Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Ketakutan Luna (Part 2)


__ADS_3

"Lihat aku, dan tatap mataku." Noah menangkup sisi wajah Luna agar pandangannya lurus menghadap Noah.


"Dengar Luna," lirih Noah."Aku sepenuhnya sadar telah melakukan kesalahan. Dan untuk itu aku minta maaf sama kamu. Aku seharusnya tidak bohong. Aku seharusnya tidak mengantar Malena pulang, hingga membuat kamu kecewa seperti ini. Maafkan kesalahanku.."


Noah memajukan tubuhnya untuk mengikis jarak antara dirinya dengan Luna.


"Kamu percaya kan sama aku?" ucap Noah mendayu. "Tolong jangan diam saja Lun, aku jadi tidak tenang melihat kamu seperti ini!"


Luna enggan menanggapi sehingga ia memilih untuk memalingkan wajahnya agar netra keduanya tak bisa saling temu.


"Tidak bisakah kamu melihat ketulusan dan keseriusan pada kedua bola mataku Lun? Katakan padaku, harus dengan cara apa agar kamu percaya?" lirih Noah.


Luna akhirnya mendongakkan kepalanya, menatap netra Noah secara intens. Bibirnya mengatup rapat menahan isakan tangis agar tidak meledak, sebab Luna tak ingin terlihat lemah dihadapan suaminya yang selalu membuatnya luluh.


Ingin hati Luna bersuara, namun niat itu dia urungkan. Lidahnya mendadak kelu dan kaku ketika hendak untuk merespon. Entah kenapa Luna merasa kesal dengan Noah yang masih berhubungan dengan mantan istrinya.


Noah kembali meyakinkan, "Terlepas dari fondasi pernikahan kita yang dilabeli dengan kata terpaksa atau apapun itu, aku akan selalu berpegang teguh pada komitmen yang aku buat sendiri Lun.."


"Ketika kita berdua telah mengucapkan janji suci di altar, maka mulai saat itulah...aku sudah memutuskan untuk menjadikan kamu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupku. Aku memilih kamu untuk menghabiskan sisa hidup bersama."


Hati Luna sedikit menghangat mendengar pernyataan Noah barusan. Timbul kelegaan yang menguar di dada, seakan ia mendapat sebuah validasi dan kejelasan tentang bagaimana hubungan mereka untuk kedepannya.


"Aku tegaskan sekali lagi, apapun yang terjadi..aku tidak akan pernah kembali dengan Malena." Noah menekankan kalimat terakhir dalam ucapannya. "Dia hanyalah seonggok masa lalu yang sudah aku kubur dalam-dalam kenangannya."


"Kamu adalah istriku sekarang. Kemarin, besok, dan selamanya akan tetap seperti itu. Tidak ada satupun orang yang dapat mengubah fakta itu."


Dan saat itulah, pertahanan Luna akhirnya tak terbendung lagi. Cukup sudah ia mendiami sang suami yang tengah memohon maaf tiada henti dihadapannya. Luna jadi tak tega sendiri melihat kemurungan Noah.

__ADS_1


Segera saja, Luna menghamburkan pelukannya dalam dekapan tubuh kekar Noah. Dia tak dapat lagi membendung tangisannya yang sedari tadi sudah memupuk tinggi di kelopak mata.


Di pundak suaminya itu, Luna menumpahkan air mata keresahannya yang mengusik hati. Sedangkan Noah, dengan senang hati ia menyambut lebar pelukan dari istri kecilnya.


"Hiksss...hiksss...." suara isak dari Luna. "Aku takut Mas...aku enggak mau ditinggal!" Luna mencurahkan segala ketakutannya.


"Siapa juga sih yang mau ninggalin kamu!" Noah mengelus rambut Luna sembari mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan pergi ya Mas, janji sama aku...jangan pergi!" Luna mengulangi kata-katanya tadi.


"Mana mungkin aku tinggalin kamu dalam keadaan hamil begini Lun!" ucap Noah gemas. "Tidak hamil pun, juga aku akan janji untuk tetap bersama kamu. Aku itu sayang sama kamu..."


Luna mengendurkan pelukannya dan kembali bertanya, "Mas beneran sayang aku?"


"Ya sayang Luna...kalau tidak sayang, mana mungkin itu benihku tertanam jadi didalam perut kamu! Itu apa namanya kalau tidak sayang huh? Itu buah hati kita...dia ada disana karena ketulusan dan kasih sayang dari kita sebagai orang tua ketika membuatnya...." terang Noah.


Luna menarik hidung Noah kedepan, "Ya makanya, jangan aneh-aneh nganterin mantan pulang ke rumahnya! Kalau bukan gara-gara Mas yang bikin aku sedih, aku juga tidak mungkin nangis!" protes Luna lantang.


"Maaf Lun, sumpah demi Tuhan...yang tadi itu pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak pernah macam-macam. Aku hanya mengantarnya pulang dan semua urusan selesai." Noah mengangkat dua jarinya membentuk tanda damai.


"Tidak ada niat sedikitpun untuk aku kembali menjalin hubungan dengannya sekalipun ada kesempatan yang besar didepan mata. Tidak akan. Niatku mengantar hanya murni sebatas rasa kasihan, itu saja." Noah membela diri lagi.


"Ya udahlah...enggak usah digubris lagi! Cukup sampai disini kita bahas-bahas soal mantan kamu yang Mak Lampir itu Mas! Kali ini aku maafkan karena aku sedang baik dan dalam mode melunak. Jangan pancing emosiku lagi!" Luna mengancam serius.


Noah mengangguk sembari berdehem. "Hmm..kamu bisa pegang janji aku."


"Dan satu lagi Mas...please apapun yang terjadi, kamu jangan lagi bohongin aku..aku enggak suka! Sebagai orang yang pernah dikhianati dan dibohongi, tentu kamu paham kan bagaimana rasa kecewanya ketika tahu?" singgung Luna yang membuat hati Noah sedikit tersentil mendengarnya.

__ADS_1


Benar juga apa yang dikatakan Luna. Noah pernah dibohongi dan diselingkuhi hati oleh mantan istrinya. Seharusnya dari situ, Noah tahu betul jika seseorang yang dibohongi itu akan memicu timbulnya rasa sakit hati dan krisis kepercayaan yang tinggi. Noah tak ingin hal itu terjadi.


"Ingat ya Mas, baik kenyataan itu buruk atau tidak...kamu wajib untuk tetap jujur mengungkapkannya padaku. Aku enggak suka kebohongan. Jika hubungan kita tidak dilandasi dengan kepercayaan satu sama lain, maka apa artinya pernikahan?" cecar Luna lagi.


"Kamu benar Lun, itu sebabnya aku salah. Soal kamu marah atau tidaknya, itu urusan belakangan. Yang terpenting, aku harus jujur dulu. Benar begitu?"


Luna mengangguk dan memancarkan senyuman tipisnya.


"Terima kasih ya kamu sudah mengingatkan aku. Kejadian hari ini tentu akan kujadikan sebagai pelajaran untuk introspeksi diri. Makasih juga karena kamu sudah sabar dan berlapang dada untuk menerima kekuranganku ini.." ujar Noah tulus.


Tuhan begitu baik telah memberikannya seorang wanita cantik bernama Luna yang sekarang menjadi pendamping hidupnya untuk selama-lamanya. Noah tak mungkin dengan bodohnya menyia-nyiakan wanita sebaik Luna. Dia harus selalu banyak-banyak bersyukur atas hal itu.


"Aku jadi dimaafin kan ini?" Noah menoel dagu Luna jahil sambil menaik-naikkan alisnya.


Luna mengedikkan bahu. "Tergantung..kalau kamu ulangi lagi, aku malas maafin kamu!"


"Iya..iya.. tidak akan diulangi. Berarti intinya dimaafin gak nih?" tanya Noah.


"Hmm..dimaafin!" jawab Luna ketus.


"Yes!! Aku lega..kalau gitu dinner nanti malam tetap jadi ya? Pakdhe dan Budhe kamu sedang dalam perjalanan menuju kemari. Kamu harus terlihat happy, okay?" Noah memainkan kedua pipi gembul Luna dengan gemas.


"Iya Mas Noah.." Luna mengiyakan saja.


Keduanya kini mengubah posisi duduk mereka dengan Noah yang memeluk Luna dari belakang. Lengan kekar Noah melingkar di pinggang Luna secara erat seakan tak ingin dilepaskan. Dengan perasaan nyamannya, Luna pun ikut menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.


Setelah drama rumah tangga mereka terselesaikan juga pada akhirnya, kini Noah dan Luna memutuskan untuk lanjut menonton film dari televisi kamar yang sempat berhenti diputar karena perdebatan keduanya barusan.

__ADS_1


Karena masalah sudah clear, mereka bisa lanjut saling bercengkrama dan bermanja-manja lagi berduaan menikmati tayangan film sambil memakan semangkuk popcorn.


__ADS_2