
"Mas, ini aku enggak bawa baju dingin lho! Katanya disana lagi Winter Season? Cuman bawa 2 sweater aja, yang kupakai sekarang sama di koper 1.." ucap Luna bingung.
Mengingat rencana bulan madu mereka ke Eropa yang begitu mendadak dan terkesan surprise, tak banyak persiapan yang bisa dilakukan. Masing-masing dari Luna dan Noah hanya membawa 1 koper berukuran sedang.
Noah menjawab, "Kamu sementara pakai Coat ku dulu aja Lun, aku ada 2 atau 3 kalau tidak salah. Nanti pas udah sampai disana, baru kita beli baju-baju khusus untuk musim dingin."
"Oke Mas." Luna mengangguk paham.
Keduanya lalu bergegas untuk check-in tiket pesawat di konter maskapai pesawat yang akan mereka tumpangi.
"Berarti ini kita transit di Singapura dulu ya Mas?" tanya Luna yang sedang mengecek tiket penebangan mereka.
"Iya. Dari Singapura langsung ke Praha nanti," Noah menimpali.
Noah dan Luna berjalan bergandengan tangan menuju Executive Lounge yang disediakan khusus untuk penumpang first class, karena penerbangan mereka masih kurang 1 jam lagi.
Noah melirik Luna. "Dari tadi aku perhatikan, kamu kelihatannya senang banget! Senyum-senyum terus gitu, ada apa?"
"Ya namanya orang mau liburan pasti senang dong Mas! Masa pasang muka sedih sih? Apalagi kita naik first class lagi, istimewa banget!" seru Luna bersemangat.
Noah memang sengaja telah membooking tiket first class, khusus untuk dirinya dan Luna yang hendak pergi honeymoon. Mengingat terbang ke Eropa membutuhkan waktu yang lama, Noah ingin memberikan kenyamanan untuk perjalanan mereka.
Noah terkekeh. "Jangan keseringan senyum-senyum begitu, nanti dikira kesambet!" ejek Noah.
Luna mendengus kesal. "Apaan sih Mas, bikin mood drop aja! Masa orang senang dikatain kesambet!"
"Bercanda Lun..jangan ngambek, kan mau liburan!"
"Iya, Mas Noah-ku..."
Luna menggeleng sembari tertawa pelan. Satu fakta baru yang Luna ketahui, kalau Noah sesungguhnya adalah orang yang receh dan garing.
"Mas, aku mau beli roti disitu boleh enggak?" Luna menunjuk sebuah toko roti yang terkenal paling enak di bandara.
__ADS_1
"Boleh sih, tapi nanti di lounge ada banyak makanan yang tersedia secara gratis. It's one of our facilities. Kamu mau tetap beli itu atau yang di lounge aja?" tawar Noah.
"Mau beli yang itu Mas, kelihatannya enak! Aku tuh beberapa kali lihat di sosmed, toko roti ini viral karena rasanya enak. Bau roti nya aja wangi, sampai kecium dari sini!"
"Okay, kita kesana." Noah mengiyakan permintaan Luna.
"Yeay!!" Luna mengalungkan tangannya di lengan Noah dan buru-buru menariknya.
Ketika keduanya telah masuk ke toko roti tersebut, tak sengaja Luna tiba-tiba bertemu dengan sosok dua orang manusia yang paling dia benci di dunia ini.
Tidak lain tidak bukan, yaitu orang tuanya.
Mereka berdua saling berpapasan dan menatap lekat satu sama lain. Tersirat eskpresi keterkejutan di raut wajah kedua orang tua Luna karena tak disangka-sangka mereka dapat bertemu dengan putrinya di momentum seperti ini.
Begitupun juga dengan Luna. Dia begitu tersentak kaget dan merasa tidak siap jika dihadapkan dengan orang tuanya sekarang.
"Luna...." lirih Jelita dengan nada pelan. Matanya berkaca-kaca menahan tangisnya agar tidak luruh.
Papa Luna--Brahim, juga tak kalah emosionalnya saat melihat sang putri yang telah tumbuh menjadi wanita yang cantik, telah berdiri di depannya.
"Luna anak Mama...kamu ada disini sayang?" Jelita mendekat ingin memeluk putrinya.
"Stop, jangan mendekat!" Luna memajukan tangannya menahan Jelita. "Menjauhlah kalian dari kehidupan saya!"
Luna mendongakkan kepalanya menatap Noah, "Mas..ayo kita pergi dari sini! Aku enggak jadi beli roti."
Noah hanya bisa mengangguk paham dan menuruti kemauan istrinya, karena Luna sudah mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
"Jangan pergi dulu Lun, bisakah kita mengobrol sebentar nak? Papa dan Mama rindu sama kamu..biarkan kami menjelaskan semuanya!" kali ini giliran Brahim angkat bicara.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Saya sudah berkali-kali bilang, jauhi saya! Kita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa." sentak Luna hingga menarik atensi dari pengunjung lain.
"Ayo Mas, aku malas buat keributan disini! Kita pergi aja yuk.." ajak Luna yang mengabaikan pandangan mata orang tuanya.
__ADS_1
Keluar dari toko roti pun, kedua orang tua Luna masih tak ingin berputus asa untuk menahan putrinya agar tidak melenggang pergi.
"Luna, Papa mohon nak..beri kami kesempatan. Papa dan Mama tidak bermaksud meninggalkan kamu saat itu, kami hany--"
"Berhenti membual, saya tidak ingin mendengar pembelaan apapun. Apa kalian masih tidak mengerti juga?"
Brahim bergerak meraih tangan Luna yang kemudian dihempaskan begitu saja.
"Lepaskan..saya tidak suka anda sentuh!"
Brahim tak menyerah dan hendak meraih tangan Luna lagi. Namun hal itu ditepis oleh Noah.
"Kalau dia sudah bilang tidak, itu artinya tidak. Jangan suka memaksakan kehendak!" ucap Noah mengambil tindakan.
Sedari tadi ia hanya diam membiarkannya karena tidak ingin ikut campur terlalu dalam atas masalah keluarga Luna. Noah merasa tidak berhak.
Tapi karena Brahim sudah bertindak melampaui batas yang membuat Luna tidak nyaman, tentu Noah akan maju melindunginya.
Jelita dan Brahim kini mengalihkan pandangannya menatap Noah. Karena tidak fokus, mereka baru sadar jika putrinya sedang tidak sendiri dan ditemani oleh seseorang.
"Kamu siapanya Luna?" tanya Jelita yang penasaran akan sosok pria yang tengah berada disamping putrinya.
"Saya Noah Clerk, suaminya Luna."
Duarrr....
Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, kedua orang tua Luna begitu terkejut mendengar Luna yang telah menikah.
Timbul sebuah perasaan penyesalan dan nyeri di benak mereka karena tidak tahu apa-apa mengenai kabar kehidupan putrinya.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
__ADS_1
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.