Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Saling Menguatkan


__ADS_3

Brrraaaakkkk....


Pintu kamar terbuka dengan lebar. Luna mendapati Noah tengah menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa. Raut penuh kekhawatiran dan kepanikan jelas sekali terlihat di wajah tampan Noah.


"Sayang, kamu enggak apa-apa kan?"


Luna buru-buru beringsut dari kasurnya sambil berlari kecil kearah Noah, ia ingin memeluk suaminya begitu erat.


"Mas..." lirih Luna pelan.


Noah dengan senang hati menyambut tubuh mungil Luna yang jatuh dalam dekapannya. Sesekali Noah memberikan usapan lembut pada surai panjang istrinya itu dan memberikan kecupan di keningnya.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Noah.


"Aku baik..cuman aku takut," Luna semakin membenamkan kepalanya pada tubuh Noah.


"It's okay, don't be afraid. I'm here. Untung kamu tidak kenapa-napa. Aku panik banget. Semua pekerjaan langsung aku tinggal setelah Pak Hari mengabariku."


"Maaf ya Mas aku tadi lupa telepon kamu. Aku terlanjur lemas duluan, enggak bisa mikir pas lihat isi paket yang menyeramkan itu!" ujar Luna. Saking paniknya, ia sampai tidak sempat mengabari Noah.


"Bukan masalah, yang terpenting kamu aman bersamaku sekarang. Jangan takut lagi, aku ada disini. Aku janji sama kamu, aku akan bereskan semua ini secepatnya."


Noah lega melihat kondisi istrinya yang baik-baik saja meskipun Noah tahu jika hati Luna sedikit terguncang karena kejadian hari ini.


Luna kemudian mengendurkan pelukan mereka dan berucap, "Kira-kira siapa sih Mas, orang iseng yang melakukan hal ini? Kenapa mereka mengirimi rumah kita dengan paket aneh seperti itu?"


Luna kembali bergidik ngeri mengingatnya. Bayangan tentang bangkai hewan yang masih berlumuran noda merah terpatri kuat dalam otaknya.


Noah menangkup wajah Luna dan mengecup bibir Luna sekilas. "Jangan dipikir, itu biar jadi urusan aku. Kamu cukup duduk manis dan diam di rumah saja."


"Kalau pelakunya udah ketemu, kamu wajib cerita sama aku ya. Enggak boleh ditutup-tutupin. Aku juga berhak tahu Mas siapa yang melakukannya."


Noah berdehem mengangguk. "Hmm..aku pasti akan cerita sama kamu. No secrets between us."


"Dan satu hal lagi, untuk sementara ini kamu jangan keluar-keluar rumah dulu ya. Stay at home. Kursus masak kamu juga perlu di-stop dulu sampai pelakunya ditemukan. Rumah kita harus disterilkan dari orang asing. Aku juga akan lakukan background check ulang untuk para karyawan rumah."


Luna mengernyitkan dahinya kebingungan.


"Loh kenapa? Kamu mencurigai mereka Mas?"


"We never know Luna. Bisa saja kan mereka bekerjasama dengan orang luar untuk mengirim paket itu. Di rumah ini, tidak ada satupun orang yang bisa aku percaya selain kamu," jawab Noah.


"Ya mungkin pengecualian untuk Pak Hari. Beliau sudah lama bekerja dengan keluarga Clerk. Itu sebabnya aku hire dia sebagai bodyguard sekaligus merangkap untuk jaga rumah." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Apa enggak berlebihan Mas? Selama ini para karyawan baik-baik aja kok ke aku. Enggak ada masalah sama sekali. Sebaiknya kamu jangan berburuk sangka dulu!" Luna tak terlalu sepakat dengan ide suaminya itu.


Pikir Noah, wajar sebenarnya apabila Luna terkesan tidak percaya dan sedikit membela karyawan di rumah mereka. Pasalnya selama Luna menempati kediaman ini, dia cukup dekat dengan para ART, supir, dan bahkan tukang kebun mereka yang terkenal sopan dan ramah.


Noah terdiam untuk beberapa saat. Dia tak tahu harus mulai dari mana untuk bercerita pada sang istri, jika ada dua alat penyadap entah milik siapa yang terpasang di pojokan ruang tengah.


Keberadaan benda kecil itu diketahui Noah saat ia dan Pak Hari hendak memasuki ruang CCTV, karena kebetulan jaraknya dengan ruang tengah begitu dekat. Tanpa sengaja, kedua bola mata Noah memicing pada sudut ruangan. Disanalah terdapat dua kotakan kecil berwarna hitam yang diyakini sebagai alat penyadap suara.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku Mas?" Luna bisa menebak jika suaminya sedang berpikir keras.


"Kita duduk dulu yuk, aku harus jelaskan sesuatu sama kamu." Noah meraih tangan Luna dan mengajaknya untuk duduk di tepian ranjang mereka.


"Mas..ada apa sebenarnya? Wajah kamu berubah jadi serius gitu.."


Noah mengembuskan nafasnya pelan. "Lun, aku akan beritahu kamu sesuatu. Tapi aku mohon kamu jangan kaget. Jangan terlalu dipikirkan bisa?"


"Ada apa sih Mas, kamu jadi bikin aku takut deh.."


"Janji dulu sama aku. Kalau kamu bisa mencerna berita yang aku sampaikan ini dengan sikap yang tenang..maka aku akan kasih tahu kamu."


"Okay fine, go ahead and try me!" sahut Luna.


Noah meraih tangan istrinya. Sejenak ia menatap mata indah Luna yang begitu mempesona namun tersirat kekhawatiran didalamnya.


Degghhh...


Luna membelalakkan kedua bola matanya. Mulutnya yang tadi diam terkatup mendadak terbuka menganga. Fakta yang baru saja didengarnya membuat ia terkejut.


"Kk--kamu serius Mas? Kok bisa nemu?" tanya Luna penasaran.


"Awalnya aku itu mau cek ruang CCTV. Aku mau lihat aktivitas disekitar jalanan rumah kita yang sekiranya mencurigakan. Mulai dari saat kurir itu datang sampai paket itu masuk ke area pelataran depan. Tapi pas sebelum aku masuk, aku langsung nemu sebuah kotakan kecil di sudut ruang tamu. Tempatnya persis didekat guci keramik. Aku tahu betul itu alat penyadap suara. Sebelumnya aku pernah lihat bentukannya."


"Dari situ, perasaan aku sudah tidak enak. Kalau ada satu aja penyadap yang ditemukan, otomatis ruangan lainnya ikut disusupi juga. Dan benar feelingku, ada satu penyadap lagi yang ditemukan persis dibelakang TV LCD."


Noah menceritakan kronologinya panjang lebar yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Luna.


"Terus Mas, dari CCTV itu..kelihatan enggak siapa yang masang penyadap di rumah kita?" tanya Luna lagi.


Noah menggeleng. "Tidak, belum ketemu pelakunya. Aku lihatnya baru sekilas tadi. Cuman fokus mengamati CCTV untuk hari ini aja. Aku langsung buru-buru ke kamar mau lihat kamu. Nanti malam akan aku telusuri lagi satu-satu, pergerakan rumah sebulan terakhir ini. Karena aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan penyadap itu dipasang."


"Semoga cepat ketemu ya Mas, siapa-siapanya. Aku beneran takut ini. Rumah itu seharusnya jadi tempat ternyaman bagi kita untuk beristirahat setelah seharian lelah beraktivitas atau kerja. Tapi ini, malah jadi mencekam..." keluh Luna.


"Iya, aku minta maaf ya sayang..aku sedikit teledor. Bodyguards dan karyawan rumah juga kecolongan. Itulah alasan kenapa aku mau interogasi mereka semua nanti. Penyadap itu juga tidak mungkin terpasang kalau tidak ada bantuan orang dalam kan? Makanya untuk sementara, kamu bicara yang seperlunya aja sama ART kita dan lainnya."

__ADS_1


Luna mengiyakan ucapan suaminya. "Okay Mas..selama ini juga aku enggak pernah ngobrolin privasi keluarga kita ke mereka. Kalau lagi ngomong-ngomong ya biasa aja."


"Bagus kalau begitu. Jangan terlalu suka mengumbar informasi yang bersifat pribadi." Noah mengusap lembut pipi Luna.


"Padahal ya Mas, ruang tamu itu tempat favorit aku untuk bersantai lho! Kalau pas kamu kerja, hampir setiap hari aktivitasku itu selalu di ruang tamu. Setelah mandi pagi dan sore, aku pasti langsung nonton film sambil nyemil. Sesekali mungkin di gazebo, tapi paling sering di ruang tamu. Bahkan untuk makan aja, aku lebih suka disana daripada di meja makan," tukas Luna.


"Itulah yang jadi pertimbanganku Lun. Sepertinya memang si pelaku ini sengaja meletakkan penyadap itu di area ruang tamu, tempat dimana kamu sering menghabiskan waktu. Yang aku takutkan itu ada kamera kecil tersembunyi yang bisa memata-matai pergerakan kamu," balas Noah.


Luna bukanlah tipe wanita yang suka mendekam didalam kamar tidurnya seharian. Dia lebih suka bepergian atau melakukan aktivitas diluar agar pikirannya bisa fresh dan tidak suntuk. Apalagi dia sudah tidak bekerja lagi sekarang.


"Aduh Mas..aku jadi ngeri sendiri. Gimana dong ini?" Luna tampak semakin tegang setelah mendengar teori Noah.


"Tenang ya..kamu sudah janji lho tadi sama aku untuk tetap tenang. Jangan panik, jangan terkecoh. Everything will be fine, I'll settle them for you. Aku sudah perintahkan Pak Hari dan Dani untuk menyusuri seisi rumah, barangkali ada benda-benda mencurigakan lainnya yang ditemukan."


Luna mengangguk pasrah. "Aku bersyukur Tuhan masih melindungi keluarga kita Mas. Untungnya sampai detik ini enggak ada kejadian aneh yang dapat merugikan kita. Cuman tadi aja shock therapy gara-gara paketan itu."


"Sudah, jangan dipikir terlalu dalam lagi. Ingat sama baby kita didalam perut. Kalau Maminya panik, baby juga ikutan panik. Aku janji, selama aku bernafas dan jantungku masih berdetak. Aku pasti akan melindungi kamu dan baby kita sekuat tenaga." Noah meyakinkan Luna agar wanita itu berhenti overthinking.


"Iya Mas..sebisa mungkin aku akan coba untuk tenang. Ada kamu disampingku, kita pasti bisa lewati ini sama-sama. Saling menguatkan ya.." Luna mengecup punggung tangan Noah, membuatnya tersenyum tipis.


"Kalau gitu aku mau mandi dulu. Badan aku rasanya lengket dan berkeringat. Aku lari-larian dan panik banget soalnya." Noah melepaskan jas yang dikenakannya dan menggeletakannya diatas sofa kamar.


"Okay, aku akan siapkan baju ganti untuk kamu. Setelah itu aku juga mau mandi, habis kamu selesai." ucap Luna. Tak hanya Noah, Luna juga mau mandi karena hari sudah menjelang sore.


Noah menarik Luna untuk duduk di pangkuannya sekarang. "Hmm.. sepertinya aku punya ide."


Luna mengerutkan dahinya. "Ide apa Mas?"


"Kita mandi bareng aja yuk, sekalian menghemat waktu..menghemat air..gimana?" Noah mengikis jarak diantara mereka dan merapatkan rengkuhannya pada pinggang Luna."


"Hmm bisa aja..alasan kamu ini!" Luna menepuk bahu Noah.


"Aku kangen sama kamu. Papinya pengen jenguk dede baby!" Noah menaik-naikkan kedua alisnya untuk menggoda Luna.


"Ishh..modus, baru aja kita berdua mengalami hal yang enggak mengenakkan. Eh sekarang malah ketawa-ketiwi, Papi minta jatah.."


"C'mon, anggap saja sebagai hiburan selingan. Mau ya?" pinta Noah memelas.


Luna mengangguk paham dan mengiyakan ajakan suaminya. Tak bisa dipungkiri, hormon kehamilannya saat ini membuat Luna jadi semakin ketagihan juga untuk bercintaa dengan Noah.


"Yes..."


Noah langsung mengangkat tubuh Luna dan menggendongnya dengan posisi koala. Sambil berjalan ke kamar mandi, Noah mendaratkan ciumann yang begitu mesra di bibir Luna. Lidah keduanya saling bertaut dan mencecap satu sama lain menggambarkan hasratt mereka yang tengah menggebu-gebu.

__ADS_1


***


__ADS_2