PAK DOSEN, I LOVE YOU

PAK DOSEN, I LOVE YOU
46


__ADS_3

Pagi ini Clara sudah terbangun terlebih dahulu di bandingkan Rey yang masih terlihat terlelap dengan masih memeluk guling kesukaannya erat dalam dekapannya.


Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Sejak malam Clara berusaha realistis dengan keadaannya. Kadang ucapan orang di sekitar itu ada bauknya di dengar walaupun tidak semuanya itu benar. Ucapan mereka adalah cara pandang merrka menyikapi suatu masalah yang sedang kita hadapi. Kita kadang santai menjalani eh dia yang merasa kebakaran jenggot karena iri.


Kedua kaki Clara sudah menapak di lantai marmer yang masih terasa dingin sekali. Tanpa cuci muka dan tanpa mandi, Clara mengambil tas slempang lalu memakainya dengan mennyelampirkan di bahunya. Tidak lupa ia turun membawa satu mangkuk bubur buatan Bunda Silva yang sama sekali tak tersentuh tadi malam serta satu gelas teh manis yang sudah dingin.


Tadi malam, kejiwaan Clara sedang kacau. Lelaki yang sudah menikahinya itu menurut Clara masih ingin bermain -main dengan keadaan dan masa lalunya. Tidak sekali tapi ini sudah kedua kalinya. Jadi ... apa masih perlu di percaya ucapan seorang buaya? Ya, Clara akan beranggapan Rey itu sama dengan lelaki lainnya yang modus dan banyak berucap janji yang sering di sebut buaya darat. Rey tentu menjadi salah satunya menurut Clara.


Clara berjingkat keluar kamar dan turu ke bawah menuju dapur untuk mencuci mangkuk dan gelas yang ia bawa.


Deg ...


Bunda Silva sudah berada di dapur. Clara mau bilang apa? Pagi -pagi buta begini sudah mau keluar. Lalu? Makanan ini tak tersentuh sama sekali, tentu Bunda Silva akan kecewa sekali dengan sikap Clara.


"Pagi Bunda ...." sapa Clara dengan riang. Clara langsung menghampiri Bunda Silva dan mencium kedua pipi ibu mertuanya itu.


"Hey sayang. Hemm ... gak di makan ya?" tanya Bunda Silva cemberut saat melihat Clara membàwa mangkuk bubur yang masih utuh.


"Maaf Bunda. Clara ketiduran semalam. Ini saja, Clara mau buru -buru ke kost. Ada yang lupa di bawa. Hari ini, Clara mau urus tempat buat magang Clara selama tiga sampai enam bulan tergantung analisis data untuk skripsi itu sudah selesai atau belum," ucap Clara menjelaskan.


"Ke kost pagi -pagi gini? Gak nunggu Rey bangun biar di antar?" tanya Bunda Silva merasa aneh.


"Pak Rey masih lelap. Mungkin Pak Rey lelah, Bunda. Tapi, Clara sudah ijin mau ke kost kok tadi malam," ucap Clara beralasan untuk menutupi kebohongannya.


Clara buru -buru membuang isi bubur di tempat sampah dan mencuci mangkuk dan gelas sampai beraih di wastafel lalu di letakkan di rak piring.


Bunda Silva menatap Clara aneh. Pasti ada hal yang sedang terjadi dan di sembunyikan dari Bunda Silva.

__ADS_1


"Lagi berantem sama Rey?" ucap Bunda Silva menuduh.


Deg ...


Degub jantung Clara terus bergemuruh keras dan membuat jantungnya berdegup keras tiba -tiba. Berbohong bukan suatu kebiasaan Clara. Clara memang tak pandai menutupi sesuatu masalah yang di hadapi dengan baik.


Clara menoleh ke arah Bunda Silva yang sejak tadi menatap Clara dari belakang.


Senyum Clara terbit dan berusaha wajar sekali, walaupun senyum itu teramat sangat di paksakan sekali.


Lalu Clara menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak Bunda. Kita baik -baik saja," jawab Clara lirih.


"Soal Renata semalam?" tanya Bunda Silva masih terus menyelidik dan menatap lekat pada kesua mata Clara.


"Hemm ... pikiran kamu terlalu over thinking Clara. Gak baik menuduh Rey, suami kamu sendiri seperti itu. Coba kamu lihat perjuangannya. Bukan Bunda membela anak Bunda sendiri. Kalau memang Rey salah, Bunda akan tegas bilang dia salah. Tapi kalau Bunda lihat dia mau berjuang itu berarti Rey mau berusaha keras," ucap Bunda Silva mencoba membuka jalan pikiran Clara agar tetap jernih dan dingin dalam berpikir.


Bunda Silva menghampiri Clara dan memeluk anak menantunya itu seolah memberi kekuatan dalam diri Clara untum tetap tenang menyikapi suatu hal yang di anggap merusak hati dan pikirannya.


"Ada Bunda. Kalau mau cerita, kamu boleh cerita," titah Bunda Silva lembut.


"Iya Bunda. Terima kasih. Tapi, Clara memang tidak ada masalah apa -apa. Ini memang baju Clara masih tertinggal di kost. Kemarin belum sempat kesana," ucap Clara menjelaskan.


"Semoga saja penjelasan kamu ini benar dan jujur," ucap Bunda Silva pelan.


Clara hanya mengangguk pasrah. Dirinya memang sedang berbohong.

__ADS_1


"Clara berangkat dulu ya Bun," ucap Clara pelan. Clara berpamitan dan menyalami Bunda Silva dengan sopan.


Clara bergegas menuju keluar rumah dan mencari taksi atau ojek online dalam aplikasi ponsel pintarnya.


Satu jam kemudian, Clara sudah berada di dalam kamar kostnya. Baru saja di tinggal beberapa hari rasanya sudah rindu dengan kamar ini.


Tubuh Clara di rebahkan di atas kasur dan melepas tas slempang lalu di letakkan asal di atas kasur tepat di sebelahnya.


'Mending jadi anak kost begini Lebih bebas,' cicit Clara lirih sambil menatap cincin kawin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.


Sebenarnya antara menyesal dan tidak menyesal menikah dengan Rey. Ada plus dan minusnya. Mungkin karena Rey dan Clara sama -sama belum siap menerima kenyataan ini? Atau memang benar, pernikahan ini terjadi hanya karena ingin menutup aib saja? Karena dia dosen? Takut malu? Jika mahasiswinya tanpa sengaja di hamili karena lerbuatan mesumnya? Hah ... ironis sekali dengan sikapnya yang alim dan dingin itu.


Lama -lama Clara pun terlelap dalam lamunannya yang tak berujung.


Skip ...


Bunyi alarm ponselnya begitu nyaring dan satu tangan Rey menggapai ponselnya untuk mematikan alarm tersebut.


Tangannya kembali mencari -cari keberadaan wanita mungil yang empuk. Tangannya terus menepuk -nepuk kasur dan mencari -cari sosok Clara yang tak ada di kasur. Tapi nihil. Bagian kasur itu sudah dingin dan kosong tanpa penghuni.


Kedua mata Rey membuka. Kasurnya memang sudah kosong. Clara sudah tak ada di sana. Bekas mangkuk dan gelas pun sudah tak ada di nakas. Itu tandanya Clara sudah bangun. Atau mungkin ia sedang memasak? Hemm ... istri yang baik sekali. Tahu saja, kalau pagi begini, suaminya ini kelaparan dan butuh amunisi asupan makanan.


Rey bergegas bangun tanpa rasa curiga dan langsubg keluar kamar lalu menuruni anak tangga, ingin segera menghampiri istri mungilnya yang sudah pasti berada di dapur. Ingin memeluk Clara dari belakang sambil di ciumi di bagian tengkuknya seperti di film -film romantis yang bikin baper itu.


Sesampai di dapur. Langkah Rey memelan. Ia hanya melihat sosok Bunda Silva sedang memasak di depan kompor gas dan penggorengan.


"Bunda? Clara mana?" tanya Rey pelan sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok istri mungilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2