
Clara menegakkan duduknya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kedua sikut tangannya berpangku pada kedua pahanya.
Melihat kegelisahan Clara yang nampak serius. Rey pun ikut menegakkan duduknya dan memegang lembut bahu Clara.
"Ada saya, Clara? Kamu pikir saya hanya main -main? Saya serius mau menikahi kamu," ucap Rey meyakinkan.
Clara masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Clara bingung setengah mati. Liburan semesteran masih beberapa minggu lagi. Sedangkan akhir bulan ini, adalah waktunya Clara menstruasi. Itu tandanya kalau sampai akhir bulan Clara tidak menstruasi maka benih si joni benar -benar ampuh membuahi sel telurnya yang matang. Dan hasil akhirnya? Clara positif hamil.
Clara sama sekali tak bergeming. Otaknya mulai berpikir terlalu panjang dan overthinking. Seharusnya bisa di cari solusinya se -simpel mungkin maka Clara pemikirannya jauh tujuh langkah ke depan.
"Kayaknya Clara harus makan nanas muda yang banyak biar calon benih si joni gak nyangkut di sel telur Clara," ucap Clara tiba -tiba. Konyol sekali pikirannya.
"Hah? Gak ada aja begitu!! Saya tidak setuju. Biarkan benih si joni mencari jati dirinya di sel telur kamu, Clara. Bagus dia mandiri di sana. Tumbuh kembang dan sehat -sehat di rahim kamu. Biar kita berdua selalu sama -sama," ucap Rey pelan.
Kini tangan Rey mulai mengusap rambut panjang Clara yang sedikit lepek dan berminyak. Maklum keringat sejak malam tadi terus mengaliri kulit kepala Clara.
__ADS_1
"Yah ... kalau di suruh tumbuh kembang berarti Clara beneran hamil dong?" teriak Clara makin histeris.
"Ya terus? Masalahnya apa akal kamu hamil? Memang saya mau lari dari tanggung jawab? Saya ini sudah terbukti dan membuktikan kejantanan saya dan berakhir pada calon keturunan yang saya titipkan padamu, Clara. Percaya sama saya. Liburan semester ini, ijinkan saya bertemu dengan orang tua kamu, Clara. Sepertinya saya akan cepat menghalalkan kamu," ucap Rey pelan. Rey selalu meyakinkan Clara. Hanya saja Clara masih banyak keraguan.
Clara selalu teringat nasib teman -teman kostnya yang memiliki kisah mirip dengan Clara. Mereka di hamili oleh pacarnya dan di tinggalkan begitu saja karena pacar merek tak mau bertanggung jawab dengan alasan belum siap karena masih kuliah. Atau mereka dengan entengnya bilang, "Itu melakukannya secara sadar dan kita lakukan atas dasar suka sama suka. Lalu kamu tuntut aku untuk bertanggung jawab? Padahal kamu tahu? Aku sekarang sudah punya pacar baru!! Gak usah bikin masalah dan mengganggu hubungan kami!!
Ucapan gila para buaya pencari keperawanan dan kenikmatan semata. Tidak mau keluar uang untuk 'jajan' dan mendapatkan secara gratis dengan pacar -pacar mereka. Ujung -ujungnya wanita yang di salahkan!! Mau -maunya berbuat begitu? Sebelum janur kuning melengkung dan resiko hamil itu pasti terjadi.
Ingat kisah si Surti, kakak kelasnya yang juga teman kost yang tinggal tepat di samping kamar kostnya. Ia sadar hamil setelah usia kandungannya menginjak tiga bulan. Saat itu, pacarnya tak ada kabar dan tak bisa di hubungi. Sekalinya bertemu pacarnya itu sudah memiliki kekasih baru.
Akhirnya apa? Untuk menutupi aibnya. Ia di titipkan di rumah neneknya di desa untuk melahirkan bayinya dan di titipkan di panti asuhan. Surti melanjutkan kuliahnya tanpa beban bayi.
Setiap siang Surti harua memompa asinya yang deras di dalam kamar kostnya lalu di buang begitu saja di tong sampah.
Dosa? Bahkan kata -kata itu tak pernah terlintas di pikiran mereka. Mereka hanya ingin nama baik mereka tetap baik. Mereka hanya ingin cuci tangan dari cacian dan makian berakibat jatuhnya harga diri dan martabat seseorang.
__ADS_1
Banyak orang takut malu di depan orang. Takut di hina, di musuhi dan takut tak memiliki teman. Tapi tidak takut akan karma dan azab Tuhan yang jelas menanti.
Tangan Rey menarik wajah Clara yang menatap kosong ke depan. Tatapan Clara tidak berkedip sama sekali.
"Kamu takut?" tanya Rey menatap lekat ke arah Clara.
Clara mengangguk pasrah. Hanya itu yang Clara risaukan tak ada hal lain.
"Kamu masih ragu sama saya? Saya harus bagaimana? Biar keraguan kamu itu hilang? Saya setiap hari berusaha selalu bersama kamu agar tidak sedetik pun kamu merasa saya abaikan atau saya tinggalkan. Kalau pun saya sibuk, kamu tahu harus mencati saya di mana? Ruangan saya jelas di lantai dua di kampus kamu. Rumah orang tua saya juga jelas ada di sana. Bunda Silva pasti menerima kedatangan kamu dengan rasa bahagia. Saya jamin itu," ucap Rey menjelaskan panjang lebar. Ia sendiri bingung bagaimana lagi meyakinkan Clara. Memang solusi terakhir ia harus ikut ke rumah Clara di kampung dan melamar secara pribadi kepada orang tua Clara dan membawa pengikat sebagai tanda jadi. Tanda jadi? Seperti sedang tawar menawar barang di pasar saja.
Lagi -lagi Clara hanya mengangguk pasrah. Itu juga keraguan yang terus menyelimuti hati Clara.
Kedua pasang mata mereka saling bertatap sendu. Wajah kuyu dan kusut Clara yang masih tetap terlihat cantik terus mencari jawaban itu di kedua mata Rey. Rey menatap Clara penuh keyakinan tanpa sedikit pun ragu.
Pipi mulus milik Clara itu terus di usap pelan oleh Rey.
__ADS_1
"Tolong yakinkan hati kamu untuk meyakini kehadiran saya. Saya akan buktikan dinakhir semester ini. Bahwa saya tidak main -main," ucap Rey tegas.
Ucapan itu berakhir pada kecupan manis di kedua pipi Clara oleh Rey. Rey hanya ingin membuat Clara lebih tenang dan nyaman saat bersamanya.