Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Ingin Pulang


__ADS_3

Noah


Baru saja mendapat kabar kalau istriku hampir celaka membuat jiwaku menjadi kalang kabut. Meeting dengan klien aku tinggalkan. Seluruh dokumen penting dan lain-lain juga mendadak ikut dibiarkan berserakan. Aku tak perduli. Hanya Luna yang ada dipikiranku sekarang.


Dan disinilah aku berada, masih setia menunggui Luna yang terbaring lemas diatas ranjang inapnya. Tangan Luna yang tak terpasang infus kugenggam dengan erat seakan-akan tak ingin kulepas.


Tak ada satu patah katapun yang mampu aku keluarkan dari mulutku tentang betapa takutnya aku saat ini. Perasaan cemas, khawatir, gelisah, semuanya menggerogoti relung hatiku hingga ke dasar palungnya. Hatiku sangat hancur melihat Luna pendarahan.


Tapi setidaknya aku merasa lega karena dokter memberitahuku bahwa kandungan Luna baik-baik saja. Bayi kami masih bisa diselamatkan karena Luna untungnya cepat-cepat dibawa ke rumah sakit.


"Lun, bangun dong sayang...tidakkah kamu bosan tertidur terus?" kuelus rambut panjang Luna dengan gerakan pelan.


"Aku rindu Lun...aku rindu sama cerewetnya kamu, rindu sama berisiknya kamu, rindu sama bawelnya kamu kalau aku terlalu sibuk sama kerjaan."


"Maafin aku yang bersikap kurang perhatian sama kamu. Maafin aku karena beberapa hari terakhir ini kita malah berantem. Maaf karena aku belum bisa menjadi sosok suami yang kamu impikan."


"Bangun sayang..." lirihku pelan.


Tak henti-hentinya aku merapalkan puluhan kalimat dengan harapan istri cantikku ini akan bangun dari tidurnya.


Dokter bilang Luna hanya pingsan akibat efek obat bius. Semoga saja setelah ini ia bisa cepat sadar. Aku sudah tak sabar lagi ingin melihat mata cantiknya dan senyum manisnya.


Sambil menunggu Luna siuman, aku ingin menemui Dani dan Karta terlebih dahulu untuk mengetahui kronologi mengapa Luna bisa sampai seperti ini. Karena sejak tiba di rumah sakit, fokusku hanya tertuju pada Luna dan Luna saja.


***


"Kalian ini padahal dua orang pria dewasa dengan segala kemampuan yang sangat mumpuni lho! Tapi kenapa pas disuruh jaga istri saya beberapa jam saja, kalian lengah begitu? Bagaimana bisa?!" sengaja aku meninggikan suaraku pada Dani dan Karta yang sedang menundukkan kepala mereka.


Aku tak kuasa untuk tak mengomeli dua orang laki-laki muda dihadapanku ini. Tingkat emosiku sudah berapa di puncak teratas hingga ubun-ubunku terasa mendidih.


"Dan untuk Dani, kamu ini kan punya lisensi profesional bodyguard. Sudah tahu begitu, kenapa kamu tidak cek ombak dulu? Atau cek lokasi dan jalanan area sekitar, apakah ada yang mencurigakan atau tidak?"


"Dari hasil bukti rekaman CCTV, mobil SUV hitam itu sudah sengaja mengincar mobil yang ditumpangi kalian sejak keluar dari rumah pertama kalinya. Dan kamu tidak bisa membaca pergerakan itu? FATAL!" bentakku kencang. Bodo amat meski ini rumah sakit dan pengunjung tak boleh membuat keributan.


Dani tak berani menatapku. Mungkin dirinya sadar kalau dia ikut andil dalam keteledoran membaca situasi. Ini bukan sepenuhnya salah dia, tapi tetap. Hal yang seharusnya bisa dicegah dari awal, malah kejadian.


"Kamu Karta!" kutunjuk wajah polosnya itu hingga dagunya terangkat. "Saya tahu kamu spesialisnya sebagai driver. Tapi jobdesc kamu juga ikut merangkap disini. Bukan hanya dikhususkan untuk mengantar istri saya pulang-pergi saja, tapi ikut bantu Dani juga untuk mengawal Luna!" ceramahku panjang lebar.


Belum sempat mereka membuka suara untuk melakukan pembelaan, suster jaga yang tadi kutitipi untuk menjaga Luna selama aku keluar sebentar tiba-tiba datang menghampiri.

__ADS_1


"Permisi Pak, saya mau izin mengabarkan kalau istri Bapak sudah sadar. Tadi saya sempat antar Ibu Luna untuk buang air kecil di toilet. Kondisi pasien sudah membaik sekarang," ucap sang suster dengan senyuman ramahnya.


Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahku. "Baik sus, terima kasih atas infonya."


Mengabaikan Dani dan Karta yang masih berdiam diri, aku buru-buru menambah kecepatan langkah kakiku untuk kembali ke kamar inap Luna.


Ceklek...


"Sayang..?! Akhirnya kamu bangun juga.." aku berjalan mendekat dan memeluk Luna secara menyamping dengan hati-hati.


Posisi tubuhnya sudah dalam keadaan duduk tegak saat aku kembali. Entah siapa yang menaikkan ranjang pasiennya, mungkin saja dibantu suster tadi.


Kemudian aku melayangkan beberapa pertanyaan, "Apa yang kamu rasakan sekarang? Masih sakit perutnya? Masih kram? Atau gimana? Bilang sama aku Lun.."


Luna tak menjawab. Ia hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Sepertinya wanitaku ini masih kesal padaku setelah pertengkaran terakhir kami.


Wajar apabila dia bersikap seperti itu. Salahku memang. Aku yang keterlaluan karena aku mengatakan padanya akan mengirim buket bunga dan makanan untuk Malena yang sedang sakit. Parahnya, hal itu benar-benar kulakukan beberapa hari yang lalu.


"Kamu pasti haus kan? Mau minum air? Biar aku ambilkan sebentar."


Tak perduli meskipun Luna mencueki diriku. Aku tetap mengambilkannya sebotol air mineral untuk meredakan dahaganya.


Tenggorokannya pasti terasa kering. Namun aku tak mau memaksa. Kalau dia tidak mau, biarlah saja. Jika dia haus, nanti akan minta minum pikirku.


"Bayi kita enggak kenapa-napa kan Mas?" Luna refleks memegangi perutnya. "Soalnya aku tadi lihat darah..."


Aku yang duduk di kursi jaga bersebelahan dengan ranjang pasien, bisa melihat jelas ada binar ketakutan pada pupil mata istriku. Dia berkaca-kaca seperti mau menangis.


Kuraih telapak tangannya dan kuberikan kecupan sekilas disana. "Hey..our baby is fine. Dia baik-baik saja meski kandungan kamu agak sedikit lemah. Harus banyak-banyak istirahat." ucapku menenangkannya.


"Kalau gitu aku mau pulang sekarang, Mas." ucap Luna sambil melepaskan genggaman tanganku.


Sudah kuduga. Dia pasti tak betah berlama-lama di rumah sakit. Lagipula siapa juga yang kerasan berada di tempat seperti ini?


Aku beralasan, "Sebaiknya tunggu arahan dari dokter dulu ya. Paling tidak kamu harus bermalam disini. Mungkin besok baru bisa pulang."


Luna menggeleng dan semakin merengek, "Maunya sekarang Mas! Aku enggak mau ada disini. Kamu bilangin sama dokternya, izinin aku pulang!"


"Okay..okay.." aku menurutinya. "Aku akan bilang sama dokter, tapi tidak sekarang."

__ADS_1


Luna mengernyitkan dahinya, "Kenapa?"


Aku tak menjawab dan malah bertanya balik. "Bagaimana kondisi kamu?" sengaja aku alihkan perhatiannya. "Memang kamu sudah merasa sehat? Bukankah perut kamu kram sebelumnya? Kamu tadi pendarahan lho sayang..."


"Kram-nya pas tadi aja, sekarang udah enggak." balasnya ketus. "Cuma pinggang aku sedikit sakit karena tadi sempat jatuh."


"Tuh kan..pinggangnya masih sakit tapi maksa mau pulang! Disini saja dulu, biar ditangani sama dokter yang lebih ahli. Kalau dirawat biasa di rumah mana bisa tahu."


Luna berdecak sebal dan memutar bola matanya malas. Suasana mendadak jadi hening. Baik Luna dan aku sama-sama tak mengeluarkan suara lagi. Kami hanya saling menatap satu sama lain dengan intens.


"Jawab aku jujur Mas, kecelakaan yang hampir saja menimpaku tadi..pasti ada unsur kesengajaannya kan?" tanya Luna blak-blakan.


Jadi bingung menjawabnya. Kalau jujur, aku takut dia panik. Kalau bohong, dia pasti akan semakin marah.


"Iya..memang ada yang sengaja mencelakai kamu." berkata jujur adalah pilihanku.


"Apa ini masih ada kaitannya sama teror di rumah beberapa waktu lalu?"


"Mungkin. Aku sendiri belum menyelidikinya. Nanti akan aku urus."


"Ckkk..terakhir kamu juga bilang gitu pas habis rumah kita dikirimi bangkai hewan enggak jelas itu! Tapi sampai sekarang kamu belum temukan siapa dalangnya, dan siapa juga yang memasang alat penyadap di rumah!" cerocos Luna.


Secara tidak langsung ia menyindirku secara halus karena kinerjaku yang lamban dalam menangani urusan per-teroran ini.


Tapi mau bagaimana lagi? Akhir-akhir ini pekerjaanku begitu menumpuk tak ada habisnya. Selesai satu, kemudian ada lagi tambahannya.


"Aku minta maaf ya, karena aku kurang maksimal dalam mengatasi masalah ini." kuusap-usap pipi lembut Luna perlahan sambil kutatap matanya dalam-dalam sebagai bentuk penyesalan atas kelalaianku kali ini.


"Aku janji Lun, selepas kamu keluar dari rumah sakit, aku akan langsung turun tangan menemukan si pelaku. Kehidupan kita akan kembali normal dan kamu bisa menjalani kehamilan ini dengan tenang seperti semula. Itu janjiku."


Luna menghembuskan nafasnya kasar dan menengadahkan kepalanya keatas. "Aku pulang ke Semarang aja ya Mas."


Degh...


Satu ucapan kalimat dari Luna membuat hatiku tertohok.


Ada apa ini, kenapa dia jadi tiba-tiba ingin pulang ke Semarang?


***

__ADS_1


__ADS_2