Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Insiden Ban Bocor


__ADS_3

Saat ini Noah dan Luna sedang dalam perjalanan menjemput Bi Santi sesuai permintaan Isabelle. Walaupun rumahnya jauh dan butuh waktu perjalanan selama kurang lebih 3 jam, Noah bisa apa? Dia tak mungkin menolak permintaan kakaknya itu. Hari sudah mulai gelap namun keduanya belum kunjung tiba di lokasi yang dituju


"Mas, rumahnya masih jauh ya? Dari tadi belum sampai-sampai!" tanya Nadine.


"Memang jauh, makanya aku tadi malas pas disuruh...kamu nya iya-iya aja! Untung kita pakai supir, kalau nyetir sendiri...dijamin tepar aku!" keluh Noah.


"Ya kan aku mana tahu, Mas! Lagian udah terlanjur juga sampai sini..jadi ya mau gimana lagi?"


Dorr.....


"Eh suara apa tuh?" Luna tercengang kaget hingga tubuhnya sedikit mundur kebelakang.


"Sebentar ya Tuan Noah dan Non Luna, saya cek dulu...sepertinya tadi suara ban mobil yang pecah!" jawab Anton selaku supir mereka.


"Ya sudah, kamu cek dulu Ton! Saya dan Luna nunggu disini."


Pak Anton--supir keluarga kesayangan Daddy Jo akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan langsung mengecek ban belakang mobil. Benar saja dugaannya, ban mobil tersebut bocor bahkan sobek karena terkena paku yang ada di jalanan.


Noah membuka kaca jendela mobil, " Gimana Ton? Mobilnya kenapa?"


"Ini Tuan, ban nya bocor..pecah ini kena paku!"


"Aduhh..ada-ada saja sih! Kamu bawa ban serep enggak?"


"Nah itu dia Tuan, mohon maaf atas kelalaian saya yang lupa membawanya! Kemarin itu ban belakang yang sebelah kiri juga bocor dan baru saya ganti dengan ban serep. Eh sekarang gantian sebelah kanan, gantinya belum saya masukkan lagi ke bagasi..." terang Anton.


"Gimana sih Ton, teledor sekali kamu! Fatal lho enggak bawa ban serep! Kalau ada kejadian gini gimana? Mana ini di tengah hutan lagi!" seru Noah yang kesal.


Kemudian Noah dan Luna keluar dari mobil dan ikut melihat keadaan ban mobil belakang yang bocor.


"Wahh...ini sobeknya panjang juga ya, harus dibawa ke bengkel nih!" sahut Luna seraya memegang ban.


"Coba aku cek di internet, barangkali di sekitar sini ada bengkel!" Noah mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan lokasi bengkel terdekat yang bisa dijangkau.


Dan akhirnya dapat juga, bengkel mobil terdekat disini lokasinya berjarak sekitar 3 km. "Ada nih Ton, saya nemu...tapi agak jauh juga!" Noah menunjukkan layar ponselnya pada Anton.


"Disitu tertulis bengkel Mata Batin ya namanya? Enggak apa-apa Tuan, saya yang kesana aja! Saya coba jalan dan cari tumpangan motor di depan, Tuan dan Nona tunggu sini dulu ya..." ucap Anton.


"Iya, cepatlah! HP kamu jangan sampai mati, kabari saya dan hati-hati Ton!" perintah Noah.

__ADS_1


"Siap, Tuan! Saya permisi dulu!" Anton pamit undur diri dan segera berjalan mencari tumpangan menuju bengkel Mata Batin tadi.


10 menit berlalu, Luna mulai merasakan gelisah.


"Mas, kok suasananya makin ngeri ya? Ini udah mau malam! Kita nunggu dimana?" Luna mendekat pada Noah dan memeluk lengannya.


"Kamu takut?"


"Ya gimana enggak takut, ini kan lagi di tengah-tengah alam liar...mana gelap lagi! Kalau ada hantu gimana?" Luna meringis


"Kita tunggu di dalam mobil aja, ayo masuk lagi..ini udah mulai dingin juga cuacanya!" ajak Noah.


Klekk...


Ketika Noah dan Luna hendak membuka gagang pintu mobil bersamaan, ternyata posisinya sudah terkunci.


"Ckk...eggak bisa dibuka ini, kekunci! Mana kuncinya dibawa Anton pasti!" Noah berdecih kesal sambil menepuk kaca mobil.


"Terus gimana Mas? Mau telepon Anton?" Luna mulai panik.


"Biarin aja lah, udah terlanjur jalan dia..kalau balik lagi enggak mungkin!"


Tak lama setelahnya, rintik-rintik hujan mulai turun membasahi jalanan aspal dan pepohonan sekitar. Yang awalnya gerimis, tiba-tiba menjadi lebat juga seiring waktu.


"Cari tempat berteduh Lun, kita coba jalan kesana! Ayo.." Noah menggandeng tangan Luna dan berlari kecil untuk mencari tempat berteduh.


Kala keduanya berjalan dan terus berjalan menapaki jalan kecil yang hanya bisa dilewati motor, mereka menemukan sebuah rumah kecil yang mirip seperti gubuk.


"Kita ke rumah itu aja Lun, nanti minta izin sama pemiliknya!" seru Noah.


Mereka pun berjalan lagi menuju rumah kecil itu untuk sekedar menumpang sejenak agar tak kehujanan. Noah mengetuk pintu rumah tersebut namun tak kunjung dibukakan oleh pemiliknya.


"Rumahnya sepi ya Mas, kayak enggak ada penghuninya..aku takut!" lirih Luna.


Sejak kecil Luna memang takut dan suka parno dengan hal yang berhubungan dengan mistis dan kegelapan. Apalagi situasi mereka saat ini cukup mendukung dan mengarah ke sana, membuat nyali Luna semakin ciut saja.


"Gimana lagi Lun, cuman ini satu-satunya rumah yang available! Kayaknya enggak ada orang deh di rumah ini, aku telepon Anton dulu..mau tanya sudah sampai mana dia!"


Dan ketika akan menelpon, ternyata ponsel Noah tidak ada sinyal. "Tidak ada sinyal Lun! Coba pakai HP kamu?!"

__ADS_1


"Tas dan HP aku kan ketinggalan didalam mobil Mas, mana aku tahu kalau dikunci sama Anton!" ucap Luna.


Malang sekali nasib mereka hari ini, cobaan bertubi-tubi menerpa. Mulai dari ban bocor, pintu mobil terkunci, kehujanan, hingga ponsel yang tak ada sinyal dan tas Luna pun tertinggal di dalam mobil. Lengkap sudah ketidakberuntungan mereka.


"Pintu rumahnya ternyata tidak dikunci Lun...ayo kita masuk aja!"


"Yakin Mas?" Luna meragu.


"Iya ayo.."


Noah dan Luna akhirnya mendudukkan diri di sebuah kursi kayu panjang yang ada di ruangan tersebut.


Sembari bersantai menunggu hujan reda, Luna dan Noah sama-sama melepaskan jaket yang mereka kenakan karena sudah terlanjur basah kuyup. Apabila tetap dipakai, takutnya mereka akan masuk angin.


Karena udara dingin malam yang mulai menusuk ke pori-pori kulit, tubuh Luna sedikit menggigil.


"Kamu kedinginan?" tanya Noah.


Luna mengeratkan giginya, "Iy--iya Mas, sedikit.."


Noah lalu menanggalkan kaos putih miliknya, membuat tubuhnya kini menjadi polos menampakkan perut kotak-kotaknya yang mirip seperti roti sobek.


"Sini Lun..." Noah melambaikan tangannya mengajak Luna untuk mendekat.


"Mm--mau ng--ngapain Mas?" Luna tergugu.


"Pernah tahu istilah body heat? Itulah yang sedang aku coba lakukan..kamu bisa berbaring disamping sini sambil memelukku. Nanti tubuh kamu jadi hangat dan tidak kedinginan lagi?" jelas Noah.


"Astaga Mas Noah malah mancing-mancing...kalau dipeluk, aku kan makin deg-degan.." batin Luna dalam hati.


Dengan gerakan yang pelan dan ragu-ragu, Luna segera mendekat dan memeluk tubuh kekar Noah. Luna semakin mengeratkan pelukannya kala mendengar suara petir yang keras.


"Sssshh..jangan takut..aku disini!" Noah berdesis menenangkan Luna seraya mengelus lembut lengannya.


Jantung Luna berdegup kencang tidak beraturan. Berada di posisi seperti ini bersama Noah membuat lubuk hatinya menggelinjang tak karuan.


Tanpa mereka sadari, karena faktor cuaca yang mendukung dan kelelahan, Noah dan Luna akhirnya larut dalam keheningan malam dan jatuh tertidur pulas dengan posisi berpelukan satu sama lain.


***

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih semua.


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2