
Noah
Pagi ini, aku sudah ada janji temu dengan Luna di sebuah cafe yang terkenal akan menu minuman kopinya yang mantap. Aku sengaja memilih cafe itu karena letaknya yang tidak jauh dari kantor, plus cafe itu memang biasa kujadikan tempat nongkrong bersama Akbar dan Helen.
"Selamat pagi, Om..maaf saya sedikit terlambat! Tadi saya harus mengantarkan Dion dulu ke sekolah," sapa Luna yang baru saja datang dari arah belakang.
Aku melirik jam tangan, "No problem, saya paham kok. Jam-jam segini kan memang waktunya anak-anak berangkat sekolah. Silahkan duduk dulu Lun!"
"Terima kasih Om.."
"Kamu sudah sarapan belum?"
"Belum Om, tadi enggak keburu..habis antar Dion saya langsung cepat-cepat kesini takut terlambat!"
Aku terkekeh pelan, "Hahaha...ya sudah kalau gitu kamu pesan makan aja disini, sekalian sarapan!"
"Memang disini menyediakan menu makanan juga? Aku pikir cafe ini cuman khusus untuk menjual kopi aja!!"
"Ada kok, nih kamu pilih sendiri saja!"
Aku pun menawarkan Luna untuk memesan makanan. Buku menu di meja yang sejak tadi tertindih dibawah sikuku langsung kuserahkan padanya, biar Luna bisa pesan sendiri karena aku tidak tahu selera dia apa.
Tanpa malu-malu, Luna menyambar buku menu tersebut dari tanganku. Dia mulai membalikkan lembar halaman menu untuk memilih makanan apa yang sekiranya cocok dimakan saat sarapan ini.
"Ini, Om ikutan makan juga kan?"
"Sebenarnya saya tidak terbiasa untuk makan pagi. Normalnya saya rapel di jam makan siang. Konsepnya jadi brunch alias breakfast-lunch..." ungkapku jujur.
__ADS_1
Sejak kecil aku memang susah diatur kalau urusan sarapan. Setiap pagi Mommy pasti kelimpungan untuk membujukku makan. Aku selalu menangis meronta-ronta dan menolak hingga kelijatan.
Sampai aku dewasa, beliau akhirnya bosan sendiri dan mulai berhenti memaksaku makan pagi. Mommy sudah paham akan tabiatku yang tak mau mendengar.
"Aihhh...padahal itu enggak baik lho Om, telat makan itu cenderung pemicu menjadi pemicu untuk penyakit maag!"
Deghhh....
Aku jadi merasa tersindir karena tebakannya tepat sasaran, "Ironisnya, kamu benar! Saya memang punya penyakit asam lambung.."
"Tuh kan bener! Itu akibat telat makan dan gak teratur. Udah mending sekarang Om ikut pesan juga! Kalau enggak terbiasa makan pagi, pilih makanan yang sekiranya ringan. Asalkan perut keisi!" Luna seperti mendapat jackpot dan mulai menceramahiku.
"Iya..iya..ini saya pilih," aku mengiyakan saja.
Entah kenapa perempuan ini selalu bisa membuatku tak memiliki pilihan. Bisa-bisanya aku menurut tanpa perlawanan.
5 menit setelahnya, aku mengangkat tanganku sebagai gesture agar seorang waitress datang ke mejaku dan Luna untuk melayani pesanan kami.
"Untuk minumannya mau pesan apa Kak?" Waitress itu bertanya dengan senyum ramah.
"Vanilla Milkshake, tapi enggak pakai es karena masih pagi!" sahut Luna lagi.
Tak kusangka, ternyata Luna ini perempuan yang berbeda dari yang biasa kutemui. Kalau dilihat-lihat dari urusan makanan, dia bukanlah perempuan yang jaim.
Baru saja dia memesan makanan dengan porsi yang cukup banyak. Biasanya cewek-cewek itu kan makannya cenderung sedikit saat sarapan. Kalau Luna, gadis itu sangat berbeda. Menu yang dipilihnya tidak tanggung-tanggung.
Tapi jangan salah, aku justru senang dengan sikap transparannya ini. Kalau lapar ya bilang lapar. Tidak perlu bergaya bilang kenyang-kenyang, tahunya di rumah makan lagi karena merasa tidak puas.
__ADS_1
"Baik Kak, sudah saya catat. Untuk Kakaknya mau pesan apa?" kini waitress itu menoleh ke arahku.
"Saya pesan cream chicken soup dan dua lembar roti tawar saja. Minumnya lemon tea hangat satu!" aku menyebutkan pesananku.
Roti dan sup sepertinya tidak terlalu buruk. Kalau pesan makanan seperti Luna, perutku pasti akan begah dan tidak kuat.
"Baik Kak, pesanannya sudah saya catat. Mohon bersabar dan ditunggu dalam 20 menit ya, terima kasih.."
Waitress itu segera pamit undur diri dan menundukkan kepalanya. Ia bergegas menuju bagian kitchen untuk segera memproses pesanan kami.
"Kenapa Lun? Ada yang salah?" kulihat Luna agak sedikit kebingungan dan terus menatapku aneh dengan buku menu yang masih dipeganginya.
Luna memajukan wajahnya ke hadapanku dan berbisik, "Om...yakin sama pesanan itu?"
"Ya yakinlah...kenapa kamu nanya begitu?" Aku ikut-ikutan memelankan suara dan memajukan wajahku padanya.
"Emangnya kenyang??"
Gubrakkk....
Ada-ada saja pemikiran perempuan unik ini. Aku kira dia tadi mau berbicara sesuatu yang serius atau apalah, ternyata dia hanya tanya apakah aku akan kenyang atau tidak!
"Kan saya tadi udah bilang Lun, kalau sarapan, saya memang sedikit makannya. Tidak dipaksa karena takut muntah seperti yang sudah-sudah terjadi. Itu sebabnya, nanti pas makan siang baru jadi ajang balas dendam karena belum makan dari pagi!"
Luna melengkungkan bibirnya kebawah. "Hmmm..aneh juga..tapi ya sudahlah suka-suka Om saja!"
Kemudian aku berkata, "Oh ya, ini kita ngobrol ringan-ringan dulu aja ya! Setelah makan nanti, ada beberapa hal yang mau saya bahas sama kamu."
__ADS_1
"Siap, Om..saya ngikut aja!" angguk Luna patuh.
***