
"Saya ucapkan selamat ya untuk Bapak dan Ibu, saat ini benar bahwa Ibu Luna tengah mengandung. Usia kehamilannya telah menginjak 6 minggu."
Begitulah kira-kira pernyataan yang diucapkan oleh dokter kandungan yang bernama Maya saat memeriksa Luna.
"Ss--serius dok?" Noah menatap sang dokter tak percaya.
Dokter Maya kembali menggerakkan transduser ke area perut Luna, agar bisa mendapatkan gambar yang lebih jelas.
"Iya Bapak, saya serius. Coba mendekat dan lihat di monitor, ada sebuah titik kecil berbentuk oval disini yang bersarang di dalam perut Bu Luna. Tidak lain tidak bukan, itu adalah kantung janin dari buah hati kalian," jelas dokter Maya.
Ketika dokter mengkonfirmasi kehamilan Luna, tubuh Noah rasanya limbung. Sekujur tubuhnya merasakan getaran hebat hingga lututnya melemas. Andai Noah tak memiliki kekuatan yang besar, mungkin saja ia sudah luruh jatuh ke lantai.
Noah begitu speechless hingga tak mampu berkata-kata. Perasaan bahagia dan gugup kini menyelimuti dirinya, bercampur aduk menjadi satu. Matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis.
Hal yang selama ini dia impi-impikan akhirnya tiba juga. Istrinya sedang mengandung buah hati mereka. Luna hamil, dan sebentar lagi Noah akan menjadi seorang ayah.
"Saya serius hamil ya dok? Padahal saya dan suami baru saja menikah sekitar 1 bulanan, lebih seminggu.." Luna berceletuk hingga membuyarkan lamunan Noah.
Dokter Maya menghela nafasnya dan tersenyum tipis, dia seperti tahu akan kekhawatiran dari pertanyaan Luna.
"Iya Ibu. Usia kandungan itu dihitung sejak hari pertama haid terakhir, bukan dari ketika hasil testpack menunjukkan kehamilan atau dari usia pernikahan anda. Kemungkinan, Ibu Luna saat menikah itu sedang dalam masa subur sehingga jadinya cepat."
Benar juga. Luna baru saja selesai mendapatkan tamu bulanannya ketika menikah dengan Noah. Bisa saja itu salah satu faktor yang mempercepat proses pembuahann anak. Apalagi malam setelah keduanya mengikat janji suci, Noah dan Luna langsung tancap gas.
Setelah yakin akan penjelasan dokter, Luna bisa bernafas lega. Dia langsung menoleh pada Noah yang sedari tadi duduk disampingnya sembari menggenggam tangannya erat selama pemeriksaan berlangsung.
"Mas, aku hamil..." lirih Luna pelan. "Kita akan menjadi orang tua Mas!" mata Luna berbinar-binar menampakkan cahaya kebahagiaan.
Noah diam tergugu dan memandangi wajah cantik Luna dengan senyumannya yang tulus. Ditatapnya mata sang istri secara lekat. Noah lalu mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Luna dengan ibu jarinya.
"We're going to be parents.." Noah bersuara.
Luna hanya mengangguk-angguk dan menjatuhkan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, dia tak lagi tahan.
Noah kemudian bergerak untuk mengecupi seluruh wajah Luna bertubi-tubi. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir. "Terima kasih karena kamu telah membuatku menjadi lelaki yang paling bahagia saat ini!"
Luna meraih sisi wajah Noah dengan kedua tangannya dan menyatukan kening mereka. Gelak tawa dari pasutri tersebut memenuhi seisi ruangan.
__ADS_1
Selesai pemeriksaan, sang perawat yang berada di ruangan membantu Luna membersihkan sisa-sisa gel yang masih menempel di perut dengan tisu. Kemudian Luna dan Noah diajak menuju meja kerja dokter untuk membahas lebih lanjut mengenai kehamilan Luna setelahnya.
"Untuk Ibu Luna saya akan memberikan resep untuk obat dan vitamin yang harus dikonsumsi selama masa kehamilan. Sebab dari hasil yang saya lihat, dapat disimpulkan jika kandungan Bu Luna sedikit lemah." Dokter Maya menjeda ucapannya.
"Harus banyak-banyak beristirahat ya Bu, kurangi aktivitas yang berat-berat dulu sementara. Jangan terlalu banyak pikiran, dibuat relax dan enjoy saja dengan kehamilan yang pertama ini. Mohon diperhatikan ya Pak, istrinya.." lanjutnya.
Noah tertawa kecil dan memeluk pundak Luna dari samping. "Siap Dok, saya akan bersikap protektif terhadap istri saya ini!!"
***
"Tuhan begitu baik pada kita, Lun. Aku tidak menyangka jika kita diberikan kepercayaan untuk memiliki anak dalam waktu yang cepat. Sungguh ini diluar prediksiku!" ucap Noah tersenyum lebar.
Keduanya kini sedang berpelukan erat dengan posisi menyamping di bangku belakang mobil.
Luna menarik sudut bibirnya keatas. "Tapi kamu bahagia kan Mas?" tanyanya.
"Jelas aku bahagia, bagaimana bisa tidak? Ini yang selalu aku inginkan dari dulu! Memiliki sebuah keluarga kecil..ahh... rasanya benar-benar tidak bisa digambarkan!"
Saking bahagianya, Noah ingin berteriak kencang dan mengatakan pada seluruh dunia jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
Sejak selesai pemeriksaan hingga masuk ke dalam mobil, tak sedetikpun Noah melepaskan genggamannya pada tangan Luna. Noah tak bosan-bosan mengusap rambut Luna seraya mengecupi kepala istrinya berulang kali.
"Selamat ya untuk Bapak dan Ibu, sebentar lagi akan memiliki momongan. Saya jadi ikut senang mendengarnya, ini kabar baik. Semoga Ibu Luna senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran selama proses kehamilan berjalan." Faiz yang sedang fokus menyetir mobil ikut menimbrung.
"Astaga Faiz, menganggu saja!" Noah memejamkan matanya sambil mengumpat dalam hati.
Noah hampir lupa jika mereka sedang tidak berduaan saat ini. Ada Faiz didepan yang menyupiri. Untung saja kedua bibir mereka belum menyatu. Luna pasti akan merasa malu bukan main andai kata Faiz memergokinya dan Noah sedang bercumbuu di belakang.
"Makasih ya Faiz, semoga doa-doa yang baik juga kembali pada kamu!" balas Luna yang disahuti dengan anggukan oleh Faiz.
"Faiz, kita langsung pulang ke rumah saya saja!" perintah Noah.
Luna cepat-cepat melirik Noah. "Loh Mas, kita kan mau ke rumah Kak Isabelle..ini udah jam dua lewat! Pasti dia sudah kembali pulang!"
"Lun, kamu dengar sendiri kan bagaimana pesan Dokter Maya tadi? Kamu disuruh berisitirahat dan jangan banyak beraktifitas dulu. Kandungan kamu lemah, belum lagi tubuh kamu lemas dan pucat berkeringat dingin. Sebaiknya pulang saja!"
"Tapi Mas, aku udah terlanjur janji..aku enggak enak kalau nge-cancel!" sergah Luna.
__ADS_1
"Aku yang akan menjelaskan sama mereka nanti kalau kamu sedang tidak enak badan. Mommy dan Kak Isabelle pasti akan mengerti. Dan itu tergantung kamu juga, sudah siap belum untuk memberitahukan kabar bahagia ini pada keluarga kita?" Noah menaik-naikkan alisnya.
"Siap dong Mas! Aku malahan gak sabar mau kasih tahu ini ke Mommy dan Budhe Ririn! Soalnya selepas kita pulang honeymoon, mereka selalu gencar nanyain aku kapan isi!" Luna cekikikan sendiri kala mengingat hal itu.
"Ya sudah kalau begitu, kita akan sama-sama kasih tahu mereka. Tapi tidak sekarang, karena kita harus tetap pulang." Noah tidak ingin dibantah. Dia ingin Luna memiliki istirahat yang cukup.
"Terus kapan Mas? Maksud aku kan sekalian aja, kalau kita jadi ke rumah Kak Isabelle..bisa ketemu Mommy, terus aku kasih tahu langsung!"
"Kasih tahunya pas di pesta perayaan welcoming home kita saja minggu depan. Mumpung banyak orang yang akan hadir disana, kita bisa announce kehamilan kamu!" saran Noah.
"Enggak mau Mas!" Luna menggeleng tak setuju. "Aku maunya berita tentang kehamilanku ini dikabarkan secara private dan tertutup. Hanya keluarga inti saja yang boleh tahu."
"Kenapa?" Noah mengernyitkan dahinya.
"Usia kehamilanku itu masih tergolong muda, aku masih di terimester pertama. Alangkah baiknya jangan mengumbarnya dulu kalau belum masuk di terimester kedua. Nanti sajalah pas udah 4-5 bulanan, baru kita adakan syukuran atau acara gender reveal."
"Ooh..oke terserah, aku mengikut kamu saja. Ada benarnya juga kalau kehamilanmu ini sebaiknya dirahasiakan dulu dari publik ataupun orang-orang lain." Noah tak keberatan.
Informasi tentang kehamilan adalah suatu hal yang begitu intim, tidak boleh menjadi konsumsi publik mengingat reputasi Noah diluaran sana sebagai business tycoon yang selalu digandrungi para awak media.
Andai kata Noah mengumumkan berita kehamilan Luna di acara pesta perayaan rumah baru, bisa saja tamu yang hadir akan bermulut ember dan membocorkannya pada media kemudian mereka menjual berita tersebut.
Kalau sudah begitu, baik keluarga Noah maupun Luna pasti akan dikuntit oleh wartawan kemana-mana demi mendapatkan sebuah validitas dari info yang beredar. Luna pasti akan merasa tidak nyaman dan dapat memicu stres yang akan memengaruhi kehamilannya. Noah tak ingin itu terjadi.
"Kalau akhir pekan ini bagaimana? Aku akan undang semua keluarga kita untuk makan bersama di private restaurant, lalu kita berikan mereka kejutan. Nanti aku pesankan tiket pesawat untuk Budhe dan Pakdhe kamu agar bisa datang."
"Boleh Mas, kalau itu aku setuju!" jawab Luna.
"Deal ya, hari Sabtu besok aku akan atur semuanya?"
"Deal. Makasih Mas!" Luna menarik pipi Noah dan menciumnyaa gemas. "Aku sayang kamu!"
"Aku juga sayang sama kamu..." balas Noah.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.