
Huwekkk..
Luna baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengalami morning sickness untuk yang kesekian kalinya.
"Nyonya baik-baik saja kan?" tampak para asisten rumah tangga di rumah berbaris rapi mengkhawatirkan kondisi Luna.
"Baik kok Bi, Mbak..saya cuman mual biasa aja. Bukankah ini hal yang normal untuk ibu hamil kan?" ucap Luna seraya memegangi perutnya.
"Iya Nya, tapi itu wajahnya Nyonya pucat sekali. Nyonya baru saja muntahh kan? Pasti sarapan pagi yang sudah ditelan jadi habis keluar semua deh!" celetuk Sari.
Luna tersenyum tipis. "Minta tolong buatkan saya teh hangat ya Bi?"
"Siap Nya, tunggu sebentar..Bibi ke dapur dulu!" Bi Sumi dengan gesitnya buru-buru menuju dapur untuk membuat teh hangat.
Sedangkan Rima dan Sari masih setia menunggui Luna di dalam kamar yang sedang terkulai lemas.
"Nya, sambil nunggu Bi Sumi bikin teh...saya sama Rima pijitin kakinya Nyonya gimana? Supaya lebih rileks gitu...saya jago pijat lho Nya!" Sari menawarkan diri.
"Boleh Mbak Sari..Mbak Rima...kalau tidak merepotkan," balas Luna dengan anggukan.
Kebetulan Luna memang sedikit merasakan nyeri dan linu di bagian telapak kakinya entah kenapa. Padahal kemarin-kemarin juga tidak apa-apa. Baru hari ini terasa sakitnya.
"Tentu tidak Nyonya, pekerjaan rumah sudah selesai semua kok. Kami lagi santai! Sini Nya, rentangkan kakinya!" ujar Rima.
Alhasil, kaki Luna pun dipijat secara bersamaan oleh kedua asisten rumah tangganya itu. Kaki sebelah kiri dipijat oleh Sari, sedangkan yang kanan ditangani oleh Rima.
Drtt...drtt....
Ponsel Luna yang berada diatas nakas tiba-tiba bergetar, tanda jika ada panggilan masuk. Ketika dilihat, nama Friska muncul di layar ID miliknya.
📱
"Halo Fris..." sapa Luna riang.
"Halo Luna...bestie gue! Kemana aja hoy, lo beneran ngilang nih dari peredaran! Habis nikah kayaknya sibuk banget sampai gak mengabari gue, lupa ya sama sahabat lo yang cantik ini?" cerocos Friska meledek.
"Sorry banget ya Fris...gue sama sekali gak bermaksud sok sibuk. Ini aja gue baru pulang dari honeymoon, terus langsung sibuk pindahan rumah. Belum lagi, ada kakak ipar gue yang baru melahirkan anak keduanya. Jadi kondisi rumah masih hectic gitu..makanya gue lupa telepon!"
"Iya..iya..santai aja Lun! Gue paham kok kalau kehidupan berumah tangga emang gak bisa sebebas lagi kayak pas masih gadis. Hihihi.."
"Oh ya, nanti malam jangan lupa datang ya, ke acara dinner bersama keluarga besar gue dan suami. Lo bisa kan?" Luna mengingatkan.
Hari ini adalah hari Sabtu. Dan sesuai rencana sebelumnya, Noah akan mengadakan dinner khusus bersama keluarga untuk mengumumkan kehamilan Luna nantinya. Pakdhe Bimo dan Budhe Ririn juga sudah bersiap dan dijadwalkan terbang siang ini dari Semarang.
"Bisa kok Lun, tenang aja..aman! Urusan makan gratis pasti datang gue mah!"
"Bisa aja lo!"
"Hehehe..tapi by the way, sebenarnya ada acara apaan sih lo sampai undang-undang gue untuk dinner segala? Mana tempat resto-nya kayak mewah gitu pas gue cek di internet alamatnya."
"Nanti lo bakal tahu sendiri..surprise pokoknya!"
"Siap deh, ngikut aja!"
Keheningan menggantung disela-sela percakapan mereka karena Friska menjeda ucapannya sejenak.
"Hmm...Lun, sebenarnya gue telepon lo juga ada sesuatu yang mau gue bahas nih!"
"Apa itu Fris??"
__ADS_1
"Lo sekarang ada dimana?"
"Ada di rumah gue."
"Kalau suami lo, ada di rumah juga?"
"Enggak, dia lagi keluar sebentar. Kenapa emangnya?"
Di seberang sana, Friska tampak menimbang-nimbang dan menyusun kalimat yang baik untuk menjelaskannya pada Luna agar dia tidak shock.
"Gini ya Lun, sebelumnya gue minta maaf. Gue sumpah deh, gak ada niatan untuk memprovokasi! Tapi tadi gue enggak sengaja lihat suami lo di area parkiran rumah sakit Royal Greenich. Dia kayak lagi ngobrol sama perempuan, dan pas gue cek ternyata itu mantan istrinya. Dan si Malena itu lagi pakai kruk dan kakinya kayak di perban gitu."
Deghh..
Luna membelalakkan matanya terkejut.
"Ss--serius lo Fris?"
"Iya Lun, soal ginian bukanlah candaan semata. Gue kirim via chat deh bukti foto nya, kalau lo gak percaya!"
Tanpa memutus sambungan teleponnya dengan Friska, Luna segera mengecek foto yang baru saja dikirim oleh sahabatnya itu.
Dan benar saja, foto yang terpampang di layar ponselnya adalah foto Noah sedang berbincang-bincang bersama Malena. Tidak diragukan lagi jika ini Noah. Dari perawakan dan baju yang dikenakan Noah saat pergi tadi, semuanya sama persis.
Seketika, muncul perasaan nyeri di relung hati Luna yang terdalam. Jantungnya bagaikan dihantamm oleh ribuan karang setelah mendapat informasi ini.
"Tadinya gue lagi besuk atasan gue yang baru selesai operasi. Tahunya, tiba-tiba gue lihat suami lo sama si Mak Lampir itu. Dan satu lagi Lun, mereka juga masuk ke dalam mobil yang sama. Setelah itu gue enggak tahu mereka pergi kemana!" Friska menjelaskan.
Tangan Luna bergetar dan pikirannya mendadak kalut. Berbagai pemikiran negatif berkecamuk di dalam otaknya.
"Untuk apa Noah bersama Malena?" batinnya dalam hati.
"Iyy--iya..Fris..gue baik kok." Luna mencoba menetralisirkan jiwanya dan tetap tenang.
"Tapi Lun, lo jangan bertindak gegabah ya. Dalam artian, pas suami lo pulang nanti...lo tanya dulu kebenarannya sama dia. Sebisa mungkin komunikasikan baik-baik. Barang kali gue yang salah sangka tadi."
"Iya Fris, ntar deh gue coba ngomong sama Mas Noah. Makasih ya udah telepon!"
"Sama-sama Lun, ya udah..kalau gitu gue tutup dulu teleponnya ya. Gue lagi di perjalanan pulang soalnya."
"Oke Fris, hati-hati di jalan ya..bye.."
"Bye Lun, see you at night!"
Tuttt..tutt...
Sambungan telepon keduanya terhenti.
Pandangan Luna begitu kosong seolah-olah jiwanya melayang entah kemana. Luna terlihat panik sampai menggigiti bibirnya hingga keluar darah sedikit.
Bi Sumi telah kembali dari dapur dengan membawa satu teko berisikan teh manis aroma melati yang hangat beserta cangkir kecil dengan motif bunga mawar ke dalam kamar Luna.
"Teh nya sudah jadi Nyonya, ayo di minum dulu.." ucap Bi Sumi ramah. "Ada sepiring cookies juga, untuk camilan pendamping. Barangkali Nyonya lapar!"
Sayangnya, Luna tetap diam dan memilih acuh tak menyahutinya.
"Untuk Bibi dan Mbak...saya minta kalian keluar dulu ya. Saya lagi pengen sendiri dan tiduran istirahat. Nanti kalau Mas Noah udah pulang, bilang sama dia kalau saya mau bicara.
"Baik Nyonya," balas ketiganya serempak seraya mengangguk paham.
__ADS_1
Keluar dari kamar Luna, para ketiga asisten rumah tangga itu saling melirik satu sama lain dengan raut wajah kebingungan.
"Nyonya kenapa itu? Kok kelihatannya cemas?" Bi Sumi bertanya karena penasaran.
Pasalnya beliau asyik membuat teh di dapur sehingga tak tahu menahu mengenai apa yang terjadi pada Luna.
"Sama Bi, kita juga bingung. Nyonya jadi lesu setelah mengangkat telepon dari temannya. Padahal sebelumnya Nyonya masih senyum-senyum. Tahu-tahu lesu begitu aja!" sahut Sari.
"Hormon kehamilan mungkin ya? Sebentar-sebentar emosinya naik turun!" celetuk Rima.
"Bisa jadi. Kita tunggu Tuan pulang sajalah, biar beliau yang membujuk Nyonya. Ayo kembali ke paviliun karyawan." ajak Bi Sumi.
***
Brumm...
Suara mobil Audi R8 milik Noah terdengar memasuki garasi rumah, terparkir berjajar bersama deretan mobil-mobil mewah Noah yang lainnya.
Memasuki area ruang tengah, kedatangan Noah langsung disambut oleh Bi Sumi.
"Selamat datang, Tuan Noah."
Noah mengangguk. "Iya Bi, ngomong-ngomong ini rumah kok sepi..Luna kemana?"
"Nyonya masih beristirahat di dalam kamar. Tadi saat ditinggal Tuan, Nyonya perutnya mual-mual! Kena morning sickness katanya..."
"Dia sudah makan lagi belum?"
"Belum Tuan, saya hanya diminta untuk membuatkan teh saja tadi. Nyonya belum makan setelah muntah-muntahh. "
"Ya sudah, saya minta tolong Bibi untuk buatkan sup krim ayam dan fruits platter. Akhir-akhir ini Luna suka sekali makan itu. Nanti kalau sudah jadi langsung antar ke kamar saja!" pinta Noah.
"Baik Tuan." Bi Sumi mengiyakan.
Sebelum Noah hendak masuk ke kamar, Bi Sumi menahannya kembali. "Hmm...Tuan, maaf kalau saya lancang."
Noah menoleh cepat seraya melepaskan jaketnya. "Kenapa Bi?"
"Itu Tuan, tadi waktu saya ke kamar Nyonya, entah kenapa beliau terlihat seperti sedang sedih dan ingin menangis."
Noah mengernyitkan dahinya. "Sedih dan menangis gimana?"
"Kurang tahu Tuan, kejadiannya pas saya lagi buat teh di dapur, Sari dan Rima ada di kamar untuk memijat kaki Nyonya. Karena Nyonya sempat mengeluhkan kakinya yang sedikit linu."
"Disitu mereka melihat Nyonya sedang berteleponan dengan temannya. Tidak tahu apa yang dibahas, namun setelah mengangkatnya, raut wajah Nyonya berubah sendu. Lalu, kami bertiga diminta untuk pergi dari ruangan karena Nyonya butuh waktu sendiri. Begitu kira-kira..." ucap Bi Sumi sambil meremat jari-jarinya.
"Kalau gitu saya coba cek Luna dulu, Bibi langsung buatkan makanan yang tadi saya sebutkan."
"Iya Tuan." Bi Sumi menunduk patuh.
***
VISUAL NOAH & LUNA
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.