
Clara terperanjat dan membalikkan tubuhnya ke belakang. Belum selesai ia terkejut dengan tingkah laku Rey, suaminya yang terkadang melakukan hal di luar nalarnya. Kini Clara harus kembali terkejut melihat lelaki muda tampan mirip dengan Jungkook itu.
Bibir Clara membuka sedikit dengan pipi yang masih di usap pelan. Hari ini ia mengalami kejadian yang membuatnya panik tapi berkesan.
Lelaki itu memgibaskan tangannya di depan wajah Clara pelan.
"Hei ... Kamu kenapa?" tanya lelaki itu kepada Clara yang masih takjub menatap dirinya tanpa berkedip.
Clara mengerjapkan kedua matanya. Ia langsung berpura -pura merapikan kemejanya dan roknya lalu menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Ekhemm ... Maaf ... Saya sudah terlambat. Ruang manajer di mana ya?" tanya Clara bingung.
Lelaki itu malah mengulurkan tangannya dan mengajak Clara berkenalan sambil melebarkan senyumnya yang paling manis.
"Namaku Radit ... Kamu siapa?" tanya Radit kembali. Lelaki itu penasaran dengan Clara.
Clara menatap ke arah se -keliling dan mengulurkan tangannya.
"Clara. Baru mau magang," ucap Clara lirih.
"Iya tahu kalau anak magang," ucqp Radit ramah.
Clara menatap lekat ke arah Radit.
"Tahu dari mana? Emang wajah Clara kelihatan kayak mbak -mbak lagi mau magang ya?," ucap Clara bingung. Ia kembali tidak lercaya diri dan menatap pakaian yang di kenakan serta tas wanita yang ia jinjing bagiakan wanita sosialita tapi kehilangan arah dan tujuan.
"Itu seragam kamu," jawab Radit terkekeh.
"Hah? Seragam Clara? Kenapa? Ada apa?" tanya Clara panik. Ia teringat dengan kemeja putuh dengan kerah tinggi yang ai pakai sekarang. Apa terlihat norak dan kampungan. Secara memilih pakaian itu ada maksudnya karena menutupi lukisan abstrak buatan suaminya.
"Seragam kita sama hitam putih. Yuk masuk, kita sudah di tunggu di ruang HRD untuk pembagian tugas dan pekerjaan. Kamu lucu ternyata? Apalagi kalau panikan seperti tadi," ucap Radit lembut.
Clara langsung bernapas lega. Ia pikir ada yang salah dengan pakaian yang saat ini di pakainya. Ternyata semua anak magang memakai warna baju yang sama yaiutu hitam putim. Lha memang begitu aturannya kan? Sesuai SOP yang di kasih dari perusahaan ini. Seragam yang di siapkan bebas asal rapi dan sopan serta sesuai dengan dres code yang telah di tentukan oleh perusahaan. Senin- putih dan hitam, selasa- biru, rabu- merah, kamis -polkadot hijau, jumat -batik, sabtu dan minggu libur.
"He em," jawab Clara hanya berdehem.
Radit berjalan lebih dulu menuju lift dan Clara berdiri di belakangnya keduanya mengantri cukup panjang untuk menunggu giliran menaiki lift menuju lantai lima.
__ADS_1
Pikiran Clara selalu tetngiang ucapan Rey tadi sebelum turun dati mobil. Jangan nakal. Apalagi nasihat Rey saat di rumah tadi sebelum berangkat. Jangan mentang -mentang tidak ada saya, kamu bjsa berbuat se -enaknya. Clara langsung bergidik ngeri dan menatap setiap sudut ruangan.
"Kamu itu kenapa sih? Dari tadi bengong aja? Belum sarapan ya? Jadi gak fokus?" tanya Radit lembut.
"Hemm ... Iya. Gugup," jawab Clara singkat. Aslinya Clara itu pendiam. Dia tidak bar -bar kalau tidak ada yang memulainya. Tapi kalau sudah ketemu yang satu frekeuensi. Bisa tujuh haru tujuh malam dia ngobrol tanpa tidur. Karena dulu pernah waktu awal bersahabatbdnegan Nita. Awal punya gebetan dan tak ada habisnya membicarakan gebetannya itu dari ujung kuku sampai ujung rambut di bicarakan. Sampai ukuran jari kaki yang menurut Clara terlalu buntet bentuknya dan berbau karena sempat melihat saat acara malam keakraban di auaditorium melepas alas kakinya dan sampai ketombe yang melekat di tengah kepala menyerupai borok. Gebetannya itu ganteng tapi kok jorok sekali. Muali saat itu kedua sahabat itu saling mengghibahkan gebetannya. Jijik banget pokoknya.
Kedua sahabat otu memang menginginka lelaki yang sempurna tanpa ada debat. Kesemlurnaan dari ujung kuku kaki hingga helaian rambut semuanya. Dan ... keduanya mendapatkan walaupun dengan cara unik mereka. Nita tak sengaja tertukar kotak makanannya saat jatuh terburu -buru berlari di lorong kampus. Lalu, Clara dengan satu malam bersama dosen mesum itu.
"Ayo masuk ... Bengong aja," ucap Radit sambil menarik tangan Clara yang sejak tadi melamun saat di ajak bicara. Radit langsung membawa Clara masuk ke dalam lift dan meraparkan di ujung depan dalam lift.
Wajah Clara menoleh ke arah Radit yang berdiri tepat di sampingnya. Seolah berdiri untuk melindungi Clara dari desakan dari karyawan lain yang berebut masuk.
"Maaf ya," ucap Clara lirih.
Radit menjnduk sedikit. Tubuhnya yang tinggi harus menatap Clara sedikit menunduk dengan tangan yang menempel pada dinding lift.
"Maaf untuk apa?" tanya Radit pelan. Senyumnya selalu tak lernah lupa untuk di tampakkan. Satu lift itu memnadang mereka berdua seolah sedang main film romance. Clara makjn canggung di tatap seperti itu. Rasanya ia menjadi cacing kepanasan yang ingi segera keluar dati lift tersebut.
"Ekhemm ... itu tadi melamun," ucap Clara berhati -hati dan ragu.
Dengan cepat Radit menggandeng tangan Clara kembali dan membawanya ke ruangan khusus dan benar saja, semua anak magang sudah datang dan berkumpul duduk manis mendengarkan pengarahan dari manajer
Radit dan Clara mengetuk pintu lalu masuk begitu saja dan duduk di khrsi paling belakang. Tangan Radit masih menggenggam tangan Clara spontan. Clara makin gugup dan panik, saat manajer menatap dirinya lekat dan tajam. Tapi, berbeda dengan Radit yang terlihat santai dan cuek.
"Oke yang baru datang. Lain kali jangan lernah terlambat. Biasakan tepat waktu!! Biasakan di siplin!! Baru magang saja sudah berani telat dan gandengan tangan. Kalian mau memberi contoh tidak baik?" suara manajer itu keras, lantang dan teoat sasaran.
Semua mata memandang ke belakang. Menatap Clara dan Radit yang baru datang dan benar tangan mereka masih saling menggenggam bergandengan. Clara langsung menatap tangannya dan lerlahan melepaskan tangannya dari genggaman Radit. Radit hanya mengukum senyum dan tatapannya fokus ke depan lekat ke arah manajer Irfan.
Pagi itu hanya di berikan brifing dan pengenalan tempat dan ruang kerja. Masing -masing anak magang sudah di beri satu lembar aturan yang berlaku di perusahaan itu. Clara membaca dengan seksama.
ATURAN BAGI KARYAWAN MAGANG :
Selalu hadir tepat waktu, di siplin waktu dalam pengerjaan tugas dalam pekerjaan.
__ADS_1
Selalu rapih dan wangi serta enak di pandang.
Bagi yang ingin ijin atau libur harus mengajukan ijin kepada manajer satu hari sebelumnya.
Tidak sedang hamil.
Tidak di perbolehkan menikah saat magang. Di karenakan akan ada promosi menjadi karyawan kontrak setelah magang bagi anak magang dengan nilai baik dan rajin.
Lima point penting dan semuanya radanya tidak sesuai dengan kritetia Clara. Clara sering telat. Mungkin kalau nomor dua, Clara masih terpantau aman walauoun agak kurang suka berdandan. Lalu nomor empat? Clara tidak tahu, ia hamil atau tidak. Nomor lima adalah kesempatan baik. Ini perusahaan bonafit masa iya harus menguburkan mimpinya hanya karena Clara sudah menikah dengan Pak Rey.
Perlahan Clara melepaskan cincin pernikahannya dan di masukkan ke dalam tas di bagian tesleting dalam. Ia harus berbohong pada banyak orang tentang statusnya.
"Kamu cari apa di tas?"
Deg ...
Rasanya jantung Clara mau copot. Gerak geriknya tidak aman. Banyak yang melihat dirinya saat ini.
__ADS_1