
Sore ini Rey dan Clara tengah bersiap untuk menghadiri acara empat bulanan Nita di kediaman rumah baru Nita dan Arga. Acara ini bukan hanya syukuran untuk berbagi kebahagiaan atas kehamilan Nita, seklaigus syukuran atas rumah baru mereka di sebuah perumahan baru yang terletak agak jauh dari kampus mereka.
Clara baru saja selesai mandi, tubuh polosnya masih terlilit handuk pendek dengan rambut di jepit semua ke atas. Clara melewati cermin di meja riasnya sambil tersenyum. Betapa bahagianya ia sekarang. Hidupnya jauh lebih baik dan teratur. Walaupun sesekali ia masih merasa terkekang dengan keadaan ini.
Dulu, Clara pikir menikah di usia muda itu tidak enak, karena banyak hal yang pastinya tidak bisa ia lakukan lagi bersama teman -temannya. Sebenarnya tidak seperti itu juga, hanya saja, setelah menikah dan Clara sadar bahwa dirinya sedang mengandung, malah Clara lebih senang berada di rumah. Menyalurkan hobby memasaknya dan sering membuat resep baru dengan bumbu yang benar tentunya. Tidak salah bumbu seperti kemarin.
Clara merasakan tubuhnya mulai membesar dan agak kesulitan mencari pakaian yang pantas. Biasanya Clara hanya memakai tank top dengan luaran cardigan rajut dan rok pendek rempel. Tapi, ini acara spesial dan tentunya acara ini sangat formal dan pasti banyak dosen penting yang datang.
Clara mengacak -acak lemarinya yang sama sekali tak ada baju seuai dengan tema acara sore ini. Satu per satu tumpukan baju itu Clara angkat dan memilih beragam warna warni pakaiannya yang inim dan kurang bahan itu.
Ceklek ...
Rey masuk ke dalam kamar mereka, ia baru saja mengantarkan asisten rumah tangganya yang pulang sampai pintu depan. Ya, setiap hari ada asisten rumah tangga yang datang setiap paagi dan pulang sore hari untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga kecuali memasak, sekaligus untuk menemani Clara jika tidak sedang pergi ke kampus.
Langkah Rey pelan sekali, dan Clara tak sadar suaminya sudah berada di dalam kamar itu karena ia terlalu fokus mencari baju yang cocok untuk acara syukuran di rumah Nita.
Pandangan Rey menatap arah jarum jam di dinding atas ranjangnya. Acara ke rumah Nita masih dua jam lagi. Masih cukup untuk bersantai sejenak, membuat sore ini lebih sedikit berwarna sebelum menghadiri acara syukuran tersebut.
Tangan kekar Rey melingkar ke depan perut Clara, dan Clara sempat berteriak histreis karena kaget.
"Arghhh ...." teriak Clara dengan suara keras secara spontan. Suara cempreng yang cukup mengganggu gendang telinga Rey.
"Kebiasaan sukanya teriak. Suaminya lembut lho meluknya, masih aja teriak," ucap Rey lembut sambil menciumi bahu Clara yang harum.
Clara cuma diam dan masih fokus mencari baju yang cocok untuk dirinya yang mulai membesar itu.
"Kaget Mas. Kan lagi fokus ini," ucap Clara pada suaminya.
"Ekhemmm ... Nyari apa sih? Serius banget?" tanya Rey pada Clara.
"Ini nyari baju buat acaranya Nita. Clara gak tahu, kalau badan Clara sekarang sudah besar, dres ini juga sudah gak cukup. Pakai rok pendek sama tank top aja deh, gimana?" tanya Clara mengambil satu rok pendek berwarna silver.
Rey menatap rok pendek milik istrinya yang sudah layak pensiun dari lemari kayu jatinya ini.
"Kamu mau pakai itu?" tanya Rey meletakkan dagunya di bahu Clara.
Clara mengangguk sempurna. Kalau memang di ijinkan kenapa tidak. Rok itu masih bagus dan layak di pakai.
"Ya ... Menurut Mas? Cocok gak di pakai ke acara Nita?" tanya Clara malah ragu.
"Cocok kalau kamu mau pamer tubuh kamu, dan kamu gak mengakui saya sebagai suami kamu," ucap Rey menegaskan.
__ADS_1
Clara berbalik menatap Rey dnegan tajam.
"Kok gitu ngomongnya? Kan Clara tanya tadi? Mas jawabnya malah gak enak?" ucap Clara kesal. Wajahnya terlihat asam.
Tubuh mereka kini saling berhadapan. Rey masih memeluk pinggang Clara dan mengusap punggung Clara lembut. Aroma wangi sabun yang masih melekat pada tubuh Clara membuat Rey semakin merasa sesak di bagian bawah.
Memang si joni ini sering tak kenal waktu mengerasnya. Rey sedang mencari cara untuk memberikan alasan tepat pada Clara sebelum mereka pergi ke acara Nita sore ini.
"Saya itu hanya tidak mau kamu jadi pusat perhatian, Clara. Iya kalau di perhatikan karena hal baik dan positif? Nah kalau karena hal negatif?" tanya Rey pelan.
"Gak usah bertele -tele maksudnya apa ngomong begitu? Mas malu bawa Clara ke acara Nita? Kalau malu kita datang masing -masing saja, Mas pergi sendiri, nanti Clara naik taksi juga bisa," ucap Clara makin kesal.
"Kan ... Kan ... Ini nih kelakuan ibu hamil yang sering overthinking. Salah cerna kalau suami ngasih nasihat," ucap Rey masih lembut dan berusaha tenang.
"Salah gimana? Itu sih ucapan Mas yang buat Clara kesal, kesannya Mas tuh malu bawa Clara," ucap Clara ketus.
"Malu dari mana? Kalau malu, saya gak akan ajak kamu makan di ruang dosen. Kalau saya gak akui kamu, saya gak akan pergi bareng dalam satu mobil kalau ke kampus. Kamu itu terlalu pendek cara berpikirnya Clara. Buka pemikiran kamu, biar kamu gak terus menerus menyalahkan keadaan seperti ini," ucap Rey tegas.
Suara Rey agak meninggi dan sedikit membentak. Lama -lama Rey juga kesal, dia juga punya hati dan perasaan. Selama ini, apa kurangnya Rey untuk Clara. Semuanya sudah ia berikan sesaui porsinya. Rey hanya ingin Clara bisa jaga sikap dan bisa memposisikan di mana ia berada.
"Itu sih, waktu di kelas. Waktu Mas ngajar dan Clara mau minta uang untuk makan siang. Mas gak langsung kasih dan bilang tunggu di ruangan Mas aja. Malu? Sama mahasiswanya?" tanya Clara pelan.
Rey hanya menggelengkan kepalanya pelan. Memang istrinya ini perlu sedikit di tatar. Rey melepaskan jepitan besar pada rambut Clara hingga rambut ikal itu terjatuh lemas di bahunya. Rey merapikan rambut Clara dan menyimpanya di belakang telinga Clara.
Tatapan Clara begitu tajam, ia tidak bisa menerima alasan murah seperti itu. Masa iya hanay karena belum membuat pesta pernikahan di sini, terus status istrinya di sembunyikan.
"Jadi, Mas mau menyembunyikan status Mas? Status sudah menikah dan punya istri?" tanya Clara menyelidik.
"Bukan itu sayang. Lebih tepatnya hanya menyembunyikan identitas istri, bukan menyembunyikan status pernikahan kita. Nyatanya saya selalu bilang sama semua mahasiswa saya yang kepo, dan bertanya sudah menikah. Cukup tunjukkan cincin saja, harusnya paham," ucap Rey dengan jelas membuat Clara tak bisa mendebatkan lagi semua alasan itu.
"Ahhh ... Sudahlah, berdebat sama Mas, ujung -ujungnya bikin Clara kesel sendiri," ucap Clara yang membalikkan tubuhnya lagi menatap semua pakaiannya di lemari.
"Kesel kenapa sih, istrinya pak dosen gak boleh kesel -kesel, nanti cantiknya hilang," ucap Rey muali melancarkan aksinya. Sejak tadi ia sudah tidak tahan ingin mengeluarkan joni dari sangkar emasnya.
"Cih ... Ini mesti ada maksud terselubung nih," cicit Clara yang sudah hapal dengan keinginan suaminya yang tak terbendung.
Rey terkekeh sendiri dan melepaskan lilitan handuk yang menutupi tubuh indah Clara. Tanpa aba -aba, Clara langsung di angkat ke atas ranjangnya. Tubuh mungil sedikit berisi itu sudah tak pernah lagi memberontak dan meronta saat suaminya mulai kalap menginginkan sesuatu yang cepat, singkat dan instant tapi memuaskan.
Rey membuka pakaiannya dan menikmati tubuh polos Clara dengan perut yang mulai mmebuncit, nalah mirip seeprti orang kena penyakit cacing. Tahau gak sih? Sama obat cacing blentuk, yang bentuknya abubuk. Modelnya mirip banget seperti itu. Rey mengulum senyum.
"Kok ketawa sih? Ada yang aneh?" tanya Clara sambil menutup tubuhnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Rey mulai merangkak dan kini berada di atas tubuh Clara dengan kedua siku yang menopang tubuhnya.
"Saya jadi ingat pertama berbuat ini sama kamu," ucap Rey lembut. Rey mulai mndekatkan wajahnya ke wajah Clara dan mencium bibir tipis Clara yang selalu terasa enak berada di dalam mulutnya.
Kedua mata Clara menatap Rey tanpa berkedip, membiarkan suaminya yang ekspresif itu melakukan hal yang disukainya. Rey melepaskan tautan bibirnya dan menghirup banyak oksigen sebelum pertempuran yang sebenarnya akan dimulai.
"Kenapa? Malah ingat kejadian malam itu? Gak bagus, itu kenangan buruk," ucap Clara tertawa.
"Kenangan buruk yang membawa kita menjadi satu dan selalu bersama sampai sekarang. Saya maunya untuk selamanya, sampai kita tua nanti, menjadi kakek nenek dan memiliki keturunan anak cucu yang sanagt banyak," ucap Rey dengan semua harapan baiknya.
Kedua tangan Clara mengulur dan mengalung ke leher Rey. Mengeratkan jari -jarinya satu sama lain hingga tubuh mereka merapat dan saling memandang penuh damba.
"Clara bersyukur, punay suami seperti Mas Rey. Ternyata Mas Rey itu baik luar biasa," ucap Clara memuji.
Rey menatap Clara dan mengernyitkan dahinya.
"Hanya baik?" tanya Rey penasaran.
Clara memutar kedua bola mataanya malas dan memandang ke arah lain.
"Ekhemmm ... Kuat juga," jawab Clara lirih dan sedikit malu mengakui.
Rey memegan dagu Clara agar menatapnya lekat.
"Kuat apa nih? Menghadapi kenyataan?" tanya Rey pada Clara. Tatapannya tajam.
"Kuat ... Itu ... Anu ... Itu Mas," ucapan Clara tak beraturan ia malu seklai. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Ucapan spontannya malah membuat Rey senang sekali menggodanya.
"Kuat apa? Kalau ngomong yang jelas dong sayang? Kuat ini maksudnya?" ucap Rey yang berhasil membawa joni masuk ke dalam gua basah dengan aroma khas yang membuatnya candu.
"Arghhh ... Mas Rey, pelan -pelan, masa tanpa aba -aba, mentang -mentang gak ada rambu- rambu, lolos gitu aja," teriak Clara yang kaget saat joni sudah bergerak maju mundur di dalam memenuhi area gua basahnya yang semkaian licin.
"Hemmm ... Bukannya tadi kamu akui Mas ini kuat," ucap Rey berbisik.
Clara sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Rey. Pikirannya sudah melayang ke surga dunia tingkat dewa, sampai ia tak fokus dan tidak bisa mencerna ucapan Rey yang bicara padanya.
Keringat keduanya mulai keluar dari pori -pori, kamar tidur yang nyaman dengan AC pun tak mampu mmebendung asmara yang bergelora dan menggairahkan itu hingga suara decitan ranjang membuat suasana sepi itu malah makin membuat keduanya semakin terpacu adrenalinnya untuk segera memuncak dan meraih semua kenikmatan itu bersama.
"Sayang ...." lirih Rey berbisik dengan tenaga super kuda berlari kencang begitu sanagt kuat.
"Heemmm ...." Clara hanay bisa meleguh kenikmatan. Tubuhnya bergetar hebat dan merasakan aliran kuat di dalam yang menubruk dinding gua basah itu.
__ADS_1
Seketika Rey berteriak keras dan jatuh dalam pelukan Clara dengan tubuh terkulai lemas. Kedua napas keduanya memburu dan masih tersengal -sengal. Rey berusaha mengatur napasnya, begitu juga dengan Clara yang juga harus mengontrol aliran napasnya yang mulai membuat sesak karena kenikmatan tiada tara.
Menjadi pasangan halal itu bebas dan lepas. Keduanya tersenyum dan mencium satu sama lain sambil saling memuji kehebatan pasangannya.