PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
30


__ADS_3

Renata sama sekali tidak mengetahui keberadaan Rey saat ini yang tak sengaja tengah mengintainya dari celah guci keramik besar yang menutupi tubuhnya.


Di rasa sudah tepat waktunya dan Pak Agus sudah pergi dengan mobil mewahnya sambil melirik ke arah Rey.


Dengan santainya Rey berdiri dan menampakkan batang tubuhnya yang tegap dan kekar.


Tatapannya begitu tajam dan garang lekat pada kedua mata Renata yang terkejut melihat Rey sudah berdiri di depan Renata.


Bibir Renata membuka. Ia tak bisa lagi berbohong. Bukti nyata itu jelas sekali terlihat oleh Rey saat ini. Berbeda saat dulu yang ia juga ter -gap memiliki selingkuhan dengan mantan Renata sendiri. Hanya saja saat itu alat buktinya tidak kuat dan Rey tidak bisa membuktikan apa yang ia lihat pada Renata.


Prok ... prok ... prok ...


Rey bertepuk tangan tepat di atas kepalanya. Ia mencoba tersenyum dan tertawa.


Renata sendiri sudah berkeringat dingin. Kedua matanya mulai basah dan berair. Mungkin Renata mau menangis atau malah ingin tertawa bangga?


"Rey ... Ka -ka -mu ada di sini? Dari jam berapa? Kenapa gak chat atau telepon aku?" tanya Renata gugup dan panik.


"Kenapa? Kaget? Bingung? Kenapa saya bisa ada di sini? Kenapa saya gak nurut sama kamu, untuk datang dua jam lagi? Karena kamu sedang olah raga? Aku gak chat? Aku chat, coba kamu cek!! Kamu yang gak baca!! Mungkin terlalu asyik berolah raga!! Gila kamu, Rena!!" teriak Rey kasar.


"Ini gak seperti apa yang kamu bayangkan!! Pak Agus itu paman ku dari jauh," Rena masih saja berkilah. Jawabannya makin tak karuan dan aneh.


"Paman? Paman yang bisa kamu ajak olah raga? Paman yang bisa melukis kan jasratnya di leher kamu!! Dasar wanita murahan!! Seharusnya aku dari awal percaya dengan Arga!! Tentang kelakuan bejat kamu!! Seharusnya aku gak perlu kasihan sama kamu untuk kita balikan lagi!! Kamu tahu!! Aku hanya merasa kita sudah lama pacaran, jadi aku perlu memberikan kamu kesempatan!! Tapi kali ini keputusan aku sudah bulat. Kita tidak perlu slaing mengenal lagi. Paham!!" ucap Rey kecewa.


"Rey ... Ampuni aku, Rey. Maafkan aku. Aku janji gak akan mengulangi ini semua," ucap Renata semakin bingung. Renata masih berani menarik tangan Rey dan meremas dan tangan itu pelan. Ia berharap ada kesempatan lagi untuk dirinya.

__ADS_1


"Apa katamu!! Maaf? Sudah ku maafkan dan bahkan ini kedua kalinya aku memaafkan kamu dengan ikhlas. Tapi untuk kembali rasanya tidak akan mungkin Rena. Kita memang sudah di takdirkan untuk tidak bersama!! Kecuali ...." ucapan Rey sengaja di gantung untuk memancing Renata bicara.


"Kecuali apa Rey. Katakan aku pastinakan lakukan demi kamu!!" ucap Renata cepat. Ia sudah terpojok dengan masalah ini.


Bukan itu saja. Rencananya bisa gagal kalau sampai ia tak jadi di nikahi oleh Rey. Ia tengah mengandung saat ini dan entah anak siapa yang ada di kandungannya. Tadinya ia berharap Rey yang bisa di jadikan tumbal. Dengan cara mendekati Kak Desy tapi semua sirna. Sama sekali ini adalah karma untuk Renata.


"Kecuali kamu bisa memastikan kalau kamu masih perawan!!" Rey tegas dan lantang berucap.


Kedua mata Renata semakin terbuka lebar. Jelas permintaan yang tak wajar. Mana bisa begitu? Keperawanan yang suda hilang terenggut tidak akan mungkin bisa kembali walaupun melakukan operasi selaput dara atau sejenisnya.


"Bisa? Kalau bisa silahkan minta dengan calon suamimu nanti bisa menerima kamu. Tapi tidak dengan aku!!" ucap Rey kasar.


Renata tersenyum kecut. Ia merutuki kebodohannya sendiri.


"Gak. Seharusnya aku yang berada di posisi Clara!! Aku yang berharap kamu tiduri dengan paksa agar kamu tidak akan pernah lepas dari aku. Tapi buktinya tetap aku yang menang, bukan? Kamu tetap mencari aku!! Jika tidak ada kejadian ini, mungkin kamu tetap memilih aku!!" tegas Renata.


"Kamu tahu dari mana? Soal Clara?" tanya Rey penasaran. Pasalnya tidak ada yang tahu soal kejadian satu malam itu kecuali Arga yang memang sengaja ia ceritakan.


"Aku yang melakukan itu!! Aku menyuruh seseorang agar bisa membawamu ke kamar yang sudah ku pesan. Tapi ternyata salah kamar dan malahan ada Clara di sana. Aku benci dia!! Aku benci Clara!!" teriak Renata marah. Ia merasa kesal dan rasa bencinya begitu mendalam. Rencananya gagal total.


"Dasar wanita gila!! Awas saja melakukan hal di luar nalar!! Apalagi menyakiti Clara!! Aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup kamu!!" ucap Rey mengancam.


Rey langsung pergi dari rumah kontrakan Renata meninggalkan Renata yang menangisi kwadaanya sendiri.


Berkali -kali Rey memukul bundaran setir dengan keras. Bisa -bisanya pikirannya di bodohi dengan kecantikan Renata. Rey benar -benar menyesal.

__ADS_1


"Arghh kenapa aku bodoh sekali!!" Rey terus merutuki dirinya sendiri.


Masih ada kesempatan untuk minta maaf pada Clara? Bisa jadi ia hamil dan pasti akan kembali padanya.


"Aku harus gimana? Mendatangi kost Clara? Atau menunggu dia datang lagi? Tapi ... lusa? Ia berharap aku datang dan melamarnya. Aku akan melamarmu Clara. Aku akan bilang kepada kedua orang tua ku untuk meminangmu dan langsung akan ku nikahi kamu tanpa menunggu waktu," ucap Rey dengan tekad bulat.


Rey masih fokus menyetir dan segera pulang. Waktunya tidak banyak untuk membicarakan hal ini pada kedua orang tuanya. Masalah Kak Desy yang tidak suka dengan Clara, tidak ia ledukikan sama sekali.


Rey hanya ingin mengakui kesalahannya kepada kedua orang tuanya sendiri dan kedua orang tua Clara nanti dengan penuh rasa tanggung jawab. Rey akan menerima segala resikondan konsekuensinya.


Semoga saja, dia tidak datang terlambat. Semoga saja pintu maaf Clara masih ada untuknya. Semoga saja Clara mau memberikan kesempatan lagi untuk Rey membenahi semuanya.


Rey memang salah sudah membandingkan Renata dan Clara yang ternyata sama sekali tidak bisa di bandingkan.


Rasa gugup pasti ada, rasa takut juga pasti ada pada orang yang ingin jujur.


Di waktu yang sama, Clara sudah mulai nyaman mengobrol dengan Pranoto. Lelaki yang memang terlihat kurang macho itu tetap menunjukkan sifat kerennya yang mempesona.


"Ekhemm ... Mas lapar. Gimana kalau kita makan dulu. Di jalur ini ada tempat makan yang enak. Kamu harus coba, Clara," ucap Pranoto dengan suara lembut dan tutur katanya begitu tepat sesuai EYD yang berlaku di pelajaran bahasa indonesia.


"Boleh. Clara juga lapar," jawab Clara antusias dan penuh semangat.


Hari ini memang ia sedih dengan kelakuan Rey. Tapi sekarang kesedihan itu sudah terbayarkan dengan kehadiran Pranoto.


Clara menatap lurus ke depan. Pikirannya tetap pada sosok Rey. 

__ADS_1


__ADS_2