
Di dalam ruang perpustakaan yang sangat luas dan besar membuat Clara bingung dan melihat pada ujung rak buku untuk melihat daftar buku yang ada di setiap raknya.
Jujur saja tiga tahu lebih ia berad di kampus ini, apling juga masih bisa di hitung dengan jari, berapa kali ia masuk ke ruang Perpustakaan.
Perpustakaan itu adalah perpustakaan besar untuk setiap kampus yang menlingkupi beberapa fakultas yang ada. Di Kampus tiga, tempat Clara kuliah hanya ada tiga fakultas. Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik Informatika dan Fakultas Hukum.
"Gilaaa ... Gede banget, sampe bingung mau cari apa? Tapi ada ya? Orang yang betah berlama -lama di Perpustakaan," gerutu Clara yang sama seklai tak suka berada di Perpustakaan.
Clara berjalan terus menuju arah belakang, karena di bagian atas tertulis Jurnal dan Contoh Skripsi. Langkah Clara begitu tegas berjalan menuju ke arah bagian belakang. Sampai saat ini otaknya masih buntukarena belum ada ide untuk menyusun skripsi dengan judul apa.
"Lelah bestie ... Kenapa sih, hidup Clara di akhir dunia perkuliahan malah begini," cicitnya lirih pada dirinya sendiri.
Oh iya, Clara itu termasuk perempuan insecure yang suka bicara sendiri di dalam ketakutan atau kegugupannya. Terkadang terlihat seperti orang gak waras juga.
Pug ...
Satu tangan dengan ukuran telapak tangan yang cukup besar ada di bahu Clara dan membuat Clara sedikit tertegun penasaran. Siapa gerangan?
Clara menoleh ke arah belakang dan ...
Kedua bola matanya melotot sempurna. Rasanya ingin berteriak keras seperti sedang melihat setan.
"Hei ... Jangan teriak. Ini Perpustakaan," ucap orang tersebut dengan cepat menutup mulut Clara.
Clara hanya menjawab lewat kedua matanya yang berkedip cepat tanda mengiyakan. Orang tersebut pun melepaskan bungkaman tangannya di mulut Clara saat Clara mulai tenang dan tidak terkejut lagi. Bukan suatu kebetulan pastinya mereka berdua bertemu di tempat ini.
"Ka -kamu? Radit kan?" ucap Claradengan senyum manis mengingat nama Radit. Lelaki yang ganteng mirip opa -opa korea yang suka ia lihat di youtube. Radit adalah satu -satunya orang yang ia kenal dan mengajaknya kenalan saat magang di satu perusahaan yang akhirnya tidak di lanjutkan oleh Clara dengan alasan klasik, Rey cemburu.
Radit mengangguk kan kepalanya dengan cepat.
"Ingatan kamu masih bagus sekali. Sering minum minyak ikan ya?" tanya Rdit mengulum senyum.
"Nomor kamu ganti?" imbuh radit penasaran karena beberapa kali mengirim pesan tidak pernah terkirim akhir -akhir ini.
Clara menatap aneh dengan bibir melongo bingung.
"Kenapa jadi minyak ikan di bawa -bawa sih? Gak masuk akal tahu," cicit Clara setengah berbisik.
__ADS_1
"Ekhemm ... Lebih tepatnya ponselnya aku jual buat beli makan," tawa Clara tertahan sengaja menggoda Radit.
"Ahhh ... Segitunya. Nomor kamu berapa sekarang?" tanya Radi penasaran.
"Clara gak punya ponsel. Udah di jual, buat bayar kost sama makan, biar kuat ngadepin skripsi," tawa Clara terus tertahan. Tidak mungkin Clara ngakak di dalam perpustakaan ini, bisa -bisa jidatnya di lempar bolpoin.
Clara menarik napas dalam dan melanjutkan ke arah belakang untuk mencari inspirasi judul skripsi yang baru, yang lebih simple,tanpa ada magang sebagai peninjauan untuk memasukkan metode analisisnya. Cukup cari jurnal sebagai pembandingnya saja, bukan penilaian secara langsung melalui kuesioner atau grafik penilaian secara realnya, yang kemudian di bandingkan dengan penilaian tahun lalu berdasarkan pencapaian perusahaan yang telah di capai yang nantinya di cari kekurangannya dan solusinya. Terilhat sempurna sekali skripsinya tapi membutuhkan waktu yang lama dan yang jelas gak semudah itu membuatnya, di butuhkan kesabaran ekstra.
"Karena bentuk minyak ikan itu benda cair yang kental dan pas di munum nyangku tuih di otak kamu, jadi encer kan? Bener gak konsepnya gitu?" tanya Radit santai dan mengikuti langkah Clara.
"Sama sekali gak benar. Ini perpustakaan ya. Jangan sampai Clara di tegur dan gak bisa masuk perpustakaan lagi karena buat onar dan berisik," ucap Clara pada Radit agak ketus.
Tapi memang benar, teman Clara pernah adayang di tegur karena berisik dan selama satu semester itu tidak di perbolehkan masuk perpustakaan. KTMnya di blokir saat barcode di gesek di alat masuk ternyata di tolak. Kan parah sekali, perpustakaan kampus Clara. Terlalu berlebihan samapi di blokir. tapi balik lagi, itu resiko karena di depan aturannya sudah jelas sekali.
"Kalau takut di tegur, yuk keluar kita ngopi di kantin. Tenang aku yang bayar," ucap Radit pelan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya.
Beberapa orang wanita menayap Radit dengan anggukan kepala yang sopan dan sangat hormat sekali. Siapa dia sebenarnya? Bahkan selama ini Clara sama sekali gak pernah melihat Radit ada di kampus ini.
Clara menatap Radit lekat. Bibirnya bawah Clara di gigit pelan, itu menandakan ia sedang bingung memilih.
"Kenapa? Tinggal jawab mau atau tidak aja sulit banget. Kayak lagi mikir ijin sama suami aja," tuduh Radit dengan tepat menghujam dada Clara.
Deg!!
Mak Jleb rasanya dan itu semua tepat sekali tembus ke dada yang paling dalam milik Clara. Rasanya seperti di sadarkan oleh keadaan dan statusnya saat ini yang bukan saja sebagai mahasiswi semeser akhir tapi juga sudah menjadi istri dari seorang dosen yang mejend pembimbing skripsi di kampus ini.
"Sorry ... Clara gak bisa. Kalau loe mau santuy ngopi dannongki curcol bisa cari cewe lain yang gak banyak kerjaan kayak Clara. Clara mau cari judul skripsi buat bimbingan dari awal lagi," ucap Clara menolak ajakan Radit dengan halus dan lembut agar Radi jugatidak tersinggung.
Clara sudah tidak mau berdebat dan salah paham dnegan Rey. Rey sudah cukup baik dan sayang pada dirinya, terlebih saat ini sudah ada baby twins yang selalu membuat Papahnya manja gak ketulungan kalau sedang berdua. Hal itu sudah cukup membuat Clara bahagia. Rumah tangganya yang baru di bangun juga sudah cukup membuat Clara semakin nayamn dengan lelaki yang usiany memang agak loncat sedikit ke atas. Tapi, setidaknya sisi baik Rey adalah lelaki yang mau bertanggung jawab yang belum tentu ia dapatkan dari lelaki lain yang selama ini hanya mengobral kata sayang dan kata cinta.
Kelemahan titik hati seoarang perempuan itu adalah bilah di baikkin dan di lembuuttin, gak cuma hati yang di pasrahkan tapi juga seluaruh jiwa raganya seolah melayang sudah menemukan jodoh yang tepat. Gak gitu juga konsepnya bestie. Mendapatkan titik lemah wanita sekarang bisa kita dapat dnegan baca artikel lengkap di mbah google. Semua orang bisa akses dan membaca dengan baik. So, hal sederhana ini yang di pakai oleh para buaya darat dan para hidung belang dengan mudahnya mempermainkan wanita. walaupun tidak semua lelaki akan bersikap dan bertindak seperti itu. Ini hanya survei yang sering di baca saja, bukan acuan atau tolok ukur. Intinya sih, kita lihat tahapannya saja. Tahapan pertama perkenalan, lalu tahap kedua penjajakn, tahap ketiga lebihmengenal secar dalam dan taha selanjutnya dan selanjutnya. Lalu, cek kebenarannya, antar ucapan dan hati serta tindakan sama atau tidak.
Kadang kesalahan wanita hanya satu, meninggalkan yang tulus demi yang modus karena satu titik. Titik apa itu? Hanya titik PENASARAN!! Itu saja. Rasa penasaran yang akan membawa petaka. Rasa penasaran yang berujung kata nyaman. Padahal semua itu kamuflase, setiap awal perkenalan tentu akan terlihat yang baik -baiknya saja, yang indah -idah saja, Ibara seseoarng menahan ingin kentut, tidak akan mungkin keluar di saat kita jalan sama gebetan. Kita akan rela sakit perut menahan sakit karena gak kentut selama jalan bareng sampai wajah merah hitam warnanya. Sampai di rumah? Kentut itu bunyinya semakin tak karuan beruntun dan keras. Berbeda dengan kita yang sudah lama mengenal seseoarng, saking sudah lama mengenal, kentut pun tak akan jadi masalah fenomenal di antara mereka. Karena apa? Karena memang sudah memahami. Kentut bila di tahan jadi penyakit, bukan di tahan karena suatu penutup aib. Jadi, jauhkan rasa penasaran tetap berpikir posisti dan gunakan akal sehat agar tidak terjebak mulut manis kayak kue lapis legit para pria pecinta wanita.
Radit menatap Clara dengan lekat dan malah menatap gadis cantik itu semakin bingung. Di saat semua perempuan menunggu di ajak oleh Radit untuk jalan bareng, ini malah yang ada penolakkan dengan alasan cari judul skripsi.
"Aku gak salah denger ya? Kamu malah menolak aku demi sebuah judul skripsi? Kita cuma nongkrong bentar, ngopi dan ngemil, cerita seru. Gak ada yang salah dong? Biar otak kamu juga gak penat ngurusin skripsi. Lagi pula,kamu itu kenapa sih? Sudah magang malah keluar, padahal nilai ujian kamu kemarin tertinggi, itu tandanya kamu ada harapan untuk menjadi karyawan tetap di sana kelak, memag gak sayang melepaskan perushaan bonafit kayak gitu demi judul baru yang kamu gak tahu bakal di ACC atau gak?" sudut Radit sengaja membuat Clara bimbang.
__ADS_1
Clara mengambil satu bendel skripsi yang membuat Clara agak tergoda dengan judulnya. Bayangkan judulnya adalah "Sahaml Tanpa Batas Waktu." Kepikiran gak isinya beneran skripsi atau lirik lagunya versi Amanda Manopo atau Andi Fadly Arifuddin.
Clara menggendong satu bendel hard cover tanpa peduli pada Rdit lagi yang terus mengoceh tak jelas di sampingnya.
"Ra!! Kamu denger aku ngomong gak sih? Kamu cewe gila atau gimana sih? Nolak aku samapi gak peduli sama ocehan aku," ucap Radit yang semakin penasaran dengan sikap acuh Clara padanya.
Clara malah mencari judul lain sebagai pembanding. Lagi -lagi ia menemukan judul yang lebih absurd lagi, "Separuh napas memilih Saham Speculative Stock dengan Tingkat Risiko Tinggi Kecenderungan Pergerakan yang Fluktuatif." Rasanya mau tertawa ngakak lihat judul skriipsi masa kini, yang bisa lolos tanpa hambatan.
"Clara!!" panggil Radit dengan sedikit membentak.
Clara menoleh ke arah Radit dan menatap lekat. Benar saja, menguji kesabaran orang, akan terlihat watak aslinya yang tidak sabaran.
"Kenapa?" tanya Clara yang kemudian berjalan menuju meja khusus pembaca. Rencananya ia mau catat beberapa poin pentingnya dan metode analisi yang di gunakan. Kalau cocok dan Clara bisa menggunakan metode itu, ia bisa ajukan judul baru pada Rey. Clara mau fokus mengerjakan skripsi sebelum perutnya membesar dan bisa wisuda sebelum ia melahirkan baby twinsya.
Harapannya dan cita -citanya begitu indah di depan mata. Clara sedang berusaha mengesampingkan masalah yang tentu akan hadir menerpa kehidupan rumah tanggannya. Hidup penuh resiko. Sendiri dengan status jomblo saja beresiko apalagi sudah berubah status SAH, malah lebih beresiko tinggi.
"Kamu tuh ya? Gak menghargai aku," ucap Radit yang ikut duduk di depan Clara sambil berpura -pura mengambil satu jurnal sebagai pengalihan isue sedang membaca jurnal tentang sekuritas.
Dengan tenang Clara membuka bendelan skripsi dan membaca lembar tiap lembar yang rapi. Jujur awal semester kemarin, clara tidak begini. Ia hanya dapat soft copy dari kakak angkatannya tentang penulisan skripsi dan hanya edit, copy, paste saja, makanya gak paham sama sekali.
Ternyata seni mengerjakan skripsi itu ada. Menyukai judulnya, lalu penasaran dengan isinya dan mulai menyukai, mencari bahan pendukung, di olah dan jadi hasil, lalu di tarik kesimpulan.
Semudah itu, sesederhana itu dan sesimpel itu sebenarnya. Kayak orang mau goreng tempe. Kalau cara pembuatannya sudah di luar kepala, bukan otak yang berpikir tapi tangannya sudah otomatis, mencari pisau, memotong, memasukkan bumbu dan menggoreng. Tapi inget, bumbu masaknya di baca dulu dengan jelas, biar gak ada rasa inovatif yang masuk ke dalamnya, bis ajadi pemicu kemarahan pasangan nanti.
Radit mengetuk -ngetukkan jarinya di meja pembaca dan terus menatap lekat Clara yang memang cantik sekali. Tatapannya mulai tergoda pada jari manis kanan milik Clara. Ada cincin dengan satu mata menonjol ke atas.
"Sudah puas ngocehnya? Sekarang lihatin terus?" goda Clara pada Radit yang sejak tadi menatap Clara tak berkedip.
Radit mengulum senyum dan ia puas sekali menikmati wajah Clara yang ternyata Clara juga memperhatikan Radit dnegan caranya.
Padahal Clara risih di lihat begitu dan ingin Rdait segersa pergi dari sana. Clara segera menulis di bindernya dan menulis judul yang masih di rahasiakan. Lalu ambil beberapa masalah penting yang di jadikan sebagai masalah yang di angkat dari skripsi yang akan di buat Clara.
"Kamu punya cowok? Atau sudah tunangan?" Radit bertanya to the poin pada Clara dan masih lekat menatap cincin yang melingkar di jari manis Clara.
"Apa pentingnya buat kamu, tentang privasi Clara?" tanya Clara yang terlihat santai tanpa beban. Bukan ingin berbohong, tapi gak penting juga untuk Radit tentang status Clara sesungguhnya. Menolak halus dan menghindar dengan cara tidak magang lagi di perusahaan itu serta tak pernah ada balasan chat, itu adalah bukti, bahwa Clara sama sekali gak merespon Radit. Kalau kagum iya, tapi belum tentu hatinya tertaut. Perasaan kagum hanya di awali karena suatu kelebihan saja.
"Sangat penting sekali, Ra. Karena aku suka kamu ...."
__ADS_1