
Noah
"Mas, ini bawaanku kenapa banyak banget ya? Padahal udah aku kurang-kurangin lho bajunya!" kata Luna sambil memilah-milah baju, tas, serta sepatu yang mau dibawa.
Lusa kami berdua akan bertolak menuju Yunani. Dan istriku saat ini, sedang mengeluh sebal hanya karena perkara barang bawaan. Sudah hampir 3 jam lamanya dia bolak-balik membongkar pasang baju ke dalam koper dan mondar-mandir tidak jelas di walk in closet.
"Memang setelah packing jadi berapa koper?" tanyaku penasaran sambil berbaring diatas kasur mengutak-atik iPad.
"Untuk aku sendiri jadinya dua koper besar sama satu koper kecil, Mas. Yang koper kecil biar nantinya mau aku taruh kabin. Total ada tiga koper yang mau aku bawa dan ini belum termasuk sama kamu lho, Mas!" jawabnya.
Aku memundurkan wajahku sejenak menutupi keterkejutan, "Banyak juga ya? Kamu memangnya bawa apa saja?"
Seingatku, dulu waktu kami honeymoon kopernya hanya butuh satu untuk per masing-masing orang. Durasi perginya pun juga sama, satu bulan. Tapi kenapa liburan kali ini kopernya lebih banyak?
Luna lalu menjelaskan, "Koper polkadot merah khusus baju-baju aku. Yang koper hijau tosca khusus untuk sepatu dan tas. Kalau koper kecil ini isinya ada camilan-camilan aku sama beberapa essentials. Seperti sabun cuci muka, sikat gigi, skincare, parfum, make-up, sama medical kits. Nanti kan perjalanannya jauh, makanya aku sengaja siapkan di koper ini."
Wanita umumnya begitu. Selalu heboh sendiri. Mau liburan saja bawaannya sudah seperti hendak pergi berperang. Rupanya tabiat istriku ini tidak jauh beda dengan Mommy dan Kak Isabelle yang dulu pun juga sama.
"Kayaknya ini gara-gara aku kebanyakan bawa coat deh Mas!" celetuk Luna.
"Coat kan memang tebal-tebal, makanya agak makan tempat. Coba kamu pakai vacuum storage bags. Itu bisa menghemat space di koper," aku memberikan saran.
"Sudah Mas, nih lihat..baju-bajunya udah aku plastikin terus divakum. Tapi ya begitu, tetep masih enggak muat. Gimana dong? Kayaknya ini bakalan overload deh bagasinya!" Luna memanyunkan bibirnya sambil berkacak pinggang.
"Kalau begitu ya tidak apa-apa, nanti kita bisa nambah bagasi," balasku santai namun Luna masih diam tak merespon.
Aku curiga kalau Luna ini mengkhawatirkan soal penambahan biaya untuk additional baggage yang bisa jadi membengkak.
"Kenapa diam, sayang? Kamu takut aku marah karena bagasi-nya overload yang otomatis kena charge lagi?" tanyaku hati-hati.
Luna menggeleng cepat, "Bukan itu Mas!"
__ADS_1
"Terus kenapa?" aku menaikkan salah satu alisku.
"Kita sih bisa aja nambah. Cuman yang jadi pikiran aku, kita itu liburan perginya hanya berdua. Enggak bawa asisten dan enggak ada pendamping siapa-siapa. Agaknya bakal sedikit ribet deh Mas kalau bawaannya segede gaban gini!" Luna sedikit mempertimbangkannya.
Betul juga pemikirannya. Luna sedang hamil. Mustahil aku meminta dirinya untuk ikut angkat-angkat. Pastinya hanya aku seorang yang akan dipasrahi mengurus bagasi dan perintilannya.
Belum sampai di Yunani dan Belanda, bawaannya sudah segini banyak. Bagaimana saat pulang nanti? Tidak mungkin Luna tidak berbelanja. Akan lebih repot lagi.
"Terus kamu maunya bagaimana? Mau coba untuk disortir lagi?"
"Hmm...bingung." Luna menggaruk pelipisnya yang tidak gatal seraya memegangi perutnya. "Ini tuh udah paling pol aku sortir, Mas. Aku pengen banget bawa ini semua. Biar nanti sekalian buat kita foto-foto, jadi bisa ganti-ganti gitu!"
"Ya sudah, tidak apa-apa. Solusinya tinggal tambah bagasi saja. Soal koper, aku mampu kok mengurusnya. Kamu terima beres." aku mengalah.
Tak mengapa jika aku harus angkat-angkat sendiri. Yang penting istriku senang. Dia bisa belanja sepuasnya tanpa harus mikir soal bagasi.
"Serius, Mas? Kamu enggak marah?"
"Fix ya berarti kamu enggak marah?" Luna memastikannya sekali lagi.
Ibu hamil satu ini memang menggemaskan. Sudah dibilang tidak apa-apa, masih saja ragu. Akhirnya aku putuskan untuk turun dari ranjang dan mendekat menghampirinya.
Dengan gerakan cepat, kubungkam bibir ceriwisnya itu dengan sebuah ciumann dahsyat. Kuraih pinggang Luna dengan tangan kananku, dan tangan yang satu lagi aku gunakan untuk menyentuh tengkuk lehernya agar ciumann kami lebih rapat.
Luna menepuk-nepuk bahuku, "Hmpptt...hmpptt!"
Muachh...
Kulepaskan ciumann kami setelah dirasa aku sudah puas bermain-main dengan bibirnya yang gemas itu.
"Kamu ihh...mau bikin aku pingsan apa! Pelan-pelan dong, rasanya aku sampai habis oksigen!" Luna menegurku tapi aku tak perduli.
__ADS_1
"Ya habis bibir kamu itu menggoda kalau pas manyun-manyun begitu, aku tidak tahan mau cium!" ujarku.
Masih dalam mode berpelukan dan saling bermanja-manja, tiba-tiba saja pintu kamar kami diketuk-ketuk dari arah luar.
Tokkk...tokk...tokk
"Permisi, Tuan..Nyonya..."
Aku pun langsung mengendurkan pelukan kami dan berjalan membuka pintu setelah mendengar suara Sari yang memanggil.
Ceklek...
"Ada apa, Sar?" tanyaku to the point.
Sari tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya, "Maaf menganggu waktunya Tuan dan Nyonya, saya hanya mau menyampaikan kalau dibawah ada tamu. Beliau mencari Nyonya Luna, katanya..."
Luna yang tadi masih didalam kini ikut bergabung mendekat padaku diujung pintu, "Kenapa Mas?"
"Ini..katanya ada tamu diluar yang cariin kamu," sahutku
"Siapa Mbak tamunya?" Luna balik bertanya pada Sari.
"Hmm...Itu Nyonya..tamunya..." Sari agaknya sedikit ragu untuk berbicara seperti sedang ketakutan.
"Kalau ngomong yang jelas Sari, siapa yang cari istri saya?" tanyaku mendesaknya berbicara.
"Tamunya itu Bapak Brahim dan Ibu Jelita."
Deghhh...
Sontak aku melirik Luna yang wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Aku bisa merasakan tubuhnya melemas dan pikirannya seperti kosong.
__ADS_1
***