Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Bujuk Rayu


__ADS_3

Tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut Noah maupun Luna saat mereka menikmati makan siang bersama di salah satu restoran terkenal di Praha.


Terlihat jelas sekali jika Luna masih kesal dan terbawa sampai sekarang. Noah langsung menghentikan kegiatan makannya dan menoleh pada Luna.


"Makanannya tidak enak ya?" Noah berinisiatif untuk membuka omongan terlebih dahulu.


"Enak." jawab Luna singkat tanpa menatap Noah.


"Terus kenapa diaduk-aduk begitu..tidak baik kalau makanan dibuat mainan Lun. Segeralah dimakan, nanti dingin."


"Iya...iya.."


Luna menyuapkan sesendok pasta ke dalam mulutnya dengan kasar dan tetap menundukkan kepalanya.


"Kamu masih marah sama aku Lun?" Noah mengapit dagu Luna untuk mendongak agar mata mereka saling bertemu.


"Enggak." Luna menepisnya.


"Terus kenapa masih ketus begitu ngomongnya. Kan tadi udah aku buang kopernya, setelah makan nanti kita langsung beli yang baru."


Luna melirik Noah dengan tatapan yang tajam dan mencekam.


"Udahlah Mas, enggak usah diungkit-ungkit lagi. Aku udah enggak mood ini makannya. Nunggu kamu selesai aja, terus kita langsung beli koper sama baju-baju dingin. Coat kamu kebesaran di aku, bikin aku enggak nyaman pakainya." Luna memalingkan wajahnya.


"Hey...Luna, tatap mata aku dalam-dalam." Noah meraih telapak tangan Luna untuk digenggamnya erat.


"Sekali lagi aku minta maaf ya atas kecerobohanku yang membuat kamu merasa tidak nyaman tadi. Sungguh Lun, aku menyesal karena lalai dan tidak mengecek sebelumnya." ungkap Noah tulus.


Melihat raut wajah Noah yang memelas membuat Luna menjadi tak tega. Noah benar-benar bisa meluluhkan hatinya secepat kilat. Padahal dengan hanya bujuk rayuan biasa. Belum lagi, Noah begitu terlihat menyesali perbuatannya.


"Ayo dong Lun...this is our moment. Kita kan lagi bulan madu, masa ngambek-ngambekan begini? Please.. forgive me?" pinta Noah memohon.


"Oke aku maafin.." Luna menyerah.


Pada dasarnya ia juga tak tahan kalau harus bersikap diam-diaman dengan sang suami. Pesona Noah terlalu sayang untuk diabaikan terus menerus.


"Serius nih udah dimaafkan?" tanya Noah sekali lagi untuk meyakinkan.


Sebab Luna masih mengerucutkan bibirnya seperti orang yang sedang kesal.


"Kamu gimana sih Mas, tadi minta dimaafkan.. sekarang pas udah dimaafkan tanya lagi!"


Noah terkekeh. "Haishh...iya..iya..okay, tapi aku mau lihat senyum kamu dulu. Show me!"


"Nih senyum...hmmm.." Luna meringis dengan senyuman lebar yang sedikit agak dipaksakan.


"Jangan lebar begitu juga, jatuhnya seram!"


"Kamu ngatain aku seram? Aku jelek begitu kayak setan?" Luna tak terima.


"Salah paham terus nih, aku kan bercanda Lun..jangan dibawa serius!"


"Sayangnya aku lagi enggak pengen bercanda." ketus Luna.


"Kamu mau PMS deh kayaknya, sensitif banget sih?"

__ADS_1


"Enggak ada PMS-PMS an, datang bulanku udah selesai pas sebelum kita menikah. Aku tuh jelas sensi gara-gara kamu tuh bawa-bawa foto Mak Lampir pas kita liburan gini!"


"Ya udah...ya udah lupain aja! Sekarang mending kita lanjutkan makan ya. Kamu mau cobain steak daging aku? Ini enak lho...kamu mau coba?" Noah mengalihkan pembicaraan mereka agar Luna tak semakin kesal.


Luna diam tak menjawab. Dalam hati, ingin sekali dia untuk mencicipinya. Tenderloin steak beserta mashed potato yang tersaji di piring Noah memang tampak menggugah selera. Luna sendiri tidak begitu suka dengan pasta aglio olio yang dipesannya, rasanya tidak cocok di lidahnya.


"Mau ya? Aku yang suapin deh..." ucap Noah sembari memotong kecil-kecil daging steak miliknya untuk disuapkan pada Luna.


Luna membuka mulutnya saat Noah mulai menyuapi.


"How is it? Enak?" kata Noah.


Luna mengangguk. Kalau tenderloin steak ini, rasanya luar biasa enak memang. Dagingnya juicy dan lembut, mudah untuk dikunyah.


"Kamu mau lagi?" tawar Noah.


"Mau deh Mas..soalnya pasta yang aku pesan rasanya kurang cocok di lidah aku!" Luna mengutarakan uneg-unegnya.


"Enggak enak maksudnya?"


"Bukan enggak enak, tapi aku aja yang kurang suka. Kan tergantung selera dan emang relatif kesukaan orang-orang."


"Kalau gitu tukar aja makanan kamu sama punya aku. Nih.."


"Eh jangan Mas...jangan makan bekasku, nanti enggak doyan."


"Ckkk...apaan sih, kenapa pakai sungkan segala. Kita udah suami istri, wajar aja. Aku segala makanan suka kok. Bukan suatu masalah kalau harus bertukar."


Noah menukar piring makanannya dengan piring Luna.


"Kan bisa pesan lagi...sambil menunggu, aku makan pasta kamu. Okay?"


"Okay, Mas." balas Luna.


Senyumannya begitu merekah. Semakin hari, Noah semakin membuat jatuh cinta. Perlakuan kecil tapi manis yang seperti inilah yang selalu Luna sukai dari sesosok Noah.


Seringkali dalam lamunannya, Luna berterima kasih pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan untuk bertemu Noah. Luna bersyukur karena Noah bercerai dari Malena, dengan hal itu ia jadi bisa memiliki Noah seutuhnya.


Jahat dan egois memang, tapi itulah kenyataannya. Andai Noah belum berpisah, mungkin dia dan Noah tak bisa bersatu. Jalan hidup memang unik, Noah dan Luna dipertemukan oleh suatu kejadian yang tak terduga dan tiba-tiba sudah menikah saja.


***


Setelah selesai menikmati makan siang bersama, mereka melanjutkan perjalanan ke salah satu Mall yang terkenal di pusat kota Praha, sesuai kesepakatan. Mereka diantar oleh Jakub, supir sekaligus tour guide yang menjemput mereka di bandara tadi.


"Lun, boleh minta dompetku?" pinta Noah.


Noah memang sengaja menitipkan dompet beserta ponselnya pada sang istri karena dia malas membawa tas. Kalau disimpan dalam kantong saku, takutnya terjatuh.


Noah memang memiliki kebiasaan untuk tidak menyimpan barang apapun dalam saku ataupun kantong. Saat bekerja atau pergi kemana-mana, Noah lebih memilih untuk membawa pouch kecil yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barangnya.


"Oh...iya Mas, sebentar." Luna merogoh kedalam isi tasnya untuk mengambil dompet Noah. "Ini Mas...dompet kamu!"


"Thank you."


Noah membuka dompetnya dan langsung mengeluarkan beberapa kartu dari sana.

__ADS_1


"Nih untuk kamu Lun." Noah memberi Luna sebuah black card dan dua kartu debit.


Luna menatapnya penuh keheranan. "Ini apa Mas?"


"Ambil Lun, ini semua kartunya buat kamu. Kan sekarang kamu sudah resmi jadi istri aku Lun, jadi otomatis semua kebutuhan dan biaya kelangsungan hidup kamu aku yang akan bertanggung jawab."


"Tapi kenapa banyak begini Mas jenis kartunya? Satu aja kan cukup!" sanggah Luna.


"Sini aku jelaskan. Untuk black card ini, kamu bisa pakai untuk berbelanja kebutuhan pribadi kamu atau apapun yang kamu suka. Mungkin mau belanja baju, sepatu, tas atau make up, it's up to you."


"Yang kartu debit ini juga untuk kamu, barangkali kamu butuh uang cash..bisa ambil disini. Untuk yang kartu satunya, khusus dipakai untuk kebutuhan household. Seperti bayar tagihan listrik, air, belanja bulanan, dan lain-lain. Sampai sini paham?" jelas Noah.


"Paham Mas, makasih banyak ya atas pemberiannya...meski sebenarnya ini agak berlebihan sedikit." Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Buat istri sendiri, mana mungkin aku perhitungan. Ini tidak berlebihan sama sekali. Jadi kamu jangan sungkan-sungkan untuk memakainya jika sedang butuh atau mau. Tapi tetap Lun, dengan catatan..aku harap kamu bisa bijak untuk memakainya. Bukan berarti pelit, tapi mengatur keuangan yang sehat itu penting." Noah memberi nasihat.


"Pasti Mas, mana mungkin juga aku boros. Aku tahu persis bagaimana susahnya cari uang pas aku pertama kali merantau dan jauh dari Pakdhe dan Budhe. Itu sebabnya aku akan lebih menghargai privilege yang aku miliki sekarang." tukas Luna.


"Bagus, aku senang mendengarnya." Noah menarik kepala Luna agar menyandar di bahunya.


Kedua tangan mereka saling menggenggam dengan erat satu sama lain.


"Pantas saja ya Mas, kamu menyarankan aku untuk enggak kerja lagi. Orang duit kamu banyak begini!" canda Luna.


"Ya itu memang salah satu faktornya. Tapi kan aku tidak mencegah sepenuhnya, it's just a preference. Aku mau kamu di rumah, bukan berarti aku melarang kamu kerja. It's your choice. Aku juga paham bagaimana rasanya di rumah seharian dan tidak mengerjakan apapun. Pasti bosan."


"Nah itu dia Mas yang jadi pertimbangan aku. Tapi belum tahu deh kedepannya gimana."


"Seperti yang aku bilang, take your time. Untuk sekarang kita enjoy dengan momen berdua ini. Got it?"


Luna mengangguk-angguk cepat dan tersenyum. Luna kemudian mendongakkan kepalanya dan memajukan bibirnya untuk mengecup Noah.


Cup...


"Mulai berani ya sekarang...tadi ngambek, sekarang sudah tidak marah lagi. Aneh ih!" ledek Noah.


"Kamu mau aku ngambek terus gitu?" tantang Luna balik.


"Jangan Lun...gini aja, kalau kamu bahagia dan tersenyum makin cantik."


"Gombal!" Luna mencebik.


"Tidak kok. Istri saya memang cantik."


Lalu, tiba-tiba Noah menarik dagu Luna dan menyatukan kedua bibir mereka. Ciumann mereka terasa intens dan dalam, sebab Noah melumatt bibir mungil Luna dengan ganas. Tangan Noah berpindah untuk menangkup kedua sisi wajah Luna.


"Mas stop ih...malu tuh dilihatin sama Jakub!" Luna menahan Noah agar tak melanjutkan aksinya.


"I don't care!" kata Noah.


Noah kembali menahan tengkuk leher Luna dan mendaratkan ciumannya lagi tepat di bibir merah Luna, tanpa memperdulikan Jakub yang tersenyum-senyum sendiri melihat pasutri baru tersebut yang sedang dimabukk cinta lewat rear view mirror.


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊

__ADS_1


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2