
Sudah satu bulan menjelang kelahiran twins adel. Rey lebih sering berada di rumah. Rey bekerja hanya di jam tertentu saja dan cepat kembali ke rumah, walaupun di rumah sudah ada asisnten rumah tangga yang memang stay menemani Clara di rumah. Sesekali Nita dan bayinya juga ikut menemani Clara dari pagi hingga sore atas pemintaan Rey untuk menemani Clara di rumah agar ada teman bicara sekaligus bisa belajar dari Nita mengurus bayi dengan baik. Usia bayi Nita sudah satu bulan. Bayi laki -laki yang sehat dan terlihat sangat kuat.
"Lucu ya Nita, siapa namanya? Lupa lagi," tanay Clara pada Nita yang sdeang mengganti popok bayi yang basah karena kencing.
"Abigail, Clara," ucap Nita pelan. Nita mengangkat bayinya dan memangku baby Abigail dengan tumpuan bantal lalu menyusui bayi tersebut.
"Sakit gak Nit, nyusuin gitu. Kok rasanya nyeri banget sih. mana kuat lagi nyusunya itu bayinya," ucap Clara yang ikut duduk di samping Nita sambil mengusap kepala bayi Abigail yang berambut lebat.
"Awalnya sakit Ra. Sampai berdarah -darah dan aku sendiri sempat gak mau lagi nyusuin karena gak kuat nahan sakit. Tau gak, pucuknya itu sampai lecet, gak banget pokoknya, tapi cuma seminggu aja sih, udahnya sih gak. balik lagi kayak biasa aja," ucap Nita pelan sambil mentap bayi Abigailnya.
Nita menatap Clara yang masih abu -abu tidak bisa membayangkan jika ia di repotkan dengan dua bayi kembarnya.
"Udah sih, gak usah di pikir kali. Santai aja, di buat tanpa beban, ikutin aja alurnya, prosesnya, nikmati smeua, pasti enak kok. Cape kita, lelah kita, sakit kita terobati saat kita lihat bayi yang kita lahirkan dari rahim kita sendiri. Udah janagn parno pokoknya. Aku nidurin Abigail dulu, habis ini kita rapihin belanjaan keperluan untuk twins ael kemarin," ucap Nita pelan.
Abigail di pindahkan ke box bayi milik twins adel. Berhubung usia kandungan Clara sudah mau menginjak sembilan bulan, Clara memang sesekali pergi berbelanja membeli perlengkapan bayi bersama Rey. Clara memang tidak bisa berjalan lama, jadi kalau beli tertuju pada satu toko khusus menjual perlengkapan bayi dan memborong smeua kebutuhan untuk bayinya.
Seharian ini Nita membantu Clara membereskan pakaian bayi untuk twins adel. Nita juga memeberitahu cara menggunakannya dan emmeberi sedikit pengalaman yang ia punya selama mengurus Abigail. Sebagai sahabat yang baik, Nita hanya ingin Clara bisa lebih siap mengurus bayinya dengan baik.
"Sayang ... Mass pulang," teriak Rey yang di ikuti oleh Arga yang juga datang dengan waktu yang bersamaan.
"Mas Rey, bawa apa itu?" tanya Clara yang terlihat letih.
Rey langsung memeluk istrinya dan mencium kening serta pipi Clara penuh aksih sayang.
"Wajah kamu cape sayang? Memang habis ngapain?" tanay Rey pelan.
__ADS_1
"Beresin baju- baju bayi, Mas. Cape dikit sih. Itu bawa apa?" tanya Clara mencium wangi makanan.
"Bakso rudal beranak itu kepengen kamu kemarin. Tadi sama Arga beli, satu buat kamu satu buat Nita, kita tadi udah makan di tempat lain. Mas siapin ya. Kamu di sini aja," ucap Rey pelan.
Rey pergi ke dapur dan menyuruh asisten rumah tangganya untuk memberikan minum pada tamu yang baru datang di depan. Rey menyiapkan dua mngko dan emnumpahkan bakso itu di mangkok untuk Claar dan Nita.
"Ini baksonya Nit. Makasih udah nemenin Clara, kasihan Clara gak ada temen, suka kesepian," ucap Rey sambil memegang mangkok bakso dan bersiap menyuapi Clara.
"Makasih Pak Rey. Gak apa -apa, kalau Nita bisa main, pasti main. Asal Mas ARga gak keberatan Nita sih santai. Toh, disini juga kayak di rumah, bisa tidur, maakn, santai," ucap Nita tertawa.
"Ya udah pindah saja kesini," goda Arga kemudian.
"Yakin? Nita pindah ke rumah Clara. Mas Arga gak bingung saat kedinginan," goda Nita.
"Kedinginan ya selimutan. Ya gak Rey," ucap Arga sambil tertawa.
"Haishhh ... Gak perlu di perjelas juga kali. Selimut hidupku cuma Nita sekarang. Dia wanita terhebat. Wanita yang sudah melahirkan adalah wanita hebat, karena sanggup bertarung nyawa demi buah hatinya," ucap Arga kemudian sambil merangkul Nita yang duudk di sebelahnya sambil mengecup pipi Nita.
"Jihhh ... Main nyosor aja, malu tuh dilihat Pak Rey sama Clara," ucap Nita kesal sambil mencubit paha Arga, suaminya.
"Mereka juga gitu tadi. Biarin aja sih, sama -sama punya pawang kok, kamu yang bingung," ucap Arga merasa tak terima.
"Sudah ah. Nanti Abigail bangun," ucap Clara menengahi.
"Makan dulu Nit," titah Rey pada Nita.
__ADS_1
Clara duduk bersandar di sofa. Tubuhnya rasanya sakit sekli di bagian punggung. Beberapa sejak siang tadi perutnya terasa sangat sakit sekali. Rey mulai memotong bakso dan menyuapkan satu per satu potongan bakso ke dalam mulut Clara.
Tidak ada batasan makanan atau pantangan makanan. Satu minggu sekali, Clara sekarang kontrol pada dokter kandungannya. Baru dua hari yang lalu, Clara kontrol dan semua baik -baik saja. Air ketuban juga sudah cukup sampai waktunya tiba melahirkan.
"Mas udah ah makannya. Clara mual, dari tadi siang kayak gak bisa nerima makanan dan terasa engap," ucap Clara sendu.
"Iya Pak Rey. Dari tadi Clara kayak kurang jenak duduk dan rebahan seperti serba salah. Katanay mual tapi susah muntah, perutnya mules, belum tanggalnya lahir kan?" tanya Nita pada Rey.
Nita dulu operasi sesar, kadi tidak merasakan mulas orang hamil yang ingin melahirkan.
"Mas, Clara kayak mau keluar ini," ucap Clara menahan rasa tak enak. Keringat dingin keluar.
"Jangan -jangan Clara mau melahirkan Rey. bawa ke rumah sakit aja, takut ada apa -apa," titah Arga dengan cepat.
"Nita tolong bawa tas Clara dan tas pakaian di meja dekt lemri pakaian. Itu baju Clara dan baju bayi yang sudah di persiapkan bila sewaktu -waktu Clara mau melahirkan," titah Rey dengan cepat.
"Iya Rey. Bentar," jawab Nita yang bergegas mengambil tas dan emmebrikan pada Arga.
"Nita gak ikut ya. Abigail gak ada yang jaga. Biar Mas Arga yang nemenin pak Rey. Bawa Pak cepat. Kasihan Clara," titah Nita cepat.
Rey sudah mengangkat tubuh istriya ke dalam mobilnya dan Arga yang mengantarkan Rey dan Clara ke rumah sakit.
"Sabar ya sayang. Kamu tarik napas dulu tahan dulu," titah Rey dnegan lembut.
Rey berusaha tidak emnunjukkan rasa cemas dan paniknya agar Clara tidak merasa sendirian dan tetap bisa merasa aman dan nyaman dengan suaminya.
__ADS_1
"Mas ... sakit banget,. eunghhh ...." lirih Clara menahan mulas dan emnahan sesuatu yang akan keluar dari arah bawah bagian sensitifnya.
Kedua mata Clara berusaha terpejam agar rasa sakitnya sedikit hilang. Namun ternyata itu sama sekali tidak berlaku untuknya.