
"Astaga, Tuhan!!" Luna menepuk dahinya panik seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan.
Dengan langkah yang terbirit-birit, Luna bergegas keluar dari kamar dan berlari kecil menuju ke arah tong sampah pekarangan rumah. Saking terburu-burunya, Luna bahkan tidak sadar akan keberadaan Noah yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tamu.
"Ehh...ehhh...Luna, kenapa lari-larian? Mau kemana kamu?!!" teriak Noah yang tentunya diabaikan begitu saja oleh Luna.
Melihat istrinya yang berlarian dengan raut wajah panik, membuat Noah jadi cemas sekaligus penasaran. Ada gerangan apa yang menyebabkan Nadine begitu heboh di pagi ini?
Noah memutuskan untuk menutup laptopnya lalu menyeruput secangkir kopinya sejenak sebelum menyusul sang istri ke depan.
Tiba di teras, Luna langsung memanggil asisten rumah tangganya--Sari, untuk datang mendekat. Sari baru saja keluar dari pagar untuk membuang sampah yang menjadi rutinitasnya sehari-hari.
"Mbak Sari...sini!" Luna melambaikan tangannya.
Sari yang merasa dipanggil namanya langsung menghampiri sang majikan. "Ada apa Nyonya? Kok Nyonya ngos-ngosan begitu?"
"Iya Mbak, saya tadi ngejar-ngejar Mbak Sari!" Luna berkacak pinggang.
"Waduh...maaf Nyonya, saya tidak tahu kalau Nyonya sedang butuh saya. Lain kali jangan lari begitu Nya, nanti kalau Tuan tahu..beliau bisa marah. Lagipula enggak baik juga untuk kandungan Nyonya, saya yang enggak hamil aja ikutan nyeri sendiri--" cerocos Sari.
"Haduh..Mbak Sari ngomong terus nih! Kapan giliran saya ngomongnya!" Luna memotong perkataan Sari.
"Heheh..Maaf, Nya! Memang ada perlu apa Nyonya cari saya?"
"Itu, saya mau tanya...tadi yang buang sampah-sampah di rumah Mbak Sari ya?"
"Iya Nya, saya yang buang. Barusan saja sekitar 3 menit yang lalu. Mumpung tukang sampah kompleks lagi keliling," jawab Sari polos.
Tubuh Luna melemas dan hatinya mencelos. "Yahhh...gawat ini!!"
"Gawat kenapa Nya?" Sari kebingungan melihat Luna yang panik.
"Ini lho Mbak, saya itu kayaknya enggak sengaja salah buang bungkusan keresek deh! Didalamnya padahal ada vitamin dan obat penguat kandungan saya!"
Deghh...
Noah yang datang dari arah belakang kini ikut menimbrung, setelah menguping seluruh percakapan antara Luna dan Sari.
"Kok bisa salah buang, gimana ceritanya?" tanya Noah.
Luna sontak kaget dan menoleh cepat menatap Noah, begitupun juga dengan Sari.
"Hmmm..Maaf Mas, it--itu..semalam kan pas aku habis selesai minum obat, aku sempat beres-beres meja rias sebentar untuk buang beberapa make up-ku yang expired kedalam keresek putih. Warnanya sama seperti keresek obat aku. Jadi kayaknya ketukar deh, aku salah buang ke tempat sampah kamar!"
"Tapi keresek obat kamu itu kan ada cap logo rumah sakitnya, kalau keresek putih biasa mana ada?! Yakin sudah dicek ulang?" tanya Noah lagi.
"Udah bolak-balik aku cek Mas, hasilnya sama. Enggak ada keresek itu di kamar! Emang aku aja yang teledor mungkin, semalam aku juga udah ngantuk banget jadinya enggak fokus!" keluh Luna.
"Berarti pagi ini kamu belum minum vitamin?" Noah menyimpulkan.
Luna menjawabnya dengan gelengan tanpa suara.
__ADS_1
Noah berdehem dan menarik nafasnya dalam-dalam. "Ya sudah, kalau gitu biar aku belikan lagi saja. Masih ingat kan nama-nama obatnya apa saja?"
"Masih kok Mas.."
"Kalau gitu langsung kamu ketik di notes ponsel kamu dan kirim chatnya ke aku!" mumpung ini weekend dan Noah sedang libur, dia bisa membelikannya untuk Luna.
"Loh aku enggak ikut sekalian aja belinya sama kamu?"
"Enggak, enggak ada...kamu istirahat di rumah! Dan ingat, kalau ada apa-apa, jangan lagi panik kayak tadi terus lari-larian. Kamu sedang hamil Luna, belum lagi kandungan kamu lemah...tolong jangan aneh-aneh! Aku takut kamu kenapa-napa, nanti bayi kita sakit atau kegencet didalam gimana?" Noah mengomeli Luna.
"Iya Mas, maaf ya...aku terlampau panik tadi sampai lari-larian. Soalnya andai kata belum kebuang, bisa aku ambil lagi obatnya!"
"Ishhh...mana bisa! Kalau udah masuk tong sampah, aku melarang kamu untuk memungutinya lagi! Kan sudah kotor, tetap harus beli yang baru!" sergah Noah.
Luna pun mengangguk paham dan meraih ponselnya dari saku celana pendek yang sedang dikenakannya. Dia segera melakukan apa yang diminta Noah.
"Udah Mas, barusan aku kirim notes-nya..."
"Aku ganti baju dulu ke dalam dan ambil kunci mobil..." Noah menangkup pipi kanan Luna dan mencium keningnya sekilas sebelum kembali kedalam.
Sari yang melihat keromantisan dari Tuan dan Nyonya-nya ikut tak tahan tersenyum dibuatnya.
"Baik-baik di rumah. Saya nitip Luna ya, Sari!" pesan Noah.
"Siap Tuan!" Sari membuat gerakan hormat.
***
Setelah lama mengantre di apotek rumah sakit, Noah akhirnya selesai juga menebus resep obat milik Luna. Noah segera keluar dari ruang tunggu apotek untuk pulang ke rumah.
Dari tampilannya, Malena terlihat seperti orang yang habis pulih dari cedera sebab dia menggunakan alat bantu kruk untuk berjalan. Bahkan betis kakinya juga dibalut dengan perban.
Bagaikan mendapat rezeki nomplok di siang bolong, Malena tampak girang bisa bertemu dengan mantan suaminya disini. Langsung saja ia datang mendekat menghampiri Noah.
"Noah..?? Kamu ada disini?" sapa Malena.
"Seperti yang kamu lihat..." jawab Noah dengan ekspresi datarnya.
Noah sebenarnya malas menanggapi, tapi karena sudah kepalang basah bertemu dengan Malena, ia tak bisa menghindar. Rasanya Noah sedikit sungkan jika bersikap kasar pada Malena.
Bagaimanapun juga Malena adalah seseorang yang pernah menyinggahi hatinya selama kurun waktu 10 tahun lamanya.
"Kamu sendirian aja? Ada keperluan apa ke rumah sakit?" tanya Malena lagi.
"Menebus resep obat dan vitamin saja." Noah mengangkat kereseknya sebagai bukti.
"Siapa yang sakit Noah? Kamu yang sakit?" wajah Malena berubah khawatir.
"Bukan aku, tapi istriku Luna."
"Luna? Dia kenapa?" Malena penasaran.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya saja Luna sedang hamil sekarang. Dan aku datang kemari untuk membeli vitamin untuknya."
Deghh....
Jawaban Noah seketika membuat jiwa Malena tertohok. Fakta bahwa istri dari mantan suaminya tengah mengandung, meruntuhkan hati dan pertahanannya jatuh berkeping-keping. Sebegitu cepatnya kah Noah telah move on darinya?
Ketika dirinya dan Noah masih menikah, Malena tidak bisa memberikan Noah keturunan. Hal itu masih disesali oleh Malena hingga kini.
"Ss--selamat Noah, akhirnya kk-kamu mendapatkan apa yang selama ini kamu inginkan." Malena begitu canggung hingga ucapannya terbata-bata.
"Terima kasih." balas Noah singkat.
Noah sebenarnya tak enak hati mengabarkan berita itu pada Malena karena takut dia tersinggung. Tapi nasi telah menjadi bubur, Malena terlanjur tahu. Noah juga kelepasan begitu saja.
"Kamu sendiri, kakinya itu kenapa? Habis jatuh?" Noah sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Iy--iya, ini aku ceroboh banget! Pas lagi gladi resik untuk acara runway fashion week, enggak sengaja aku terpeleset sehingga jatuh dari venue stage. Makanya begini deh! Dan aku baru saja selesai check-up tadi." Malena terkekeh pelan.
"Terus asisten kamu si Bobby kemana? Biasanya dia kan ngintilin kamu setiap jam, menit, detik..kok sekarang sendirian?"
"Ahhh...kamu masih hafal rupanya! Dia lagi cuti, pulang ke rumah orang tuanya. That's why I'm alone here."
"Kamu kesini naik apa? Diantar supir?" batin Noah, tak mungkin Malena menyetir mobil sendiri dengan kondisi yang seperti ini.
"Nope, aku tadi di drop sama karyawan butik aku kesininya. Mobilku masih di servis, dan supirku baru aja resign."
"Ooohhh...gitu.." sahut Noah.
"Hmm...Noah, aku boleh minta tolong sesuatu enggak?"
"Minta tolong apa?"
"Boleh antar aku ke rumah kita yang dulu? Ponsel aku baterainya low, jadi aku enggak bisa menghubungi karyawan butik aku," tukas Malena.
"Pakai saja ponselku untuk menelpon karyawan kamu, tidak perlu aku yang mengantar!" Noah menolak halus.
"Tapi kan kebetulan rumah kita yang dulu jaraknya dekat banget dari sini...minta tolong ya antar aku?" Malena merengek memohon agar Noah mau mengantarnya. "Kalau nunggu karyawanku nanti jatuhnya lama, kaki aku udah enggak kuat lagi dibuat jalan."
"Di area depan rumah sakit banyak taksi, kalau kamu tidak kuat jalan akan aku antar sampai pangkalan depan saja. Pulangnya kamu tetap naik taksi."
"Ayolah Noah, please..kamu aja yang antar aku! Kita memang sudah bercerai dan aku ikhlas menerimanya, tapi bukan berarti kita putus tali pertemanan bukan? Aku hanya minta tolong kamu antar sebentar. Setelah itu done, aku enggak akan minta apa-apa lagi." Malena masih bersikeras.
Sedangkan Noah belum memberikan jawaban apapun. Dia hanya diam membisu dan mempertimbangkan permintaan Malena dalam benaknya.
Tanpa disadari, dari kejauhan ada sesosok orang yang sedang memergoki Noah dan Malena mengobrol berduaan di parkiran.
Cekrekkk..
Orang itu kemudian memfoto momen Noah dan Malena sebagai barang bukti untuk dilaporkan lagi pada seseorang.
***
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.