mommy dong..." teriak Mommy Adel dari jauh yang diabaikan Noah.

__ADS_1


***


Jangan lupa untuk memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih semua.


__ADS_2