
Selama mengendarai mobil, Rey yang panik dan khawatir dnegan kondisi Clara, istrinya tetap berusaha tenang dan santai. Keuda matanya tetap fokus menatap jalanan yang sedang ia lewati, pikirannya tetap jernihagar tidak kacau di pengaruhi oleh pikiran buruk.
Bulan ini, Clara memang belu periksa kandungannya. Terakhir tepat di bulan lalu, Clara memeriksakan kandungannya bersama Rey. Tapi, bulan ini, Rey cukup sibuk dan selalu pulang sore hari, jadi tidak sempat mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Rey memang melarang Clara untuk bepergian sendirian tanpa dirinya, terutama saat memeriksakan kandungannya. Alasan Rey, agar Rey juga ikut memantau perkembangan twins adel dan kondisi Clara. Apa saja yang di butuhkan Clara? Lalu Clara harus melakukan apa? Banyak hal yang akan di tanyakan Rey saat konsultasi pada dokter kandungan Clara. Rey sangat perhatian untuk urusan yang satu itu. Terlebih saat Arga menangis saat bayinya di nyatakan selamat dan lahir tepat pada waktunya, tidak ada keterlambatan penanganan. Sama seperti Clara, takutnya sesuatu terjadi pada istrinya. Rey tidak pernah melihat Clara yang kesakitan dan wajahnya pucat sekali.
Beberapa menit kemudian, mobil sudah masuk ke halaman rumah sakit dan berhenti tepat di depan ruang IGD. Rey bergegas turun dari mobil dan masuk ke ruang IGD untuk meminta tolong pada bberapa perawat yang ada di sana. Lalu Rey membuka pintu mobilnya untuk membantu mengeluarkan Clara.
Brankar dorong sudah ada di samping mobil Rey dan Rey mengangkat istrinya dan di rebahkan di brankar tersebut. Bunda Silva langsung ikut mengantarkan brankar tersebut.
Rey sudah kembali masuk ke ruang IGD setelah memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit. Tirai masih tertutup dan di salamnya sudah ada doktr yang sedang memeriksa Clara.
"Gimana kondisi Clara, Bun?" tanay Rey panik.
"Belum tahu. Pasti baik -baik saja, percaya, sama Bunda," ucap Bunda Silva pelan.
"Tapi ini sampai tidak sadarkan diri Bunda. Wajah Clara tuh, pucat banget," ucap Rey menceritakan kejadian tadi yang begitu cepat.
Memang sejak tadi Clara sudah minta makan, tapi Rey selalu bilang sesi foto keluarga belum selesai, jadi tidak mungkin mereka pergi duluan untuk mencari makanan. Clara yang menurut hanay bisa pasrah hingga kejadian tadi terjadi dan itu membuat Rey merasa sangat bersalah. Rey merasa kapok mengabaikan keinginan Clara yang ingin makan sejak tadi. Ia pikir tidak akan ada masalah.
"Suami Ibu Clara?" panggil dokter itu kepada Rey.
"Iya saya dok. Saya Rey, suami Clara," ucap Rey dengan suara lantang sedikit gugup. Rey takut sesuatu terjadi pada istrinya. Tak bisa membayangkan jika dokter kandungan ini akan bercerita kondisi buruk mengenai istrinya.
"Kita bicara di ruanagn saja, Pak. Mari," titah dokter kandungan itu pada Rey.
Rey mengangguk pasrah dan emnatap Clara yang masih tergolek lemash di brankar rumah sakit.
"Bun ... Titip Clara dulu," pamit Rey yang akan berkonsultasi dengan dokter kandungan itu.
"Iya Rey. Bunda akan temani dan jaga Clara," jawab Bunda Silva lembut.
***
__ADS_1
Rey sudah masuk di dalam ruangan kerja dokter kandungan yang menangani Clara. Rey sudah duduk berhadapan dengan dokter tersebut, sebelum dokter itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Clara.
Dengan ragu, Rey membuka pembicaraan terlebih dahulu. Rasa penasarannya begitu mendalam.
"Dokter, Apa yang sebenarnya terjadi pada Clara, istri saya," tanya Rey sedikit ragu.
Dokter kandungan itu sedang menulis di kartu pasien, menuliskan riwayat penyakit yang di derita oleh Clara.
Di ajak bicara oleh Rey, dokter kandungan itu mengangkat wajahnya dan menatap Rey.
"Ibu Clara mengalami stres, mungkin kehamilannya yang membesar memberikan banyak efek spontan yang di rasakan oleh Ibu Clara, sehingga ia kaget dalam kondisi yang cukup signifikan," ucap dokter itu menjelaskan.
"Hanya itu? Hanya stres? Bisa sampai tidak sadarkan diri?" tanay Rey kemudian.
"Bisa. Karena tekanan darahnya turun dan tubuhnya drop. Kalau soal psikis, tidak bisa di lihat, ia sedang stres atau tidak. Apalagi, kemungkinan besar, Ibu Clara orangnya cenderung diam, tidak mau mengungkap apa yang sednag di rasa, itu suli. Atau ada trauma tersendiri? Kejadian yang membuat Ibu Clara, stres, memikirkan terus menerus?" tanya dokter kandungan itu pada Rey.
"Benar sekali, Clara kepikiran soal temannya yang terpeleset di kamar mandi saat kehamilan temannya itu sudah menginjak sembilan bulan, dan terjadi pendarahan. Untung saja, bayi dan ibunya selamat," jawab Rey jujur menjelaskan.
"Terus kalau sudah di lakukan tapi air ketuban tetap kering, saya bisa tahunya dari mana dok?" tanay Rey kemudian.
"Usia kandungan tujuh bulan itu, akan sering mengalami kontraksi palsu, apalagi mengandung dua bayi sekaligus itu bukan hal mudah. Rasa mulas di perutnya kan sangat terasa menganggu, ibu hamil akan kesulitan bergerak dan tidur nyenyak. Selain itu, perut juga akan sering terasa kencang," ucap dokter itu menambahkan.
Reyu tampak mengangguk pelan. Masih banyak kebingungan dan banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan, namun di urungkan. Semakin banyak kecemasan dan pertanyaan, makin banyak pula hal yang malah terjadi pada Clara.
"Baik dokter, saya paham. Intinya, Clara tidak boleh stres, dan takut. Lalu lebi baik sering kontrol untuk cek air ketuban di dalam perutnya. Kira -kira, saya harus cek kapan lagi?" tanay Rey pelan.
"Minggu depan. Kalau minggu depan, tidak perubahan, saya hanya bisa menyarankan untuk segera di tindak dengan operasi sesar. Begitu Pak Rey," jelas dokter kandungan itu.
"Baiklah. Terima kasih doketr atas penjelasannya. Istri saya harus di rawat atau boleh pulang?" tanya Rey kembali.
"Demi keamanan, kita coba di rawat satu hari. Biar saya tahu perkembangan kondisi Ibu Clara," jelas dokter itu pada Rey.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau memang itu yang terbaik untuk Clara, saya mengerti dan emnuruti semua kata -kata dokter," ucap Rey dengan mantap.
Rey pun keluar dari ruangan kerja dokter itu dan berjalan menuju ruang IGD. Rey membuka tirai, dan terlihat Clara tersenyum ke arahnya.
"Sayang? Kamu sudah sadar?" teriak Rey bahagia. Rey berlari kecil menghampiri Clara dan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Tidak lupa kecupan with love yang mereka buat sendiri sebagai tanda kemesraan mereka. Rey mengecup kening dan kedua pipi Clara, serta bibir mungil Clara.
"Mas ... Malu ada Bunda," ucap Clara berbisik.
"Kenapa harus malu? Ini ungkapan rasa sayang Mas pada kamu, Clara. Mas cemas kamu pingsan tadi. Sekarang apa yang kamu rasakan," tanay Rey serius.
"Apa ya? Perutnya aja masih kenceng. Tadi di cek, degub jantung anak kita bagus kondisinya, tampaknya mereka senang," ucap Clara pada Rey.
"Harus senang dong. Kita mencintai mereka dengan kasih sayang dan ketulusan, jadi gak ada alasan bagi mereka untuk tidak senang," ungkap Rey pada Clara.
"Mas ...." panggil Clara pelan. Tangan Rey masih menggenggam erat jari jemari Clara.
"Kenapa sayang?" tanya Rey pelan.
"Clara mau makan sesuatu," ucap Clara berbisik.
"Makan apa? Nanti Mas belikan," tanya Rey pelan.
"Mau kurma Mas," ucap Clara pelan.
"Kurma? Sayang ... Kamu serius mau kurma? Kalau bukan bulan puasa, mungkin akan sulit cari kurma," ucap Rey galau.
"Ada pasti Mas. Carinya di Supermarket aja," ucap Clara memberitahu.
"Oke. Nanti Mas belikan, kalau kamu sudah di pindah di kamar rawat inap," ucap Rey pelan.
Hari ini, Clara baik -baik saja. Tapi entah nanti, besok atau lusa, bagaimana keadaannya.
__ADS_1