Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Clueless


__ADS_3

"Kamu yakin pelakunya Poppy? Benar sudah kamu kroscek?" Daddy Jo ingin memastikan agar putranya tidak salah tuduh orang.


Noah mengangguk membenarkan. "Sudah, Dad. Aku bahkan minta tolong sama Akbar untuk meretas cctv rumah kami yang sempat mati total."


Daddy Jo dan Mommy Adelia memajukan tubuh mereka dan menyimak betul-betul perkataan anak bungsunya ini. Luna juga tak mau berkomentar banyak, dia membiarkan suaminya menjelaskan semua tanpa harus ikut menimbrung.


"Tanggal 8 Desember, Poppy sempat mampir ke rumah. Ketika lengah dari pengawasan, Poppy gerak cepat memasangi alat sadap pada sudut-sudut rumah. Setelah aksinya berhasil, Poppy mengendap-endap masuk ke dalam ruang cctv untuk menghapus jejaknya." Noah menjelaskan kronologinya secara detail.


"Ada videonya kok, kalau Daddy dan Mommy masih ragu aku bisa kirimkan sekarang lewat chat," Noah lanjut berkata.


Dan tak butuh waktu lama,


Tingg...


Tanda bunyi pesan masuk terdengar dari ponsel Daddy Jo yang berada di sakunya. Buru-buru pria paruh baya itu membuka pesan tersebut dan melihat video yang dimaksud saking penasarannya.


Sebenarnya Noah mengirim video pada masing-masing orang tuanya. Berhubung ponsel Mommy Adelia tertinggal di kamar, alhasil kedua orangtuanya melihat berdua bersama.


"Astaga Tuhan..iya Dad, ini benar Poppy! Mukanya mirip banget. Kamera cctv rumah Noah jernih juga ya bisa menangkap gambarnya dengan jelas..." ucap Mommy Adelia seraya memperbesar video tersebut.


Daddy Jo menimpali, "Benar Mom, kalau sudah begini mana bisa mengelak."


"Tapi Noah, rekaman ini hanya menunjukkan bahwa Poppy terbukti bersalah karena memasang alat sadap di rumah kamu. Lalu bagaimana dengan pelaku teror yang mengirimi paket bangkai hewan busuk? Apa orang itu Poppy juga yang melakukan?" tanya Mommy Adelia.


Noah menghela nafasnya sejenak, "Aku belum bisa memastikan kebenaran soal itu, Mom. Karena sejauh ini bukti yang aku punya hanya rekaman itu saja. Tapi ya tidak menutup kemungkinan pelakunya pasti Poppy."


"Bisa kita lihat dari rekaman tadi saja sudah jelas menunjukkan bagaimana kualitasnya sebagai individu. Dia bahkan berani nekat lancang masuk-masuk ke ruangan rumahku tanpa izin. Semua bukti mengarah padanya," Noah menduga kuat kalau teror yang dialaminya pasti ujung-ujungnya berkaitan erat dengan Poppy.


"Terus apa rencana kamu sekarang?" giliran Daddy Jo menanyai.


"Aku minta bantuan sama Bagas dan Akbar untuk menyelidiki kantor jasa pengiriman yang mengirim paket tersebut beserta kurirnya juga. Sekuriti kompleks dan para pihak pengurus properti perumahanku juga tentunya akan aku wawancarai. Karena bagaimana bisa, alamat rumahku bocor ke sembarang orang!"


Daddy Jo menopang dagunya dengan tangan sambil berdehem. "Hmm..berat juga kasus ini. Sejujurnya Daddy sungguh tidak menyangka kalau anaknya Rama bisa berbuat melebihi batas seperti ini. Sulit dipercaya, namun kita tak bisa menutup mata kalau buktinya ada."

__ADS_1


"Tapi disisi lain, apa kamu benar yakin mau membatalkan proyek kerja dengan Gunawan Group. Daddy rasa, tak semestinya kamu mencampuradukkan masalah personal dengan masalah pribadi," kata Daddy Jo lagi.


"Maksud Daddy bagaimana?" Noah menyipitkan matanya.


"Bukankah proyek restoran ini adalah proyek besar impian kamu Noah? Siang malam kamu banting tulang untuk mendapat kepercayaan memegang kendali atas proyek ini, sayang kalau dihempas. Disini yang bersalah Poppy, bukan Om Rama..Daddy rasa, tidak perlu lah disangkutpautkan hal ini," katanya.


"Kenapa Daddy berbicara begitu? Kesannya tidak setuju jika Clerk Kingdom memutuskan kerjasama dengan Gunawan Group. Apa Daddy merasa sungkan karena bersahabat dengan orang tua Poppy?" tanya Noah keheranan.


Pikir Noah, Daddy Jo banyak pertimbangan seperti ini dikarenakan adanya hubungan persahabatan yang terjalin sejak lama dengan Rama dan Cynthia Gunawan. Perasaan tidak enak pasti menguar kalau tiba-tiba jalinan kerjasama antara dua perusahaan besar ini kolaps.


"Salah satunya memang karena faktor itu. Tapi jangan salah sangka dulu, Noah. Bukan maksud Daddy tak setuju. Hanya saja kamu juga harus bersikap objektif. Proyek restoran ini menghasilkan untung yang besar. Kalau dibatalkan pasti berdampak pada kerugian biaya operasional mengingat proyeknya sudah berjalan. Belum lagi kamu harus bayar penalti ke mereka. Apa kamu siap?" ucap Daddy Jo dengan pemikiran rasionalnya.


Beliau begitu perhitungan sekali sehingga dia mencoba untuk memberikan Noah berbagai macam perspektif.


"Siap Dad, keputusanku sudah bulat. Mau ini proyek impianku atau tidak, aku tidak akan pernah nyaman kalau harus bekerja dengan seseorang yang berasosiasi dengan Poppy. Wanita yang sudah punya niat tidak baik terhadap istri dan anakku. Keuntungan dalam bentuk apapun tak akan membuatku terlena." tegas Noah dengan mantap.


Tak perduli meski harus membayar denda mahal pada Rama Gunawan, yang terpenting Luna dan calon baby dalam kandungan istrinya aman dan sehat sentosa.


Berbeda dengan Daddy Jo yang terdengar sangsi, Mommy Adelia justru menyerahkan semua keputusan ditangan anaknya. "Mommy sih ikut mendukung kamu, Noah. Kamu pastinya lebih tahu apa yang harus dilakukan."


Tegangnya suasana disertai dengan seriusnya pembahasan mengenai kasus ini, membuat perut Luna tiba-tiba merasakan kram.


"Awwhh...shhh.." Luna meringis kesakitan seraya memegangi perut.


Sontak Mommy Adelia dan Daddy Jo berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Luna secepat kilat. Noah juga tak kalah heboh. Pria itu langsung merangkul bahu Luna dan mengusap lembut perut istrinya itu.


"Kamu kenapa sayang..mana yang sakit?" tanya Mommy Adelia.


"Enggak tahu Mom, tiba-tiba pinggang aku rasanya nyeri..terus perut aku seperti ditekan dan ketarik ke belakang.." ucap Luna lirih.


"Panggil dokter saja ya, atau kita ke rumah sakit...aduhh! Gimana ini!" Noah kalang kabut menunjukkan ekspresi kekhawatiran luar biasa.


"Biar Daddy yang telepon dokter ke rumah. Kamu bawa istrimu istirahat di kamar tamu bawah saja. Jangan naik keatas!" pesan Daddy Jo pada Noah.

__ADS_1


"Iya Dad..." respon Noah singkat.


Mommy Adelia awalnya berniat menyela, ingin mengatakan bahwa kram perut saat hamil merupakan hal yang umum terjadi. Seperti dirinya dulu yang mengandung Isabelle dan Noah.


Tapi terkadang, ibu hamil punya kondisi tubuh yang berbeda-beda. Sehingga untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan, ada baiknya memang panggil dokter yang lebih ahli.


"Mommy akan bilang sama Bibi untuk buatkan teh hangat, sudah sana gendong istrimu bawa ke kamar!" perintahnya.


Tak ingin berlama-lama lagi, Noah langsung menggendong istrinya menuju kamar kosong dan membaringkan tubuh Luna diatas ranjang.


***


Setibanya di kamar.


"Mas ini posisinya enggak enak, aku mau rebahan aja pakai sandaran bantal yang tinggi."


"Oh, oke oke..tunggu sebentar aku betulkan." Noah mengiyakan permintaan Luna.


Pria itu mulai menyusun tumpukan bantal hingga berbentuk menggunung. Sisi kiri dan kanan Luna juga diberikan guling untuk penyangga tangan biar terkesan lebih nyaman.


"Gimana sudah enakan belum?"


Luna tersenyum tipis dan mengangguk kecil, "Hmm...nyaman, Mas."


"Kamu masih sakit tidak perutnya? Mau apa sekarang? Mau minum kah? Tunggu dokter datang ya..sebentar lagi.." celoteh Noah tanpa henti. Dirinya begitu panik tak karuan melihat istrinya dalam keadaan lemas.


"Enggak Mas..cerewet banget sih kamu! Aku udah enakan kok. Jangan kemana-mana, aku mau kamu disini aja.." rengek Luna dengan manjanya.


"Syukurlah! Aku sempat deg-degan Lun, takut kamu kenapa-napa. Aku kan belum pernah menghadapi ibu hamil. Aku benar-benar clueless.." ujar Noah memelas yang dibalas Luna dengan cekikikan.


"Jangan ketawa, aku takut ngerti nggak! Ini kalau dokter bilang kamu perlu istirahat, maka kita bisa batal pergi babymoon!" ancam Noah.


Mata Luna terbelalak lebar, tawa renyahnya berubah jadi masam. "Loh kok gitu Mas?!"

__ADS_1


"Pokoknya menunggu arahan dokter. Titik tidak pakai koma."


***


__ADS_2