Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Menaruh Curiga


__ADS_3

AUTHOR POV


"Bisa tidak untuk kali ini kamu jangan membantah?" ucap Noah datar.


Meski suaranya terdengar biasa, tidak seperti orang marah, namun nadanya sarat akan penekanan seperti enggan untuk disanggah.


Luna memiringkan kepalanya kesamping lalu menghela nafasnya pelan, "Bukan maksud mau membantah. Aku cuman ingin tahu kenapa kamu selalu ngotot untuk pindah sih Mas?" tanya Luna pelan-pelan.


Noah refleks memutar bola matanya malas dan ingin hati untuk melengos saja. Istrinya ini pasti akan mulai mendebat. Hal yang paling tidak disukai Noah karena setiap berargumen maka akan seringkali berakhir pertikaian daripada solusi itu sendiri.


Luna dengan kekeras-kepalaannya begitupun juga Noah yang tak ingin kalah akhir-akhir ini. Biasanya dia sedikit melunak kalau Luna merajuk. Namun memasuki terimester kedua kehamilan istrinya itu, emosi Noah kerap tak terkontrol dan jadi ikut-ikutan moody.


"Menurutku sayang aja lho Mas! Berkali-kali aku bilang, kita masih tergolong penghuni baru di area residence itu. Sebulan lalu juga aku baru dekor ulang furniture rumahnya. Bahkan kita sudah mulai mencicil untuk bikin nursery room buat baby kita di rumah itu. Nanti kan jatuhnya sia-sia?"


"Sia-sia tidak masalah asalkan selamat. Demi keamanan Luna. Rumah kita itu dalam kondisi urgent! Percuma mau kamu dekor dalam bentuk apapun kalau ujung-ujungnya tinggal disitu bikin ketar-ketir dan celaka!"


"Urgent gimana? Coba jelasin ke aku pelan-pelan bisa?!"


Dari situ Luna bisa melihat kepanikan dalam raut wajah Noah. Maka dari itu, tenang adalah hal yang seharusnya dilakukan dia saat inI adalah mencoba memahami apa yang membuat suaminya gelisah.


"Kamu ingat tidak saat kita sedang asyik bercintaa tadi, aku mendapat sebuah telepon masuk?" sedikit Noah mengajak Luna untuk mengingat kilas balik tentang waktu lalu.


"Iya ingat, itu juga bikin aku kesel! Gara-gara telepon kita jadi enggak tuntas deh itu-ituannya!"


Noah tersenyum tipis, mengerti akan maksud wanitanya itu. Sedang berbicara serius begini saja Luna masih sempat-sempatnya lebih ingat aktivitas "make love" mereka.

__ADS_1


"Maaf tadi aku potong, terusin lagi ceritanya!" oceh Luna lagi. Mulutnya juga belum berhenti mengunyah sarapan yang sedari tadi tidak habis-habis juga.


Memasuki minggu kedua liburan babymoon di Eropa, Luna agaknya mengalami kendala sulit makan dan mendadak rewel tanpa sebab padahal biasanya porsi makan dia banyak. Bukan karena lidahnya tidak cocok, memang tidak selera saja.


Noah kemudian lanjut berbicara, "Itu tadi yang telepon aku si Akbar. Dia kasih kabar kalau rumah kita sedang diintai mata-mata selama kita pergi babymoon ini."


"Ada sosok pria misterius mondar-mandir didepan gerbang utama. Dani sempat telepon kemarin tapi tidak sempat aku angkat karena kesibukan kita lagi tour kesana-kemari ke tempat wisata. Akhirnya baru sekarang Akbar bisa kasih tahu!" jelas Noah secara gamblang.


Kali ini dia tak mau menyembunyikan masalah ini dari sang istri. Luna berhak tahu agar bisa waspada juga. Disamping itu juga dia kapok kalau ketahuan bohong lagi pada Luna.


Bisa-bisa Noah dimusuhi oleh istri kesayangannya itu sampai baby mereka telah lahir ke dunia. Kesannya berlebihan atau lebay memang, tapi Noah hanya antisipasi akan kemungkinan buruk bila berdusta.


"Ckk...ampun deh Mas, itu teror-teror masih berlangsung?!"


"Ya masih Lun, kan pelakunya belum ditangkap!"


"Lagian juga kamu lemot banget sih Mas! Katanya anak buah kamu itu kerjanya cepat, tangkas, dan sat-set. Tahunya zonk sampai sekarang nama pelaku belum ada dikantong kamu!" omel Luna panjang lebar hingga kedua alisnya menyatu. Menandakan bahwa wanita itu sedang kesal bukan main.


"Kasus kita tidak sama seperti film-film action, yang mana pelaku cepat ditangkap dan bisa langsung masuk penjara lalu selesai dan hidup bahagia. Tidak begitu konsepnya." Noah sedikit beralasan meski sebenarnya yang diucapkan Luna ada benarnya.


Sudah hampir sebulan terlewati namun kasusnya masih menggantung. Belum menunjukkan tanda-tanda pelaku akan ketemu.


"Trust the process, will you? Tim yang aku hire untuk menangani kasus ini adalah deretan para detektif handal. Kamu tenang saja pasti ketemu! Dan kalau sudah dapat aku tidak akan kasih ampun mau dia itu wanita atau laki-laki. Semua harus habis ditanganku."


Luna sedikit bergidik ngeri membayangkannya. Suaminya beringass juga ternyata. Sisi lain Noah yang tak banyak orang ketahui.

__ADS_1


Casing dari luar terlihat ramah, murah senyum, tenang, dan tipe pria Flamboyan. Namun jika sedang marah sudah beda cerita lagi.


"Andai kata nih Mas, kalau pelakunya perempuan seperti Mbak Malena atau Poppy..apa kamu beneran mau habisin mereka?"


Noah diam sejenak. Meletakkan garpu pisau yang berada ditangannya masing-masing kembali pada sisi piring omelette buatan Luna tadi.


"Biar saja aku tidak perduli. Mau dia perempuan, laki-laki, atau bahkan manusia setengah matang pun aku akan pakai konsep gender quality. Hukuman yang sama berlaku untuk siapa saja yang berani mengusik kamu dan ketenteraman keluarga kecil kita."


"Sungguh Mas?" Luna tidak yakin.


Noah pasti berbicara hanya dibibir saja. Realitanya bila dihadapkan pada kondisi seperti itu bisa saja ia melunak dan berpotensi memaafkan.


Noah kan paling tidak bisa melihat wajah memelas Malena, begitu pikirnya.


"Kamu fokus saja pada kehamilan ini. Nikmati semua prosesnya dan aku ingin kalian berdua dalam keadaan sehat juga happy. Persalinan lancar. Mental fisik dan kesehatan kamu pun harus terjaga pula agar tidak baby blues. Urusan teror jangan dijadikan beban. Biar aku yang handle."


Luna mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Kali ini Noah ada benarnya. Demi kesehatan dan keselamatan jabang bayinya juga demi kewarasan dirinya sendiri. Luna tak ingin ikut campur lebih dalam.


Jika pelakunya ditangkap Luna hanya cukup tahu saja lalu clear. Urusan hukum biar Noah yang mengurus karena suaminya itu pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.


"Tapi tetap ya, itu tidak mengubah keputusanku. Pulang babymoon kita tetap pindah!" perintah Noah sekali lagi yang dibalas dengan dengusan kesal yang disponsori Luna.


Luna pikir tadi Noah sudah lupa, tahunya masih ingat saja. Pasrah adalah opsi satu-satunya yang bisa dilakukan Luna. Daripada membantah berujung bertengkar. Luna sedang tidak mood untuk gondok-gondokan.


Dan bicara tentang Malena serta Poppy, yang mana dua nama wanita paling dibenci Luna itu sempat disebut. Mendadak Noah jadi berpikir keras.

__ADS_1


Apa mereka berdua ada kaitannya dengan teror ini ya?


***


__ADS_2