
"Mas...hari ini aku pergi ke klinik kecantikan ya? Sudah janjian sama dokternya juga." ucap Luna seraya mengoles selai keju dengan taburan cokelat meses pada roti tawar untuk Noah.
"Mau ngapain?" Noah sedang menyeruput jus mangga miliknya.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Noah dan Luna kini sedang menikmati sarapan bersama di taman belakang yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
"Ya perawatan Mas! Aku mau facial dan peeling untuk treatment wajah."
"Apa itu? Aman untuk ibu hamil tidak?"
"Pokoknya itu istilah perawatan kecantikan Mas! Soal aman atau tidaknya, dijamin 100% aman karena aku sudah konsultasi dengan ahlinya. Jadi boleh kan ya?"
"Ckk..buat apa sih perawatan segala? Pakai skincare rutin saja sudah cukup menurutku. Wajah kamu tidak diapa-apain itu sudah cantik!"
Luna menepuk pipinya sambil mengelusnya pelan, "Tapi kulit aku tuh kering banget Mas selama hamil. Kadang suka ngelupas sendiri sampai putih-putih gitu. Mana jerawat dan beruntusan semakin tumbuh pula. Aku jadi enggak percaya diri kalau mau bepergian."
"Mana ada? Itu aku lihat kulit kamu baik-baik aja. Bersih dan putih mulus."
"Dilihat dari kejauhan enggak kelihatan. Kalau dari dekat baru jelas Mas! Aku kan sering menemani kamu ke acara-acara kolega bisnis dan beberapa pesta penting. Nanti malu tahu kalau kelihatan jeleknya. Dikira istrinya Noah Clerk enggak becus ngurus wajah!" cerocos Luna dengan seribu satu alasannya agar diizinkan.
"Tapi aku tidak bisa antar kamu hari ini. Ada rapat penting dengan para jajaran direksi. Lalu nanti setelah jam makan siang, aku harus tinjau proyek pembangunan restoran yang sedang aku kerjakan," ujar Noah.
"Yang minta untuk ditemenin kamu itu siapa sih Mas? Aku udah hafal kok kalau kamu pasti enggak mau diajak. Ada kerjaan atau enggak, di hari libur pun kamu mana mau nemenin istrinya jalan-jalan. Pasti ada aja alasannya!" sanggah Luna.
"Suruh gendong aku sama beli nasi uduk aja, ogah-ogahannya minta ampun. Apalagi ini yang nemenin perawatan berjam-jam. Ya kan?" Luna lanjut menyindir secara halus.
Padahal kejadiannya itu sudah lama sekitar beberapa hari yang lalu. Tapi sampai saat ini masih diungkit-ungkit juga. Wanita memang tetaplah wanita. Memaafkan iya, tapi untuk lupa itu sangat mustahil. Daya ingatnya menjadi luar biasa sekali kalau berhubungan dengan kesalahan suami.
Noah sendiri bukannya tidak mau mengajak Luna jalan-jalan. Tapi kebetulan akhir-akhir ini dia memang sedang sibuk dan banyak job. Seringkali lembur dan pulang larut malam hingga melewatkan dinner bersama sang istri. Paginya sudah harus berangkat lagi ke kantor setelah sarapan.
Di hari libur, Noah memilih menghabiskan waktunya untuk nge-gym dan tiduran di kasur setelah kelelahan bekerja full weekdays. Luna sih tidak masalah. Dia maklum dengan konsekuensi pekerjaan suaminya dan jarang menuntut apapun.
__ADS_1
Asalkan Noah tetap jaga kesehatan dan tak memforsir tubuhnya dengan memaksakan pekerjaan mengejar deadline. Dan yang paling penting, Noah tak melarangnya bepergian untuk sekedar refreshing.
Noah meraih tangan Luna dan mengecup punggung tangannya sekilas. "Maaf ya, bukan kemauan aku untuk mengekang kamu. Tapi kamu tahu kan, belum lama ini rumah kita baru saja diteror dengan kiriman bangkai hewan. Sampai detik ini aku belum dapat titik terang soal itu. Makanya aku enggak tenang melepas kamu pergi-pergi sendirian tanpa aku."
"Itu artinya, penyelidikan CCTV rumah kita belum ada hasil Mas?" tanya Luna penasaran.
Sebab sejak kejadian teror berlangsung hingga hari ini, Luna belum follow up pada suaminya atau sekedar tanya-tanya kabar mengenai kasus terkait.
Noah menggeleng. "Semuanya masih samar. Yang jelas, alat penyadap suara itu dipasang di sudut-sudut rumah sekitar satu setengah bulan yang lalu kurang lebihnya. Kenapa aku bisa katakan itu, karena CCTV rumah mati total pada tanggal 7 Desember. Besoknya on lagi. Sehari sebelum CCTV mati juga tidak ada pergerakan yang aneh-aneh."
"Terus, itu Mas jadi menginterogasi para karyawan di rumah kita enggak? Kapan hari kamu sempat bahas itu kan?"
"Jadi kok, aku bahkan sampai bela-belain hire orang bawa lie detector test atau poligraf apalah itu untuk mengetes mereka. Aku tanya satu-persatu ke mereka dan korek-korek informasi yang sekiranya bisa aku gali. Dan untung, hasilnya mereka terbukti jujur dan tidak tahu apa-apa. Karyawan di rumah kita clear," Noah menegaskan.
"Tuh bener aku kan Mas, kamu jangan buruk sangka dulu sama mereka! Karyawan rumah enggak mungkin aneh-aneh, mereka baik."
"Namanya orang, siapa yang tahu Lun. Bisa saja mereka mengkhianati dari belakang. Itu yang buat aku kepikiran!" ucap Noah.
Noah menghela nafasnya mengalah. "Hhh...ya sudah. Kamu berangkat jam berapa? Bareng sama aku saja, diantar Faiz. Nanti baru pulangnya dijemput Karta."
"Boleh, kamu yang antar kalau gitu. Untuk kliniknya buka jam 8 pagi Mas, habis gini berangkat." Luna mengiyakan saja ucapan Noah agar suaminya itu lebih tenang.
"Okay..nanti kalau ada apa-apa kamu langsung telepon aku pokoknya! Selama beberapa jam kedepan ponsel kamu jangan sampai mati. Cek baterainya low apa tidak. Kalau belum dicharge semalam, bawa power bank."
"Iya Mas Noah sayang...posesif banget sih!"
"Aku begini juga karena aku sayang kamu tahu tidak!"
"Sayang doang nih, kalau cinta iya apa enggak?" Luna menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Noah.
Pasalnya selama ini Noah belum pernah mengutarakan 3 kata keramat yang mampu membuat setiap insan wanita di dunia aka berbunga-bunga.
__ADS_1
Aku cinta kamu.
Kalimat itulah yang selalu diharapkan Luna untuk bisa keluar dari mulut Noah. Sayangnya belum kesampaian juga hingga detik ini. Pikir Luna, mungkin Noah belum siap saja.
Padahal Luna yang sekarang itu bucin akut pada suaminya. Tak bisa jauh-jauh dan mau dekat-dekat terus. Terbersit pula rasa kekhawatiran Luna akan Noah yang belum mau menerimanya sebagai istri dan belum mencintainya sepenuh hati. Luna takut kehilangan suami tercintanya.
"Apa sih? Sudahlah..yang penting aku tuh sayangnya tulus. Itu sudah cukup bukan. Ayo ambil tas kamu, aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil. Nanti aku tunggu di ruang tamu. Ini sudah mau jam 8." Noah menyingsingkan lengan kemejanya sambil melihat jam tangan.
Luna mendengus sebal dan memalingkan wajahnya. Sudah jelas jika suaminya itu pasti sengaja menghindari pertanyaan darinya yang menjebak. Tak apalah jika tak mau menjawab, untung saja Lunanya terlanjur cinta.
"Uang bulanan kamu masih ada kan?" tanya Noah.
Istrinya itu menjawabnya dengan sebuah anggukan. "Masih kok Mas, terakhir kali aku itu cuman belanja dua pasang flat shoes aja. Sisanya masih utuh untuk yang bulan ini, makanya mau aku pakai perawatan uangnya."
Luna adalah tipikal wanita yang selalu lapor pada sang suami jika mau membeli barang apapun. Mulai dari hal kecil sampai yang besar sekalipun. Entah itu tas, baju, sepatu, dan lain-lain..Luna pasti meminta persetujuan dulu pada Noah sebelum fix membelinya.
Meskipun sebenarnya Luna tidak perlu repot melaporkan pembelian barang setiap 24/7, karena ujung-ujungnya tagihan tersebut pasti akan masuk ke notifikasi akun Noah. Jadi dia sudah tahu.
Tak jadi masalah juga untuk Noah. Baginya kesenangan istri itu nomor satu. Apa yang Luna mau, harus Luna dapatkan. Itulah prinsip yang dipegang teguh Noah saat ini.
Terserah uangnya mau dipakai apapun selagi penggunaannya itu positif dan tidak merugikan orang lain, maka tidak ada salahnya kan?
"Ya sudah, nanti aku tambahin lagi uang jajannya. Aku transfer ke rekening kamu hari ini juga. Ditunggu aja.."
"Serius Mas? Ahhhh makasih ya...." Luna melompat dari kursinya kemudian langsung menyambar bibir Noah dan menciumnyaa dengan mesra. Noah pun tak ingin kalah dan ikut membalasnya dengan pagutan yang sedikit liar.
Hitung-hitung Luna memberi reward untuk Noah karena uang bulanannya ditambahi. Hihihi....
Tak apalah jika Noah tak mengatakan kata cinta, yang penting transferan jalan. Toh juga selama ini Noah adalah suami yang baik dan pengertian. Suami yang selalu bertanggung jawab, suami yang selalu memperlakukan Luna bak seorang ratu di sebuah istana megahnya, dan yang paling penting Noah itu tidak pernah kasar atau main tangan. Itu sudah lebih dari cukup.
Meskipun terkadang sikap Luna menyebalkan karena pengaruh hormon kehamilan, Noah lebih memilih diam dan sabar. Menjauh dari sang istri agar emosinya tak tersulut. Dia tak mau menyesal dengan mengatakan sesuatu hal yang tak seharusnya diucapkan.
__ADS_1