PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
100


__ADS_3

Ucapan Rey tidak main -main. Rey paham dan sangat mengerti sekali teguran dan sindiran Clara melalui pelajaran kali ini. Kedua tangan Clara di genggam erat oleh Rey, punggung tangan itu berkali -kali Rey cium sebagai permintaan maaf.


Clara hanya menatap wajah Rey dengan tatapan sendu. Sebenaranya ia tidak mau melakukan ini untuk mengertak Rey, tapi semua ini harus Clara lakukan agar Rey tahu. Sengaja atau tidak sengaja, membantu lawan jenis dalam hal apapun alasannya itu tidak di benarkan, apalagi menyangkut materi atau finansial dan di lakukan secara diam -diam. Terkesan perhatian sekali.


"Ra ... Mau maafin Mas, kan?" tanya Rey kembali dengan wajah memelasnya menatap Clara berharap sang istri yang sejak tadi berusaha membuang muka untuk Rey.


Perasaan kecewa Clara yang sudah menrauh rasa kepercayaan tinggi untuk Rey di hempaskan begitu saja, bagai batu yang di jatuhkan dari atas pesawat mengenai tanah kering.


"Soal maaf itu gampang Mas. Tapi, sebenarnya Mas itu tahu gak sih letak kesalahan Mas itu dimana? Mas paham gak? Jangan sampai Mas itu minta maaf tapi Mas tidak tahu apa kesalahan Mas, itu ssama saja percuma Mas, sia -sia!" tegas Clara pada Rey, suaminya.


Kedua mata Rey berputar dan tatapannya fokus pada dua bola mata ebning dan indah milik Clara yang seoalh meminta jawaban jujur dari Rey saat ini.


Rey menganggukkan kepalanya pelan, dan menunduk.


"Mas tahu. Mas sudah salah membantu Renata tanpa memberitahu kamu, apalagi Mas berkelit itu hanya bantuan biasa yang berujung pada sedekah. Mas janji, Mas akan jujur, terbuka dan transparan soal ini. Tidak akan ada kejadian seperti ini yang terulang lagi. I'm promise," ucap Rey lirih.


"Mas tahu kamu sedih, kecewa dan sakit hati tentunya. Tapi jujur dari dalam hati, bukan ini yang Mas inginka. Memang awalnya Mas pikir dengan tidak memberitahukan pada kamu, semua aman terkendali, walaupun niat Mas juga hanya membantu," imbuh Rey melanjutkan penjelasannya.


"Mas negrti kan sekarang? Rasanya pasangan kita memperhatikan atau di perhatikan oleh lawan jenis yang pernah dekat dengan kita. Jangan pernah main- main dengan masa lalu, atau mencoba iseng Mas. Semua itu berawal dari tidak sengaja, bercanda, dan iseng. Tidak sengaja membalas chat, bercanada melempar pujian di saat bersama, atau iseng mencari kabar atau stalking medsosnya hanya sekedar ingin tahu kabarnya. Itu sama mengkhianati pasangan Mas. Clara tidak mau, semua impian dan harapan yang sudah di susun dengan baik, semua hancur Mas," jelas Clara dengan pandangan tak menentu ke arah Rey. Pemberian maaf Clara belum tulus, masih ada hal yang mengganjal. Clara takut, Rey mengulang kesalahan yang sama.


Rey berdiri memeluk istrinya dengan sangat erat hingga dagunya ia letakkan di bahu Clara sambil emmejamkan kedua matanya.


Rey sadar, betapa bahagianya ia selama ini mendapatkan Clara. Wanita yang di takdirkan hidup bersamanya saat ini. Pertemuan yang tidak di sengaja, hingga perbuatan mereka yang juga di lakukan di luar kesadaran mereka, membuat mereka memiliki tanggung jawab satu sama lain. Tak hanya itu, mereka tertuntut untuk saling menerima satu sama lain mungkin denagn keadaan terpaksa awalnya hingga saat ini mereka sudah terbiasa denagn keadaan dan kondisi ini.


"Maafin Mas, Ra. MAs bersalah sudah membuat kamu kecewa, dan hilang kepercayaan. Mas janji, ini tidak akan pernah terjadi lagi. Mas sayang sama kamu. Mas gak mau kehilangan kamu dan twins," ucap Rey lirih. Lelaki itu sungguh menyesal. Begini rasanya cemburu. Melihat pasangan kita bahagia dengan pemberian orang lain dan memuji di depannya seolah tak ada harganya sama sekali. Padahal, pemberian pasangan itu melebihi segalanya tak tak pernah bisa terhitung tanpa kita sadari.


Hati Clara tersentuh dan luluh dengan ucapan Rey. Lelaki itu seperti batu, sulit mengungkapkan isi hatinya dengan tepat dan benar. Tangan Clara membalas pelukan itu. Ia harus terbuka dan tidak boleh berlarut lama, memberikan pelajaran untuk Rey. Sudah cukup, dan bukan menambah masalah. Saat Rey sudah tahu dan sadar akan kesalahannya, maka Clara sudah cukup bisa bernapas lega. Inilah yang di namakan ujian rumah tangga mereka. Ini masih awal, mungkin di hari -hari selanjutnya akan ada lagi dengan bentuk permasalahn yang berbeda.


Sebuah pernikahan yang wajar tentu di pondasi dengan rasa sayang, rasa cinta, rasa kagum satu sama lain hingga terbentuk rasa percaya, rasa nyaman, rasa aman bila satu sama lain itu maksimal memberikan apa yang di butuhkan pasangannya.


Begitu juga dengan Clara dan Rey yang membangun pernikahannya atas kesalahan fatal, hingga mereka mencoba untuk saling menerima dan memberi semua rasa itu.


"Clara sudah maafkan Mas Rey. Claar harap Mas Rey lebih bisa paham dengan perasaan Clara. Berpikir sebelum bertindak, bertanya sebelum melakukan hal konyol untuk meminimalisir sebuah pertengkaran yang bisa memicu kehancuran. Mas tahu, rumah tangga akan hancur jika rasa percaya itu mulai terkikis. Clara tidak mau itu terjadi. Clara selalu menuruti semua keinginan Mas Rey, untuk apa?" tanya Clara yang berbicara sambil memeluk.


"Untuk membahagiakan joni kan?" ucap Rey lirih.

__ADS_1


Mendengar jawaban Rey, Clara langsung mengendurkan pelukannya dan menatap lekat pada Rey.


"Kok buat joni sih, Mas. Otak Mas itu mulai mesum ya. Dasar dosen mesum," ucap Clara kesal. Sedang serius masih aja kepikiran untuk membahgiakn joni.


Clara berusaha melepaskan pelukan itu dan ingin pergi.


"Eits ... Mau kemana?" tanya Rey tiba- tiba yang mencekal lengan Clara yang ingin pergi dari hadapan Rey.


Wajah Clara mulai suntuk dan malas.


"Mau tidur. Capek Mas," ucap Clara malas.


Rey menatap waktu yang ada di atas televisi LED -nya. Baru juga jam dua siang.


Rey melingkarkan kedua tangannya di pinggang Clara dan mengautkan jari -jarinya yang bertemu di lbelakang tubuh Clara. Wajahnya mendekat, dan menyatukan kening mereka. Rey sedikit menunduk agar kening mereka bersatu.


Dalam suasana hening sekejap dan kedua mata Rey di pejamkan, terdengar detak jantung keduanya yang terus berdetak bahkan lebih cepat dari jarum jam yang menggantung di dinding.


"Mas minta maaf ya, Sayang. Mulai sekarang, apapun itu Mas akan bicarkan sama kamu. Maaf jika Mas salah mengambil keptusan saat itu. Twins ... Maafin Papah ya, Papah tidak akan mengulangi hal yang sama, dan papah berjanji akan selalu membuat Mamah Twins bahagia selalu," ucap Rey penuh penyesalan.


Clara mengalungkan kedua tangannya di leher Rey. Perlakuannya itu jelas menunjukkan bahwa Clara sudah memaafkan.


Tangan Rey mengulur dan memegang pipi Clara.


"Makasih Ra. Mas janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Rey pelan lalu mengecup bibir Clara. Bibir yang selalu membuatnya candu dan berrnafsu. Apalagi siang hari ini, joni sudah meronta ingin melihat pemandangan indah dan keluar dari segitiga pengamannya yang mulai sesak.


"Sama -sama Mas. Makasih juga, udah paham akan kesalahan Mas," jelas Clara.


Komunikasi, adalah hal yang paling sensitif, namun jika di utarakan dengan kepala dingin, baik -baik semua akan tetap baik -baik.


"Ra ...." Rey memnaggil istrinya lirih sekali. Napasnya memburu. Tubuh mereka sejak tadi menempel karena berpelukan.


"Apa?" tanay Clara berpura -pura bodoh.


"Ekhemmm ... Joni mau kenalan sama twins? Boleh kan? Mas mau ajak joni berkelana agar twins lebih mengenal sosok joni sebagai pahlawan karena .... " ucapan Rey terhenti saat Clara mengecup bibirnya.

__ADS_1


CUP ...


"Kalau mau kenalan ya kenalan aja, gak usah pakai baca puisi," ucap Clara pelan. Clara melepaskan pelukan pada tubuh Rey dan berlalu begitu saja menuju kamaranya.


Rey tersenym miring melihat kode Clara yang jelas memperboelhkan joninya berkenalan pada twins di siang hari.


Rey tak akan menyiakan kesempatan ini dan ikut masuk ke dalam kamar menyusul Calra, istrinya. Suhu ruangan itu sudah di dinginkan, dan Clara baru saja keluar dari kamar mandi. Kedua matanya terperangah melihat semua hordeng sudah di tutup membuat kamarnya sedikit gelap. Rey sudah berada di atas kasur dengan selimut menutup tubuhnya.


Clara sama seklai tak curiga, ia pun merangkak naik ke atas kasur dan masuk dalam selimut yang sama. Bagai kucing yang sedang kelaparan dan mendapatkan ikan segar. Rey pun segera memeluk tubuh Clara yang hanya terbalut baju jaring laba -laba. Kaki Rey mengunci tubuh Clara dan tanpa sengaja Clara menyentuh joni yang sudah menegak sempurna.


"Mas ...."


"Iya ...."


"Ini joni?" tanya Clara kemudian.


"Hu um ..."


Clara hanya mmebuang napasnya pelan.


"Cuma kenalaan sama twins. Are you okey, my wife," bisik Rey.


"Tidak menjawab berarti okey," ucap Rey pelan.


Dengan cepat, tubuh Rey mengungkung Clara siang itu. slogan Rey adalah, setiap detik adalah kebahagiaan joni.


"Arghhh ... Mas pelan -pelan dong, nanti twinsnya terbagun,"


"Mana ada twins terbangun. Kalau halu jangan maksimal dong, Ra,"


"Emmmppp ... Mas"


"Hemmm ..."


"Love u,"

__ADS_1


"Love u too, Ra,"


Siang yang cukup membuat keduanya mudah sekali berkeringa Aktivitas yang tak akan berhenti bila keduanya masih menginginkan.


__ADS_2