Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Kamu Punya Aku


__ADS_3

"Ss--ssuaminya? Kamu sudah menikah Luna?" pandangan Jelita beralih menatap Luna.


"Iya, saya sudah menikah dan hidup bahagia. Maka dari itu, berhenti mengganggu kehidupan saya! Untuk sekali saja, kabulkan permintaan seorang anak yang ditelantarkan ini. Tidak sulit bukan?" sarkas Luna.


"Ayo Mas, kita pergi sekarang...aku mohon.." lanjut Luna merengek.


"Kami permisi." Noah merangkul bahu Luna seraya menundukkan kepalanya untuk berpamitan pada kedua mertuanya.


Meskipun hubungan diantara mereka kurang baik, Noah tetap mengedepankan etika. Dia tidak ingin dicap sebagai menantu yang bersikap tidak sopan pada mertuanya.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Jelita dan Brahim selain bersedih, meratapi kepergian putri yang pernah disia-siakan oleh mereka. Luna telah jauh dari genggaman mereka dan sulit untuk diraih.


Bukan salah Luna. Ini semua memang salah mereka yang telah bersikap egois. Menikah di usia yang terlampau muda membuat mereka tidak siap menjadi orang tua dan kerap kali ribut sehingga mengesampingkan urusan anak.


Ditambah lagi kesibukan mereka dalam menitir karir, menjadikan Luna kurang kasih sayang dan tak mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya sendiri.


Namun sekarang, Jelita dan Brahim sudah mampu menyelesaikan semua akar permasalahan rumah tangga mereka. Mereka telah melewati proses pendewasaan dan memutuskan untuk kembali bersatu, berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Sayangnya, semua itu tak mampu mengubah pemikiran Luna untuk tidak membenci kedua orangtuanya.


"Papa...hati Mama sakit sekali melihat Luna menatap kita dengan pandangan kebencian seperti tadi! Mama ingin sekali memeluk Luna erat Pa.." Jelita menangis tersedu dalam dekapan Brahim di pojokan bandara.


"Andai kata Luna meminta Mama duduk bersimpuh untuk memohon ampun, Mama akam lakukan itu Pa! Demi Luna agar bisa kembali sepenuhnya sama kita..."


"Sabar Ma..Papa juga memiliki keinginan yang sama, tapi apa boleh buat? Kita bersabar dulu ya Ma, kita tidak boleh menyerah dan harus tetap berjuang untuk mendapatkan maaf dari putri kita. Jangan berputus asa!" Brahim menenangkan istrinya.


"Sulit Pa..sulit, Mama merasakan sesak disini! Mama mau Luna pulang secepatnya..hikss..Mama menyesal dulu telah mengabaikannya! Ibu macam apa aku ini!" Luna memijit pelipisnya sendiri sebagai bentuk kekecewaan.


Brahim menghembuskan nafasnya pelan, menghentikan aktivitas istrinya. "Ini bukan salah Mama, Papa juga bersalah..berhenti menyalahkan diri sendiri Ma!"


Sebagai kepala rumah tangga, Brahim turut andil dalam kemalangan yang menimpa pada keluarga kecilnya ini. Dirinya merasa gagal menjadi Ayah dan suami yang baik untuk Jelita dan Luna. Bohong kalau Brahim tidak sedih. Ingin sekali ia memutar waktu dan mengubah segalanya di masa lalu agar hal seperti ini tidak pernah terjadi.


Putrinya sekarang telah menikah. Itu artinya, semakin kecil peluang Brahim untuk bisa bermanja-manja dan meluangkan banyak waktu yang terbuang untuk Luna. Belum menikah saja, Luna sudah terlanjur jauh dalam jangkauannya.


***


2 jam telah berlalu setelah kejadian pertemuan Luna dengan orang tuanya di toko roti tadi. Sampai saat Luna dan Noah sudah berada di dalam pesawat, Luna belum mau membuka suara. Ia hanya duduk terdiam menatap jendela dan sesekali menangis sesenggukan.

__ADS_1


Hikss..


Mendengar suara isakan istrinya, sontak Noah melirik. "Hey, kamu nangis?"


Noah beranjak dari bangku seat nya dan segera mendekat untuk berlutut di hadapan Luna. Kemudian ia menangkup pipi Luna yang memerah karena menahan isakan tangis.


"Lun, tatap mataku..." ucap Noah lembut.


Dengan terpaksa Luna mendongakkan wajahnya menatap Noah yang bersimpuh. Mata sembabnya nampak terlihat jelas sekarang.


"It's okay...I'm here.." Noah berdiri setengah badan dan menarik kepala Luna untuk disandarkan di bahunya.


"Kenapa mereka harus muncul lagi setelah sekian lama..aku benci mereka Mas! Mereka udah buang aku!" lirih Luna dalam dekapan Noah.


"Mereka bilang aku adalah anak pembawa sial! Nyonya Jelita bilang, dia menyesal melahirkan aku. Padahal, aku juga enggak minta mereka untuk menghadirkan aku di dunia ini." lanjutnya.


Noah membiarkan Luna menumpahkan segala keluh kesahnya tanpa menyela.


"Aku benar-benar enggak berharga di mata orang tuaku! Cuman Pakdhe Bimo dan Budhe Ririn yang sayang...aku sedih Mas mengingat semuanya, masa kecilku menyedihkan!"


Tidak seperti Noah yang sedari kecil hidup di tengah-tengah keluarga yang sehat, Luna begitu berbeda. Tidak ada memori indah yang ia miliki bersama orang tuanya selama hidup 7 tahun bersama, sebelum ia akhirnya diangkat anak oleh Pakdhe Bimo dan Budhe Ririn.


"Dengarkan aku. Semua hal-hal buruk yang kamu alami di masa lalu, jangan diingat-ingat lagi. Buang semua kenangan dan keresahan dalam hatimu. Stop menangisi orang-orang yang tidak worth it."


"Aku memang tidak pernah tahu bagaimana sulitnya kehidupan kamu bersama orang tuamu dulu. Tapi satu yang pasti, sekarang kamu punya aku Luna. Aku akan berusaha semampuku untuk menghapus semua luka dan kenangan buruk kamu menjadi tawa bahagia."


Luna menghentikan suara sesenggukannya seraya mengaitkan helaian anak rambutnya ke belakang telinga.


"Janji jangan tinggalkan aku ya Mas.." ucap Luna lirih.


Noah mengangguk. Luna kembali menghamburkan pelukannya pada Noah.


"Udah ya nangisnya...kan mau honeymoon, masa sedih sih?" Noah menghapus sisa air mata Luna.


"Ya habis dua pengganggu itu merusak momen aja!" ketus Luna.


"Haishhh..udah dong jangan dibahas, mendingan kita rundingan mau pergi kemana aja nanti pas di Europe?"

__ADS_1


"Aku belum sempat browsing tempat-tempat wisata bagus disana, enggak ada persiapan Mas!"


"Oke..oke..gampang itu, bisa dicari! Pokoknya nanti, kamu bisa belanja sepuasnya juga disana...mau beli baju, tas, sepatu yang branded silahkan! Pakai kartu aku nanti.."


Luna tersenyum tipis. "Emangnya enggak takut duitnya habis? Aku kalau belanja boros lho!" tantang Luna.


"Ya biar! Kamu habiskan juga enggak masalah. Aku bukan orang yang perhitungan sama istri sendiri. Habis tinggal cari lagi, uangku ada banyak...Clerk Kingdom masih berjaya sampai 10 turunan!" Noah menyombongkan diri.


"Banyak gaya deh Mas Noah!" ledek Luna.


Keduanya pun akhirnya tertawa pecah.


"Kamu udah lapar belum? Pesan makanan ya?" tanya Noah.


"Boleh Mas, tadi kita belum sempat makan kan pas berangkat. Mau beli roti juga enggak jadi tadi!" Luna mengerucutkan bibirnya.


"Okay, kita pesan. Tapi itu bibirnya jangan manyun begitu, minta dikasih stempel ya?" Noah menaik-naikkan kedua alisnya.


Tanpa diduga, Luna yang malah berinisiatif duluan untuk mendaratkan kecupannya pada bibir Noah tiba-tiba.


Cuppp....


"Udah tuh...keduluan sama aku!" ucap Luna seraya mengusap bibir Noah yang terkena bekas lipstick nya.


"Manis rasanya."


"Ya iyalah manis, lip gloss aku kan ada aroma strawberry-nya gitu..."


"Lagi dong, boleh?"


Luna menggeleng "No! Kita pesan makanan aja..aku udah lapar!"


"Okay..okay..as your wish Mrs. Clerk!" Noah mengerlingkan mata kanannya.


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊

__ADS_1


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2