Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Titik Terang


__ADS_3

Semenjak ada kejadian Luna dikirimi paket hadiah oleh Pandu, Noah kedapatan begitu murung. Memikirkan mantan kekasih dari sang istri yang tampaknya masih kekeuh untuk mengejar membuat dirinya jadi resah sendiri.


Entah dari mana rasa ketidakpercayaan diri itu muncul dalam benak Noah. Yang jelas ia tak malu mengakui bahwa ia cemburu. Dia yang terbiasa merasa superior dan inferior mendadak minder sendiri tanpa sebab.


Parahnya, kegelisahan Noah ini ikut memakan korban. Dirinya bahkan belum berbicara lagi dengan istrinya Luna, dari penampakan langit yang masih cerah hingga matahari terbenam dan keadaan malam sudah larut begini.


Tokkk..tokk..tokk


Suara pelan dari ketukan pintu ruangan kerja, membuyarkan lamunan Noah.


Ceklek...


Pintu terbuka, langsung menampakkan sosok Luna yang berjalan mendekat dengan wajah khas baru bangun tidurnya. Matanya menyipit, gaun malamnya tampak kusut, rambutnya sedikit acak-acakan.


"Mas..." lirih Luna memanggil.


Tidak ada jawaban dari Noah. Pria itu memilih bungkam. Hening tanpa suara. Luna kemudian mencoba sekali lagi.


"Mas Noah..." kali ini suaranya terdengar lebih lembut dan manja.


Luna mengalungkan lengannya pada leher Noah dari belakang. Sesekali wanita itu memberi kecupan mesra pada pipi sang suami. Sebuah elusan dengan sentuhan lembut dari Luna, membuat dada bidang Noah ikut kembang kempis saking terbawa suasananya.


"Mas..!!" kesal tak diperhatikan, Luna mulai menyentak.


"Hmm.." Noah akhirnya menyahuti walau itu hanya deheman biasa.


Pria itu masih enggan menoleh ke arah sang istri yang tengah memanggil. Pandangannya terfokus pada layar komputer didepannya. Jari-jemarinya pun masih sibuk mengetik sesuatu.


Sesungguhnya itu adalah pengalihan isu semata. Noah tidak benar-benar sedang mengerjakan sesuatu. Yang dia lakukan hanyalah pura-pura membuka program accurate accounting software dan mengutak-atik komputernya secara tidak jelas.


Noah beruntung karena Luna tidak tahu menahu sebab dia tak terlalu paham akuntasi. Dulu pada saat kuliah Luna tak mengambil jurusan yang berhubungan dengan ekonomi.


"Ishh..mas kok cuek sih? Udah dari tadi dipanggil padahal!" Luna melepaskan pelukannya. Berganti jadi menghentakkan kakinya kesal dan mengepalkan kedua telapak tangannya rapat-rapat.


Noah melirik, "Ada apa Luna..aku masih kerja ini. Kamu mau apa?"


"Masih lama emang urusan kerjaannya?" tanya Luna yang berdecak kesal.


"Iya." jawab Noah singkat.

__ADS_1


"Kok lama? Janjinya kan kamu cuti? Kenapa sekarang kerja?"


Noah beralasan dengan alibi menjelaskan, "Justru karena aku cuti dari kantor, pekerjaan aku jadi menumpuk. Tidak semua hal bisa di-handle sama Akbar, Bagas, dan Helen. Ada pula beberapa dokumen rahasia yang harus dicek dan memerlukan persetujuanku dulu."


"Tapi ini udah jam 11 malam, Mas...ayo tidur yuk! Aku ngantuk!" rengek Luna yang mulai menarik-narik tangan Noah untuk segera beranjak dari kursi kebesarannya.


"Aku masih harus mengerjakan beberapa berkas. Kita kan mau pergi babymoon. Otomatis aku harus kebut deadline. Kamu duluan saja ya yang tidur?" bujuk Noah.


"Tadinya udah tidur. Tapi pas aku bangun dan aku cek, ternyata kamu belum balik dari ruang kerja. Aku jadi kebangun lagi! Mana bisa aku tidur tanpa kamu. Adek maunya dielus sama Papi..." Luna menunjuk perut buncitnya.


Noah menutup matanya. Menghela nafas secara kasar. Ini pasti akal-akalan Luna agar dirinya segera kembali ke kamar. Istrinya itu pasti sengaja membawa-bawa anak mereka untuk terlibat supaya Noah bisa luluh.


Bukannya Noah tidak mau bermanja-manja atau tidur berpelukan dengan sang istri. Hanya saja dia sedang tidak mood. Pria itu ingin sendiri untuk menetralisir kegundahan hatinya.


Diam-diam Noah tengah merencanakan sesuatu untuk balas dendam pada Pandu agar pria ingusan itu tak lagi berani menganggu atau mendekati istrinya.


Tidak akan Noah biarkan mantan pacar istrinya itu lolos begitu saja setelah dengan lancangnya mengirimi hadiah sembarangan.


"Mas kamu jangan bengong aja dong! Ayo tidur..kan mau flight besok! Istirahat dulu lah, kamu apa enggak kasihan juga sama Adek yang pengen dielus-elus sama Papinya pas bobok? Biasanya malam sebelum tidur, kamu suka ngajak ngomong baby sambil nyanyi," Luna memanyunkan bibirnya.


"Iya..iya..maaf ya, ini udah aku tutup kerjaannya. Kita tidur saja." Noah lagi-lagi mengalah untuk kesekian kalinya dan memutuskan mematikan komputernya.


"Maaf ya, kalau aku sedikit cuek tadi. Aku tidak bermaksud apa-apa. Cuman lagi banyak pikiran saja, makanya sikapku begitu. Aku harap kamu bisa memaklumi." bisik Noah yang nada suaranya lirih.


Luna mengendurkan pelukan mereka dan menatap netra Noah secara dalam-dalam. "Kamu pasti masih kepikiran soal paket hadiah dari Pandu ya?"


Noah diam tak bersuara. Pria itu malah memajukan bibirnya dan mengecup bibir Luna sekilas.


"Jawab dulu Mas..kamu pasti mikirin itu kan makanya sampai bergadang gini! Biasanya kamu enggak tidur malam lho!" ucap Luna.


Semenjak menikah dengan Luna, pola tidur Noah memang dirombak total. Yang dulunya jaman masih bujang dan menikah dengan Malena tidurnya selalu diatas pukul 12, jam malamnya berubah menjadi jam 9. Paling maksimal jam 10 malam tanpa terkecuali. Selebihnya sudah tidak pernah.


"Wajar kan aku kepikiran sama Pandu. Aku tidak suka kamu dekat-dekat sama dia," ucap Noah posesif.


"Dekat gimana? Orang ketemu aja juga baru..jangan mulai deh!" kata Luna.


"Ya, intinya aku tidak suka kamu masih berhubungan sama dia."


"Akunya juga mana mau Mas, dianya aja yang freak tiba-tiba kirim gituan. Sumpah demi Tuhan aku juga enggak ngerti kenapa dia bisa tahu alamat kita!" Luna mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace.

__ADS_1


"Nantilah coba aku kroscek lagi darimana dia bisa tahu. Urusan teror kemarin saja belum rampung, ditambah lagi urusan Pandu! Gimana tidak banyak pikiran coba aku?" gerutu Noah.


Luna menurunkan bahunya kebawah, "Jadi masih belum ada titik terang ya soal teror itu? Padahal udah lumayan lama juga kejadiannya, Mas. Moga-moga enggak lagi deh dikirimin aneh-aneh..aku jadi trauma kalau dapat paket!"


"Apa kita pindah rumah saja kali ya?" usul Noah.


Mata Luna terbelalak kaget. "Hah, pindah rumah? Yang benar kamu Mas!"


"Serius. Di daerah sini rupanya tidak aman. Alamat kita saja bisa bocor. Bahkan security kompleks kecolongan. Bisa-bisanya mereka mengizinkan kurir gadungan masuk ke area perumahan disini."


"Ya tapi jangan pindah dong Mas! Kita belum lama tinggal disini. Aku juga udah kadung betah. Enggak mau pindah-pindah ah..."


"Baru usulan saja, belum tentu betulan."


Ditengah-tengah seriusnya kedua insan itu mengobrol, tiba-tiba ponsel Noah berbunyi. Menginterupsi percakapan mereka.


📱


"Halo Bar..."


^^^"Halo Noah...sorry nih telepon malam-malam. lo lagi sibuk enggak?"^^^


"Baru mau tidur. Kenapa memangnya??"


^^^"Lo masih ingat kan, kalau lo pernah minta tolong gue buat selidiki perihal CCTV rumah lo yang mati mendadak, yang setelahnya rumah lo dipasangi penyadap misterius?"^^^


"Iya, gue ingat Bar..kenapa memangnya?"


^^^"Nah kebetulan, gue ada kabar baik nih. Anak buah suruhan gue udah nemuin siapa pelakunya!"^^^


"Lo serius Bar?"


^^^"Dua rius! Dijamin lo bakal kaget siapa orangnya. Tapi gue enggak bisa kasih tahu sekarang. Besok aja deh kita ketemuan untuk bahas ini. Kata Bagas lo besok gak kerja kan?"^^^


"Iya soalnya lagi cuti. Kalau gitu lo tentuin tempat janjiannya dimana dan jam berapa kita ketemuan. Pokoknya jangan sore, karena gue mau flight ke Yunani."


^^^"Okay siap. Gue chat lokasinya.."^^^


***

__ADS_1


__ADS_2