
"Mbak Poppy ada disini Mas? Mau ngapain dia?" tanya Luna dengan nada ketus.
Sudah menjadi rumusan, jikalau membahas tentang Malena atau Poppy dan apapun itu yang berhubungan dengan mereka, mood Luna menjadi down seketika.
Noah mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku juga tidak tahu kan baru dikabari sama Siska. Mungkin dia mau membahas soal pekerjaan. Tadi siang ayahnya Poppy rapat di ruang meeting bersamaku dan Daddy di lantai 5. Kamu pasti sudah ketemu sama beliau."
Memang benar. Sebelum masuk kedalam lift tadi, Luna tak hanya bertemu dengan mertuanya saja. Ada pria paruh baya yang bernama Rama Gunawan, sedang berjalan berdampingan dengan Daddy Jonathan.
"Pasti dia mau cari perhatian kamu itu!" cibir Luna tak suka.
"Husshhh..apa sih kamu, jangan berburuk sangka dulu. Mana mungkin dia cari perhatian sama aku. Poppy itu tahu aku sudah menikah sama kamu. Dia pasti mengerti soal batasan."
"Tahu batasan apanya! Kemarin pas datang ke rumah aja dia terang-terangan caper dan melirik kamu terus. Sengaja tuh pasti!" cerocos Luna yang terdengar sinis.
Keheningan menggantung diantara mereka. Sampai Luna akhirnya sibuk sendiri membereskan kotak makanan yang dibawanya dengan asal-asalan sambil menggerutu.
"Ya sudah sana, kamu temui Mbak Poppy diluar, aku mau langsung ke Mall biar diantar sama Karta." Luna membuang mukanya kesamping tak ingin melihat wajah Noah yang tiba-tiba terlihat menyebalkan baginya.
"Jangan mulai lagi sayang..aku tidak mau kita berantem karena hal yang tidak penting. Kita baru saja selesai makan siang dengan suasana hati yang gembira." Noah tak ingin merusak momen kebahagiaan yang baru saja mereka rajut hanya karena seorang Poppy.
Karena tak kunjung mendapat respon dari Luna, Noah berinisiatif mengulurkan tangannya untuk menggandeng Luna.
"Kita temui dia sama-sama, setelah itu kita langsung pergi ke pusat perbelanjaan cari baju kamu. Tidak lama kok, sebentar saja ya?" bujuk Noah.
Luna berdecih kesal. Mau tidak mau dia terpaksa harus mendampingi Noah untuk bertemu Poppy. Kalau tidak diawasi, malah tambah berbahaya.
"Iya udah cepetan...10 menit enggak ada nego!" sahut Luna.
Noah tertawa pelan. "Okay 10 menit. Tidak kurang tidak lebih."
***
Keluar dari ruangan, Noah dan Luna langsung mendapati Poppy sedang duduk dengan kaki menyilang didalam ruang tunggu yang diperuntukkan bagi tamu. Letaknya diseberang meja front office milik Siska--sekretaris Noah.
Ruangan itu khusus dibuat agar tamu yang datang bisa menunggu Noah disitu tanpa perlu masuk ke ruangan pribadi Noah karena itu bersifat pribadi.
"Poppy..?!" ujar Noah sembari jalan mendekat.
Poppy senang bukan main, mendengar suara pria pujaannya memanggil. Sontak dia menolehkan kepalanya...
__ADS_1
"Hai Noa--"
Deghh...
Ucapannya terhenti kala melihat Luna berdiri disamping Noah dengan posisi tangan mereka yang saling bertaut. Raut bahagianya berubah lesu dalam hitungan detik.
"Selamat sore Poppy, ada perlu apa kemari? Ada yang bisa aku bantu?"
"Hhmmm..engg--enggak sih.." Poppy terdengar gugup. "Ak--aku cuman mau kasih kamu ini." sebuah box dengan balutan pita pink berukuran persegi diserahkan pada Noah.
"Apa itu?" Noah menautkan kedua alisnya.
"Itu strawberry cake. Aku yang buat sendiri lho! Bikinnya perjuangan. Gara-gara bikin cake ini, aku sampai enggak ikut rapat tadi sama kamu, Om Jo, dan Papa."
Dengan tidak tahu malunya, Poppy malah memfokuskan pandangannya pada Noah sehingga Luna diabaikan.
"Terima kasih atas kuenya." Noah terpaksa menerimanya untuk menghargai usaha Poppy.
"Semoga kamu suka ya Noah...itu diatas cake-nya ada topping buah stroberi yang masih segar-segar. Manis kok rasa--"
"Ekhhmmm..ekhmmm.." Luna berdehem dan menyela. "Maaf ya Mbak Poppy, tapi sepertinya Mas Noah enggak bakalan suka karena dia enggak doyan buah stroberi!"
Glekk...
"Ehh?! Benar begitu Noah?" Poppy masih tak percaya.
Noah membalasnya dengan sebuah anggukan. "Iya, aku memang tak terlalu suka dengan rasa buahnya karena sedikit masam." ungkap Noah jujur.
"Tapi tidak apa-apa Pop, terima kasih atas effort kamu yang mau meluangkan waktu untuk membuatkan cake ini. Tetap aku bawa kuenya. Nanti akan aku bagi-bagi sama orang rumah," sambung Noah lagi.
Hati Poppy menjadi lega dibuatnya. Walaupun kecewa karena Noah tidak bisa memakannya, paling tidak Noah mau membawa pulang kue bikinannya.
Berbeda dengan Luna yang memutar bola matanya malas. Dia sudah mulai muak melihat sikap Poppy yang caper. Ingin sekali rasanya Luna berlari kencang dan segera pamit undur diri dari situasi yang tidak mengenakkan ini.
Apalah daya, kondisi tak memungkinkan. Luna sedang hamil dan tangannya digandeng erat oleh Noah. No escape.
"Mas, janji kamu 10 menit. Ayo buruan pergi sekarang...aku kan mau beli baju!" Luna tak sabaran dan berkata blak-blakan didepan Poppy.
Biar saja..biar dia lebih tahu diri, pikirnya.
__ADS_1
Noah mengangguk seraya merangkul bahu Luna, memberikan usapan lembut disana. "Iya sayang..sabar."
Luna semakin mendengus kesal. Lihat saja Poppy, wanita itu malah menatapnya angkuh. Motto Luna sekarang adalah cepat-cepat menghindarkan Noah dari Poppy. Tidak ada satupun orang yang boleh mengambil hati Noah darinya.
"Pop, maaf kami tidak bisa lama-lama mengobrolnya. Aku mau menemani Luna pergi keluar sekarang."
Bohong kalau Poppy tidak kecewa. Niatnya datang ke kantor Noah untuk mengobrol lama. Tapi semua niat itu harus diurungkan. Gagal total.
"Kalian mau kemana emangnya?" tanya Poppy penasaran.
"Ke Mall, mbak. Mas Noah mau menemani aku untuk belanja baju-baju untuk ibu hamil." jawab Luna dengan senyuman menyeringainya.
Bahkan dengan percaya dirinya Luna sengaja pamer dengan mengelus-elus perutnya, supaya kedua mata Poppy bisa terbuka lebar melihat baby-bump Luna.
"Loh memangnya kamu tidak bisa beli sendiri Lun? Biasanya istri-istri sosialita atau pengusaha itu kalau ke Mall sukanya pergi sendiri lho..jadi pas habisin uang suami bisa bebas.." terdapat sindiran halus dalam kata-kata Poppy barusan.
Sayangnya Luna tak terpengaruh. Dia justru tertarik untuk memanas-manasi Poppy lebih jauh.
"Maunya sih tadi pergi sendiri Mbak, tapi ya gitu..Mas Noah enggak mau ditinggal. Susah jauh dari aku. Malahan ini Mas Noah sampai rela meninggalkan pekerjaannya buat nemenin aku ke Mall lho.." balas Luna tak mau kalah.
"Ohh..gitu..so sweet banget ya Noah. Kamu memang pria yang penuh perhatian! Luna beruntung bisa diistimewakan begitu." Poppy mencoba menunjukkan sikap ramahnya meskipun didalam hati sudah tak karuan irinya.
"Jelas dong Mbak..makanya Mbak Poppy buruan cari cowok biar bisa diperhatikan sama pacarnya. Kalau udah ada pasangan itu enak, pasti enggak perlu lagi deh caper sama suami orang!" sahut Luna lagi.
"Lunaaa..." Noah menegur istrinya dengan cara berbisik di telinganya.
"Apa sih Mas, kan aku emang benar!" ujar Luna yang kini melipat tangannya.
Sejujurnya Poppy sedikit tersinggung. Mau membalas juga tak tahu bagaimana. Noah menghela nafasnya sejenak. Dia harus segera mencari jalan tengah agar istrinya dan Poppy tidak ribut disini. Bisa rumit nanti urusannya.
"Hmm..Pop, sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Bukan bermaksud untuk mengusir, tapi aku memang sedang sibuk saat ini. Aku mohon pengertiannya." Noah memberi penjelasan.
"Iya Noah enggak apa-apa kok. Aku juga mau balik sekarang karena harus jemput Papa dan Mama di restoran. Mommy sama Daddy kamu masih ada disana juga..."
Deghh..
Luna melirik Noah tajam dengan tatapan yang menyelidik. Maksud Poppy tadi apa? Orang tua Poppy sedang bersama mertuanya di tempat makan sekarang? Memangnya ada acara apa sampai mereka harus bertemu?
Mommy Adelia memang berkawan dekat dengan Mamanya Poppy. Sedang Daddy Jo dan Om Rama adalah rekan bisnis yang begitu plek. Wajar kalau mereka berempat saling kenal. Tapi entah kenapa, ada rasa tak terima didalam lubuk hatinya terdalam, karena mertuanya itu begitu dekat dengan Poppy sekeluarga.
__ADS_1
Luna cemburu. Luna benar-benar tidak bisa menerima fakta ini.
***