
"Ya sudah ayo berdiri, aku gendong ke kamar mandinya," ucap Noah. Daripada Luna nanti mengamuk, Noah memilih untuk mengalah sajalah.
"Enggak usah, percuma kamunya enggak ikhlas!" balas Luna ketus sambil beringsut dari kasur.
"Jangan ngambek Luna..ayo udah ini aku gendong!" Noah membuka lebar-lebar tangannya dan menghalangi Luna yang hendak menghindar.
"Enggak, sana Mas minggir! Aku mau lewat!" tangan Noah dihempaskan begitu saja oleh Luna.
"Beneran tidak jadi gendong?" tanya Noah lagi untuk meyakinkan.
Luna melengos melewati Noah dan berjalan menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian gantinya. Karena sudah terlanjur bangun, mau tidak mau Luna harus mandi sekalian. Kalau semakin siang, nanti akan tambah malas.
"Masih ngantuk tapi dibangunin paksa. Giliran udah bangun, minta gendong aja gak mau. Dasar suami gak peka!" Luna menggerutu pelan namun Noah masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku peka Lun, ini sudah aku mau gendong. Kamunya yang menolak!" Noah berjalan mengekori Luna dari belakang.
Dress warna kuning polos yang panjangnya selutut menjadi pilihan outfit Luna untuk pagi ini. Diambilnya baju tersebut dari lemari, lalu ia langsung bergegas menuju kamar mandi.
Dan, Brakkk!!!
Pintu kamar mandi tertutup dengan keras hingga Noah terjengkat kaget sambil menutup kedua telinganya. Pintu kamar mandi dikunci dari dalam oleh Luna sehingga tak ada celah lagi bagi Noah untuk bisa masuk dan membujuk istrinya yang sedang merajuk.
Noah mengusap wajahnya kasar kemudian berkacak pinggang. "Alamat nih...salah lagi pasti aku!"
***
Selesai mandi, Luna tidak mendapati suaminya berada di kamar ketika ia keluar. Mungkin saja Noah sudah tak kuat lagi menahan rasa lapar dan pergi duluan ke meja makan. Semalam Noah melewatkan makan malamnya karena terlampau sibuk mengecek CCTV rumah dan menyelidiki siapa pelaku dari teror paket misterius.
Sebelum keluar kamar, Luna meng-hair dryer rambut basahnya terlebih dahulu hingga kering. Tak lupa ia juga mengoleskan skincare pada wajahnya yang menjadi rutinitas sehari-hari.
Walaupun tidak kemana-mana dan hanya di rumah saja, Luna selalu tetap ingin tampil cantik. Sehingga sapuan make-up tipis itu adalah hal yang wajib. Apalagi semenjak hamil, Luna senang sekali bersolek.
"Selamat pagi Bibi!!" sapa Luna yang sudah duduk manis di kursi makan.
__ADS_1
"Pagi Nya, mau langsung sarapan kah?" tanya Bi Sumi.
"Hmm..boleh Bi, hari ini bikin menu apa?"
"Ada bubur ayam komplit. Lengkap sama cakwe, ayam suwir, dan kacangnya Nya! Saya siapkan sekarang ya?"
"Wahh enak tuh...saya mau yang agak banyakan ya Bi porsinya, jadi lapar!" Luna melebarkan senyumnya sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
Bi Sumi terkekeh pelan. "Siap Nya! Ibu hamil mah begitu, tidak kaget lagi. Bawaannya selera makan jadi tinggi. Nyonya mau minum teh hangat atau mau dibikinkan jus?"
"Jus kayaknya segar deh Bi!"
"Mau yang rasa apa Nya? Di kulkas kita punya buah mangga, stroberi, sama alpukat."
"Alpukat aja Bi, tapi nanti jangan terlalu manis. Kasih SKM putih sedikit juga."
"Oke deh Nya, bibi akan buatkan sesuai request."
"Ngomong-ngomong Bi, Mas Noah mana? Dari tadi kok enggak kelihatan ya?" tanya Luna yang celingukan kanan-kiri mencari keberadaan sang suami.
Luna mengerutkan keningnya kebingungan. Bagas dan Siska ada di rumahnya? Kalau sudah begini pasti mereka sedang membahas pekerjaan kantor.
"Mas Noah..Mas Noah...tadi aja semangat banget bangunin pagi-pagi! Alasannya minta ditemani sarapan, pas udah mandi seger begini malah ditinggal! Huftt..." Luna melipat tangannya kesal.
Tahu jika Noah memang orang yang sibuk. Tapi bukankah ia sudah berjanji kalau hari ini akan fokus menemani sang istri? Kenapa ini malah balik ke settingan awal? Luna jadi diabaikan.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Noah yang tadi sedang dibicarakan akhirnya turun juga dari tangga. Bersamaan dengan Siska dan Bagas dibelakangnya. Kaos oblong hitam dan celana training yang tadi dikenakan Noah berganti menjadi kemeja polos putih dengan bawahan celana kain.
"Hai sayang...kok tidak bilang kalau sudah di meja makan?" Noah mengalungkan lengannya pada leher Luna dan mengecup kening istrinya itu sekilas.
Luna tak menjawab. Ia malah memutar bola matanya malas. Entah kenapa Luna rasanya sebal sekali dengan Noah. Sudah tadi pagi menolak untuk menggendongnya, sekarang juga ia dinomorduakan karena pekerjaan. Rasa kekesalan itu menjadi dua kali lipat bertambah.
"Selamat Pagi Bu Luna. Ibu sedang sarapan ya?" tanya Siska, sekretaris Noah.
__ADS_1
"Iya Mbak Siska, sarapan sama bubur ayam. Mau sekalian gabung Mbak? Ayo sarapan bareng. Mas Bagas juga kalau mau boleh." Luna berbaik hati menawarkan kedua asisten kepercayaan Noah itu untuk ikut sarapan bersama.
Ketika Bagas dan Siska hendak mengiyakan ajakan Luna, Noah yang berdiri dibelakang kursi Luna langsung membelalakkan matanya. Melotot dengan tajam seakan-akan memberi ultimatum agar keduanya menolak halus tawaran istrinya.
Pagi ini Noah hanya ingin menghabiskan quality time berdua saja dengan sang istri di rumah. Menikmati sejuknya udara pagi di taman belakang sambil memakan sarapan dan saling bermesraan. Betapa indahnya bila dibayangkan.
Bagas yang langsung paham akan sinyal dari Noah berucap, "**--terima kasih banyak Bu, tapi tidak usah. Saya sama Siska biar sarapan diluar saja."
"Iyy--iya Bu, benar itu. Kami mau coba warung nasi uduk yang baru buka dekat kantor." Siska ikut menimpali.
Mata Luna seketika berbinar-binar. "Nasi uduk sepertinya enak juga! Jadi pengen deh makan itu." Luna menoleh ke suaminya. Diraihnya tangan besar Noah itu lalu digoyang-goyangkan. "Mas, kita kesana yuk!"
"Mau kemana?"
"Makan nasi uduk lah! Kita ke tempat makan nasi uduk yang barusan dibilang sama asisten kamu!"
"Tidak usah, makan di rumah saja. Kan Bibi sudah bikin bubur."
"Ckk..ah kamu tuh selalu deh Mas! Nyebelin!" Luna menghentakkan kakinya. "Kamu sayang aku gak sih? Dari tadi aku minta ini itu..enggak ada yang diturutin sama sekali. Ngeselin!"
Siska dan Bagas mendadak canggung sendiri. Apalagi Siska, dia merasa bersalah karena membahas-bahas nasi uduk hingga istri dari boss-nya itu mendadak pingin. Tapi ini juga bukan sepenuhnya kesalahan dia. Namanya orang sedang hamil terkadang ide ngidam bisa tercetus kapan saja bukan?
"Pak Noah dan Bu Luna, kami mohon izin untuk pamit undur diri. Kami harus kembali ke kantor karena pekerjaan sudah menanti," ujar Bagas yang memecah keheningan.
"Ya sudah sana segera balik. Ingat ya Gas, laporan keuangan yang saya minta tadi harus dikirim juga sore ini. Dan Siska, tolong kurangi jadwal perjalanan dinas saya keluar kota selama beberapa bulan kedepan. Atur sebaik mungkin." Noah memperingatkan Bagas dan Siska sekali lagi agar mereka tidak lupa.
Bagas dan Siska sama-sama mengangguk paham. "Baik Pak, kami mengerti."
Bersamaan dengan pulangnya Bagas dan Siska, tak lama datanglah mobil Mommy Adelia dan Daddy Jonathan yang berhenti di halaman depan rumah. Kedua pasangan paruh baya itu hendak menengok anak dan menantu mereka setelah mendapat kabar bahwa kemarin rumah mereka habis diteror.
Noah sudah bercerita dengan lengkap bagaimana kronologinya kemarin pada orang tuanya. Murka? Tentu saja. Ingin rasanya Daddy Jo membabat habis orang yang sudah berani mengusik kehidupan anak-menantunya itu. Daddy Jo berjanji akan membantu Noah untuk melacak sang pelaku.
"Noah..Luna...Mommy sama Daddy datang nih!"
__ADS_1
***