Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Pertengkaran Lagi


__ADS_3

Drtt...drtt...


Panggilan masuk yang tertera dalam layar ponsel Noah mengalihkan perdebatan kecil dari pasangan suami-istri tersebut.


Bobby.


Noah mengusap wajahnya kasar sambil mengumpat dalam hati. Ada apa lagi ini? Noah tak habis pikir mengapa Bobby menelponnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka baru saja bertemu. Tidak cukupkah hal itu?


"Tulisannya Bobby menelpon. Bobby itu siapa Mas?" Luna penasaran karena sekilas tadi ia melihat nama ID caller-nya.


"Aku permisi keluar sebentar, mau angkat telepon."


Luna mengangguk paham. Mungkin saja itu telepon dari kolega suaminya yang ingin membahas tentang urusan pekerjaan.


📱


"Halo.."


"Halo Mas Noah.." sapa Bobby dari seberang sana.


"Mau apa lagi Bob?" sahut Noah malas.


"Mas please tolong dong datang ke rumah sakit! Mbak Malena ini kondisinya makin drop. Kata dokter Hemoglobin-nya rendah, detak jantungnya tidak beraturan, dan bahkan suhu tubuhnya tinggi Mas! Tolong kesini ya!" nada bicara Bobby begitu memaksa.


"Saya tidak bisa Bob. Saya kan sudah bilang tadi, saya itu sedang ada di rumah menemani istri."


"Ya ampun Mas, sebentar aja lho! Sini deh aku mau ngomong sama istrinya Mas Noah! Biar aku yang minta izin supaya Mas Noah bisa kesini. Urgent Mas.." Bobby masih kekeuh membujuk Noah.


"Jangan macam-macam Bobby! Tidak akan saya izinkan kamu berbicara dengan istri saya!" tegas Noah.


"Pelit banget sih Mas! Kasihan ini Mbak Malena nyariin terus, panggil-panggil nama situ! Kalau bukan karena Mbak Malena juga aku ogah-ogahan kali maksa begini. Buruan gih minta izin.."


Noah kembali dihadapkan dengan suatu hal yang membuatnya dilema. Disatu sisi Noah ingin membesuk Malena. Murni hanya rasa keingintahuannya akan penyakit yang diderita mantan istrinya tersebut. Tapi sisi lainnya lagi dia tak mau membuat Luna kecewa.


"Ckk..Merepotkan saja. Memang Malena dirawat dimana? Kamar nomor berapa?" tanya Noah ketus.


"Berarti mau datang nih?"

__ADS_1


"Berisik. Cepat katakan!"


"Rumah sakitnya Boulevardz Family Hospital. Kamarnya di ruang VVIP Rose nomor 5."


"Say--" ucapan Noah terhenti tatkala suara istrinya memanggil dari belakang.


"Mas Noah.." lirih Luna dengan nada pelan.


"Ll--Luna..?!" Noah menoleh dengan wajah panik. Sontak saja ia langsung buru-buru memutuskan sambungan teleponnya dengan Bobby. "Kamu sejak kapan berdiri disitu?"


Mata Luna tampak berkaca-kaca. "Cukup lama sehingga aku bisa mendengar semua percakapan kamu tadi."


"Kamu menguping?" tanya Noah hati-hati.


Luna membalas, "Maaf kalau lancang. Aku enggak berniat untuk nguping. Tadinya aku mau samperin kamu untuk bilang kalau roti bakar dan teh jahe pesanan kamu sudah disiapkan Bibi. Tapi ternyata..aku malah enggak sengaja mendengar sesuatu yang seharusnya enggak aku dengar."


Salah paham lagi. Noah menghembuskan nafasnya kasar. "Lun, aku bisa jelasin. Tadi it--"


"Mbak Malena sakit apa?" Luna memotong ucapan Noah.


Keheningan menggantung sejenak diantara keduanya. Noah bingung bagaimana menjelaskan pada istrinya itu agar tidak salah kaprah.


"Memangnya kamu punya niatan bertemu dengan Mbak Malena dengan berkedok menjenguknya di rumah sakit?" ucap Luna dengan menggerutu.


"Bukan begitu, sayang." Noah menghampiri Luna dan meraih telapak tangan mulus istrinya. "Begini, kita duduk dulu saja dan aku akan jelaskan baik-baik."


"Enggak perlu duduk. Langsung aja ngomong sekarang. Cepetan!" Luna sedikit menyentak karena terlanjur kesal bukan main.


"Yang menelepon aku itu namanya Bobby, seperti yang kamu tahu tadi. Dia itu personal assistant-nya Malena." ungkap Noah.


Lepas sudah kesabaran yang Luna tahan ketika ia mendengar nama mantan istri suaminya disebut. Bukan rahasia umum lagi, nama Malena seakan membuat Luna alergi.


"Hubungannya sama kamu apa Mas? Ngapain asistennya Mbak Malena telepon kamu? Ada urusan apa?" Luna mencecar Noah dengan berbagai pertanyaan.


"Bobby datang ke kantor tadi. Dia memohon agar aku mau menjenguk Malena di rumah sakit. Kata Bobby, sakitnya Malena itu lumayan parah. Kurang lebih dia sudah opname selama 1 bulan terakhir ini."


"Kenapa kamu enggak cerita apa-apa ke aku?" ada perasaan sedikit kecewa dalam lubuk hati Luna karena Noah tak bercerita.

__ADS_1


"Ya ini kan lagi ngomong Lun.."


"Kalau enggak ketahuan mana mungkin mau ngomong. Iya kan?" sindir Luna tak suka.


Noah pun hanya bisa diam saja. Ia tak mau menampik perkataan Luna barusan karena apa yang diucapkannya memang benar. Andai kata di tidak ke-gap bertelponan dengan Bobby, Noah tak mungkin jujur pada istrinya.


"Terus kamu jawabnya apa, pas Bobby itu datang ke kantor?" Luna bertanya lagi sinis.


"Aku menolak untuk datang ke rumah sakit kok. Aku bilang tidak bisa."


"Kalau tadi nolak, sekarang berubah pikiran begitu?"


"Maksudnya gimana?"


"Gendang telingaku masih berfungsi dengan baik ya, Mas! Aku tadi dengar kamu tanya-tanya alamat rumah sakit tempat Mbak Malena dirawat beserta nomor kamarnya lengkap begitu. Berarti tandanya kamu mau jenguk dia kesana kan?!" Luna berasumsi sendiri.


"Jangan sok tahu! Kata siapa aku mau menjenguk Malena? Memangnya tadi ada kata-kataku yang menyebut kalau aku akan pergi ke rumah sakit menemui Malena? Kan enggak Lun..." Noah beralasan.


"Lah tadi itu?!"


"Makanya kamu jangan ngawur sayang, jangan suka mengedepankan emosi. Dengar dulu perspektif dari aku baru bisa berkomentar."


Luna memalingkan wajahnya karena ia enggan melihat Noah. Sebal sekali rasanya. Menatap matanya saja sudah membuat Luna naik pitam.


"Aku itu minta alamat rumah sakit dan nomor kamar inapnya Malena, cuman buat kirim makanan dan buket bunga saja untuk formalitas. Karena aku tidak akan mungkin hadir kesana, makanya aku inisiatif untuk mengiriminya sesuatu. "


Jawaban Noah tak membuat Luna puas. Yang ada dia justru tambah menggeram kesal dan menatap Noah nyalang.


"Kamu mau kirim makanan dan buket bunga buat mantan kamu?"


"Iya. Anggap itu sekedar formalitas semata. Bagaimanapun juga Malena sedang sakit sekarang. Dia butuh setidaknya support untuk punya semangat sembuh. Biar tidak merepotkan orang sekitar. Bobby akan terus menerorku untuk datang ke rumah sakit. Mungkin kalau aku kirimi sesuatu, dia akan berhenti memaksa." ujar Noah polos.


Mulut Luna menganga lebar tak percaya. Apakah suaminya ini berbicara dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya?


"Kamu tuh paham gak sih Mas, justru kelakuan kamu nanti malah membuatnya makin besar kepala. Dia akan semakin ngelunjak dan berharap lebih sama kamu. Lebih baik enggak usah lah kirim-kirim begitu. Kamu aja sama istri sendiri enggak pernah beliin buket bunga, ini mantan istri malah diistimewakan!" cibir Luna dengan kata-kata pedas.


"Kenapa jadi kita yang berantem begini sih sayang? Hal ini tidak perlu diributkan terlalu besar." Noah tak paham dengan sikap Luna yang akhir-akhir ini begitu fluktuatif tak menentu.

__ADS_1


"Ya udah lah.. terserah kamu deh Mas mau ngapain. Aku enggak akan larang-larang lagi. Mau kamu jenguk dia, mau kirim buket bunga plus makanan..terserah deh! Aku pusing sama kamu." Luna menghempaskan genggaman tangan Noah dan melengos pergi begitu saja dari hadapan suaminya.


***


__ADS_2