Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Mantan Berulah


__ADS_3

"Gimana Lun soal tawaran saya 3 hari yang lalu?"


"Tawaran yang mana Om?" tanya Luna dengan mulutnya yang penuh karena mengunyah.


"Ajakan pergi ke Singapura."


Burrrbbbbb...uhukkk


Tenggorokan Luna tercekat mendadak. Scrambled eggs dan sausage yang baru beberapa detik disendokkan ke mulutnya tidak tertelan dengan benar.


"Pelan-pelan Lun kalau makan, jadi tersedak kan! Nih, minum dulu!" Noah memberikan segelas Vanilla Milkshake yang tadi dipesan Luna.


"Enggak Om, tadi saya cuman kaget aja karena Om bahas-bahas itu lagi. Saya pikir udah lupa!" Luna menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.


"Nope, tawaran itu masih berlaku. Apa kamu sudah ada jawabannya?"


Luna belum mau merespon pertanyaan Noah karena keraguan dihatinya. Dia tidak berpikir jika Noah seserius itu mengajaknya pergi, alih-alih liburan ke luar negeri.


Kalau Luna mau, sebenarnya dia bisa saja aji mumpung. Tapi masalahnya, Luna tidak boleh gampang percaya pada orang asing. Jaman sekarang aksi kejahatan dengan segala motifnya banyak mencuat ke permukaan.


"Saya heran deh, kenapa Om kayak ngotot banget ya ngajak saya? Kalau cuman karena rasa bersalah atas kejadian perjamuan makan di rumah orang tua Om, rasanya enggak perlu repot-repot deh! Saya beneran udah maafin Om kok..tanpa perlu diajak pergi ke luar negeri!"


Noah menghela nafasnya. "Tidak tahu kenapa, setiap hari saya kayak kepikiran gitu Lun! Saya masih merasa bersalah dan terbayang-bayang akan sikap buruk saya pada kamu waktu itu. Entah dengan cara apa saya bisa membalasnya! Itu sebabnya kenapa..."


"Sampai segitunya Om?"


"Iya Lun, saya itu kalau ada yang gak sreg atau ada yang mengganjal..pasti bisa kepikiran 7 hari 7 malam, seakan-akan enggak tenang!"


"Saya sebenarnya bingung Om harus jawab apa! Kita soalnya baru kenal, saya enggak berani main iyain aja..sekalipun Om itu artis atau pejabat, enggak ngaruh buat saya!!"

__ADS_1


"Hmm..saya paham akan itu. Bagus kalau pendirianmu memang kuat, kamu tidak gampang percaya. Tapi saya harap kamu pertimbangkan hal itu, saya enggak ada niatan jelek kok sama kamu." Noah mengelap mulutnya dengan tisu.


"Oh ya, apakah orang tua kamu tahu kalau saya mengajakmu ke Singapura? Kali-kali kamu sudah izin gitu?"


Luna tertunduk lesu, "Saya enggak punya orang tua Om, saya kan diasuhnya sama Pakdhe dan Budhe di Semarang."


"Ya Tuhan...aku lupa lagi kalau Luna udah enggak ada orang tuanya!" Noah merutuki dirinya dalam hati. Ucapannya tadi sungguh blunder dan berpotensi menyakiti hati Luna.


"M..m..aaf Lun, saya agak--"


"It's okay Om, saya udah biasa kok!" Luna melanjutkan makannya lagi meski suasana berubah menjadi canggung.


Untuk mengalihkan perhatian Luna agar tidak bersedih, Noah mengajaknya berbicara untuk membahas topik lain. "Lun, coba kamu ceritakan sama saya mengenai kehidupanmu! Seperti hobby kamu, makanan kesukaanmu, atau impianmu yang belum kesampaian mungkin?!"


"Kenapa saya harus membicarakan hal pribadi saya ke Om?" Luna bertanya polos.


Dalam hati Luna berpikir kalau Noah ini orang yang asyik untuk diajak bicara. Tak masalah bukan kalau Luna mulai sedikit percaya? Lagipula, kecil kemungkinan kalau tampang-tampang orang yang seperti Noah bertindak kriminal atau berniat macam-macam padanya.


Akhirnya Luna memberanikan diri untuk sedikit terbuka pada Noah dan mau bercerita tentang kegiatan sehari-hari yang disukainya. Untuk ranah ke yang lebih pribadi, Luna belum begitu berani. Perbincangan keduanya pun mengalir dengan natural begitu saja, bagaikan air sungai yang mengairi sawah.


Selang beberapa menit saat keduanya larut dalam percakapan mereka, tiba-tiba saja Malena datang ke cafe tersebut tanpa diduga. Tidak ada janjian, ini murni kebetulan.


Dengan gaya angkuhnya yang menjinjing Birkin Bag dari designer ternama, Malena memasuki cafe tersebut. Heels tinggi yang disematkan di kakinya serta sparkling dress selutut yang menempel di badan, membuat gaya Malena terlihat seperti orang-orang sosialita kelas atas. Tapi faktanya memang begitu.


Dari semalam, wanita berusia 32 tahun itu belum tidur karena ada pekerjaan yang harus dilembur. Dia memutuskan berhenti sejenak di cafe untuk membeli kopi hangat. Alih-alih membeli satu cup kopi, dia tak sengaja melihat mantan suaminya sedang asyik berduaan dengan perempuan lain.


"Noah..??!!" Malena memberanikan diri untuk menyapanya.


Noah tersentak kaget, "Malena?"

__ADS_1


"Hey, aku enggak nyangka ketemu kamu disini! Lagi sarapan ya..sama..p-pacarmu?" Malena mengarahkan pandangannya mengamati Luna dari bawah hingga keatas.


"Seperti yang kamu lihat, aku memang sedang menikmati sarapan pagi dengan kekasihku.." jawab Noah yang kini menggenggam tangan Luna.


Luna pun tidak banyak protes dan pengertian akan situasi. Kemarin waktu ketemu di cafe lain, mereka memang mengaku sebagai pasangan kekasih bukan? Luna hanya mengikuti alur permainan saja.


"Kamu apa kabar Noy?" Malena berbasa-basi.


"Jangan panggil saya dengan sebutan itu lagi Mal..saya tidak nyaman.." ketus Noah.


Noy adalah panggilan kesayangan Malena untuk Noah saat mereka berpacaran untuk pertama kali 10 tahun yang lalu.


"Jangan terlalu formal sama aku Noah..kayak ngomong sama orang lain aja! Aku kan cuman sekedar tanya kabar kamu karena aku kangen." Malena berucap dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat manja. Dia cukup kaget karena Noah kini mengganti sebutan 'aku' dengan 'saya'.


"Lebih baik kamu jangan dekat-dekat saya Mal, jangan ganggu! Saya tidak mau sarapan pagi hari ini membuat mood saya berantakan setelah bertemu kamu!"


"Kok ngomongnya judes begitu sih! Aku kan tadi ngomong baik-baik.." Malena memekik keras hingga menarik perhatian sekitar.


"Aku pun juga memintamu pergi dengan baik-baik kan? Tolong jangan memancing keributan di tempat umum. Kamu kalau mau beli sesuatu tingga pesan saja, tapi jangan ganggu kami!" jawab Noah tegas.


"Tidak bisakah kita duduk berdua dengan empat mata membicarakan masalah kita baik-baik Noy? Aku masih memiliki harapan untuk kita berdua...kisah kita belum selesai..aku akan perbaiki semua kesalahanku!"


"Kisah kita sudah selesai di meja hijau satu bulan yang lalu Mal! Kita juga udah berpisah, terhitung 5 bulan lamanya. Move on! Saya juga udah punya kekasih..." Noah mengeratkan pegangan tangannya pada Luna.


Hati Malena sungguh panas melihat mantan suaminya yang sudah punya pengganti dirinya begitu cepat. Ada rasa nyeri yang membuncah di dada, tak terima karena sudah tersaingi oleh seorang perempuan muda yang masih ingusan.


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2