
"Bagas, setelah makan siang nanti, apa saya ada pertemuan atau rapat lagi?" tanya Noah.
Baru saja Noah menyelesaikan rapat penting dan penandatanganan kesepakatan kerjasama baru dengan salah satu perusahaan properti ternama dari Australia, selama hampir 3 jam lamanya.
"Tidak ada Pak, saya cek kosong. Jadwal untuk hari ini hanya meeting dengan klien dari Australia saja," jawab Bagas.
Noah menyingsingkan lengan jas-nya dan melirik kearah jam tangan. "Ya sudah, kalau begitu nanti sekitar jam setengah 12-an, saya mau langsung pulang karena ada urusan keluarga. Kalau semisal ada apa-apa di perusahaan, kamu bisa langsung hubungi saya."
"Dan jangan lupa juga untuk file notulen rapat nya kamu kirim lewat email saya, akan saya review nanti," lanjutnya.
Bagas mengangguk paham. "Baik Pak, siap."
"Okay, sebelum saya pulang saya mau lihat laporan keuangan perusahaan kita dulu, sebab bulan ini kita akan disibukkan dengan closing-an."
"Ditunggu sebentar Pak, akan saya ambilkan terlebih dahulu. Berkasnya ada disana." Bagas menunjuk sebuah rak buku yang terletak di sudut ruangan kerja Noah.
"Kamu ambil dulu!" perintah Noah.
Ting...Tingg..Tingg..
Suara bel pintu masuk ruangan berbunyi, menginterupsi pembicaraan Noah dan Bagas.
"Siapa itu Gas?" tanya Noah.
"Kurang tahu Pak, tapi sepertinya bukan Siska. Sebab kalau Siska kan punya akses barcode scan untuk langsung masuk."
"Kamu periksa dulu itu siapa!" ucap Noah.
Bagas menuruti perintahnya dengan berjalan untuk membuka kode pintu ruangan. Dan ketika dibuka, datanglah seorang office boy yang berperawakan tinggi membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat bungkusan plastik. Didalamnya seperti ada tumpukan dus kotak makanan, baunya bisa tercium dari tempat Adrian duduk.
"Selamat siang Pak Noah, permisi! Saya mohon izin untuk mengantarkan ini, ada kiriman tadi yang ditunjukkan untuk Bapak." ucap office boy yang bernama Danang tersebut.
"Siska tidak ada didepan ya sampai harus kamu yang membawanya kesini Danang? Biasanya kan dititipkan dulu sama dia baru diserahkan ke saya."
Noah tidak segampang itu memberikan karyawannya akses masuk ke ruangannya secara sembarangan. Hanya orang-orang terpilih saja yang dipercaya bisa riwa-riwi masuk ke dalam. Seperti Bagas asistennya, Siska sekretarisnya, serta kepala kebersihan kantor--Ade, yang biasa bertugas untuk merapikan dan membersihkan ruangan.
Bukan apa-apa, sebab di dalam ruangan itu banyak sekali data-data, dokumen dan bekas penting milik perusahaan yang bersifat confidential atau nama lainnya rahasia. Takutnya, jika semakin banyak karyawan yang sembarangan masuk, maka berpotensi menimbulkan tipuan atau kehilangan.
"Kebetulan Mbak Siska-nya tadi tidak ada Pak didepan, maka dari itu saya yang langsung memencet bel tadi. Maaf kalau saya lancang" jawab Danang jujur.
__ADS_1
Siska memang sedang pergi untuk memfotokopi dan mengeprint beberapa file dokumen yang diperlukan untuk rapat selanjutnya.
"Ya sudah tidak apa-apa karena sudah terlanjur. Ngomong-ngomong itu apa Danang yang kamu bawa, makanan ya?"
"Belum saya cek dan buka bungkusannya Pak, tapi sepertinya memang makanan." Danang segera meletakkan nampan yang dibawanya di meja khusus tamu dekat kaca besar.
"Siapa itu yang kirim?" Noah penasaran.
Pasalnya ia jarang sekali mendapatkan kiriman makanan. Pernah dulu Mommy Adelia dan Kakaknya Isabelle rutin mengirimkan kotak makanan pada jam makan siang, tapi Noah seringkali tidak menggubrisnya karena terlalu sibuk hingga kelupaan untuk dimakan.
Akhirnya mereka berdua kapok sendiri dan memilih untuk berhenti mengirimi Noah makanan, karena percuma juga pasti tidak dimakan. Ujung-ujungnya akan diberikan pada karyawan atau OB yang berkenan menyantapnya.
"Ini kiriman dari Bu Malena, Pak."
Noah membelalakkan kedua bola matanya karena terkejut.
"Malena? Dia datang lagi ke perusahaan?"
"Iya Pak, tadi Bu Malena kemari. Tapi tidak jadi naik ke ruangan bapak karena dilarang oleh bagian security. Awalnya Bu Malena ngotot, untungnya Kosim dan kawan-kawan lain bisa mencegah beliau untuk masuk ke lift. Takutnya kan Bu Malena mengamuk seperti kejadian yang sudah-sudah." jelas Danang menundukkan kepalanya, karena merasa canggung.
Noah mengusap wajahnya kasar. "Terus sekarang dia masih disini atau sudah pulang?" tanyanya lagi.
"Kalau begitu saya akan kebawah untuk menemuinya, supaya dia tidak semakin membuat keributan." ujar Noah dengan terpaksa.
Berulang kali Noah berujar kalau dia malas bertemu Malena, tetapi wanita itu rupanya belum mau menyerah.
***
Noah segera bersiap untuk turun ke lantai dasar lobby menggunakan lift pribadi miliknya yang tersedia khusus di kantor.
Sebelum pergi dari ruangan, Noah sengaja membereskan semua barang-barangnya. Sebab sekalian saja, setelah bertemu dengan Malena nanti Noah akan langsung pulang menjemput Luna untuk menuju rumah Isabelle.
Dia tidak jadi memeriksa laporan keuangan perusahaan. Pikirnya nanti sajalah, masih ada lain waktu untuk meng-kroscek laporan tersebut secara satu-persatu. Jarum jam sudah mulai mendekati pukul setengah dua belas juga.
Ketika Noah sudah sampai dibawah dan keluar dari lift bersama Bagas. Tampak dari arah lobby, Malena yang menyadari keberadaan Noah langsung membuat ancang-ancang untuk menghampiri Noah.
"Noah, akhirnya kamu turun juga...aku udah nungguin hampir setengah jam disini! Mereka melarangku masuk!" rengek Malena mulai mendekat.
Noah memutar bola matanya malas, melihat reaksi Malena yang seperti sedang bersama dibuat-buat.
__ADS_1
Noah memasang wajah datar. "Bukan salah mereka, memang aku sendiri yang memerintahkan security-ku untuk melarangmu masuk dan naik ke ruanganku."
"Tapi kenapa? Hanya karena kita sudah bercerai, lalu kita putus hubungan begitu? Kita kan sudah saling kenal lama, harusnya kamu tidak memperlakukan aku seperti ini Noah!" Malena tidak terima.
"Bukan itu yang aku permasalahkan, tapi kelakuan anarkiss kamu beberapa hari lalu lah, yang membuat aku menolakmu untuk menginjakkan kaki di perusahaanku!" ketus Noah dengan nada dinginnya, membuat siapa saja yang mendengar pasti bergidik ngeri.
"Maksud kamu? Kelakuan aku yang mana sih? Aku merasa baik-baik saja dan enggak aneh-aneh kok!" Malena mengelak tak mau mengakui.
"Merusak properti kantorku kamu anggap baik-baik saja? Memecahkan kaca jendela kantor, merusak pintu masuk otomatis, lalu meninggalkan pesan-pesan aneh layaknya teror, kamu bilang itu baik dan normal??"
"Aa--ak--aku...cuma kesal saja waktu itu! Aku tidak bermaksud," Malena mencoba beralasan dengan seribu muslihat basinya.
"Kamu harusnya bersyukur Mal karena aku masih berbaik hati tidak memperkarakan hal ini ke pihak berwajib. Aku pikir kamu bisa introspeksi dan berbenah diri. Tapi nyatanya, kelakuan kamu semakin menjadi-jadi. Berhenti membuat malu diri sendiri, pulanglah!" usir Noah.
"Kita perlu bicara Noy, aku kangen sama kamu.."
"Bicara apa lagi sih Mal? Aku benar-benar sudah capek melihat kamu yang begini. Berulang kali aku peringatkan kamu untuk tidak ikut campur dengan kehidupanku, bagian mana sih yang kamu tidak mengerti?"
"Karena aku masih punya keyakinan kalau kita masih saling mencintai, itulah sebabnya aku belum menyerah. Perceraian kita kemarin itu hanyalah emosi sesaat Noy..pikirkan lagi! Aku menyesal Noy, aku sudah berpisah dengan Andre! Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku benar-benar tidak bisa tanpa kamu."
Malena memohon dengan ekspresi yang memelas, tubuhnya limbung dan hampir luruh ke lantai.
"Kamu bisa tanpa aku. Buktinya selama dua tahun terakhir pernikahan kita, kamu juga sering bepergian keluar kota atau keluar negeri tanpa aku. Dan kamu enjoy-enjoy saja. Kenapa sekarang berubah? Untuk Andre, palingan kamu memutuskan berpisah dengannya juga karena usahanya yang diambang kebangkrutan. Kalau bukan karena itu, kamu pasti masih asyik selingkuh." ucapan Noah yang menyindir Malena terasa begitu pedas.
Perdebatan Noah dan Malena di lobby kantor membuat mereka menjadi tontonan massa. Karyawan dan karyawati Noah semuanya keluar dari ruangan masing-masing untuk menonton pertunjukan bos-nya dengan sang mantan istri. Gosip seperti ini pasti akan ramai menjadi perbincangan khalayak.
Tak lama setelahnya, pintu masuk otomatis perusahaan kembali terbuka dan menampakkan Luna yang datang dengan tampilan begitu elegan nan mempesona, sambil menenteng Birkin Bag keluaran dari desainer terbaru.
Wajah Luna yang cantik dan terlihat imut-imut membuat seisi kantor memandanginya penuh damba. Tubuh Luna terbalut dengan busana halter dress berwarna baby blue yang panjangnya selutut.
Rambut legam hitamnya dibiarkan terurai bergelombang ala natural wave styles. Beberapa aksesoris perhiasan dan jam tangan mewah yang dibelikan oleh Noah ikut menempel pada pergelangan tangan dan lehernya.
Semenjak menjadi istri dari Noah Clerk, tidak dapat dipungkiri lagi jika tampilan Luna begitu glow-up sekarang.
"Mas Noah..?!" panggil Luna dari kejauhan.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.