Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Luna Telat


__ADS_3

"Lun, buka pintunya Lun! Kamu baik-baik aja kan di dalam?" Noah tak henti-hentinya menggedor pintu kamar mandi.


Sudah terhitung 15 menit lamanya Luna tak keluar-keluar, membuat Noah semakin khawatir saja. Apalagi ia berulang kali sempat mendengar suara Luna yang seperti sedang memuntahkann sesuatu.


"Jangan bikin aku khawatir Lun, please open the door!" ucap Noah.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, menunjukkan wajah Luna yang pucat dan nampak berkeringat dingin serta tubuhnya terkulai lemas.


"Hey, kamu kenapa? Are you okay?" Noah mengulurkan kedua tangannya menangkup wajah Luna dengan perasaan cemas.


"Enggak tahu Mas, aku tiba-tiba rasanya mual...perutku kayak kram gitu!" jawab Luna memegangi perutnya.


Noah merengkuh pinggang Luna dan memapahnya dengan perlahan. "Kamu istirahat dulu ya di kamar aku..!"


Luna membalasnya dengan anggukan saja karena saat ini dia sedang malas mengeluarkan suara.


Kebetulan di ruangannya, Noah mempunyai kamar khusus yang biasa digunakan untuk istirahat ketika dia sedang lembur atau malas pulang ke rumah. Maka dari itu ia membawa Luna untuk berisitirahat didalam.


Setelah membaringkan tubuh Luna diatas kasur, Noah segera melepaskan sepasang high heels yang melekat di kaki Luna dan merapikan rambutnya yang agak sedikit berantakan menutupi wajahnya.


"Aku mau ambilkan kamu air mineral. Tunggu sebentar ya!" Noah mengecup kening Luna.


"Jangan Mas, akunya jangan ditinggal! Kamu disini sama aku..jangan kemana-mana!" Luna menahan tangan Noah yang hendak beranjak.


"Kan cuman ambil minuman saja, katanya perut kamu mual? Biar mulutnya tidak terasa pahit, harusnya minum. Apalagi aku dengar kamu kayak muntahh gitu tadi!" ucap Noah.


"Enggak mau! Maunya kamu disini temenin aku...aku enggak butuh air mineral!" rengek Luna.


Noah mengangkat tangannya mengalah. "Okay..okay..I'm here, aku enggak kemana-mana."


"Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Noah kini ikut berbaring disamping Luna dengan posisi berpelukan. Tangan kirinya bergerak mengusap lembut perut Luna. Siapa tahu dengan begitu istrinya merasa baikan.


"Lemes aja Mas...kayak malas untuk bangun! Mungkin karena aku banyak mengeluarkan cairann tadi.." keluh Luna.


"Kamu lagi sakit atau gimana ini? Soalnya kamu kelihatan tidak apa-apa waktu datang tadi, bahkan pas di rumah juga kelihatan baik-baik saja. Tapi sekarang kok mendadak begini?" tanya Noah.


Luna menyandarkan kepalanya pada sang suami. "Aku juga bingung Mas, sebenarnya udah sejak kemarin aku kayak gini! Tadi pagi juga, tapi aku biarin aja karena aku kira bakal hilang sendiri nanti rasa mualnya. Eh..sekarang muncul lagi!"


"Dari kemarin? Kamu kok tidak bilang sama aku?" Noah kaget baru mengetahui fakta ini. Luna tidak pernah bercerita apa-apa sebelumnya.


"Maaf Mas, habisnya kamu sibuk! Mommy pernah bilang, katanya kalau kerjaan lagi hectic..kamu itu paling gak suka diganggu! Jadi ya aku mana berani bilang, takut mood kamu rusak. Toh juga kayaknya ini cuman sakit biasa, masuk angin mungkin!"


Begitulah kira-kira yang ada dipikiran Luna. Akhir-akhir ini Luna dan Noah memang sering bercintaa dibawah guyuran shower kamar mandi hingga larut malam. Bahkan mereka juga berendamm lama di bathub sambil mengobrol. Bisa saja karena itu Luna jadi masuk angin.

__ADS_1


Noah menguraikan pelukan keduanya dan bangkit untuk duduk bersandar di headboard.


"Ya enggak begitu konsepnya Luna, sesibuk apapun aku..harus tetap cerita sama aku! Kan aku ini suami kamu, aku wajib tahu semua kejadian yang sedang istriku alami!" Noah berdecak menatap Luna tak suka.


"Iya maaf aku salah, kamu jangan jutek gitu dong mukanya! Aku takut lihat ekspresi marah kamu!" suara Luna begitu lirih hingga hampir tak terdengar. Genangan air di pelupuk matanya mulai muncul.


Noah jadi tak tega melihat sang istri yang hampir menangis hanya karena sedang dinasehati. Sungguh, Noah tak bermaksud untuk membuat Luna bersedih. Dia hanya bertanya kenapa Luna tak memberitahunya jika sedang sakit.


Noah bahkan harus mendongakkan kepalanya agar bisa menahan emosi. Entah ada gerangan apa yang membuat Luna mendadak sensitif.


"Siapa yang marah? Aku cuma kasih tahu aja! Kalau kamu sakit dan aku tidak tahu, justru aku yang merasa bersalah. Suami macam apa yang tidak tahu bagaimana kondisi istrinya!" Noah menjeda ucapannya.


"Udah gini..intinya lain kali jangan diulangi lagi, apapun itu...wajib hukumnya untuk cerita dan sharing ke aku!" lanjut Noah.


"Iya Mas, aku janji."


"Sekarang kondisi kamu harus diperiksa. Kita akan pergi ke dokter sekarang."


"No, Mas! Enggak usah...I'm totally fine. Kali aku cuman kecapekan habis pulang bulan madu, terus kita direpotkan sama pindahan rumah, ngurus ini itu...paling nanti sembuh-sembuh sendiri aku!"


"Ini yang paling aku tidak suka! Jangan pernah sekalipun kamu meremehkan soal kesehatan! Justru dari keluhan sakit yang kecil aja, perlu untuk dicek lebih lanjut." sergah Noah.


"Terserah kamu deh Mas, emang paling susah kalau debat sama kamu. Enggak akan ada ujungnya!" cibir Luna.


Noah kemudian mengamati bagian atas dress yang dikenakan Luna terlihat basah, kemungkinan terkena cipratan air saat dia membasuh mulutnya di wastafel.


Luna mengernyitkan dahinya. "Tapi aku enggak ada baju Mas.."


"Ada di mobil. Sebentar aku telepon Faiz."


Noah merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan segera menghubungi Faiz.


📱


"Halo Faiz, tolong kamu buka bagasi mobil saya dan ambil paper bag yang ada didalamnya. Antarkan langsung keatas ya, bilang sama resepsionis, saya yang suruh."


^^^"Baik, Pak."^^^


"Cepat ya, tidak pakai lama. Saya buru-buru."


Noah kemudian mematikan telepon secara sepihak dan menoleh pada Luna.


"Ingat tidak? Dua hari yang lalu kamu belanja baju di Mall pakai mobil aku. Tapi kamu lupa menurunkan paper bag-nya, dan masih tertinggal di bagasi. Aku tahunya dari Faiz yang bersih-bersih mobil tadi pagi."


"Ohh..iya ya mas? Habisnya kalau kita pergi kadang suka ganti-ganti mobil, jadi aku suka lupa!"

__ADS_1


"Ya ada untungnya juga kamu lupa, karena baju yang tertinggal berguna untuk ganti."


Luna mengangguk sembari mencoba duduk dengan posisi kepala yang menyandar pada headboard kasur. Noah masih setia berada disamping Luna untuk membantunya bangun. Kini mereka berdua tinggal menunggu Faiz membawakan baju ganti untuk Luna.


"Kalau kamu sakit begini, sepertinya rencanaku gagal deh untuk mengajakmu pergi!" celetuk Noah.


Luna menatap Noah penuh tanda tanya. "Maksudnya apa Mas?"


"Sebenarnya tanggal 24 besok, aku mau ajak kamu ke Bali untuk menghadiri resepsi pernikahan salah satu kolega bisnisku. Aku udah pesan tiketnya jauh-jauh hari, dan niatnya bakalan kukasih nanti malam buat surprise. Tapi ternyata kamu sedang sakit begini...lebih baik batal dan kamu istirahat saja," jelas Noah.


Besok tanggal 24. Luna berdehem sambil mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu karena seperti ada yang mengganjal.


"Ehhmm...tunggu dulu Mas, emang besok udah tanggal 24?"


Noah memiringkan kepalanya dan mengangguk. "Iya besok udah tanggal 24, kenapa memangnya?"


Jawaban Noah membuat Luna seketika ingat akan semuanya. Matanya terbelalak lebar dan mulutnya sedikit menganga. Jika diingat-ingat, bulan ini Luna belum mendapatkan tamu bulanannya.


Bahkan hitungannya sejak Luna menikah dengan Noah, kemudian pergi honeymoon, hingga mereka pulang pun, Luna belum juga halangan. Bisa dikatakan Luna sudah telat selama kurang lebih semingguan. Karena semestinya dia rutin datang bulan setiap tanggal 15.


"Hey, kamu kenapa bengong begitu? Ada yang salah Lun?" Noah menggenggam tangan Luna dan mengusapnya pelan.


Luna kembali menatap Noah dengan pandangan nanar. "Mm--Mas...aku kayaknya telat deh!" Luna gugup sampai terbata-bata.


Kedua netra mereka saling bertatapan dengan intens.


"Telat apa?" Noah tidak mengerti.


"Itu..aku telat datang bulan! Biasanya tanggal 15, tapi ini udah kelewat semingguan lebih!"


Kini giliran Noah yang mulutnya menganga lebar tak percaya. Noah sekarang mengerti kenapa istrinya termenung tadi. Dia bukanlah bocah baru lahir yang tidak tahu apa-apa. Jika istrinya bilang telat, maka kemungkinan besar Luna sedang hamil.


Noah berdiri dari kasur dan berjalan kesana kemari sambil berkacak pinggang kemudian menoleh pada Luna kembali.


"Tunggu Lun, kamu bilang kamu udah telat? Apa kita mempunyai pemikiran yang sama?" tanya Noah dengan hati-hati.


"Sepertinya..Mas," lirih Luna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa mungkin kamu hamil?" Noah sedikit meringis tak percaya.


Luna mengedikkan bahunya. "Kalau belum dicek, mana bisa tahu kepastiannya!"


"We have to go to the hospital, right now! Immediately!" tegas Noah.


***

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2