Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Mengajak Liburan


__ADS_3

"Dasar gila tuh ya mantan istrinya Om! Udah cerai masih aja ngeyel. Om kok dulu mau sih sama dia?! Nemu dimana perempuan model begitu?" Luna mengomel-ngomel setelah berhasil keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil Noah.


"Saya juga enggak paham kenapa dulu bisa menikah dengannya. Mungkin sudah dari garis takdir nya harus begitu!" jawab Noah santai.


"Amit-amit dah ketemu sama mak lampir macam tuh perempuan, ganasnya minta ampun!" saking gemasnya, Luna meremat-remat jarinya sendiri.


Noah melirik Luna, "Perasaan lebih ganas kamu deh tadi!"


"Kalau dia enggak mancing duluan, saya mah enggak akan nyerang.."


Suasana tiba-tiba menjadi hening. Baik Noah maupun Luna memilih diam untuk memproses apa yang baru saja terjadi.


Lama termenung dalam lamunan masing-masing, Noah dan Luna menoleh satu sama lain. Netra keduanya tak berkedip bagaikan kontes menatap.


"HAHAHAHHAAHHA"


Gelak tawa keduanya bergema memenuhi isi mobil. Baik Luna dan Noah sama-sama menertawakan drama yang baru saja terjadi.


"Jujur ya, tadi itu pertama kalinya saya lihat Malena mati kutu. Biasanya dia selalu menang dalam urusan berdebat dengan orang lain. Ucapan kamu membuatnya tak berkutik sama sekali!" ungkap Noah sembari memakai seat-belt dan diikuti oleh Luna.


"Tapi Om, kayaknya dia belum bisa move on dari Om deh! Kelihatan tuh masih cinta dari raut wajahnya!"


"Cinta? Jangan ngawur kalau ngomong! Mana mungkin dia masih cinta, buktinya saja tadi dia datang ke cafe secara terang-terangan bersama selingkuhannya waktu itu,"


"Ishhh..dasar enggak peka banget. Om, namanya perasaan itu kadang enggak bisa dibohongi. Okelah si mak lampir itu datang sama selingkuhannya, tapi saya bisa lihat kok Om..dia masih enggak rela kalau Om jalan sama perempuan lain. Buktinya dia tadi nyolot sama saya, karena dia cemburu pasti!"


"Dia sudah tidak berhak lagi untuk cemburu atau menyimpan perasaan apapun pada saya. Pernikahan kami kan sudah berakhir, saya bebas mau jalan sama siapapun. Kalau dia merasa cemburu..itu bukan salah saya,"


"Memangnya udah berapa lama Om nikah sama dia?"

__ADS_1


"8 tahun."


"HAHHHHH?!!!" Luna memekik kaget. "8 tahun itu waktu yang cukup lama lho Om, sayang juga ya harus berakhir di meja hijau!"


"Mau bagaimana lagi? Dia sudah mengkhianati pernikahan kami. Banyak juga kebohongan-kebohongan lainnya yang dia tutupi," Noah menyalakan mesin mobilnya dan segera keluar dari area parkiran cafe.


Noah belum tahu ingin mengajak Luna pergi kemana. Intensinya dari awal hanyalah ingin meminta maaf. Tapi biarlah, mungkin saat mobil sudah jalan dia bisa mendapatkan inspirasi.


"Maaf ya Om kalau saya lancang bertanya, apa Om sudah punya anak?" Luna bertanya dengan hati-hati supaya tak menyinggung perasaan Noah.


"Tidak, saya ini duda tanpa anak. Mantan istri saya divonis dokter tidak bisa memiliki anak setelah kami melakukan serangkaian tes kesehatan dan kesuburan. Itu sebabnya saya cuman mengurusi Chloe saja kalau kakak dan ipar saya sedang sibuk."


"Tapi saya juga bukan suami kejam yang menuntut mantan istri saya memberikan keturunan. Keinginan memiliki anak itu memang sangat besar sebagai pelengkap dalam rumah tangga. Tapi karena kondisi yang tak memungkinkan, saya tak memaksa atau menekannya," lanjut Noah.


"Maaf Om kalau saya lancang lagi. Tapi menurut saya solusinya itu sebenarnya gampang kalau soal anak, bisa lewat jalur adopsi atau melakukan proses IVF. Terkadang vonis dokter itu tak sepenuhnya akurat,"


Luna menjadi sedih setelah mendengar sekilas mengenai cerita hidup pernikahan Noah yang memilukan. Dari segi fisik dan lainnya, Noah ini bisa dikatakan sebagai pria yang hampir sempurna dan tidak ada kurangnya. Tapi kenapa mantan istrinya bisa berpaling dan menyia-nyiakan orang sebaik Noah?


Ketampanan dan materi yang dimiliki seseorang tidak menjadi jaminan untuk bahagia ternyata. Bukti konkrit nya ada di depan mata. Noah yang notabene memiliki kehidupan serba kecukupan dan wajah yang rupawan saja masih gagal dalam urusan cinta. Tuhan memang adil.


"Oh ya Lun, apakah kamu sudah memaafkan saya?" Noah bertanya untuk memecah keheningan.


"Saya kan sudah bilang tadi Om, semua sudah saya maafkan. Tapi terus terang saja, saya masih belum lupa akan kejadian itu,"


"Setidaknya saya lega karena sudah mendapat maaf darimu. Sekali lagi saya minta maaf ya, sungguh saya tidak bermaksud membuat kamu sakit hati,"


"Asal kamu tahu Lun, orang tua saya itu tidak pernah setuju dengan pernikahan saya dan Malena dulu. Sebelum menikah, saya kerap kali dijodohkan dengan anak gadis dari beberapa relasi bisnis Daddy. Semua saya tolak karena rasa cinta saya yang besar terhadap Malena. Saya merasa tidak nyaman kalau hidup diatur-atur begitu,"


"Sampai saya sudah bercerai dengan Malena pun, lagi-lagi Mommy minta saya untuk cepat-cepat menikah setelah kenal denganmu. Hal itu membuat saya tertekan dan hilang kendali, sehingga saya melampiaskan semua kemarahan itu padamu. Maaf."

__ADS_1


Noah mengeluarkan semua unek-unek yang ada didalam hatinya. Entah kenapa Noah merasa nyaman saat sharing mengenai kehidupan pribadinya pada Luna. Bebannya sedikit terangkat. Pikulan berat dipundaknya telah berkurang.


"Udah Om, kok jadi mellow begini? Saya sudah maafkan sepenuhnya. Jangan kepikiran lagi..lebih baik dibikin have fun!" goda Luna.


"Saya bahkan udah lupa bagaimana caranya untuk have fun!" Noah tersenyum miris. "Lun, minggu depan kan tanggal merah dan long weekend. Kamu ada acara enggak?"


"Saya free kok Om, kebetulan minggu depan saya lagi break untuk ambil job les privat. Dion juga katanya mau liburan sama orang tuanya. Memangnya kenapa?" Luna menyipitkan matanya.


"Ikut saya ke Singapura mau?"


"Hahh?! Ke Singapura Om?!! Mau ngapain?"


"Apalagi kalau bukan jalan-jalan?" ucap Noah santai.


"Buset..orang kaya jalan-jalannya di luar negeri! Kenapa enggak yang lokal aja sih Om?"


"Sekalian perjalanan dinas Lun! Kebetulan saya ada job dan proyek bangunan baru disana. Kalau mau, kamu bisa ikut temani saya."


Luna tergelak kaget. Bisa-bisanya Noah mengajaknya liburan keluar negeri dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan.


"Enggak ah Om, makasih atas tawarannya. Tapi saya enggak punya duit dan enggak punya paspor juga! Jadi enggak bisa ikut.."


"Saya akan tanggung semua biayanya. Hotel, makan, transport semua saya yang bayar. Soal paspor juga gampang, biar asisten saya yang urus nanti! Kan ada tuh, jasa pengurusan paspor kilat yang sehari-dua hari jadi. Kamu tinggal bilang mau apa enggak ikut saya?"


Tawaran Noah cukup menggiurkan dan menarik hati Luna. Kapan lagi kan diajak liburan ke luar negeri? Tapi sebelum menerimanya, Luna akan memikirkan ini dengan baik-baik.


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2