
Luna
Ceroboh. Aku benar-benar ceroboh. Bagaimana bisa aku salah mengambil koper? Harusnya sebelum meninggalkan villa tadi, aku mengeceknya kembali. Dan sekarang, mau tidak mau aku harus menghadapi konsekuensinya.
Aku harus siap menanggung malu. Siap menghadapi reaksi Mas Noah nantinya. Dia pasti akan menggodaku habis-habisan. Meskipun Mas Noah itu orangnya cuek dan dingin, tetapi dia punya sisi jahil dalam dirinya. Aku sudah bisa membayangkan wajah menyeringai Mas Noah yang akan meledekku.
"Hmm..tenang Luna, tenang..everything will be okay!" aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Jantungku rasanya dag-dig-dug. Padahal waktu aku membeli lingerrie itu kemarin, rasanya seperti tanpa beban. Bahkan aku sudah sesumbar akan percaya diri dan baik-baik saja ketika malam pertama.
Yang ada di otakku saat itu, aku hanya ingin membuat Mas Noah senang. Biasanya, seorang pria akan mudah terpikat dengan godaan yang seperti ini.
Aku mensugesti diri sendiri, kalau aku berpakaian yang hot tiap malam, Mas Noah akan cepat jatuh cinta padaku. Belum lagi aku selalu dikompori oleh Mommy Adelia, Kak Isabelle, dan Friska. Semakin tertantang-lah aku.
"Apa aku coba dulu kali ya? Mungkin enggak terlalu buruk!" pikirku dalam hati.
Akhirnya, kuambil salah satu baju tipis tersebut yang ada di koper secara acak. Dan terpilih lah sebuah lingerrie berwarna pink neon dengan motif renda menerawang open front.
Kemudian aku memutar-mutar badanku agar lingerrie yang kupakai bisa terlihat full di kaca bagaimana bentuknya.
"Not bad, tapi kalau dilihat Mas Noah tetep aja malu...gimana ya, masa aku mau pinjam baju Mas Noah? Malah aneh nantinya..." aku berceloteh sendiri.
Ketika aku sedang asyik mencoba, Mas Noah tiba-tiba sudah selesai mandi. Karena kaget, aku refleks membuat gerakan untuk menutupi tubuhku.
Mas Noah keluar tanpa memakai atasan, memperlihatkan perut kotak-kotaknya yang menawan. Hanya handuk putih yang terlilit di pinggangnya. Rambutnya terlihat segar sehabis keramas. Buliran air juga masih tampak di pucuk-pucuk rambut.
Awalnya Mas Noah belum sadar. Namun ketika pandangannya beralih menatapku, kedua bola mata Mas Noah terbelalak lebar.
"Ll--Lunnna? Kk--kamu ngapain?" ucap Mas Noah terbata-bata.
"Ak---aku...aku..hmm, itu Mas..aduh aku bingung ngomongnya!"
Seketika suasana mendadak hening. Kami berdua sama-sama terlihat canggung dan tak ada yang berani memulai percakapan. Mas Noah masih berdiri tegak diambang pintu kamar mandi. Sedangkan aku menundukkan kepal sembari memainkan jari-jari.
Aku tak berani menatap Mas Noah, hanya sekilas saja. Dari sini, aku bisa melihat jakun Mas Noah sudah naik turun seperti menahan sesuatu. Apakah dia mulai terpancing?
"Lun, kamu baik-baik saja kan?" tanya Noah pelan-pelan.
Aku mendongakkan kepalaku. "Baik kok Mas," jawabku lantang.
"Maaf Lun, jangan tersinggung ya. Tapi..apa kamu sengaja berpakaian seperti itu?" Mas Noah memicingkan matanya.
Gawat. Aku harus menjawab apa ini? Niat awal memang sengaja, tapi realitanya nyaliku semakin ciut. Karena sudah kepalang tanggung, aku gas saja lah!
__ADS_1
"Iya Mas, memangnya kenapa?" aku berjalan mendekat kearah Mas Noah.
Mas Noah meneguk air liurnya kasar.
"Tidak masalah sih, aku cuman speechless saja." Mas Noah salah tingkah.
"Speechless gimana maksudnya?" balasku dengan nada manja.
"Bukan apa-apa kok. Aku cuman kaget sesaat saja tadi.." lirih Mas Noah.
"Aku cantik enggak Mas, pakai ini?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Cantik." Mas Noah menjawabnya cepat. "Mm--maaf, kalau terlalu lantang suaraku...kamu cantik kok."
Dalam hati aku tersenyum bahagia mendengarnya. Seperti ada kupu-kupu yang baru saja keluar dari perutku. Dipuji cantik oleh suami sendiri itu rasanya luar biasa.
Kali ini rencanaku berhasil. Dari raut wajahnya, Mas Noah terlihat gugup dan tegang. Benar juga kata Kak Isabelle, kita sebagai perempuan jangan mau kalah dan bersikap pasif saat malam pertama agar tidak terintimidasi.
"Mas Noah..." aku kembali berjalan mendekat pada Mas Noah dan mengalungkan tanganku di lehernya.
Dan tanpa diduga-duga, Mas Noah membalasnya balik dengan memeluk pinggangku. Sekarang giliran aku yang salah tingkah sampai-sampai detak jantungku yang berdegup kencang mungkin bisa terdengar dari luar.
"Pipi kamu merah. Tegang ya?" ledek Mas Noah.
"Enggak, aku biasa aja...Mas Noah mungkin yang gugup, tuh jakunnya naik turun!" sahutku tak mau kalah.
"Sok tahu! Orang aku biasa aja..kan aku udah pernah. Kamu kali yang gugup...ini baru pertama kali kan buat kamu?"
Deg...
Mas Noah balik menyindirku halus. Tentu saja ini yang pertama buatku. Aku masih tersegel dengan sempurna bagaikan berlian.
"Aku tidak akan memaksa kamu Lun. Kalau kamu belum siap, jangan dipaksakan. Aku masih bisa bersabar kok." ucap Noah tulus.
Tidak. Aku tidak akan mundur. Kesempatan sudah ada didepan mata. Semakin cepat aku melakukan hubungan suami-istri dengan Mas Noah, maka hubungan kami akan ada kemajuan.
"Aku siap kok Mas kalau melakukannya sekarang!" seruku.
Mas Noah menyibak anak rambutku ke belakang, lalu mengelus pipi kananku.
"Kamu yakin?"
"Yakin. 100 persen." ucapku mantap.
__ADS_1
Mas Noah tertawa pelan dan menatapku lekat. Setelahnya Mas Noah memajukan wajahnya untuk menciumku, membuat bibir kami telah bertaut dengan sempurna.
Mas Noah menahan tengkuk leherku dan mengeratkan pelukannya di pinggangku, membuatku menjinjit hampir melayang.
Tak butuh waktu lama, Mas Noah langsung mengangkat tubuhku dan membawaku terhempas ke kasur. Kegiatan panas tersebut akhirnya berlanjut hingga tak terasa tubuh kami sudah benar-benar polos entah sejak kapan. Handuk milik Mas Noah dan lingerrie yang kupakai tadi tergeletak begitu saja di lantai.
Mas Noah melakukan pemanasan terlebih dahulu. Dia menciumi leherku dan area sekitarnya dengan sentuhan lembut. Sensasinya benar-benar sulit dijelaskan. Tangan Mas Noah kini beralih turun ke dua bongkahan aset depanku.
"Ahhhh..." suara dessahan tak lagi dapat ku bendung.
Keluar mengalir begitu saja tanpa aba-aba karena Mas Noah terlalu kencang merremas dua gundukan milikku.
"Lun, ini akan terasa sakit diawal, nanti kalau kamu tidak kuat..kamu boleh teriak atau bilang stop. Mengerti?"
Aku mengangguk paham. Aku sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan Mas Noah, kami akan melakukan penyatuan. Sebagai orang yang tidak berpengalaman, aku hanya mengikuti alur. Biarkan Mas Noah saja yang memimpin.
Bless...
Junior perkasa milik Mas Noah akhirnya telah menembus dinding pertahananku setelah beberapa kali percobaan.
"Awwww...." rintihku kesakitan.
Rasanya memang sakit luar biasa, aku bahkan mencakar punggung kekar Mas Noah. Tetesan air mata mengalir di sudut mataku menahan rasa sakitnya.
"Sakit Lun? Kamu mau kita berhenti dulu.." Mas Noah menyadari kalau aku butuh penyesuaian.
"Jangan Mas, udah tanggung...terusin aja!"
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk mengiyakan.
Bless...
Mas Noah memulai permainannya lagi hingga ia mengerrng kenikmatan. Mas Noah tak henti-hentinya memaju-mundurkan juniornya ke dalam lembah surgawiku.
Dan malam ini, aku dan Mas Noah larut dalam penyatuan kami hingga kegiatan panas tersebut terus berlanjut hingga pagi menjelang.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.
__ADS_1