
Setelah kepulangan Brahim dan Jelita beberapa jam yang lalu, Noah dan Luna kini tengah berduaaan menikmati sunset sore hari, ditemani oleh semilir angin sore yang sejuk membuat keduanya merasakan tentram.
Semuanya terasa sempurna ketika mereka bersantai dengan merebahkan tubuh pada pool bed di tepian kolam renang yang memiliki kanopi diatasnya, ditambah lagi posisi berbaring mereka cukup mendukung.
Noah mendekap dan merangkul Luna dari samping, sedangkan Luna begitu nyaman melingkarkan lengannya pada pinggang Noah dan membenamkan wajahnya pada dadaa bidang suaminya yang sedang shirtless tersebut.
"Aku bangga sama kamu." ucap Noah sambil sesekali mengusap lembut surai indah wanitanya itu yang berwarna hitam legam.
Luna sedikit mendongak, "Bangga kenapa?"
"Jelas aku bangga, setelah melihat apa yang kamu lakukan tadi pada Mama dan Papa. Aku senang sekali karena kamu mau berusaha mencoba berdamai dengan masa lalu. Aku tahu itu tidaklah mudah," ungkap Noah jujur.
Selama ini dirinya begitu mendamba agar Luna bisa berbaikan dengan orang tua kandungnya. Melupakan segala masa kelam dan mengubur memori yang tidak baik di masa lalu.
Pada beberapa kesempatan, Noah sempat memergoki istrinya itu sedang melihat foto-foto lamanya dengan Brahim dan Jelita pada sebuah album yang covernya terlihat usang dan jadul sekali. Luna ternyata masih menyimpan itu semua.
Walau gengsi mengakuinya, Noah yakin jika didalam lubuk hati Luna yang terdalam, dia pasti tetap merindukan sosok Papa dan Mama kandungnya. Sekalipun ia mendapat kasih sayang yang penuh dari Pakdhe Bimo dan Budhe Ririn.
"Semuanya masih butuh proses, Mas. Belum sepenuhnya aku bisa memaafkan mereka begitu saja. Harus pelan-pelan dulu." Luna tersenyum getir.
"I know," Noah semakin mengeratkan pelukannya dengan sang istri. Mengecup keningnya seraya berbisik, "Itu sebabnya aku bangga. Setidaknya kamu sudah berusaha semampu kamu."
"Ya..paling enggak kemajuannya cukup pesat dibanding yang kemarin-kemarin." Luna mengakui itu.
Jika sebelum-sebelumnya Luna emosional kala bertemu dengan Brahim dan Jelita, tapi tidak dengan tadi. Secara mengejutkan Luna bisa mengontrol diri untuk tidak terbawa suasana.
"Udah ah Mas..jangan bahas-bahas itu dulu! Mending ngobrol yang lainnya.." gerutu Luna sambil mencubit perut kotak-kotak Noah.
"Aww..aww.." Noah meringis tapi ikut terkekeh sejenak, "Iya..iya..maaf. Kamu memangnya mau ngobrol apa kalau gitu?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Apa aja, asalkan enggak ngomongin soal tadi..aku lagi malas!" keluh Luna yang cemberut.
"Bahas liburan kita aja gimana? Kamu kan belum kasih tahu ke aku spesifiknya, mau ke tempat wisata apa saja nantinya.."
__ADS_1
Luna seketika merenggangkan pelukannya dengan Noah. Duduknya berubah tegak dan tatapannya terlihat nyalang, "Ishh..kan udah dibilang Mas! Aku maunya ke taman bunga di Keukenhof sama ke Santorini dan Mykonos. Masa lupa sih?! Padahal habisgini mau berangkat!"
"Ya Santorini dan Mykonos itu kan luas sayang..banyak wisatanya!" tukas Noah.
"Kamu pikir sendiri aja lah mau kemana..aku ngikut aja. Atau browsing kan bisa..pokoknya yang penting aku liburan dan refreshing. Itu sudah lebih dari cukup,' balas Luna.
Ditengah-tengah perdebatan mereka, tiba-tiba saja ponsel Luna yang diletakkan di meja kecil berbunyi. Ada panggilan masuk dari Sari yang menginterupsi momen kebersamaan mereka.
Sebenarnya jarang-jarang asisten rumah tangganya itu menelpon. Biasanya langsung lapor secara langsung. Ini hanya karena kebetulan Noah dan Luna sedang asyik bersantai berduaan di tepi kolam saja, membuat Sari tak ingin mengganggu privasi momen keromantisan majikannya.
Karena Noah pernah memberi wanti-wanti pada seluruh pekerja di rumahnya, jika dia sedang berduaan dengan sang istri di setiap sudut rumah, maka tidak ada yang boleh mendekat atau menganggu.
Tak ingin berlama-lama lagi, Luna pun segera mengangkat telepon tersebut.
📱
"Halo Mbak Sari.."
"Iya Mbak, enggak apa-apa kok. Ada apa?"
"Ini Nya, ada paket kiriman untuk Nyonya. Katanya hadiah dari teman lama."
"Hadiah dari teman lama? Siapa itu Mbak? Ada ditulis enggak pengirimnya siapa?" dalam hati Luna menerka-nerka mungkin saja itu dari Friska.
Sahabatnya itu baru beberapa minggu yang lalu memutuskan untuk pindah kerja ke kota lain yang tentunya hal itu membuat Luna sedih.
Dalam salam perpisahan mereka, Friska sempat berjanji akan mengirimkan banyak oleh-oleh dan bingkisan khas dari kota tempat tinggalnya sekarang.
"Kurang tahu saya Nya, sekarang paketnya sedang diperiksa oleh Pak Hari dan Dani di halaman depan bersama saya juga. Sesuai SOP dari Tuan Noah, kalau ada paket kiriman harus melalui proses pengecekan terlebih dahulu," jawab Sari.
"Ya sudah Mbak, biar saya dan Mas Noah jalan kedepan..tunggu sebentar ya.."
"Baik Nya, kami tunggu."
__ADS_1
Sambungan telepon akhirnya terputus. Luna memasukkan ponselnya pada kantong saku hot pants yang sedang dikenakannya.
"Siapa Lun yang telepon? Sari?" tebak Noah.
"Iya Mas, ini Mbak bilang katanya ada paket kiriman untuk aku. Bilangnya sih hadiah dari teman lama, tapi aku enggak tahu juga karena masih dicek dulu didepan."
Mendengar kata paket, Noah jadi trauma. Terakhir kali istrinya mendapat paket, isinya itu malah bangkai hewan yang membusuk. Entah apalagi sekarang.
"Kalau begitu kamu tunggu di ruang tamu dulu saja, tidak usah keluar-keluar. Biar aku yang kedepan." Noah buru-buru berdiri dan memakai kaosnya yang tadi digeletakkan.
Luna menahan tangan Noah yang hendak pergi, "Enggak mau Mas, mau ikut...mau lihat paketnya apa! Barangkali itu kiriman dari Friska!" wanita itu begitu ngeyel ingin ikut melihat.
"Iya kalau dari Friska, kalau teror lagi bagaimana?" sanggah Noah.
"Ya makanya ini dilihat sama-sama! Aku enggak takut lagi karena kamu ada untuk dampingi aku sekarang.."
"No Luna. Sekali tidak tetap tidak. Tunggu di ruang tamu, atau tidak lihat sama sekali. Kamu lagi hamil 5 bulan, sebentar lagi kita mau pergi liburan. Aku tidak mau ya kamu mendadak shock dan lemas seperti kejadian sebelumnya! Bikin panik aku.." Noah tak ingin dibantah
Bisa berabe urusannya jika Luna kembali mengalami shock therapy setelah melihat isi paket yang diprediksi bisa jadi adalah sebuah teror. Rencana liburan mereka bisa berantakan dan dokter batal mengizinkan Luna terbang mengingat tekanan darah yang tidak stabil.
"Please Mas..." pinta Luna memelas. "Mau ikut lihat.."
Noah mendengus sebal, "Okelah..tapi aku tidak mau tanggung jawab kalau kamu pingsan. Awas ya!"
"Iya..janji enggak pingsan. Lebay banget sih!"
"Ya karena kamu itu sukanya bikin saya parno!"
Noah pun mengalah daripada wanita kesayangannya itu mengambek lagi dan suasana hatinya berubah buruk. Dia langsung membantu Luna yang kesusahan bangun dari pool bed, mengingat perutnya yang membuncit.
Setelah sudah bisa berdiri tegak, Noah bergegas menggandeng tangan sang istri untuk berjalan bersama ke halaman depan.
***
__ADS_1