
"Baiknya, tawaran Om Noah itu gue terima atau enggak ya Fris?" tanya Luna sembari mengunyah keripik singkong yang dibelinya dari abang-abang penjual yang baru saja lewat.
Luna dan Friska kini tengah duduk-duduk bersantai di teras kontrakan mereka untuk menikmati angin malam.
"Gue ditanyain terus nih sama Om Noah, soal kepastiannya gimana?! Kalau udah fix mau ikut, besok dia bakal ngurus paspor kilat buat gue..begitu katanya!"
Sudah terhitung 3x Noah mengirimkan chat message pada Luna untuk mempertanyakan perihal pasti atau tidaknya dia ikut ke Singapura.
"Ya sebenarnya sih terserah lo Lun, cuman kalau lo tanya gue.. jelas langsung gue iyain! Kapan lagi kan diajak liburan? Ke Singapura lagi, kesempatan enggak akan datang dua kali sister!"
"Gue sih mau-mau aja Fris, cuman kan gue itu baru kenal sama Om Noah..takutnya entar diapa-apain! Gak lucu kan tiba-tiba diajak liburan ke keluar negeri, terus endingnya gue ditinggal dan dijual!"
"Buset...pikiran lo jauh amat! Enggak mungkin Om Noah begitu, kebanyakan nonton film lo makanya jadi overthinking!"
"Ya habis gimana dong, jaman sekarang itu lagi marak human trafficking! Lagian ya, gue kan kemarin-kemarin habis berantem sama Om Noah! Masa tiba-tiba dia berubah jadi baik dan ngajakin gue liburan, kan random banget!"
Luna masih menaruh curiga akan motif dibalik rencana Noah yang tiba-tiba mengajaknya pergi ke Singapura. Friska yang tadinya berpikir positif mulai ikut goyah.
"Ngeselin banget lo, pikiran gue jadi ikut terkontaminasi curiga kan jadinya!" Friska berhenti memakan camilan kripiknya dan menoleh tajam kearah Luna.
"Gini aja deh, mending lo telpon Pakdhe sama Budhe lo. Tanya dulu sama mereka, boleh apa enggaknya. Walau bagaimanapun lo wajib untuk izin sebelum bepergian. Apalagi ini skalanya luar negeri bukan dalam negeri!"
"Wah iya Fris, gue sampai lupa ngabarin Pakdhe sama Budhe..untung lo ingetin! Tapi kalau gue cerita ke mereka, kayaknya enggak diizinin deh!" keluh Luna.
"Mereka berdua itu orangnya stricted. Dulu aja pas jaman sekolah ada perpisahan keluar kota, gue gak boleh ikut! Pas gue mau merantau cari kerja dan pindah kesini juga dilarang-larang dulu!" lanjut Luna.
__ADS_1
"Urusan itu mah belakangan, yang penting lo kabari mereka dan minta izin. Andai kata dibolehin, berarti emang rejeki lo untuk berangkat. Tapi kalau mereka gak setuju, berarti itu pertanda kalau keraguan lo beralasan," alasan yang cukup logis dari Friska.
Setidaknya Luna punya alasan untuk menolak jika Pakdhe dan Budhe nya tak memberi sinyal hijau untuk liburan.
"Oke deh, gue telepon sekarang..."
"Gue nimbrung percakapan telepon lo disini gak apa-apa kan? Mager pindah tempat..udah terlanjur posisi enak!"
"Hilih...kayak ngomong sama orang lain aja lo! Biasanya kalau gue telepon seseorang lo pasti nguping, kadang ngumpet-ngumpet!" Luna menggelitik pinggang Friska.
Friska terkekeh pelan, "Ishhh...stop...stop geli gue! Udah buruan call, gue kepo jawabannya gimana!"
"Iya bawel, tunggu bentar HP gue ada di dalam.." Luna segera mengambil ponsel miliknya yang sedang di charge di atas nakas.
***
"Hey, sedang melamun apa kamu nak?" Daddy Jo menghampiri Noah yang tubuhnya kini tengah terbaring berselanjar di gazebo taman.
"Enggak mikirin apa-apa kok Dad, I'm absolutely fine!" balas Noah seraya terkikik pelan, untuk menyembunyikan kegelisahannya.
Daddy Jonathan menghela napasnya kasar.
"Noah..kamu itu udah jadi anak Daddy selama 32 tahun. Kalau ada sedikit saja perubahan dari diri kamu, maka Daddy sebagai orang tua pasti terasa. Insting seorang ayah itu juga kuat lho..tidak cuman Ibu saja!"
"C'mon, curhat sama Daddy kamu ini kenapa..datang-datang ke rumah mukanya galau begitu?!" Daddy Jo masih mendesak Noah untuk bercerita.
__ADS_1
Kalau sudah kepalang tanggung ketahuan begini, alamat Noah pun harus jujur. "Ini soal Malena, Dad!"
Jawaban Noah barusan membuat pria paruh baya tersebut terkejut, "Malena mantan istrimu maksudnya?"
"Iya Dad, emang Malena yang aku kenal siapa lagi? Ya cuman dia orangnya!"
"Wanita itu buat masalah apa lagi ke kamu? Belum puas dia setelah menipu kamu dan berselingkuh diam-diam? Bilang sama Daddy, apalagi rencananya kali ini?" Daddy Jo menyerocos tanpa memberi kesempatan untuk Noah menjelaskannya.
"Santai Dad..tenang dulu dong!" Noah mengelus lengan Daddy Jo yang emosinya tersulut ketika mendengar nama Malena disebut lagi.
"Gimana bisa tenang, Daddy itu kesel banget sama dia! Bawaannya pengen Daddy remat-rematt tuh sampai jadi abu! Dasar wanita ular.." Daddy Jo berdecih kesal.
"Tadi aku enggak sengaja ketemu sama Malena, dia datang bersama Andre kesana."
"Tuh kan bener apa yang Daddy bilang Penyakitnya kambuh lagi rupanya. Kedua orang itu sama-sama tukang selingkuh. Klop deh! Untung kamu sudah sadar dan berpisah dengannya,"
Nafas Daddy Jo tersengal-sengal sehabis mengumpat marah pada mantan menantunya itu.
"Dad, bisa tolong dengarkan penjelasanku dulu tanpa memotong pembicaraan? Dari tadi aku mau ngomong disela terus lho..."
"Iya maafkan Daddy...lanjutkan saja ceritanya!" Daddy Jo tidak akan menghujat atau menghakimi Noah sebelum mendengar perspektif nya dari segala sudut pihak.
"Jadi gini Dad...."
***
__ADS_1
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.