
"Sore Bi..."
"Eh Tuan Noah sudah pulang...sore juga Tuan." Bi Sumi menundukkan kepalanya hormat dan menyapa Noah balik.
"Istri saya sudah pulang kan?" Noah mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah mencari keberadaan sang istri.
Biasanya Luna menyambut kepulangannya dari kantor yang menjadi rutinitas setiap hari. Luna pasti akan nangkring di ruang tamu untuk menonton film dan memakan banyak camilan seperti popcorn dan keripik, sembari menunggu Noah datang.
"Sudah kok Tuan. Beliau baru sampai rumah sekitar setengah jam yang lalu. Nyonya sedang mandi di kamarnya sekarang."
"Okay, terima kasih." Noah mengangguk paham. "Satu lagi Bi, saya minta tolong buatkan teh panas dicampur sama jahe ya?! Tenggorokan saya sedang tidak enak. Sekalian buat roti bakar cokelat susu. Bikinnya yang agak banyak Bi, siapa tahu istri saya juga ingin."
"Siap Tuan! Mau diantar ke kamar atau saya taruh meja makan?"
"Taruh meja makan saja, biar saya sendiri yang ambil nanti." balas Noah.
Dengan tanggapnya, Bi Sumi langsung gercep membuat menu pesanan dari Tuannya itu tanpa berlama-lama. Sambil menunggu teh dan rotinya dibuat, Noah melangkahkan kakinya menuju kamar untuk menemui Luna.
Ceklek...
Pintu dibuka, Noah langsung mendapati istrinya duduk manis didepan meja rias sedang mengeringkan rambut sambil bersenandung ria.
"Mas Noah udah pulang?" Luna bangkit dari kursinya dan meninggalkan hairdryer-nya diatas meja begitu saja.
"Iya. Buktinya aku sekarang berdiri didepan kamu kan?" jawab Noah sembari menanggalkan jas yang dikenakannya.
"Ishh..bisa aja!" ditepuknya dada Noah secara pelan oleh Luna ketika keduanya sudah berdekatan.
Noah terkekeh pelan. Satu tangannya terulur untuk menarik tubuh Luna kedalam pelukannya. Tak lupa, bibir merah merona Luna yang selalu menjadi candunyaa itu ikut diciumnyaa dengan mesra. Keduanya pun sama-sama larut akan kerinduan akibat tak bertemu hampir seharian.
"Ahh...Mas..udah, kamu mandi dulu. Bau tahu habis dari luar!" Luna melepaskan pagutan tersebut seraya mendorong pelan tubuh suaminya untuk memberikan jarak.
"Mana ada, aku masih wangi ya! Aku kan bukan pekerja lapangan. Dari pagi sampai pulang di ruangan ber-AC terus!" sahut Noah.
Dia agaknya kesal karena aktivitas panas mereka harus terhenti saat sedang enak-enaknya. Noah sampai mengendus bau tubuhnya lagi untuk memastikan apakah dirinya bau atau tidak.
"Mau wangi atau enggak tetap aja. Kamu kan habis dari luar Mas. Paling enggak cuci tangan dan ganti baju dulu."
Noah memutar bola matanya malas. "Hmm, padahal juga kamu tadi mau-mau aja pas aku ciumm! Alasan saja nih.."
Luna mencoba menahan gelak tawanya. "Ya sudah jangan ngambek! Mana sini tas kamu, biar aku taruh di tempat sana!" ucap Luna.
Wanita cantik berbadan dua ini buru-buru mengambil tas kerja Noah yang berada disisi tangan satunya. Dia juga memunguti jas serta dasi milik suaminya yang tengah tergeletak diatas sofa bench.
__ADS_1
"Oh ya, kamu tadi dari mana saja? Bibi bilang kamu baru sampai rumah sekitar setengah jam yang lalu. Pasti sehabis perawatan kamu pergi lagi ya?" tanya Noah yang sedang melepas kaos kakinya.
Pikirnya, tidak mungkin kan dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore Luna berada di klinik kecantikan terus menerus. Dia pasti akan merasa suntuk atau bosan.
Luna tersenyum menyengir. "Iya Mas, aku pergi ke cafe. Tadi selesai perawatan itu jam setengah 12 siang. Terus tiba-tiba ditelepon sama Friska sahabatku, dia mau ngajakin ketemuan. Jadi ya sudah deh, aku janjian sama dia makan siang bareng. Kebetulan aku udah lama banget enggak ketemu dia Mas."
"Kok kamu tidak bilang sama aku?" Noah mengerutkan keningnya. Seharian ini dia tidak merasa mendapat kabar apa-apa dari Luna. Karta dan Dani yang ditugasi untuk menjaga istrinya juga tak memberi laporan.
"Kamu diantar sama Karta dan diawasi Dani kan pas ke cafe-nya?"
"Iya dong Mas, sesuai prosedur dari kamu kan?!"
Noah menghela nafasnya. "Aku sih tidak masalah kamu pergi sama Friska, boleh malah karena aku tahu dia sahabat dekat kamu. Tapi baiknya kamu izin dulu ke akunya."
Luna berkacak pinggang dan bergeleng. "Padahal kamu loh yang dihubungi itu susahnya minta ampun! Ada kali, aku hampir 10 kali telepon tapi enggak diangkat. Toh juga aku udah ninggalin pesan buat kamu Mas. Aku chat kok..coba cek deh!"
Luna kembali berjalan ke meja riasnya untuk melanjutkan kegiatan mengeringkan rambutnya yang tertunda.
"Dan perkara Karta dan Dani yang enggak menghubungi kamu, mungkin mereka pikir aku udah dapat izin dari kamu untuk pergi ke cafe." sambung Luna lagi.
Noah kemudian merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel dan memastikan ucapan Luna. Ternyata benar saja, ada 10 missed calls dari Luna dan juga 5 pesan masuk yang belum terbaca.
Noah menepuk dahinya. "Astaga, maaf ya! Aku tidak mengeceknya dengan seksama. Aku baru selesai rapat jam 12, setelahnya makan siang lalu lanjut kerja lagi. Lupa buka handphone." Noah beralasan, namun sebenarnya itu fakta.
Ditambah lagi ada asisten dari mantan istrinya yang datang berkunjung lalu tiba-tiba mengajukan permintaan yang tidak masuk akal. Bagaimana Noah tidak pusing disuruh membesuk sang mantan?
Tidak..tidak..tidak.
Itu sama saja Noah mengibarkan bendera perang dengan Luna.
"Makanya Mas, kolom chat dengan istri itu di pinned dong! Biar enggak kelewatan. Kebangetan banget masa sampai tenggelam. Kesannya kamu kayak acuh deh sama aku. Chat kamu aja aku pinned lho!" cibir Luna yang kini sedang menyapukan skincare pada kulit wajahnya.
"Maaf ya...next aku bakal pinned chat dari kamu."
"Sekarang aja sekalian mumpung HP udah dipegang. Kalau nanti-nanti malah lupa lagi. Masa kayak gitu aja harus diingatkan sih Mas!" Luna kesal sendiri jadinya.
"Iya..iya..ini tuh udah aku pinned!" Noah menyodorkan layar ponselnya pada Luna untuk memperlihatkan bukti bahwa dia sudah menyematkan kolom chat istrinya di bagian paling atas.
"Aku jadi penasaran deh Mas, nama kontak aku di handphone kamu apa?" tanya Luna.
"Ya, Luna."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Nama kontak kamu ya 'Luna' di handphone aku."
"Luna aja gitu?"
"Iya. Nih, L-U-N-A. Memangnya mau ditambahi bagaimana? Apa mau pakai nama lengkap, Luna Olivia begitu?" ujar Noah polos.
"Ihh..Mas, ya jangan cuman Luna doang! Enggak ada romantis-romantisnya ih kamu. Padahal kita udah nikah hampir4 bulan. At least kamu tulis nama kontak aku dengan kata Luna sayang, honey, babe, atau apa gitu! Masa cuman Luna aja. Basic banget."
Giliran Luna yang mengambil ponselnya dan menunjukkan nama kontak suaminya. "Tuh lihat, nama kamu aja aku tulis Mas Noah-ku sayang lho!"
Noah mengalah lagi kali ini. The power of Luna tak bisa ditolak untuk kesekian kali. Menghadapi wanita seperti Luna sangatlah berbeda dengan menghadapi Malena.
Kalau Malena dulu jarang merajuk, maka Luna sebaliknya. Kalau Malena sedikit cuek, maka Luna juga sebaliknya. Ia cenderung suka dimanja dengan perlakuan hal-hal kecil yang kesannya bermakna. Love language Luna memanglah act of service dan physical touch.
"Iya..ini aku ganti sekarang. Mau yang seperti apa?"
"My Boo Luna, bagus kan?" usul Luna.
"Hah?! Jangan aneh-aneh lah, yang normal-normal saja kayak tadi tuh babe, honey, sayang..kamu pilih satu."
"Enggak mau, maunya My Boo Luna."
Noah merespon Luna dengan senyum yang masam. Menurutnya nama tersebut agak sedikit berlebihan dan terkesan alay.
"Kenapa gitu mukanya?"
"**--tidak.."
"Pasti keberatan ya?"
"Iya, ini langsung aku ganti My Boo Luna. Oke?" Noah mengetik nama kontak sesuai request dari istrinya.
"Terpaksa nih?"
Noah meletakkan ponselnya lalu menggenggam Luna dan mengecup punggung tangannya. "Tidak sayang, enggak terpaksa kok. Sudah diganti kan tadi, kamu lihat sendiri."
"Bohong...kepaksa pasti!" Mata Luna berkaca-kaca.
Noah memalingkan wajahnya kesamping sambil menahan emosi.
"Ya Tuhan, sampai kapan hormon kehamilan Luna dan mood-nya yang naik turun berhenti menyiksaku!" gumam Noah dalam hati.
***
__ADS_1