
Noah
"Kk-kenapa ingin ke Semarang? Kamu kangen sama Pakdhe dan Budhe?" kira-kira begitu asumsiku.
"Hmmm...aku kangen mereka," jawab Luna datar.
"Ya sudah, aku akan ambil cuti kantor selama seminggu--"
Luna menyanggahku, "Mas...kamu dengar tidak apa yang aku katakan tadi?"
"Aku dengar. Kamu bilang mau pulang ke Semarang kan? Tentu aku akan menemani kamu pergi kesana. Biar nanti kusuruh Siska pesankan tiket pesawatnya!" kataku.
"Mas, aku memang mau ke Semarang. Tapi enggak sama kamu. Jadi enggak perlu lah kamu libur atau ambil cuti. Kamu disini aja. Biar aku yang berangkat."
Aku tertewa mengejek tak percaya. "Pergi sendiri ke Semarang? Tidak Luna. Kamu pikir aku bakal izinin? Big..big No!" kutolak permintaan tidak masuk akalnya itu.
Sudah tahu sedang hamil, ini malah mau pergi keluar kota tanpa pengawasan. Aku tak mengerti cara berpikir Luna yang selalu out of the box.
"Aku mau menenangkan diri dulu Mas di Semarang."
"Menenangkan diri bagaimana?" aku mulai meninggikan suaraku.
Jujur aku tak suka dengan perkataannya. Luna mau pergi ke Semarang tanpa hadirnya diriku. Sepertinya dia sengaja menghindari aku.
"Akhir-akhir ini, terlalu banyak masalah yang menimpa kita Mas. Mulai dari Mbak Malena yang masih mengejar-ngejar kamu, Mbak Poppy yang terang-terangan menggoda kamu didepanku, kemudian ada teror, dan yang terakhir aku hampir saja tertabrak. Rasanya lelah Mas."
"Selama aku hamil, entah kenapa rasanya aku stress terus. Yang cemburu, yang curigaan, yang manja, yang posesif, dan itu jadi boomerang sendiri untuk hubungan kita. Hampir sering lho kita bertengkar!"
Luna mengungkapkan semua keluh kesahnya padaku secara panjang lebar tanpa ada jeda. Kuakui itu memang benar. Terkadang aku kewalahan menghadapi mood-nya yang naik turun sehingga tanpa sadar kami berakhir dengan ribut.
"Terakhir kali saja kita ribut gara-gara kamu yang sok-sokan mau kirim bunga untuk Mbak Malena. Sudah aku larang, kamu pun nekat masih kirim dengan alasan hanya sebatas formalitas."
"Dari hal kecil itu saja, sudah membuat aku kepikiran Mas..aku stress. Bayangan buruk selalu menghampiriku entah kenapa. Aku juga maunya enggak overthinking, tapi sulit." lanjut Luna lagi.
Tak bisa dipungkiri juga, aku agaknya sedikit tak nyaman apabila Luna mencurigai aku terus menerus. Kecemburuannya dengan Malena dan Poppy berada dalam kategori diatas rata-rata.
Padahal Luna sudah kubilangi berkali-kali jika aku takkan mungkin balikan dengan mantan. Aku sudah punya dirinya dan calon anak kami yang masih ada di perut. Dari hal itu saja, tak mungkin aku berbuat macam-macam dan merusak bahtera rumah tangga yang baru saja kami bangun.
__ADS_1
Tapi balik lagi, itu semua masih dalam batas wajar. Aku maklum jika dia cemburu. Luna menaruh harapan yang begitu besar padaku untuk mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Namun bodohnya diriku ini, masih suka terjebak dengan masa lalu dan selalu membuka ruang untuk Malena sehingga dia mendekat.
Ketidaktegasan diriku membuat Luna sering merasa insecure akan hubungan percintaan kami. Aku sering menarik ulur perasaannya tanpa pernah mengatakan kata cinta sekalipun. Mungkin faktor itulah yang membuat Luna meragukanku.
"Semua masih bisa kita bicarakan baik-baik sayang, kamu enggak perlu ke Semarang sendirian. Kamu bisa menenangkan diri di rumah. Aku janji aku tidak akan ganggu kamu! Maafin aku ya, please?! Aku janji tidak akan lagi berurusan dengan Malena." kucoba lagi peruntunganku untuk meyakinkan Luna agar ia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Luna membuang mukanya kearah samping. "Aku mohon Mas, jangan mempersulit keadaan. Berilah aku waktu sebentar saja untuk memikirkan semuanya. Insiden teror meneror saja membuatku tertekan. Bahkan aku hampir keguguran."
Tak lama setelahnya, aku melihat lelehan air mata jatuh ke pipinya. Luna-ku menangis. Dan alasan dari balik air matanya itu adalah aku.
"Kamu pun juga pasti merasa risih kan Mas dengan sifat kekanak-kanakanku? Makanya kita butuh space sejenak. Menjauh dari satu sama lain. Sama-sama menata hati dan berbenah diri."
Rasa panik menjalari seluruh tubuhku. Aku menggelengkan kepala tak setuju karena aku benar-benar tak bisa jauh darinya. Di momen seperti inilah, aku merasa sangat takut kehilangan Luna.
"Tidak..tidak mau..aku tidak mau pisah sama kamu dan anak kita. Tolong jangan tinggalkan aku Lun!" aku memohon dengan wajah memelas.
Luna kembali meraih tanganku untuk digenggamnya lagi, "Aku pergi untuk kembali kok Mas..yang aku butuhkan cuman waktu sebentar saja untuk refreshing."
"Kalau begitu kita liburan saja berdua...sama dengan refreshing kan? Aku akan tinggalkan semua pekerjaanku demi kamu. Aku akan ambil cuti dan mengosongkan jadwal khusus agar kita berdua bisa menikmati waktu bersama. Bagaimana?" aku memberi Luna tawaran yang menggiurkan. Semoga saja dia bisa luluh.
"Sama aja bohong dong, Mas. Tujuan aku ke Semarang kan mau membebaskan diri sejenak dari kamu. Kalau kamunya ikut liburan, apa bedanya?"
Aku membungkukkan tubuhku dan merangsak masuk kedalam pelukan Luna. Kudekap pinggang wanitaku itu secara erat tanpa menyakiti buah hati kami yang ada didalam perut.
"Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh benci aku, tapi jangan paksa aku untuk menjauh dari kamu dan anak kita. Aku tak bisa melakukannya, Lun. Kamu mau membuatku mati suri apa?"
Luna menepuk bahuku kasar, "Mas..kenapa ngomongnya jelek begitu sih!"
Kepalaku mendongak menatapnya. "Ya habis kamu sih pakai acara memaksa mau pergi sendiri ke Semarang!"
"Kan sebentar saja Mas.."
"Tidak..tidak ada istilah sebentar-sebentar. Kamu kalau sedang marah kan lama ngambeknya. Aku tidak mau ya berpisah lama-lama!"
"Tapi aku butuh liburan Mas.."
"Iya boleh..tapi sama aku. Sudah aku tawarin kan tadi, kalau mau liburan wajib perginya sama aku!"
__ADS_1
Luna mendengus sebal. "Huhh..keras kepala banget sih kamu Mas!"
"Bodo amat. Yang penting aku tidak ditinggal sendiri. Jadi bagaimana, kamu terima ajakanku?" tanyaku lagi.
Luna terhenyak diam. Mungkin saja ia masih merenung memikirkan solusi terbaik dari masalah kami. Besar sekali harapanku agar dia mau liburan berdua.
"Kenapa tiba-tiba jadi ngajakin aku liburan Mas? Katanya lagi sibuk? Kamu lakukan ini semua karena takut aku marah ya? Tenang Mas, aku enggak marah kok. Kan sudah kubilang, aku pergi untuk kembali. Kalau sudah waktunya aku pasti akan balik."
Luna masih keras kepala dan terlihat enggan menerima permintaanku. Hatinya berat sekali untuk mengatakan iya.
"Kamu tidak mau ya liburan berdua denganku?"
"Hmm..bukan enggak mau Mas, lebih ke heran aja. Kemarin-kemarin pas aku minta sesuatu, kamunya enggak mau nurutin. Hanya sekedar hal simpel seperti minta gendong dan minta beli nasi uduk saja kamu menolak. Sekarang kenapa tiba-tiba mau menurutiku untuk liburan?"
Pernyataan Luna membuat diriku tertamparr. Miris sekali mendengar curahan hati istriku yang sedang mengidam namun aku sebagai suami malah menganggapnya remeh.
"Lun..aku minta maaf ya kalau akhir-akhir ini sikapku keterlaluan. Maaf jika aku menjadi suami yang jauh dari ekspektasi kamu. Untuk itulah, beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Selagi orang-orangku menyelidiki soal teror yang menimpa kita, alangkah baiknya kita manfaatkan momen ini untuk liburan berdua saja. Kita babymoon, mau ya?"
Sekali lagi aku membujuk Luna untuk yang terakhir kalinya. Kalau dia masih tak mau, berarti fix. Aku tak akan memaksa lagi.
"Maunya liburan kemana?" tanya Luna seraya memancarkan senyuman tipisnya.
Harapan itu ada. Kalau dia sudah tanya begini. Artinya Luna mau liburan denganku. Ahhh...senangnya, aku berhasil meluluhkan hatinya!
"Aku bebas. Kamu saja yang pilih mau kemana!"
"Serius aku yang pilih? Kamu sajalah..nanti kalau aku yang mengusulkan ditolak lagi." Luna menyindirku halus. Wanita memang detail dalam hal mengingat-ingat ucapan pria.
"Bebas sayang...kamu boleh pilih. Aku janji tidak akan marah. Tidak akan protes pula. Bebas!"
"I wanna go to Greece..." ucap Luna dengan nada lirih yang hampir tak terdengar.
"Greece?"
"Iya." Luna mengangguk kecil. "Aku mau ke Santorini dan Mykonos. Apa boleh?"
"As your wish. Kita akan liburan kesana selama 2 minggu." aku langsung mengiyakannya tanpa keraguan.
__ADS_1
Jika Luna sudah mendapat lampu hijau dari dokter, aku akan langsung mengajaknya pergi ke Yunani sesuai keinginannya.
***