
Sore ini, Rey akan bermalam di sebuah penginapan dekat rumah Clara bersama kedua orang tuanya yang telah datang dari kota.
Memang niat awalnya mereka mau melamar Clara atau kalau bisa langsung di nikahi.
"Rey!! Gimana sih!! Kamu ini punya acara gak jelas. Acara kok bisa batal. Sebebarnya ada apa?" tanya Ayah David kesal.
Baru saja datang langsung mendapat kabar acara batal.
"Clara mau di jodohkan dengan orang lain Ayah. Semua salah Rey?" ucap Rey lirih.
"Salah bagaimana? Ayah semakin gak pagam sama jalan cerita kamu ini," ucap Ayah David kesal.
"Bapak Clara meminta waktu untuk menunggu," ucap Rey pasrah.
"Dan kamu mau? Dasar anak bodoh!! Percuma Ayah sekolahkan kamu tinggi dan menjadi dosen, untuk urusan sekecil ini kamu gak punya nyali. Ciut!! Lelaki apa kamu? Kayak banci saja!!" teriak Ayah David kesal.
"Ayah ... Rey itu anak kita. Jangan di bodoh -bodohkan gitu. Bunda gak terima ah. Bunda mengandung Rey sembilan bulan itu juga kemauan Ayah lho. Kan Bunda cuma di titipi saja," ucap Bunda Silva kesal.
Bunda Silva memang paling tidak suka jika anaknya di hina walaupun sama Ayahnya sendiri.
"Memang bodoh!! Seharusnya ancam saja. Kalau tidak boleh, maka saya tidak akan menukahi Clara lagi!! Terserah tentang kehamilannya itu kalau memang Bapaknya tidak setuju ya sudah kita pergi saja. Jangan menjatuhkan diri sendiri untuk suatu hal yang kita sudah mau lakukan dengan baik tapi memdapatkan penolakan," tegas Ayah David.
"Sekarang kita gimana Ayah!!" tanya Rey pelan.
"Kita kesana sekarang. Kita lamar sekarang!! Kalau perlu besok langsung ijab kabul saja. Kamu tahu, laki - laki itu yang penting punya pusaka yang besar. Itu modal awal," ucap Ayah David menjelaskan.
"Ayah!! Jangan mengajari yang tidak- tidak!!" teiak Bunda Silva keras.
"Memang benar!! Coba Bunda jawab jujur? Benar gak? Waktu belum tahu pusaka Ayah besar dan kuat kemungkinan besar tidak akan mau? Iya tidak?" ucap Ayaj David tertawa.
"Ayah ... itu ada Rey. Malu," ucap Bunda Silva memberi kode.
"Biarkan saja. Rey itu sudah hampir tiga puluh tahun. Lihat saja, bujang lapuk baru merasakan bercinta, bucin akut kan sampai lupa nyabut, akhirnya Clara hamil. Mau nikahin malah harus nunggu. Kan aneh otu oeang tua!! Dimana -mana langsung gercep!! Memangnya rumah sakit? Nunggu resep obat. Ayo ... Kita kesana sekarang!!" ajak Ayah David semangat empat lima.
Tidak ada kata menyerah untuk suatu kebaikan. Tidak ada kata mundur walaupun sudah mengalah. Tetap berjuang dulu tanpa lihat hasil akhirnya. Bukankah jelas, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil akhirnya nanti?
Skip ...
Di kediaman Clara sore ini terlihat sunyi. Dekorasi untuk acara pertunangan sudah selesai tinggal menunggu acara besok saja.
Bapak duduk terdiam di teras bersama Ibu Clara.
"Pak ... di minum kopinya, nanti dingin malah minta di buatkan lagi," ucap Ibu pelan.
Sejak kedatangan Juragan Ayong tadi, Bapak makin gusar dan bingung.
"Clara masih muntah -muntah?" tanya Bapak pelan dengan rasa peduli.
Biar bagaimana lun Clara adalah anak gadisnya.
"Sudah tidak cuma siang tadi saja," ucap Ibu yang malah lupa dengan kondisi Clara yang katanya hamil.
"Rey itu benar dosen? Atau siapa sih? Clara tidak lernah punya pacar selama ini. Sekarang ngaku hamil," ucap Bapak penasaran.
"Harusnya tadi, Bapak minta KTP dan slip gajinya. Pasti jelas tuh pekerjaannya apa?" titah Ibu kesal.
Bapak melirik ke arah Ibu lalu mengedipkan satu matanya.
"Heh ... Kenapa gak bilang dari tadi? Benar juga katamu itu Bu. Tumben sekali kamu pintar begitu," ucap Bapak pelan.
Bapak nampak berpikir sejenak.
"Kenapa Pak?"
"Rey bakal datang lagi tidak? Arghh ... Bapak malah pusing," ucap Bapak bingung.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Ibu.
"Jadi begini Bu ...." ucapan Bapak belum selesai.
Keluarga Rey sudah datang ke rumah Bapak Clara dengan niat baik. Wajah Bapak Clara terlihat penuh kelegaan.
Bapak Clara langsung berdiri menyambut kedatangan Rey dan keluarganya.
"Permisi, selamat sore menjelang malam. Perkenalkan, nama saya David, Ayahnya Rey," ucap Ayah David pelan.
"Silahkan masuk. Duduk di dalam saja. Di luar dingin," ucap Bapak Clara pelan.
Rey menatap Bapak Clara agak berbeda dari siang tadi yang terlihat garang dan berapi -api. Kalau sekarang lebih terlihat santai dan bahkan sangat lega sekali.
Keluarga Rey pun masuk ke dalam rumah utama Bapak Clara. Rumah mewah yang berada di kampung pasti terasa dingin dan nyaman.
__ADS_1
Semua sudah duduk bersama di ruang tamu yang cukup luas itu. Bapak Clara langsung mempertanyakan maksud kedatangan mereka.
Ibu sudah membawa makanan dan minuman sebagau suguhan untuk para tamu itu.
"Kedatangan kami kesini inginmenindak lanjuti masalah anak kami Rey yang sudah ... maaf, menghamili Clara. Niat Rey baik sekali untuk bertanggung jawab atas Clara agar aibnya tertutup," ucap Ayah David dengan suara lantang.
"Boleh saya lihat KTP -nya Nak Rey?" tanya Bapak Clara teringat kata -kata istrinya tadi. Cek saja KTPnya.
"Untuk apa Pak " tanya Rey bingung dan mengeluarkan dompetnya lalu memberikan KTPnya kepada Bapak Clara.
Bapak Clara membaca dengan seksama. Lalu, bertanya lagi," Ada KK gak?"
"KK? Kartu keluarga?" tanya Rey bingung.
"Bukan. Keuangan keluarga alias slip gaji," ucap Bapak.
"Untuk apa?" tanya Rey bingung.
Untuk apa bawa slip gaji saat bepergian. Bukankah yang penting bawa ATMnya. Apa arti tulisan di slip gaji? Yang penting itu jumlah yang masuk ke dalam rekeningnya setiap bulan.
"Saya harus memastikan kamu betul seorang dosen. Saya tidak mau anak gadis saya hidup susah," ucap Bapak jujur.
"Saya yang akan menanggungnya!! Rey ini memang dosen. Kalau gaji dosen kurang, daya akan kasih tambahan untuk Clara. Tapi, Clara tidak seperti itu. Dia gadis baik dan sederhana. Sudahlah, intinya lamaran ini di terima atau tidak. Kalau memang di terima kalan kelanjutannya. Kalau tidak di terima, kami tidak akan kembali lagi!! Soal kehamilan Clara sudah bukan urusan kami lagi!! Anda yang sudah menolak kedatangan baik kami untuk bertanggung jawab," ucap Ayah David mulai kesal.
Memang wajar, seorang Bapak menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi ini urusannya beda. Clara sudah di bayar di muka oleh Rey. Masa iya, akan di diamkan saja.
Tanpa sengaja Rey meluhat Clara ada di samping taman. Rey pun memintabijin untuk ke kamar kecil.
"Pak ... saya mau ke kamar mandi sebentar," ucap Rey pamit dan bergegas ke kamar mandi.
Rey menyelinap ke pintu samping dan menemui Clara.
"Hei ... lihat apa?" tanya Rey pelan.
Clara menoleh ke arah asal suara.
"Pak Rey? Kok bisa di sini? Nanti Bapak marah," ucap Clara pelan.
Rey berjalan menghampiri Clara dan ikut duduk di samping Clara menatap gelapnya malam.
"Gak akan. Ada Ayah dab Bunda," ucap Rey pasrah.
"Ra ...."
"Iya Pak?"
"Kabur yuk? Kita nikah walau tanpa restu Bapak," pinta Rey mulai frustasi.
Deg ....
Permintaan ini sederhana sekali tapi membuat seluruh hati dan jiwa Clara bergetar tak karuan.
"Saya gak berani Pak?" cicit Clara jujur.
"Kamu gak takut kalau suatu hari perutmu itu membesar? Kamu beneran hamil kan?"
"Ekhemm ...."
"Test pack dan muantah -muntah tadi siang itu karena kamu mengidam?"
"Hemmmm ...."
Clara tak menjawab. Rasanya ingin tertawa melihat wajah Rey yang serius. Sesekali mengerjai dosennya itu perlu kan?
"Maafkan saya ya," ucap Rey tulus.
"Soal apa?"
Clara menatap ke arah bawah. Ia menatap kedua kakinya lalu kedua kaki Rey.
"Soal kemarin. Saya khilaf bicara begitu," ucap Rey pelan
"Lupakan Pak. Gimana? Bapak udah kasih ijin?"
"Belum. Gimana sih biar Bapak kamu mau?"
"Entahlah. Pak ... jempolnya besar ya?" ucap Clara tiba -tiba yang sejak tadi memperhatikan jempol Pak Rey.
Rey pun ikut menatap ke bawah.
Ha ha ha ... tawa Rey begitu lepas.
__ADS_1
"Iya besar banget,"
"Itu tandanya ...."
"Pusakanya besar!! Kamu kan sudah lihat dan sudah merasakaan," ucap Rey tertawa.
"Dih dasar mesum,"
"Memang benar kan? Sudah pernah lihat kan? jawab?"
"Sudah," Clara menunduk.
"Besar gak?"
"Iya besar,"
"Udah pernah ngerasain juga? Bemer gak?"
"Iya ih. Udah,"
"Enak?"
Bugh ...
"Awww ... Sakit Ra,"
Clara memukul lengan Rey keras.
"Bodo. Lagian pertanyaan aneh dan menjurus,"
"Tapi suka kan,"
"Au ah ..."
"Ekhemmm ... Jadi pengen lagi megulang,"
"Halalin dulu"
Keduanya saling diam.
"Emang Pak Rey bisa move on dari mantan?"
"Bisa. Asal kita menikah,"
"Tapi Pak Rey kan belum ada cinta sama Clara?"
Rey melirik ke arah Clara.
"Siapa bilang? Itu kan kata kamu!!"
"Memang iya? Buktinya kemarin berani mau balikkan lagi sama Renata,"
"Hemmm ... Maaf,"
Clara kesal. Ia cemburu.
"Clara!!!"
Clara menoleh ke arah dalam. Bapak sudah berdiri di belakang mereka.
"Bapak?"
Clara langsung berdiri dan masuk ke dalam.
"Saya duluan Pak Rey. Saya gak berharap banyak soal ini,"
Rey hanya menatap Clara dengan tatapan sendu. Gadis itu memang sederhana dan apa adanya. Menarik sekali.
"Kamu!! Rey masuk ke dalam. Ijin ke kamar mandi malah mojok," ucap Bapak kesal.
Rey diam tak berani menimpali. Ia juga takut durhaka. Rey masuk ke dalam dan kembali duduk bersama kedua orang tuanya.
"Ayo Rey," titah Bunda Silva pelan.
"Mau kemana Bun?"
"Udah ikut saja,"
Bunda Silva membawa Rey ke satu kamar paviliun milik Clara.
Ayah David masih duduk bersama dengan Bapak. Sepertinya negosiasi keduanya belum usai.
__ADS_1