
Rey mengusap pipi mulus Clara dengan ibu jarinya. Di mulai dari bagian mata ke pipi gembil Clara hingga pada bibir Clara. Wajah Clara yang terlihat masih menginginkan pun jelas tercetak pada garis wajah dan tatapn Clara pada Rey.
"Tidur yuk, sini Mas peluk, biar kamu pules tidurnya, Mas bangunkan saat makan siang nanti," ucap Rey lirih dan mengecup pipi Clara.
Tubuh Clara di peluk dengan mengunci kakinya ke kaki Clara, dan tubuh mereka di tutup selimut hingga setengah badan.
Clara tak menjawab ucapan Rey dan malah memejamkan kedua matanya sesuai permintaan Rey yang menyuruhnya tidur.
Jari jemari Rey mulai saling menautkan pada jari jemari Clara yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Kemarin dulu itu, makanan yang sampai di rumah benar dari Radit?" tanya Rey yang masih penasaran. Sejak permasalahan Renata kemudian merembet pada masalah keduanya,mereka memutuskan untuputus mata rantai perdebatan, dan itu berhasil hingga kini, rumah tangga mereka adem ayem tanpa terpaan ombak.
Tubuh Rey masih memeluk Clara denagn menatap lekat penuh wajah Clara. Clara menjawab tanpa mmebuka kedua matanya.
"Bukan," jawab Clara singkat.
"Bukan? Terus nama pengirim Radit dan ada surat dari Raditi itu juga bukan?" tanya Rey penasaran.
"Bukan Mas. Itu cuma akal -akalan Clara aja. Clara itu cuma kesel kan waktu itu," jelas Clara dengan jujur.
"Ohh ... Jadi waktu itu mainin Mas ya, biar Mas panik, pinter juga kamu, Ra," ucap Rey tertawa.
Clara membuka matanyaa ikut tersenyum.
"Mahasiswi itu kan gimana dosennya. Kalau dosennya pinter ngeles, ya mahasiswinya juga pinter ngeles. Kalau dosennya cerdas, nah itu juga membuat mahasiswinya semakin cerdas juga," ucap Clara pada Rey.
"Macam itu. Jangan di ualangi ya bikin cemburunya, lagi pula Radit juga akan jadi anak kamu lho," jelas Rey pada Clara.
"Anak aku? Kok bisa?" tanya Clara bingung.
"Ya kan, Radit jadi anak Kak Desy, berarti anak kita juga. Paham dong?" tanay Rey kemudian.
"Iya paham Selama Mas juga gak macem -macem, Clara juga kan gak ngapa -ngapain," ucap Clara menjelaskan.
Tubuh Rey melepaskan pelukannya pada Clara dan terelntang menatap langit -langit kamarnya. Tangannya masih menggenggam tangan Clara.
"Mas itu sudah sayang banget sama kamu, Ra. Kalau masalah Renata, Mas itu tidak jujur sama kamu, takut kamu marah. Pikir Mas memang menunda, tapi kejadiannya seperti menyimpan bom waktu. Kapok Mas seperti ini," jelas Rey jujur.
Clara menoleh dan menatap wajah Rey yang terlihat jujur dan tulus hingga ketampanannya jelas makin maksimal sempuna.
"Apa yang membuat Mas Rey makin sayang sama Clara? karena twins?" tanay Clara pelan.
"Itu salah satunya.Tapi makin kesini, sikap kamu, sifat kamu, karakter kamu itu memnag sudah cocok dan menyatu sama Mas," ucap Rey lirih.
Rey kembali memiringkan tubuhnya menatap Clara.
"Jangan pernah berubah ya, Ra. Apalagi berpikir untuk pergi dari Mas," imbuh Rey begitu tulus berharap.
"Gak akan Mas. Clara janji akan menemani Mas terus," ucap Clara penuh rasa bahagia.
Inilah yang Clara inginkan, ada obrolan dari hati ke hati untuk memupuk rasa cinta dan rasa sayang dalam hubungan suami istri, ini baik untuk memperkokoh pondasi kepercayaan dalam rumah tangga.
"Makasih ya, Ra. Semoga rumah tangga kita ke depannya tidak ada lagi salah paham," ucap Rey lirih.
"Aamiin," jawab Clara bersemangat di ikuti senyuman manisnya.
"Mas mau cerita tentang rahasia besar keluarga Mas. Mungkin memang seharusnya tidak di ceritakan, tapi kamu hanya perlu tahu garis besarnya saja," ucap Rey pelan. Rey kembali menelentangkan tubuhnya.
"Apa? Bilang aja, kalau memang Clara perlu tahu soal rahasia ini," ucap Clara pelan.
__ADS_1
"Ekhemmm ... Ini rahasia keluarga. Kamu gak perlu lagi bertanya pada Ayah atau Bunda, cukup tahu saja," titah Rey pada Clara.
"Iya. Ada apa sih, malah bikin penasaran," ucap Clara yang terus menatap Rey.
"Soal Kak Desy, dia bukan Kakak kandung Mas. Kak Desy itu anak dari kakaknya Bunda yang meninggal saat melahirkan, suaminya juga sudah meninggal saat Kak Desy masih di kandungan. Ini sih, memang tidak penting, takutnya ada pembicaran apa, kalau kamu tahu pasti akan paham," ucap Rey pelan.
Clara hanya mengangguk kecil. Ada banyak hal juga yang Clara tidak ketahui tentang keluarga Rey. Tapi, setidaknya setelah menikah dan di akui oleh kedua orang tua Rey saja, itu sudah membuat Clara bahagia. Pasalnya Clara tak mengenal Rey lama.
"Hanya mengangguk," tanya Rey menggapai pipi istrinya yang terlihat takjub dengan ucapan Rey baru saja.
"Ekhemmm cuma kaget, Mas. Ternyata di balik keharmonisan keluarga Mas Rey juga menyimpan rahasia besar, menurut Clara tidak banyak yang tahu soal ini," ucap Clara berpendapat.
"Iya memang tidak banyak yang tahu, hanya keluarga besar saja," jawab Rey singkat.
Rey kembali memiringkan tubuhnya dan membuka dres pendk Clara setelah menyibakkan selimut.
"Mas mau apa? Gak enak Mas," cicit Clara yang sudah berpikir jauh. Clara pikir, Rey mau meminta jatah untuk si joni. Rey itu termasuk lelaki yang tak bisa menahan gairahnya jika hanya berduaan dnegan Clara di kamar. Entah siang, malam, atau shubuh, mau ciaca panas atau hujan geledek, aklau si joni minta ya, Clara gak boleh menolak. Jika ada penolakan, maka Rey dengan dalil agama mengungkapkan hak dan kewajiba setiap pasangan suami istri yang membuat Clara kembali pasrah mengiyakan si joni bermain -main dengan tubuhnya.
"Cuma mau ngusap perut saja," ucap Rey pelan.
Rey merangkak mendekati perut Clara yang sudah terbuka dari pakaiannya dan nampak polos lalu di ciumi perut itu dnegan kasih sayang. Entah kenapa tiba- tiba Rey senang melakukan itu semua.
Tangan Clara menggapai kepala Rey dan mengusap kepala suaminya dengan lembut. jari -jari Clara masuk di sela -sela rambut semi ikal Rey yang halus dan batang rambutnya kuat.
"Twins ... Ini Papah, kalian memang anak PAaph yang paling hebat, gak pernah membuat Mamah kamu sedih dan kewalahan. Ekhemmm ... Tapi selama ini kamu jarang ngidam ya, Ra? Perasaan Mas gak pernah kamu sibukkan dengan permintaan aneh -aneh kamu," ucap Rey yang merasa aneh dengan kehamilan Clara.
Rey mengangkat wajahnya dan menatap Clara yang terkekeh.
"Memang harus ya? Penegn ini itu?" tanya Clara kemudian.
"Ya bukan harus, biasanaya kan memang begitu. Dulu Kak Desy mengandung dua kali, juga Ayah ikut repot cari makanan yang Kak Desy pengenin. Belum lagi Nita, kata Arga juga, Nita lumayan ekstrim permintaannya sama Arga," ucap Rey ada Clara.
"Dulu kan, Kak Desy suka di tingal suaminya, jadi sering menginap di sini. Mau gak mau, Ayah yang di repotkan untuk mencarikan makanan yang di idamkan sampai Bunda juga ikut pusing. Masa ada keinginan gini, jam dua petang minta jalan -jalan naik mobil sekedar muter -muter aja, terus minum es campur di pinggir danau, aneh kan. Itu jam dua petang masih dingin malah nyari es campur terus makan di pinggir danau," ucap Rey yang mersa mengidam Kak Desy tak masuk di akal.
"Hah? Sampai segitunya? Nyari es campurnya di mana? Emang ada yang jualan?" tanya Clara kemudian.
"Iya itu, Ayah terpaksa membayar tukang jualan es campur untuk datang setiap hari menjajakan es campurnya untuk Kak Desy. Kak Desy maunya beli sendiri di gerobak, ya kayak biasanya, gitu," ucap Rey yang saat itu ikut lelah mengajak Kak Desy berputar dengan mobilnya. Imbas dari ibu hamil.
Clara hanya mengulum senyum, ia sendiri punya keinginan yang mungkin bisa juga di bilang aneh, tapi ia urungkan keinginan itu pada Rey.
"Terus kalau Nita? Apa ngidamnya. Clara gak pernah tahu soal itu. Nita gak pernah cerita," ungkap Clara lirih. Selama menikah hubungannya dengan Nita pun juga sedikit merenggang. Kedua sahabat itu memiliki kesibukan masing -masing dan mengurusi kehamilannya yang mulai membesar.
"Nita? Kemarin Nita pengen banget dandanin Arag seperti perempuan dan harus berbelanja dengan pakaian wanita danmake upnya. Kebayang gak sih, malunya Arga di bawa ke supermarket pakai gamis dan full make up? Ya ampun," ugkap Rey yang saat itu di ceritakan tertawa keras.
"Masa sih, dasar teman laknat. Memaulakn sekali, suami sendiri di dandanin perempuan. Mungkin bayinya perempuan kali ya?" tanya Clara pelan.
"Hu um, bisa jadi. Semoga anak kita sepasang ya, Ra. Kira -kira namanya siapa ya?" tanya Rey pelan.
"Ekhemm siapa ya? Mas ada saran?" tanya Clara kemudia. Jujur saja Clara belum mencari nama untuk bayi yang masih ada di kandungannya.
"Mas ada sih, coba kamu pilih bagus yang mana? Adelio dan Adelia, atau Adicandra dan Adikirana? Bagus yang mana?" tanya Rey pada Clara. Ia masih sibuk menciumi perut Clara yang mulai sedikit membesar.
"Artinya apa Mas? Clara mau tahu," tanya Clara kemudian.
"Ekhemmm ... Kalau Adelio itu Pangeran mulia kalau Adelia artinya Mulia. Lalu, Adicandra itu artinya Rembulan yang indah dan Adikirana artinya sinar yang cantik. Terserah kamu, Ra. Kalau kamu punya pilihan lain juga gak apa -apa," ungkap Rey membebaskan Clara yang ikut andil memilih namay untuk bayi kembar mereka.
"Clara suka nama Abigail dan Kania, tapi kurang tahu sih artinya apa, cuma suka aja," ucap Clara pelan.
"Biar pembaca saja yang memilihkan nama untuk anak kita? Setuju gak?" tanya Rey pada Clara.
__ADS_1
***
Hari semkain siang, tidak ada perdebatan soal nama anak atau perdebatan di kasur. Rasanya cukup bermanaja -manja, bersayang -sayangan, seperti ini saja sudah cukup sampai tadi keduanya sempat tertidur. Rey yang tetap dalam posisi memeluk Clara sambil mengusap perut istrinya pun langsung terlelap pulas dnegan dengkuran halus dari bibirnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan lembut di depan kamarnay membuat Clara terbangun dari tidurnya. Rasanya kamar ini mulai panas dan membuat tubuhnya gerah.
Clara memindahkan tanga Rey yang ada di perutnya dan bangkit dari tidurnya mengahmpiri pintu kamar sambil menutup pakaiannya yang terbuka.
"Ehh Bunda," sapa Clara pada Bunda Silva yang sudah tersenyum di depan pintu kamar Clara.
"Sudah mau makan siang, kamu sama Rey turun ya, kita ngobrol tentang persiapan acara kamu," ucap Bunda Silva pelan.
"Acara Clara? Clara gak paham," tanay Clara bingung.
"Nanti kamu juga negrti," cicit Bunda Silva pada Clara seolah ia kelepasan bicara.
Clara hanya terdiam. Ia bingung, ada acara apa? Perasaan Mas Rey tidak bicara soal apapun. Clara kembali ke kasurnya dan membangunkan Rey dengan lembut.
"Mas ... Mas Rey, ayok bangun, sudah di panggil Bunda buat ke bawah sekarang, mau makan siang. Mas, ayok," panggil Clara yang terus berusaha membangunkan suaminya.
"Heummm ... Cium dulu dong, baru bisa melek ini," cicit Rey makin manja.
CUP ...
Clara mencium kening Rey.
"Eunhhh ... Kok di situ sih, gak mesra amat," cicit Rey yang emmeindahkan kepalanya di pangkaun Clara.
" Maunya yang mana sih, Mas. Pipinya?" jawab Clara polos.
Rey tak menjawab. Rey sengaja biar semua wajahnya di cium oleh Clara.
CUP ...
Pipi kanannya sudah mendarat sebuah ciuman singkat.
"Gak ah ... Gak bikin semangat," cicit Rey makin lebay.
"Dih ... Kayaknya lagi ngerjain Clara deh," kesal Clara.
"Enggak. Mas lagi gak ngerjain, emang minta di cium, biar melek. Lihat nih, mata nempel mulu," ucap Rey menunjukkan kedua matanay yang sejak tadi memang tak membuka sama sekali.
CUP ...
Satu kecupan singkat di bibir Rey sudah mendarat, tepat saat itu tangan Rey memegang tengkuk Clara dan menekannya agar ciuman itu tak terlepas dan semakin dalam, membuat Clara yang tak siap pun seperti kesulitan bernapas. Apalagi posisi mereka kurang nyaman. Clara yang duduk dengan kepala Rey di pangkuannya, harus rela berlama -lama mmbukuk untuk mencium Rey.
Satu menit ...
hingga lima menit Rey malah makin sennag dan semakin terus ******* bibir Clara.
"Uhh ... Kebiasaan Mas nih, Clara kan gak siap," ucap Clara sambil terengah -engah.
Rey terbangun dari pangkuan Clara dan menyentuh bagian bawah bibir Clara yang masih tersisa air liurnya di sana, di usapnya menggunakan ibu jari Rey.
"Jangan marah ya, Mamah Twins, ini bentuk rasa sayang Papah untuk Mamah," ucap Rey lirih dan mengecup kembali bibir Clara.
Hari ini Clara di buat melayang terus menerus oleh Rey. Sungguh membahagiakan memang. Rasanya seperti kembali saat dulu, sewaktu awla kenal. Sikap Rey yang agresif dan selalu menginginkan Clara.
__ADS_1