
Noah
Keluar dari kamar, aku langsung lari terbirit-birit menuju dapur dan menyuruh asisten rumah tanggaku menyiapkan makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna untuk Luna. Istriku itu harus makan yang sehat-sehat biar baby kami dalam perutnya tumbuh berkembang dengan kondisi yang sehat pula.
Cerobohnya aku yang lupa kalau istriku itu belum sarapan sejak pagi gara-gara juniorku yang nakal ini minta buru-buru dipuaskan. Harusnya aku tidak boleh egois dan mengedepankan napsu belaka. Tapi aku mana menolak, karena Luna mau-mau saja. Malah dia yang menawariku terlebih dahulu.
Melihat area ruang tamu, seketika aku teringat jika Poppy masih ada disana. Aku bahkan mengabaikannya karena terlanjur panik melihat Luna yang mual-mual. Akan kusuruh dia untuk pulang sekarang saja.
"Hai Poppy! Mohon maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk mengusir, tapi bisakah kamu pulang sekarang? Aku tidak bisa lama-lama menemani kamu mengobrol," ucapku blak-blakan sambil berjalan mendekat.
Poppy mengernyitkan dahinya lalu bangkit dari tempat duduknya. "Loh kenapa Noah?" wajahnya kelihatan bingung karena secara tidak langsung aku mengusirnya secara halus.
"Istriku sedang tidak enak badan. Perutnya sakit dan mual-mual," jawabku jujur.
"Masa sih? Perasaan tadi dia terlihat enggak apa-apa. Masih bisa ceria mengobrol, kenapa mendadak sakitnya? Pura-pura saja kali!" Poppy menampiknya.
Susah sekali wanita ini untuk dikasih tahu. Luna yang sedang tidak enak badan, malah dibilang sandiwara.
"Pura-pura gimana? Istriku itu sedang hamil, wajar kalau bisa tiba-tiba mual atau pusing. Itu namanya morning sickness, kamu tidak akan mengerti. Sudah ya, sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku mau fokus mengurus istriku dulu!" nada bicaraku terdengar agak ketus barusan, menunjukkan betapa kesalnya aku.
Bisa-bisanya dia berani bilang Luna berpura-pura. Lagi sakit malah dipikir prank. Aneh! Untung saja stok kesabaranku sedang melimpah kini.
"Hhh--hamil? Istri kamu sedang hh--hamil?" tanya Poppy hati-hati.
"Iya." jawabku singkat seraya memasukkan kedua tanganku pada kantong celana.
"Udah berapa bulan, kok perutnya belum kelihatan gede?" selidik Poppy penasaran.
"Baru 2 bulanan. Masih kecil janinnya, jadi perut Luna belum membuncit."
"Ohh..pantes. Ss--selamat ya Noah, aku turut happy mendengarnya. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Poppy terlihat tidak nyaman saat mengucapkannya.
__ADS_1
"Terima kasih." balasku singkat.
Raut wajah Poppy berubah pias. Sulit untuk diartikan maksudnya. Entah kaget atau apa, yang jelas dia melongo tak percaya. Mulutnya menganga membentuk bulatan o.
"Hey...jangan melamun disini!" aku menggoyangkan bahunya agar dia tersadar.
Poppy berdehem canggung. "Ekhhmm--mm m--maaf, aku kaget!"
"Aku perhatikan, sudah terhitung dua kali kamu kaget. Pertama saat kamu tahu bahwa aku sudah menikah. Yang kedua, pas kamu tahu istriku hamil. Kenapa Pop, ada yang salah?" tanyaku sengaja.
Aku tidak buta, sedari tadi aku mengamati gerak-gerik Poppy yang terlihat sinis memandangi Luna. Padahal istriku itu tidak salah apa-apa. Kalau aku tidak salah mengartikan, Poppy seperti tak suka dengan hubunganku dan Luna.
"Aku enggak apa-apa kok... perasaan kamu aja kali!" Luna tersenyum meringis yang terkesan terpaksa.
"Ya sudah." Aku menghela nafasku sejenak. "Kamu kesini naik apa, bawa mobil kan?"
Poppy mengangguk dengan ekspresi kikuk. "Iya..aku nyetir sendiri kesininya."
Poppy hanya bisa mengiyakan pasrah, meski aku tahu sebenarnya dia tidak mau pulang. Bukannya aku mau geer atau sok percaya diri, tapi feeling-ku berkata kalau Poppy nampaknya masih berharap jika hubungan kami bisa lebih dari sekedar teman.
Dulu saja waktu aku dijodohkan dengannya, dia yang paling getol untuk mendekatiku dan hampir setiap hari mengirimi makanan hasil masakannya ke kantorku. Dia tahu jika aku mudah luluh kalau soal makanan, seperti tadi dia membawakanku kue-kue saat bertamu. Aku yakin dia sedang cari perhatian.
Mungkin dia menganut pepatah, sebelum janur kuning melengkung pasti masih ada kesempatan. Terakhir bertemu, yang Poppy tahu itu aku dan Luna sedang berpacaran. Padahal Luna hanya iseng berpura-pura. Tapi berhubung sekarang aku dan Luna sudah resmi menikah, otomatis pintu harapan tak lagi terbuka untuknya.
Sampai di halaman depan, poppy masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya. Lalu ia menurunkan kaca jendela mobil untuk berpamitan."Aku pulang dulu ya Noah, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk ngobrol sebentar denganku tadi."
"Iya, sama-sama. Terima kasih sudah berkunjung." aku melambaikan tanganku sebagai tanda perpisahan. "Hati-hati."
Aku perhatikan, mobil Poppy sudah menjauh dan melaju dengan kecepatan tinggi. Gila wanita itu, bisa-bisanya ngebut. Padahal sudah diwanti-wanti untuk hati-hati tadi. Biarlah, suka-suka dia. Aku tak perduli.
Ketika kembali masuk kedalam rumah, kudapati Luna berada di dapur, sedang membuka kulkas dan mencari-cari sesuatu.
__ADS_1
Apa dia sudah kembali sehat dan tidak mual lagi ya? Secepat itu ternyata, padahal beberapa menit yang lalu tubuhnya terlihat lemas tak berdaya. Tak apalah, justru aku lebih senang melihatnya sehat dan aktif.
Kuhampiri Luna yang tampak serius mengobrak-abrik isi kulkas. "Kamu cari apa Lun?"
"Cari makanan Mas!" jawab Luna tanpa menoleh.
"Loh, tadi aku udah suruh Bibi untuk antar makanan kamu ke kamar lho? Enggak dimakan?"
"Enggak selera Mas, maunya makan camilan! Tapi aku masih pilih-pilih ini soalnya bingung mau makan yang mana!"
"Kamu belum makan nasi dari pagi lho? Belum minum vitamin juga. Makan nasi dulu ya sebelum nyemil?!" tawarku dengan penuh kelembutan.
"Ishh..Mas ini bawel deh! Kan udah dibilang kalau lagi enggak selera!" Luna balik badan sekilas dan menatapku tajam. Mulai ini, mood swing-nya lagi kumat.
Aku pun mengalah saja, daripada nanti menangis lagi justru aku yang repot. "Ya sudah iya, kamu mau makan apa? Banyak cookies dan biskuit disana. Pokoknya tidak boleh makan chips ya, banyak micin itu. Nanti aku cari kripik sehat kal--"
Luna memotong ucapanku. "Wah ini enak nih Mas..ada kue pastry. Punya siapa, kamu yang beli?" mata Luna berbinar-binar melihat satu box kardus yang berisikan penuh kue-kue cantik.
"Bukan, itu dari Poppy. Pas datang dia bawa kue pastry. Sama ada cake juga. Makan lah kalau kamu suka."
Luna menoleh cepat. "Tunggu-tunggu, ini dari Mbak Poppy terus langsung kamu terima gitu?" ucap Luna ketus.
"Kan dikasih, ya jelas diterima. Masa ditolak didepan orangnya, kan tidak mungkin?!" sahutku balik.
"Ckkk..enggak jadi makan ah! Sebel!!!" Luna menghentak kakinya sambil mendengus kesal dan melenggang pergi dari dapur.
Sekotak kue tersebut dihempaskan olehnya diatas kitchen island dengan kasar. Pintu kulkas juga masih dibiarkan terbuka tidak ditutup.
Alamat...Luna pasti ngambek! Salah lagi aku...
***
__ADS_1