
"Apa kabar Luna? Kamu masih ingat dengan aku kan..." lirih Pandu pelan.
Bagaimana bisa Luna lupa? Bahkan sampai kelak usianya beranjak tua sekalipun, Luna tak akan pernah lupa dengan goresan luka yang pernah ditorehkan oleh pria berbaju kemeja hitam ini didepannya.
Rasa sakit akan pengkhianatan itu masih saja membekas dalam benak Luna. Kekasih hati yang bertahun-tahun lamanya ditemaninya dalam suka dan duka, nyatanya hanyalah seorang pecundang dan pemain wanita.
Kalau diingat-ingat lagi kejadian itu, Luna rasanya dongkol sekali. Untung saja nasib baik menghampirinya sekarang. Hidupnya lebih bahagia dan berwarna setelah ia menyandang status sebagai Nyonya Noah Clerk sekarang.
"Tentu saja ingat. Kamu Pandu kan, si tukang selingkuh itu?" sindir Luna dengan senyuman menyeringai.
Mulut Pandu terkatup rapat, terdiam membisu karena kehabisan kata-kata setelah mendapat sindiran yang pedas dari Luna.
Bertemu dengan sang mantan di area mall secara tiba-tiba seperti ini sangatlah jauh dari bayangannya. Tak pernah Pandu bayangkan jika hari ini akan terjadi juga.
Sedangkan Noah, dia hanya bisa merasakan ketegangan yang tinggi diantara istrinya dan pria itu. Bolak-balik Noah mengarahkan netranya untuk bergantian menatap dua orang didepannya yang tengah berperang dingin ini.
"Aku benar-benar minta maaf Lun, waktu itu ak--"
Luna langsung menyela, "Stop. Aku tidak perlu mendengar ucapan permintaan maaf dari kamu."
"Tidak, aku mohon Lun! Kali ini dengarkan dulu penjelasanku." Pandu menahan pergelangan tangan Luna.
Namun hal itu tak berlangsung lama karena Noah langsung turun tangan. "Lepas!! Jangan melewati batas ya kamu! Siapa suruh kamu berani-berani pegang tangan istri saya!" Noah menyingkirkan tangan Pandu sembari menampiknya kasar.
Rasa tidak terima membuncah di hati Noah. Pikirnya, enak saja main pegang-pegang tangan istri orang sembarangan. Kalau tidak sedang berada di tempat umum, ingin hati Noah memberikan bogeman mentah.
Bukan hanya karena soal urusan pegangan tangan saja, tapi karena pria ini dulu juga pernah berkontribusi membuat hati istrinya sakit.
Melihat tatapan nyalang suaminya Luna, bohong rasanya jika Pandu tidak bergidik ngeri. Nyalinya mendadak ciut. Sejujurnya dia juga cukup tercengang akan fakta bahwa mantannya sudah melepas masa lajang. Apalagi ketika Pandu menurunkan pandangannya kearah perut buncit Luna.
__ADS_1
Wanita yang dulu pernah mengisi relung hatinya ini sudah menikah sekarang. Luna tampak begitu cantik, segar, dan yang pasti raut bahagia jelas menempel di wajahnya.
Diam-diam, Pandu seringkali merutuki kebodohannya sendiri akibat pernah mencampakkan dan menyia-nyiakan wanita sebaik Luna. Kini hatinya perih dan sakit, ketika mengetahui kalau wanita yang masih dicintainya itu terlihat bahagia, tapi tak bersamanya.
"Please, Lun..sebentar saja. Setidaknya biarkan hidupku tenang. Semenjak kejadian itu, aku benar-benar merasa bersalah."
Pandu belum menyerah. Sudah kepalang tanggung. Mumpung ia bertemu Luna disini, ia harus meminta maaf.
"Luntang-lantung aku mencari kamu kesana kemari tapi tidak ketemu juga. Aku ingin minta maaf atas kesalahan yang pernah kulakukan dulu. Maaf karena kelakuan bodohku, kamu jadi tersakiti." lanjutnya penuh penyesalan.
"Kenapa baru sekarang sadarnya? Kemana saja kamu kemarin-kemarin?" cibir Luna.
Pandu menunduk malu. "Maaf..maafkan aku Lun! Aku memang merugi. Setelah pisah dari kamu, nyatanya aku tidak merasa bahagia. Semua kesenangan itu hanya berlangsung sementara."
"Biar aku tebak, selingkuhanmu kemarin itu pasti sudah membuang kamu kan?" ingin sekali Luna tertawa puas melihat mantannya yang menyedihkan ini.
"Kamu benar, dia hanya memanfaatkan aku saja. Dia tidak benar-benar tulus padaku." ujar Pandu dengan senyuman masamnya. "Maka dari itu, aku ingin minta maaf sama kamu Lun.."
Begitulah kata pepatah. Dan sekarang Pandu telah menuai apa yang ia tabur. Penyesalan selalu ada di akhir, jika diawal namanya pendaftaran.
"Tenang saja Pandu, aku sudah melupakan hal itu sejak lama. Jadi aku rasa, kamu tidak perlu memohon-mohon seperti ini." Luna berucap dengan nada yang dingin.
"Tapi rasa bersalah itu masih menghantui pikiranku, Lun. Berbulan-bulan aku tersiksa, memikirkan kamu!" ungkap Pandu secara blak-blakan. "Untuk itu aku minta maaf..dari lubuk hatiku yang paling dalam..."
Noah yang tak suka mendengar hal itu, sontak langsung maju hendak memberi pelajaran pada Pandu.
Lagi-lagi pria ingusan didepannya ini dengan beraninya mengatakan bahwa dia memikirkan istrinya. Tidak tahu malu sekali. Pernah menyakiti dan sekarang mengharap sesuatu begitu?
Belum sempat Noah mendaratkan tangannya, Luna langsung menghentikan langkahnya dan berbisik, "Mas..jangan, enggak enak kalau dilihat orang lain kitanya lagi ribut-ribut. Sebaiknya langsung pulang saja ya," Luna mengusap-usap lembut tubuh Noah yang tertutup jaket kulit dengan maksud untuk menenangkan suaminya.
__ADS_1
"Tapi bukannya kamu lapar? Kita harus cari makan dulu."
"Makan di rumah saja...toh juga masakan Bibi sama Mbak kan rasanya sama dengan Indonesian food. Daripada ke restoran, kita pulang aja yuk Mas!" ajak Luna.
"Tidak bisa sayang! Hari ini aku maunya quality time sama kamu. Aku masih mau jalan-jalan. Kita harus tetap makan diluar. Jangan biarkan kehadiran mantanmu ini merusak mood kita!" Noah melirik Pandu sekilas seraya menyindir secara halus.
"Ya sudah iya..kita tetap cari makan, tapi enggak di Mall ini ya? Diluar saja, aku lagi pengen makan bakso."
Noah mengerutkan dahinya. "Bakso? Kamu mau bakso?"
Luna mengangguk-angguk seraya tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih berseri. "Hmm..tiba-tiba aku pingin makan bakso. Tapi bukan yang di rumah makan. Mau beli yang abang-abang pinggir jalan aja, Mas. Terus makannya mau pakai mie kuning yang banyak sama gorengan. Boleh ya?!"
Dalam hati sebenarnya Noah tak setuju, tapi apa boleh buat? Luna mengerjap-ngerjapkan matanya ala puppy-eyes dan memasang wajah memelasnya. Mana mungkin Noah menolak?
"Hhhh..oke. Tapi untuk hari ini saja ya kita makan ala PKL, tidak boleh sering-sering karena makanan diluar itu terkadang kurang higienis."
"Iya Mas Noah-ku sayang..udah yuk! Itu tas belanjanya diambil dulu, pada jatuh semua Mas!" rengek Luna sambil menunjuk pada lantai.
Noah hampir lupa. Saking sibuknya menahan emosi akibat melihat wajah Pandu, ia lupa memunguti tas belanjanya yang sempat jatuh berserakan tadi.
"Ayo sayang..." Noah buru-buru menggandeng tangan Luna setelahnya dan pergi melengos begitu saja meninggalkan Pandu yang masih bengong sendirian.
Pandu sendiri hanya bisa menatap nanar melihat punggung Luna yang mulai pergi menjauh dari jangkauannya.
Puukk....
Sebuah tepukan tangan mendarat di pundak Pandu.
"Hey..Pandu..." sapa wanita itu yang bersuara.
__ADS_1
Pandu refleks menoleh dan tersenyum, "Poppy..?"
***