
Tatapan Rey yang tajam tak akan pernah di lupakan oleh Martin Lubis, sahabat lamanya itu. Pukulan telak yang pernah ia rasakan saat itu juga masih terasa sakitnya di bagian rahang Martin Lubis. darah yang keluar dari sudut bibirnya juga membuat martin Lubis hanya bisa menatap Rey yang terlihat garang dan marah besar saat itu. Ya, itu masa lalu, kejadian yang sudah lama sekali.
"Tentu aku ingat smeua itu Rey. Aku tidak ingin mengulang untuk kedua kalinya. Tapi memuji istrimu masih boleh kan?" goda Martin untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Rey menyipitkan kedua matanya sambil menggigit bibir bawahnya dan menunjukkan kepalan tangannya yang ia pukulkan pada telapak tangan yang lain.
"Awas!!" Rey masih menatap tajam ke arah Martin lalu tertawa.
Kedua sahabat itu pun kembali berpelukan dan berjalan masuk ke dalam rumah besar dan di sambut baik oleh tuan rumahnya yang sudah menunggu kedatangan para sahabatnya sejak tadi yang jelas terlambat datang.
Tangan Rey terus menggenggam erat tangan Clara.
"Itu siapa Mas?" tanya Clara berbisik pada Rey.
"Harus Mas jawab?" tanya Rey kembali dnegan lirih di dekat telinga Clara.
Pertanyaan balik macam apa itu. Tinggal jawab aja, malah melempar pertanyaan yang tidak jelas.
"Tinggal jawab aja, apasih susahnya," ucap Clara yang mulai kesal berbisik.
"Ya, Buat apa? Gak penting juga buat kamu siapa dia. Kalau kamu kenal dan Mas kenalkan, nanti akan ada pertanyaan lain lagi yang ingin kamu ketahui tentang dia," ucap Rey tak kalah ketus berbisik.
"Huhhh ... Nyebelin banget sih," ucap Clara kesal.
Clara berusaha menebar senyuman manis dan begitu ramah kepada semua orang yang ia temui di dalam rumah besar itu dan suara teriakan Nita yang khas memanggil Clara.
"Ra!! Clara sini," teriak Nita yang duduk di sofa dekat anak tangga menuju ke atas.
Clara menoleh ke asal suara dan melambaikan tangan pada Nita. Clara tidak berani menjawab teriakan Nita yang bar -bar itu. Bisa -bisa harga dirinya jatuh seketika sebagai istri dosen terkece di Kampus. Lihat saja, semua mata memandang Clara seperti tidak pantas bersanding di samping Rey.
Rey melirik ke arah Nita dan sekumpulan para perempuan yang entah siapa dan pastinya Rey tak kenal dan tak mau mengenal sama sekali. Dari kejauhan yang jelas, semua perempuan -perempuan itu satu frekuensi dengan istri labilnya yang sudah tak sabar ingin segera berkumpul di ujung bawah anak tangga itu.
"Kamu mau kesana?" tanya Rey lembut dengan tangan masih menggenggam Clara.
"Emang boleh?" tanya Clara pelan.
__ADS_1
"Kita ketemu Arga dulu, baru boleh nyamperin Nita," titah Rey pada Clara.
"Iya," jawab Clara pasrah menurut.
Rey dan Clara menghampiri Arga yang juga sedang berjalan menghampiri mereka.
"Pak Arga, Selamat ya atas kehamilan istri dan syukuran rumah barunya. Mau room tour nih," goda Rey pada Arga.
"Hemmm ... Bisa aja kamu, Rey. Hai, Clara, gimana? Jadi hamil kan?" tanya Arga dengan suara keras.
"Ssttt ... Gila kamu, ngomong kenceng banget. Ini skandala dosen dan mahasiswa, bisa kena teguran saya nanti," ucap rey pada Arga.
"Iya Pak Arga, sudah isi," jawab Clara dengan tersenyum bahagia.
"Waduh ... Arga ...." teriak Martin yang tadi sempat mnghilang sebentar untuk mengambil minuman.
"Martin!!" teriak Arga sambil melirik ke arah Rey dan mengedipkan satu matanya.
Rey hanya mengangguk paham. Rey langsung berbisik kepada Clara untuk bergabung dengan Nita, dan teman wanita Clara lainnya.
"Sayang ... Kamu mau kumpul sama Nita dan yang lainnya?" tanya Rey pada Clara, istrinya.
"Boleh. Nanti kalau sudah kelar smeua, Mas akan nyamperin kamu," ucap Rey pelan.
Clara mengganguk paham dan setuju dengan ucapa Rey baru saja.
"Oke. Clara di sana ya," ucap Clara pelan. Clara meepaskan genggaman tangan Rey di telapak tangannya sejak tadi.
"Jangan banyak berdiri, sepatumu tidak baik untuk baby twins kita. Duduk saja," titah Rey yang selalu menasehati Clara.
"Iya Papah Twins," jawab Clara.
Tangan Clara tak kunjung di lepas oleh Rey dan masih di genggam erat oleh Rey.
"Lepas Mas," ucap Clara kesal.
__ADS_1
"Berat sayang," ucap Rey serius.
"Berat gimana? Cuma melepas tangan aja, berat," ucap Clara masih berusaha melepas tangan Rey yang sengaja menggenggam erat Clara.
"Ya, berat. Berat meninggalkanmu," ucap Rey terkekeh.
"Dihhh ... Dasar gaje," ketus Clara kesal.
"Hah? Apa itu gaje?" tanya Rey mendelik. Ia tidak tahu bahasa gaul anak muda masa kini.
"Cari di kamus gaul sana," ketus Clara menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Rey yang kuat.
Rey hanya terkekeh. Ia senang membuat Clara kesal, walaupun Clara di sanabersama teman -temannya, tetap, Rey akan memantau gerak gerik Clara dari kejauhan.
Rey berbalik arah dan kembali denagn kedua sahabatnya, yaitu Arga dan Martin.
"Mari bersulang," ucap Martin kepada kedua sahabanya.
Martin memberikan dua gelas minuman untuk kedua sahabatnya. Arga dan Rey hanya saling bertatap. Mereka tak mau mengulang hal bodoh yang pernah mereka lakukan dulu.
Rey mengernyitkan dahinya dan berkata pada Martin, "Ulah apa lagi yang akan kau buat?"
"Huh ... Masih saja kau ingat masalah itu Rey. Untuk apa? Lupakan saja, itu masalah kenakalan remaja kan? Kita sudah dewasa sekarang. Lagi pula kau sudah punya istri, jika aku tambahkan minuman ini dengan hal -hal yang membuat kau kuat, lampiaskan pada istrimu, kau juga Arga, istrimu sudah hamil mulai besar, biasanya nafsu mereka tinggi, mereka tidak akan menolak dengan sentuhan, remasan, ******* dari suaminya, kau coba saja," ucap Martin terkekeh.
Rey mengambil satu gelas itu dan hanya memegang erat gelas berwarna bening dengan air berwarna merah di dalamnya.
"Kamu masih saja menggila untuk urusan itu, gak ada perubahan sama sekali," ucap Rey ketus.
Martin berjalan ke arah Rey dan menepuk bahu lelaki itu. Lelaki yang pernah berselisih paham dan menjadi sahabat sejati.
"Gayaku memang seperti ini, Rey, Ga. Aku dulu memang nakal dan pernah melakukan kesalahan besar. Tapi, aku sudah minta maaf, dan mengakui semua kesalahan aku, bukan?" ucap Martin pada Rey.
"Arghhhh ... Tetap saja itu suatu kesalahan besar yang membuatku trauma. Perbuatan kamu itu gila!! Jadi wajar kan, kalau aku tidak percaya lagi sama kamu?" tanya Rey menyipitkan matanya.
"Itu hak kamu, Rey. Aku bersumpah, aku tidak akan berkhianat lagi sama kamu, Rey, Ga," ucap Martin pelan. Wajahnya penuh dengan penyesalan.
__ADS_1
"Tapi aku ragu, Martin," ucap Rey pelan.
"Sudahlah. Kalau memang, tak mau minum tak apa. AKu tidak akan memaksa," ucap Martin pelan.