
Noah
Aku harus bergerak cepat mencari rumah baru. Kawasan di perumahanku mulai tidak baik-baik saja. Semenjak pindah ke rumah yang sekarang, entah kenapa berbagai masalah muncul seperti teror hingga mata-mata.
Hal ini menambah kekhawatiran dalam diriku. Bayangkan saja, istri kecilku ini sedang hamil anak pertama kami, yang mana aku harus memastikan kondisi psikis dan fisiknya agar tetap dalam kondisi baik. Namun keadaan justru berbalik.
Padahal sebelum pindah, aku dan Luna sudah mengadakan syukuran kecil-kecilan. Bahkan kami telah mengundang seorang pendeta untuk menggelar pemberkatan rumah dan doa bersama.
Nyatanya takdir berkata lain, sebab saat ini Tuhan sedang menguji kehidupan rumah tangga kami.
Dan sekarang disinilah aku berada, duduk manis di balkon kamar hotel menikmati makan pagi. Sedangkan jari-jari tanganku sibuk men-scroll layar ponsel karena aku sedang memilih berbagai mansion bagus yang dijual oleh agen properti.
Tekadku sudah bulat. Aku akan mengajak Luna untuk pindah rumah.
"Mas Noah, ini omelette-nya mau pakai taburan parmesan cheese enggak?" tanya Luna disela-sela kegiatanku.
"Boleh, tapi jangan terlalu banyak takut keasinan."
"Okay. Sosis bakarnya juga mau kan? Aku kasih sambal pedas manis ya di bagian pinggirnya."
Kali ini aku tak merespon. Aku terlalu sibuk dan fokus pada ponselku yang membuat istriku sendiri tak digubris.
"Mas...ini ayo makan dulu.." tutur Luna dengan suara lembutnya.
Wanita itu menyodorkan sebuah piring yang sudah diisi berbagai makanan favoritku untuk sarapan. Tapi aku masih diam mengabaikan dirinya. Maklum, sedang fokus-fokusnya mencari potensi hunian baru kami nantinya.
"Ishh...Mas!" tangan halusnya terulur menepuk lengan kokohku lumayan keras. Dua sampai tiga kali.
__ADS_1
Niatnya mungkin agar aku tersadar dari lamunan dan tidak mencueki dirinya.
"Mas Noah sayang...ayo dong dimakan omelette-nya! Keburu dingin tuh!" ketus Luna dengan telapak tangannya melambai didepan mataku.
Mendadak ibu hamil kesayanganku ini berubah wujud. Yang tadinya kalem menjadi mode galak.
"Ehh...iya maaf ya Lun, aku pasti makan kok. Tunggu sebentar lagi.." sahutku beralasan.
"Ada apa sih Mas, kamu kok malah sibuk banget sama handphone kamu? Padahal ada aku disini. Kamu bahkan sama sekali enggak noleh ke aku." Luna sedikit merajuk dengan nada suara yang terdengar getir seperti orang mau menangis.
Ahh...kelemahanku disini. Paling tidak bisa kalau bibirnya sudah mengerucut cemberut begini. Bisa berabe kedepannya. Terpaksa kuletakkan ponselku diatas meja dan kutarik kursiku maju kedepan untuk mendekat pada Luna.
"Maaf ya sayang...ayo kita makan sekarang saja. Sudah ditaruh kan handphone aku. Jangan nangis ya..." kuusap lembut pipinya sambil tersenyum tipis.
"Dimaafin tapi kamu harus jawab dulu. Itu kenapa dari tadi main HP terus? Kan janjinya pas babymoon ini kita bakalan defisit sosial media ataupun alat elektronik lainnya. Kecuali kalau mau mengabari Mommy dan Daddy."
"Bukan apa-apa kok sayang..."
"Macam-macam gimana maksudnya?" Noah memiringkan kepalanya bingung karena tuduhan Luna yang tak beralasan.
"Ya itu, kamu enggak selingkuhin aku kan? Kamu chat sama perempuan lain ya itu pasti? Atau sama mantanmu Malena itu huh?" ekspresi Luna seketika drop. Bibir mungilnya itu dibuat-buat seolah dia sedang mengomel tanpa suara.
Aku membalas ucapannya, "Ini kamu yang memulai peperangan duluan. Mikirnya selalu kemana-mana. Siapa sih yang chat sama perempuan lain? Siapa juga yang mau selingkuh. Aku dulu ini korban diselingkuhi, aku tahu bagaimana rasanya dikhianati. Jadi mana mungkin aku berani berbuat kesalahan seperti itu!"
"Ya terus apa dong? Kasih tahu aku...ponsel kamu itu isinya apa? Kenapa dari angle sini aku enggak kelihatan layarnya? Mana tahu isinya apa."
"Demi Tuhan sayang, ini tidak ada kaitannya sama perempuan lain. Murni urusanku yang lain." aku sampai mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk tanda sumpah.
__ADS_1
Luna berdecak kesal, "Males ih sama tukang bohong! Sok-sokan mau menutupi rahasia. Ayo cerita cepat, kalau enggak mau aku mogok makan."
Aku mendengus nafasku pelan. Kalau sudah begini tidak bisa dibujuk lagi. Luna tidak akan berhenti mencerca sampai aku mengungkapkan semuanya.
Ya sudahlah, kadung kepala tanggung.
"Jangan begitu, ingat kalau lagi hamil. Mana boleh tidak makan!"
"Makanya jangan ngeselin, ayo cerita!" desak Luna tak sabaran.
"Iya ini cerita..tapi kamunya jangan menyerocos. Dengarkan dulu sampai habis."
Akhirnya Luna sadar diri. Wanitaku itu memilih diam. Sejak awal dirinya memang tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara sehingga orang mana tahu bagaimana penjelasan detailnya.
Kulihat Luna memejamkan mata. Menarik nafasnya dalam-dalam seraya mengipaskan tangannya seolah-olah sedang kepanasan. Lucu sekali istriku ini. Such an overdramatic queen.
Beberapa detik setelah keheningan, aku kembali membuka suara. "Aku lagi cari-cari rumah baru. Kalau sudah ada yang cocok nanti kita pindah kesana setelah pulang babymoon."
Degghh...
Wajah Luna berubah shock. Matanya terbelalak lebar serta mulutnya menganga. Sendok selai ditangannya pun ikut jatuh.
"Bbu--buat apa cari rumah baru?"
"Cari rumah baru ya untuk dibeli. Lalu setelahnya kita tinggali." jawabku santai.
"Mas aku serius, kamu ngapain mau cari rumah baru? Bukannya kemarin kita sudah diskusi ya soal ini, kalau kita enggak akan pindah apapun yang terjadi..."
__ADS_1
"Aku berubah pikiran. Suasananya sedang genting. Kita harus pindah cepat atau lambat."
...