Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Suami Sultan


__ADS_3

AUTHOR POV


Mobil yang ditumpangi oleh Noah dan Luna sudah berjalan mengarungi jalanan kota. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mereka hendak menuju ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar untuk sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu weekend selayaknya pasangan normal.


Kali ini mereka perginya diantar oleh Pak Karta karena Noah malas menyetir. Disamping itu dia juga sedang ingin bermanja-manja dengan istrinya di kursi penumpang.


"Oh ya Lun, barusan Malena menelpon aku." ucap Noah memecah keheningan diantara keduanya.


Sedari tadi sejak di rumah, Noah sibuk menimbang-nimbang pikirannya untuk menyampaikan hal tersebut pada Luna.


Awalnya dia takut salah bicara yang memungkinkan membuat Luna salah paham. Hal-hal yang berbau dengan mantan istrinya itu kan sering membuat wanita sensitif.


Tapi Noah lebih takut lagi kalau dia tidak jujur pada Luna. Kapok sudah didiamkan berhari-hari dan dicuekin jika ketahuan berbohong.


"Hah? Mbak Malena telepon kamu? Kapan kok aku enggak tahu?" Luna memberondong pertanyaan pada suaminya dengan ekspresi kaget.


Sudah Noah duga, istrinya ini pasti langsung heboh. Yang tadinya duduk manis dengan pandangan yang fokus pada jalanan, sekarang berubah duduknya sedikit serong menatap Noah seksama. Bahkan tangan keduanya yang mulanya bertautan satu sama lain, justru terlepas sekarang.


"Tadi dia telepon pas kamu lagi ganti baju." aku Noah.


"Terus, kamu angkat enggak Mas telepon dari dia?"


"Tidak kok, langsung aku reject panggilannya."


"Beneran di reject?" dahi Luna mengernyit, tanda bahwa ada sedikit keraguan disana.


"Iya. Kalau tidak percaya kamu cek sendiri saja history missed calls dia di handphone aku. Atau kalau mau bisa cek CCTV rumah." ujar Noah meyakinkan.


"Buat apa lihat CCTV?"


"Ya CCTV kita rumah kita kan ada suaranya. Disitu ada bukti rekaman waktu kamu ganti baju aku beneran tidak ngapa-ngapain. Tidak telepon sama siapa-siapa. Bahkan aku diam setia menunggu kamu keluar dari kamar."


Luna menghela nafasnya pelan. "Enggak perlu deh, aku percaya sama kamu."


Giliran Noah menyipitkan matanya tidak yakin. "Serius nih, tumben langsung percaya tidak pakai drama?!"


"Tcihh..jahat banget istrinya dikatain tukang drama! Lagian aku ngedrama juga kan gara-gara kamu yang bikin ulah duluan! Sukanya mancing-mancing ngajakin berantem." Luna memalingkan wajahnya, tatapannya berubah menghadap ke jendela. Mengabaikan Noah yang tengah menyeringai, menampakkan senyuman jahilnya.


"Tuh kan mulai lagi! Kurang-kurangin deh ngambeknya. Sebentar lagi on the way jadi ibu anak satu lho? Masa masih suka ngambek sih..." Noah sengaja menggoda Luna dengan menoel-noel dagu istrinya itu.


"Udah ah..nyebelin kamu!"

__ADS_1


Luna menampik jari telunjuk Noah diikuti dengan suara gelak tawa suaminya itu yang gemas dengan kelakuan istrinya.


"Hmm..salah lagi aku. Padahal tadi aku sudah jujur sama kamu kalau Malena menelpon. Tidak ada yang aku tutup-tutupin lho."


"Iya, makasih atas kejujurannya. Berharap imbalan hadiah kah?" sarkas Luna yang menunjukkan raut wajah sebal.


"Tidak minta imbalan. Paling tidak apresiasi sedikit. Ciumm pipi gitu misalnya.." tawar Noah seraya menaik-naikkan kedua alisnya.


"Ishh..ngarep banget kamu! Malu tuh dilihatin Pak Karta!"


Dari bangku belakang, Luna sudah yakin pasti Pak Karta sedari tadi menyimak perbincangan mereka yang terdengar absurd itu. Bisa dibilang Luna sedikit malu. Siang-siang begini drama rumah tangga sepelenya disaksikan Pak Karta yang kemungkinan merasa tidak nyaman.


"Kenapa harus malu? Kan dicium sama istrinya sendiri bukan sama orang lain. Bebas kan mau melakukan apapun, betul begitu kan Pak Karta?" Noah mengalihkan pertanyaannya pada sang supir.


"Betul Tuan, sudah sah jadi bebas. Saya tidak akan nengok-nengok ke belakang kok. Silahkan saja kalau mau." kata Pak Karta canggung.


Pikir beliau, so sweet sekali dua majikannya ini yang tidak segan mengekspresikan keromantisan mereka.


"Apaan sih, jadi merembet kesana! Pak Karta juga malah ikut-ikutan meledek saya nih! Bikin kesel aja.." semakin memberengut saja itu muka Luna. Bete sekali dia digoda begini.


"Balik ke topik Mbak Malena deh Mas, itu dia sebenarnya ngapain sih masih caper ke kamu? Mau apa lagi dia?"


"Wajar dong aku curiga, terakhir aja kamu kirim-kirim bunga dan makanan pas dia sakit. Kalau dibiarkan bebas, bisa tambah makin jadi kalau enggak diawasi." sindir Luna yang ingatannya masih terpatri jelas bahwa dulu Noah sempat menaruh perhatian saat mantannya itu sakit.


Perasaan Noah mulai tidak enak. Luna sedang mode badmood sampai harus mengungkit-ungkit kejadian yang sudah lama.


Baru saja sebentar dia merasa tenang karena Luna tampak begitu anteng saat berangkat tadi. Ehh..sekarang sudah balik mereog. Memang pembahasan mantan selalu berujung blunder.


Pak Karta pun yang tadinya fokus menyetir ikut tertawa cekikikan. Puas sekali rasanya melihat Noah mati kutu akibat diskak mat istri.


"Sudah dong, pakai dibahas segala yang dulu-dulu. Aku sudah minta maaf dan janji tidak ulangi lagi kan?"


"Iya tapi aku tetep kesel kalau diingat-ingat."


"Makanya jangan diingat lagi. Pikiran dan kenangan yang buruk-buruk buang ke laut. Ingat tuh memori yang bikin happy saja. Buktinya juga tadi kan telepon mantan sudah aku reject."


"Memang seharusnya begitu. Kalau bisa diblok aja tuh nomernya sekalian biar enggak hubungin kamu lagi. Ganggu banget deh dia!" gerutu Luna sambil melipat tangannya didepan dadaa.


"Niatku juga memblokir nomor dia, tapi takutnya masih ada perlu. Kamu ingat sama kasus teror yang menimpa kita masih sedang tahap penyelidikan. Dugaan kuat kita, Malena ikut terlibat didalamnya. Itu sebabnya ada banyak faktor kenapa aku belum blok. Nanti kalau urusan sudah selesai pasti aku akan menjaga jarak, menjauhkan diri dari dia."


"Janji lho Mas?"

__ADS_1


"Iya janji. Sekarang saja kan aku sudah tidak pernah berhubungan sama dia. Apalagi nanti kalau sudah terbukti. Urusan aku sama dia sudah lama selesai. Kisah kami sudah tutup buku. Tidak terlintas sedikitpun di benakku untuk kembali sama Malena." ujar Noah yang tengah menatap kedua bola mata Luna dengan intens.


Dari netra penglihatan tersebut, Luna tidak menemukan adanya tanda-tanda kebohongan atau dusta. Kali ini Noah berhasil meyakinkan dirinya. Semoga saja suaminya itu konsisten dan tidak goyah.


"Okay aku percaya. Pokoknya awas kamu macam-macam. Istri kamu ini pencemburu berat, jadi jangan bertingkah sebelum aku mengamuk. Mana perut aku udah mbelendung besar gini. Aku aduin sama adek nanti kalau kamu jahatin Maminya."


"Mana berani aku macam-macam sama si bumil cantik ini," Noah mengusap-usap lembut pipi Luna sembari tertawa pelan.


"Oh ya Mas, mumpung aku ingat. Kemarin Mommy kamu datang ke rumah kita."


"Mommy datang? Kok aku enggak tahu?"


"Iya selisipan, pas kamu berangkat ke kantor beliau baru aja datang."


"Pantas tidak ketemu. By the way mau ngapain Mommy ke rumah?" tanya Noah memastikan ada apa gerangan ibunya datang.


"Ya itu loh Mas, Mommy bahas soal acara perayaan kehamilan aku. Mommy bilang dia pengen buatkan acara tujuh bulanan, terus seminggu setelahnya mau ngadain pesta gender reveal juga. Katanya biar sama kayak Kak Isabelle dulu pas hamil Chloe sama Ashley."


"Terus masalahnya dimana?"


"Menurut kamu kita iyain aja apa gimana? Aku bingung banget nih.." ekspresi muka Luna memelas, kemudian tangannya bergerak mengelus perut buncitnya.


"Oh begitu rupanya. Ya kamu sendiri bagaimana, setuju apa tidak? Aku sih cuman ikut kemauan kamu saja. Karena yang menjalani kehamilan ini kan kamu."


"Jujur aja sih Mas, tadinya tuh aku enggak kepengen dirayakan ramai-ramai. Maunya private aja. Bahkan tadinya kita sepakat kan untuk enggak ngecek USG tentang jenis kelamin anak kita. Biar jadi kejutan aja pas adek brojol." Luna menjeda ucapannya sejenak. Memilin-milin ujung dress yang dikenakannya karena sedang bimbang


"Tapi kok pas aku lihat Mommy begitu semangat, aku jadi enggak tega menolak ya? Kita turutin kemauan Mommy aja boleh kan Mas?" lanjutnya lagi setelahnya.


Noah meraih tangan istrinya untuk digenggam, diusapnya lembut punggung tangan tersebut. "Boleh banget. Tapi balik lagi ke kamunya, beneran mau dan setuju kah? Kalau tidak sreg jangan dipaksa. Aku tahu betul kamu kurang suka berada di kerumunan banyak orang kan."


Luna menganggukkan kepalanya. "Enggak apa-apa deh Mas, aku mau kok. Setuju sama usulan Mommy. Kalau dipikir-pikir kayaknya seru juga ngadain acara gitu. Ini juga kan anak pertama kita, wajar kalau Mommy excited."


"Okay deal, nanti kontak Mommy lagi aja. Rundingkan konsep acaranya sama Mommy. Pilih yang kamu suka dan jangan takut Mommy tersinggung kalau pilihan kamu tidak sesuai sama seleranya. Ini kan acara buat calon anak kita. Jadi kita yang lebih berhak untuk in charge."


"Siap Mas, tapi enggak apa-apa juga sih. Justru ide dan masukan dari Mommy itu yang aku butuhkan. Aku kan belum pengalaman, yang lebih tahu ini itunya pasti ya Mommy."


"Iya kamu atur saja, aku nanti tinggal ngurus biaya aja...terima beres.." balas Noah dengan senyuman manisnya.


"Hahaha...enak juga ya ternyata punya suami macam sultan begini." canda Luna sambil memeluk suaminya, melingkarkan lengannya pada pinggang Noah dengan mesra.


Sungguh bahagia sekali dirinya saat ini...

__ADS_1


__ADS_2